-->

23 Agustus 2012

BERKENALAN DENGAN JAMA’AH TABLIGH_MENGAPA SAYA TIDAK SEBUTKAN KEBAJIKAN JAMA’AH TABLIGH?



 Alhamdulillah, berkat hidayah dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta'ala beberapa waktu lalu Ustadz Abu Umamah Abdurrohim bin Abdulqohhar Al Atsary telah berhasil menerbitkan buku kecil yang berjudul  “Jama’ah Tabligh : Kenyataan & Pengakuan” sebagai bentuk nasihat dan peringatan mengingat semakin menyebarnya ajaran kebatilan Jama’ah Tabligh dalam keadaan masyarakat muslimin banyak yang tidak mengerti dimana dan apa saja kesesatan dan kebatilan kelompok ini.

Diantara manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah dengan membantah kebatilan dan para pengusungnya sebagai salah satu bentuk amar ma'ruf nahi munkar. Hal itu mereka lakukan sebagai upaya penjagaan terhadap kemurnian agama ini sekaligus menjaga umat dari pengaruh virus-virus kesesatan yang ditebarkan oleh para pengusung kebatilan tersebut.

Alhamdulillah, dengan izin Allah melalui buku kecil “Jama’ah Tabligh : Kenyataan & Pengakuan” terbungkamlah mulut para pengusung Aqidah dan paham Shufiyah, dan kebenaran yang ada pada Aqidah dan Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah kembali bersinar. Para pengusung kebatilan itu sudah tidak diterima lagi di tengah-tengah umat, barang dagangan mereka tidak laku lagi dijual kepada umat, dan kata-kata mereka tidak dihiraukan. Sehingga mereka sangat gerah, tersinggung, marah, dan sakit hati serta menyimpan dendam yang sangat besar terhadap Ahlus Sunnah, terkhusus pada buku “Jama’ah Tabligh : Kenyataan & Pengakuan”.

Diantara sunnatullah yang pasti terjadi adalah pertempuran yang sangat sengit antara Al-Haq dan para pembawanya melawan kebatilan dan para pengusungnya; antara Ahlus Sunnah melawan Ahlul Batil. Setiap kali kebatilan itu dibantah dan setiap kali Ahlul Batil itu terbungkam, maka para pengusung kebatilan itu akan terus berusaha untuk mencari celah dan kesempatan agar bisa kembali menebarkan pesonanya tentang berbagai kebatilan dan syubhat (kerancuan) di tengah-tengah umat dalam "kemasan dan format yang baru". Padahal tidak jarang kebatilan dan syubhat tersebut (ternyata) sudah usang bahkan sudah dibantah oleh para 'Ulama terdahulu, namun kesesatan dan kebatilan tersebut sengaja dijajakan kembali dengan tampilan dan gaya yang lebih menawan, bahkan tidak jarang dikemas dengan kata-kata yang dicanggih-canggihkan sehingga menimbulkan kesan "obyektif dan ilmiah". Dengan demikian posisi kesesatan itu terkesan “tampak kokoh tak tergoyahkan”. 

Diantara mereka yang berusaha membela dan menjajakan kembali kebatilan serta menyuarakan sakit hati dan kemarahan sejumlah "Da’i dan Aktivis" pergerakan Islam “Jama’ah Tabligh” di nusantara ini adalah ‘Wildan Moralis’ dengan artikelnya SHOCK TERAPI : DALAM MENGAKTUALISASIKAN MANHAJ SALAFUSHSHALIH ?? yang diposting melalui akun FBnya dengan edisi berjilid. Silahkan pembaca bisa kunjungi link tersebut di http://www.facebook.com/profile.php?id=100001807920956&sk=notes#!/note.php?note_id=293673363983734

Artikel ini benar-benar menjadi “angin segar” bagi para pengusung paham dan aqidah sesat, menjadikan “cuaca cerah” setelah sebelumnya mereka rasakan mendung, menjadikan mereka kembali berani tampil dan berbicara setelah sebelumnya mereka kehabisan hujjah/argumentasi.

