-->

08 Agustus 2012

AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH

Oleh


Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Termasuk jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara lahir dan batin dan mengikuti jalannya orang-orang yang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
 “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100][2]

Mereka mendahulukan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dari semua perkataan manusia yang ada. Mendahulukan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari petunjuk semua orang. Maka yang demikian inilah, mereka disebut atau dikatakan Ahlul Qur-an dan Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” [Al-Hujuraat: 1]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ 
 “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar, dan kami patuhi.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” [An-Nuur: 51-52]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ، وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.
 “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku, keduanya tidak akan berpisah, sehingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al-Haudh).”[3]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ فَتَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
 “Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku kelak akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atasmu memegang teguh Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara-perkara yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat.”[4]

Al-Qur-an, As-Sunnah dan Ijma’ Sahabat adalah tiga prinsip utama yang Ahlus Sunnah berpegang dengannya dalam ilmu dan agama. Mereka menimbang dengan tiga pokok ini semua yang dikatakan dan yang dikerjakan oleh manusia secara lahir dan bathin dari apa-apa yang berkaitan dengan masalah agama.
Adapun ijma’ yang berlaku yaitu, apa yang telah diijma’kan oleh Salafush Shalih, karena orang-orang sesudah mereka telah banyak ikhtilaf dan umat ini sudah berpencar ke seluruh penjuru dunia. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hanbal t: “Barangsiapa yang mengklaim (menyatakan) adanya ijma’ setelah masa Salafush Shalih, maka ia telah berdusta.” [5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ketika menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah-masalah prinsip tertentu, beliau menyebutkan manhaj yang menyeluruh dalam agama ini, baik masalah ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), bahwa mereka (Ahlus Sunnah) itu menempuh jalan yang lurus dan pegangan yang bermanfaat dari al-Kitab dan As-Sunnah, mereka mengikuti orang yang paling tahu tentang Islam dan paling dalam ilmunya, serta paling ittiba’ kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah, yaitu para Sahabat Radhiyallahu anhum. Mereka mengikuti Khulafaur Rasyidin secara khusus, serta mereka berjalan di jalan Allah dengan diiringi prinsip-prinsip yang mulia ini. Apapun yang dikatakan manusia atau merupakan pendapat-pendapat madzhab di mana orang mengikutinya, maka Ahlus Sunnah menimbang dengan tolok ukur Al-Qur-an, As-Sunnah dan ijma’ Sahabat dari generasi terbaik umat ini, maka luruslah jalan mereka.

Ahlus Sunnah selamat dari bid’ah-bid’ah perkataan yang menyalahi apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat dalam masalah i’tiqad, sebagaimana mereka selamat dari bid’ah-bid’ah amaliyah, mereka tidak beribadah dan tidak mengadakan syari’at melainkan dengan apa yang disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.[6]

Kesimpulannya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang berpegang teguh kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman Salafush Shalih, mereka melaksanakan Tauhid kepada Allah dan mendakwahkan kepada manusia untuk bertauhid dan mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah, mereka menjauhkan segala bentuk kemusyrikan dan penghambaan kepada selain Allah. Ahlus Sunnah melaksanakan Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, menghidupkannya dan mengajak kaum Muslimin untuk berpegang kepada Sunnah serta mereka menjauhkan segala macam bentuk bid’ah baik dalam masalah i’tiqad maupun amaliah. Karena setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi]
_______
Footnote
[1]. At-Tanbiihaatul Lathiifah (hal. 101-103).
[2]. Lihat juga QS. Al-Baqarah: 143 dan an-Nisaa’: 115.
[3]. HR. Al-Hakim (I/93) dan al-Baihaqi (X/114) dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dan Malik dalam al-Muwaththa’ pada bab an-Nahyu ‘anil Qaul bil Qadar (hal. 686). Ini adalah lafazh al-Hakim, sanad hadits ini hasan.
[4]. HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95) dan lainnya. Dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455), dari Sahabat ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu.
[5].I’laamul Muwaqqi’iin (II/54) oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. Cet. I-Daar Ibnil Jauzi, th. 1423 H.

wallahu a'lam....

Diberdayakan oleh Blogger.