-->

26 Agustus 2012

Allah Melihat Hati dan Amal



Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Shakhr radhiyallahu’anhu, dia mengatakan bahwa Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak melihat fisik dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat hati [dan amal perbuatan] kalian.” (HR. Muslim no.2564)

Penjelasan

Hadits ini ditulis dengan lafazh, “Akan tetapi Allah melihat hati kalian.”
Dalam lafadz lain disebutkan dengan lafazh, “Akan tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kalian.”

Hadits ini senada dengan dengan kandungan firman Allah Ta’ala:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujuraat : 13)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat fisik para hamba-Nya, besar atau kecil, sehat atau sakit, sebagaimana juga tidak melihat rupa mereka apakah baik bagus ataupun buruk. Allah juga tidak melihat nasab mereka, tinggi maupun rendah, Allah juga tidak melihat harta-harta mereka. Allah Subhanau wa Ta’ala tidak melihat itu semua, karena semua itu tidak berarti disisi Allah.

Tidak ada hubungan antara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan makhluk-Nya, kecuali hanyalah takwa, maka barang siapa yang bertakwa kepada Allah, dia lebih dekat kepada Allah dan lebih mulia disisi-Nya. Karena itu, janganlah kamu menyombongkan hartamu, kecantikanmu, jasadmu anak-anakmu, istanamu, mobilmu, dan apapun yang didunia ini. Saat kamu mendapat taufiq dari Allah menjadi orang yang bertakwa, maka hal itu merupakan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu. Maka hendaknya kamu bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya amalan itu pasti disertai niat yang bersumber dari hati. Berapa banyak orang yang pada lahirnya sehat, baik dan shalih, akan tetapi manakala berdiri diatas sesuatu yang rusak dia akan menjadi hancur pula.

Yang menjadi tolak ukur adalah niat. Kamu mendapati dua orang yang shalat dalam satu shaf, mengikuti satu imam, namun nilai shalat mereka berbeda jauh bak timur dan barat, karena hati mereka berbeda. Salah satu dari mereka berdua, hatinya lalai bakan riya’ dalam melaksanakan shalatnya; dia melaksanakan shalat untuk kepentingan duniawi. Na’udzubillah. Sedangkan yang satunya lagi, mendirikan shalat dengan menghadirkan hati dan menginginkan wajah Allah, serta mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Diantara keduanya terdapat perbedaan yang mencolok. Tandanya apa yang terdapat dalam hati, dan dari sanalah Allah memberikan pahala dihari kiamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thaariq :8-9)

Maksudnya, akan diberitakan apa yang dirahasiakan buka apa yang nampak. Didunia, hukum yang berlaku antar manusia adalah yang zhahir, sedangkan diakherat, pengetahuan didasarkan pada apa yang ada dihati, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan hati kita.

Jika hatimu sehat dan baik, maka bergembiralah dengan kebaikan tetapi jika tidak, maka kamu kehilangan kebaikan, semuanya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada didalam dada.” (QS. Al-‘Aadiyaat :9-10)
Pengetahuan berdasarkan pada apa yang ada didalam hati.

Apabila Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sudah menekankan tentang perbaikan niat, maka setiap orang wajib memperbaiki niat dan hatinya, dengan cara meneropong dan melihat hatinya: adakah keraguan didalam hatinya, sehingga dia bisa menghilangkannya dengan keyakinan, bagaimana caranya? Caranya dengan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya dalam pencianptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)  bagi orang yang berakal.” (Qs. Ali Imran :190)

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (dimuka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kamu yang meyakini.” (Qs. Al-Jaatsiyah :3-4)

Renungkan firman Allah dalam ayat-ayat diatas.
Apabila setan menghembuskan keraguan didalam hatimu, maka renungkanlah ayat-ayat Allah dan hayatilah jagad raya ini, siapakah yang telah mengaturnya? Perhatikan bagaimana keadaan bisa berubah, bagaimana Allah menggilirkan masa kejayaan dan kehancuran diantara manusia, agar kamu mengetahui dijagad raya ini ada Dzat yang mengatur yaitu Dzat yang Mahabijaksana Azza wa Jalla.

Bersihkan hatimu dari syirik. Bagaimana cara membersihkan hati dari syirik?
Yaitu dengan berkata pada diri sendiri, “Jika saya berbuat maksiat kepada Allah, manusia tidak akan mampu menyelamatkanku dari siksa-Nya. Jika saya taat kepada Allah, mereka tidak akan mampu memberiku pahala.”

Yang mampu mendatangkan pahala dan menjauhkan siksa hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika memang demikian, mengapa kamu menyekutukan-Nya? Mengapa ibadah yang kamu lakukan kamu tujukan untuk mendekatkan diri kepada makhluk. Oleh karena itu, siapa saja yang mendekatkan diri kepada makhluk dengan sesuatu yang dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah dan makhluk akan menjauh darinya.

Maksudnya, mendekatkan diri kepada makhluk dengan suatu ibadah akan membuat semakin jauh dari Allah dan manusia, karena  jika Allah meridhaimu, manusia akan meridhaimu juga, dan apabila Allah membencimu, maka manusia akan membencimu pula. Kita berlindung kepada Allah dari  murka dan siksa-Nya.

Saudaraku, yang terpenting obatilah hatimu secara berkelanjutan. Jadilah kamu yang selalu membasuh hati, hingga menjadi suci, sebagaimana firman Allah,
“Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka.” (Qs. Al Maa’idah :41)

Kesucian hati adalah yang terpenting, semoga Allah membersihkan hati kita dan menjadikan hati kita sebagai orang yang ikhlas dan mengikuti ajaran Rasul-Nya. Amin Ya Rabbal’alamin..

[Dikutip dari Syarah Riyadush Shalihin, bab “ikhlas dan menghadirkan niat”, hal. 70-73. Penerbit Pustaka Darus Sunnah]

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.