Artikel tersebut diposting dengan kemasan yang sedemikian memikat dengan begitu lancangnya, seolah-olah ingin mengkritisi Fatwa Para Ulama’ dan Manhaj Salafush shalih dalam hal tahdzir (peringatan). Untuk semakin melariskan syubhat-syubhatnya, Da’i-da’i dan aktivis" pergerakan Islam yang selama ini merasa tersinggung dan gerah dengan buku Buku “Jama’ah Tabligh : Kenyataan & Pengakuan” tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengkritisi setiap poin penting seputar pengakuan Mantan Jama’ah Tabligh dan para Ulama’ lainnya. 

Sebenarnya, bagi orang yang mau membaca secara seksama artikel tersebut dan tidak
silau oleh "gaya ilmiah" yang senantiasa dikesankan oleh sang penulisnya, akan tampak padanya bahwa ternyata penulis artikel tersebut banyak berbuat kecurangan disamping terjatuh dalam kesalahan-kesalahan yang semestinya dia tidak pantas untuk salah dalam perkara tersebut. Karena itu sangat perlu adanya upaya untuk meluruskan dan membantah berbagai
macam kerancuan dan kebatilan dalam artikel tersebut dalam rangka menyelamatkan aqidah dan agama umat ini dari penyimpangan dan kesesatan.

Walhamdulillah, dengan taufiq dan kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dalam rubrik kajian kali ini ‘Abu ‘Abdillah Faishal bin ‘Abduh Qa’id Al Hasyidi’ pengarang “BUKU BERKENALAN DENGAN JAMA’AH TABLIGH” akan menyajikan tulisan khusus di hadapan para pembaca untuk memberikan sedikit catatan ringan kepada penulis Artikel SYOK TERAPY : DALAM MENGAKTUALISASIKAN MANHAJ SALAFUSH SHOLIH. Semoga bisa menjadi bahan perhatian dan koreksi.

Karena singkat dan sederhana, maka uraian, data, dan fakta yang kami sajikan pun sengaja kami ringkas dan kami sederhanakan serta lebih kami tekankan pada perkara-perkara yang lebih mudah dipahami dan dicerna oleh pembaca yang mayoritasnya awam, serta perkara-perkara yang tidak membutuhkan pembahasan yang rumit dan njlimet.

Semoga melalui tulisan sederhana ini, bisa membantu kaum muslimin untuk mengukur sejauh mana bobot keilmiahan dan objektivitas artikel SYOK TERAPY : DALAM MENGAKTUALISASIKAN MANHAJ SALAFUSH SHOLIH? Sekaligus agar tidak tertipu oleh gaya dan penampilan "ilmiah" dan "obyektif" yang ditunjukkan oleh penulis artikel tersebut.


Kata Pengantar
“Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajuri”

Segala puji hanyalah bagi Allah sebagai pujian yang sebanyak-banyaknya. Saya bersaksi tiada sesembahan yang haq selain Allah semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menciptakan segala sesuatu lalu sungguh Dia telah menetapkan taqdir semuanya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah yang diutus dari sisi Allah sebagai pemberi hidayah, berita gembira, dan peringatan, serta sebagai da’i yang mengajak kepada Allah dengan seizin-Nya dan sebagai pelita yang menyinari.

Adapun kemudian :


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَلَوْلَا دَفْعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍۢ لَّفَسَدَتِ ٱلْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

"Seandainya Allah tidak menolak sebahagian manusia (ahlul batil) dengan sebagian yang lain (ahlul haq) niscaya rusak binasalah bumi itu. Tetapi Allah senantiasa melimpahkan karuniaNya kepada semesta alam." (Al-Baqoroh : 251)


Dan Allah subhanahu  wa ta’ala berfirman :

قُلْ أَنَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ كَٱلَّذِى ٱسْتَهْوَتْهُ ٱلشَّيَٰطِينُ فِى ٱلْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُۥٓ أَصْحَٰبٌۭ يَدْعُونَهُۥٓ إِلَى ٱلْهُدَى ٱئْتِنَا ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۖ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru serta menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (patutkah) kita akan kembali ke belakang (menjadi kafir musyrik) sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita (dengan Agama Islam), seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan-syaithan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami." Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) sekalian alam.” (Al-An’Am : 71)


Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ ٱلْمُجْرِمِينَ قُلْ إِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۚ  قُل لَّآ أَتَّبِعُ أَهْوَآءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًۭا وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَقُلْ إِنِّى عَلَىٰ بَيِّنَةٍۢ مِّن رَّبِّى وَكَذَّبْتُم بِهِۦ ۚ مَا عِندِى مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِۦٓ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْفَٰصِلِينَ

"Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.  Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah." Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku , sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik." (Al-An’am : 55-57)

Di dalam ayat ini terdapat penjelasan dari Allah bahwa dengan Ahlul haq (pengikut kebenaran), Dia menolak fitnah kerusakan yang dimunculkan Ahlul Batil (pengikut kebatilan ). Hal ini dalam rangka Allah menjaga dien-Nya melalui sebagian makhluk yang Dia kehendaki mendapatkan kebajikan. Andaikan tidak demikian, maka akan rusaklah bumi oleh berbagai aneka kesyirikan dan bid’ah kemungkaran.

Dalam Ash-shahihain melalui hadits Zainab binti Jahsyin ia berkata : “Wahai Rasulullah, apakah kami bisa binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang shaleh?’’ Beliau menjawab : “ Ya, jikalau keburukan telah banyak.
Dan pada ayat ini terdapat penjelasan bahwa siapa yang tersesat di dalam islam, maka perumpamaannya sebagai seorang yang keluar meninggalkan teman-temannya yang berjalan di atas koridor, sehingga dia pun dibingungkan setan-setan dan disesatkan dibumi. Para sahabatnya yang tetap berjalan di atas koridor yang benar segera memanggilnya agar kembali bergabung seraya mengatakan : “Datanglah kepada kami, sebab kami berada di jalan yang benar.” Namun dia enggan untuk datang.

Itulah perumpamaan teman-temannya dan itulah perumpamaan orang yang tersesat meninggalkan mereka setelah mengetahui.

Kemudian Allah menerangkan sikap yang benar bagi Da’i yang menyeru mereka kepada jalan yang benar setelah keberpalingan mereka: wajib untuk menerangkan jalan mereka (yang tersesat) untuk menegakkan kebenaran dan rasa empati kepada makhluk dengan keterangan nyata dari RabbNya, teguh melaksanakan perintah-Nya, yakin penuh kepada Allah, dan riang dengan pertolongan-Nya.


Allah subhanahu  wa ta’ala berfirman :

وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj : 40)

Sifat-sifat agung dan perjuangan besar ini selamanya tidak akan cocok selain pada figur manusia tulus Ahlus Sunnah. Mereka yang tidak peduli dengan serangan orang-orang pendengki terhadap kehormatan mereka, serta mereka gerakkan pena jihad untuk menghadang Ahlul Ahwa’, pembangkang, Da’i kejahilan dan kerusakan. Wahai berita gembira untuk mereka!


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ ٱلْقُرُونِ مِن قَبْلِكُمْ أُو۟لُوا۟ بَقِيَّةٍۢ يَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْفَسَادِ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّمَّنْ أَنجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مَآ أُتْرِفُوا۟ فِيهِ وَكَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Huud : 116)


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّۭا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًۭا ۚ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Qashash : 83)

Dan sesungguhnya saya benar-benar mengharapakan semoga Allah menjadikan saudara kita yang utama, penulis bantahan ini -begitu juga bantahan-bantahan lainnya- yang berfaedah, pembelaan serius bagi Dakwah Salafiyah, dan penjelasan jalan-jalan Khalfiyah (generasi yang buruk). Saya berharap Allah menjadikannya dan orang-orang yang semisalnya termasuk kelompok mereka yang Allah sebutkan memiliki sifat-sifat di atas.

Dan saya menasehatkan kepadanya dan kepada siapa saja yang membantah Ahli kesesatan untuk mengambil hiburan dengan ihtisab (mengharapkan pahala yang ada di sisi Allah). Alangkah indahnya hal ini.

Demikianlah, saya telah melihat mayoritas isi risalah ini yang bernama “Al-Khithaab Al-Baliigh Fii Jamaah At-Tabligh” maka saya menemukannya teranggap intisari beberapa kitab dan fatwa yang dikumpulkan untuk menerangkan keadaan kelompok Shufi sesat ini, yang bagi orang yang mengetahui hakikat keadaan sebenarnya : Jama’ah yang melakukan Tabligh Kesyirikan, Bid’ah, Kejahilan, dan Khurofat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebajikan bagi saudara kita Faishal Al-Hasyidi atas hal ini.
Dan kami memohon kepada Allah untuk memeberikan fiqh fid dien kepada kita dan kepada dia, serta membantu kita untuk membuka kedok keadaan sebenarnya dari orang-orang yang mengaburkan kebenaran. Alhamdulillah Rabbil ‘Alamiin.




Pemberi Pengantar

Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri 

Dari Penulis

Sesungguhnya segala pujian hanya bagi Allah, kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah maka tidak akan ada yang mampu untuk menyesatkannya. Barangsiapa yang Allah sesatkan (disebabkan kedzalimannya sendiri, pent) maka tidak akan ada yang mampu untuk memberinya hidayah.
Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah.

Adapun kemudian :

Salah seorang muridku telah meminta kepadaku untuk menuliskan untuknya seputar “Jama’ah Tabligh” maka saya pun menyambut permintaannya. Lalu termasuk hal yang menambahkan tekadku untuk menulis sabda Nabi : “Ilmu (agama) ini akan disandang dari -setiap generasi- oleh orang-orang adilnya. Mereka menepis darinya tahrif (perubahan pembelokan) yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas, jalan para pengekor kebatilan, dan ta’wil orang-orang jahil. (Dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kamil 1/152 dari hadits Abi Hurairah, serta dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Misykat 1/83)
(Diriwayatkan dari sejumlah shahabat radhiyallahu’anhum dan ia adalah hadits yang kuat dari seluruh jalannya. Lihat Basha’ir Dzawi Asy-Syaraf bi Marwiyyat Manhaj As-Salaf hal 111-114 karya Salim Al-Hilaly)

Yang dimaksudkan dalam ilmu disini adalah Dien (agama), sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tabi’in yang mulia Muhammad bin Sirrin : “Sesungguhnya ilmu ini adalah Agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. (HR.Muslim 1/14)

Al-‘Alamah Shiddiq Hasan Khan berkata menjelaskan hadits di atas : “Yakni Ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dipikul oleh Ahlul ‘Adli (mereka yang bersifat adil dan terpercaya) dari setiap jama’ah yang datang setelah generasi Salaf. Mereka ini menyampaikannya dan menghilangkan darinya tahriful ghalin (perubahan yang dilakukan oleh orang-orang melewati batas dalam urusan agama). Tahrif adalah menggantikan kebenaran dengan kebatilan juga menghilangkan ta’wil jahilin (takwilnya orang-orang bodoh) yang membela takwilan yang mereka lakukan tanpa Ilmu dan tanpa faham terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits.1

Saya pernah bergaul dengan sebagian saudara (seislam) dari Jama’ah Tabligh di kala bermukim maupun bermusafir dengan maksud mengajarkan kepada mereka ‘Ilmu Mauruts’ (ilmu warisan : Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Atsar shahabat, pent) serta membenarkan Aqidah dan ibadah mereka, karena melaksanakan arahan dari Fadhilah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah2. Akan tetapi saya pulang dengan alas kaki Hunain dimana “Saya telah puas mendapatkan ghanimah (keberuntungan) berupa bisa pulang”3.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala :

وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍۢ

“Dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu seperti (pemberitahuan) khabir (orang yang tahu persis).” (Fathir : 14)

Nampaklah bagiku untuk menyebarluaskan tulisan ini secara umum dan saya menamakannya “Al-Khithaab Al-Baliigh Fii At-Tabliigh” untuk menunaikan amanah dan menyelesaikan tanggung jawab.

Allah subhanahu wa ta’ala jua yang saya mohon dengan Asma’ul Husna-Nya dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, saya bertawassul untuk menjadikan kita termasuk orang yang mau mendengarkan ucapan lalu mengikuti yang terbaiknya.
Akhir Ucapan kita : Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin


                                                    Abu ‘Abdillah Faishal bin ‘Abduh Qaid Al Hasyidi




Footnote :

(1)  Ad Dinul Al Khalish, Shiddiq Hasan Khan (3/261)
(2)  Al-‘Allamah bin Baz berkata : Jama’ah Tabligh tidak mempunyai bashirah (ilmu) dalam permasalahan ‘aqidah, sehingga tidak boleh melakukan Khuruj bersama mereka kecuali bagi siapa yang mempunyai ilmu tentang aqidah yang benar anutan Ahlussunnah, supaya bisa menunjuki mereka”. Akan datang kami sebutkan fatwa beliau secara lengkap Insya Allah.
(3)  Sebuah kalimat perumpamaan yang dibuat untuk mengungkapkan rasa puas dengan sekedar bisa selamat. Semoga Allah memberikan kebajikan bagi Al-‘Allamah Syaikh Fauzan dimana beliau mengatakan -sesudah percobaan yang beliau lakukan bergaul dengan Jama’ah Tabligh- : “Adapun bahwa mereka tidak menyambut siapa yang mengajak mereka kepada Tauhid, maka iya. Ini tidak hanya khusus terjadi kepada mereka, semua orang yang sudah berjalan diatas suatu manhaj atau garis (semua kelompok hizbiyah, pent), maka dia tidak akan mau meninggalkannya…..Akan kami sebutkan kalimat beliau yang panjang insya allah.




PEMBUKAAN

            Segala pujian hanyalah bagi Allah yang memberikan kecukupan dan salam bagi para hamba-Nya yang telah Dia pilih. Adapun kemudian :

Wahai anakku tersayang, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufiq bagimu, memeliharamu, dan meluruskan langkahmu di atas jalan kebajikan.

            Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…

Wahai anakku! Engkau meminta dariku tulisan yang menjelaskan jalan “Jama’ah Tabligh”. Mungkin urusannya -wahai anakku- terjadi tidak sesuai dengan apa yang saya sukai, tetapi kalau engkau masih saja meminta dariku hal tersebut, maka saya tidak mendapatkan lagi didepanku selain penaku yang sudah begitu lama, saya bukakan rahasiaku namun dia tidak merendahkanku dengan lisannya, tidak menyiksaku dengan tali kekangnya, serta dia tidak bakhil terhadapku walau sehari memberikan penjelasannya yang indah.

Wahai anakku! Jama’ah Tabligh tumbuh di India pada lingkungan yang tersebar di kalangan Ulama’nya -apalagi orang umumnya- faham Shufi dan Aqidah Maturidiyah. Pendiri Jama’ah ini adalah Muhammad Ilyas Ad-Diyubandiy1 Al-Jisyty2 yang dilahirkan pada tahun 1303 H.           

Dia menerima pelajaran pada Madrasah Diyubandi, madrasah terbesar bagi Mazhab Hanafiyah di India yang didirikan pada 18 Muharram tahun 1288 H. Sedangkan menurut orang-orang madarasah tersebut, ia didirikan oleh Nabi Muhammad yang dihadiri Syaikh Muhammad Qasim Al-Hanafi (?!!), serta Nabi Muhammad -terkadang- datang ke madrasah ini beserta para Shahabat dan Khulafa’ Rasyidin untuk memeriksa keuangannya dengan seksama. (?!!)3

Lihatlah -wahai anakku- bagaimana Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dikatakan mendirikan suatu madrasah yang memerangi Sunnah beliau dan mencampakkan petunjuknya?!!

Madrasah ini Maturidiyah Aqidahnya, betul-betul jauh dari Aqidah Ahlus Sunnah. Maturidiyah mengatakan : “Sesungguhnya iman hanyalah keyakinan dalam hati, tidak masuk dalam iman, ucapan dan amalan.”

Sedangkan Ahlu Sunnah mengatakan : “Sesungguhnya iman adalan mengucapkan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan mengamalkan dengan anggota tubuh.”

Maturidiyah mengatakan : “Iman itu bertambah dan berkurang : bertambah dengan amalan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Maturidiyah mengatakan : “Dzat Allah tidak berada di atas ‘Arsy”

Ahlus Sunnah mengatakan : “Sensungguhnya Allah menetap di ‘Arsy.

Dalil Ahlu Sunnah untuk semuanya itu adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.


Kenapa  -wahai anakku!-  mereka mendahulukan Nabi pada tempat yang rendah sampai-sampai mereka menjadikan beliau sebagai bendaharanya yang menghitung keuangan madrasah?! Cukuplah ini sebagai suatu sikap kurang ajar terhadap Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam!


Footnote :

(1)  Ad Dyubandiy : nisbat kepada kampung Dyubandi
(2)  Al-Jistiy : nisbat kepada thariqah Shufi yang bernama Al-Jisytiyyah.
(3)  Al-Arwah Ats Tsalatsah hal 43 menukilkan dari Jama’ah Tabligh Fii Syabhil Qarah Al Hindiyyah karya Sayyid Tahlib Ar- Rahman hal 19-20




KENAPA SAYA TIDAK MENYEBUTKAN KEBAJIKAN JAMA’AH TABLIGH?

            Wahai anakku… saya sudah berbicara panjang terhadapmu. Saya sudah banyak menukilkan fatwa Para Ulama’ masa kini tentang Jama’ah Tabligh agar menjadi jelas bagimu penyimpangan mereka, dan agar kamu bertambah tahu tentang keadaan Jama’ah ini.
            Mungkin penanya bertanya : Kenapa anda tidak menyebutkan kebajikan mereka padahal itu banyak dan masyhur (dikenal)?

Jawaban :
            Orang yang menyebutkan kesalahan dan membantah untuk Allah tidak harus menyebutkan kebajikan. Berikut fatwa-fatwa orang yang Allah perintahkan kita untuk kembali kepada mereka (Ulul Amri/Ulama’) dan Dia perintahkan kita untuk menaati mereka. Semua fatwa ini menetapkan kebatilan manhaj muwazanah (menyeimbangkan) antara kebajikan dan keburukan ketika memperingatkan (tahdzir).



 MANHAJ SALAF DALAM MENGKRITIK/MENTAHDZIR


1)    Fatwa ‘Allamah Bin Baz

Beliau ditanya tentang Manhaj Ahlus Sunnah dalam mengkritik Ahli Bid’ah dan kitab-kitab mereka. Apakah menjadi kewajiban untuk menyebutkan kebajikan dan keburukan mereka, atau cukup keburukannya?

Jawab :
Yang sudah diketahui dari ucapan para Ulama’ ialah mengkritik keburukan untuk memperingatkan dan menjelaskan kesalahan yang mreka bersalah padanya untuk memperingatkan darinya. Adapun kebajikan, maka sudah dikenal dan diterima.

Namun yang dimaksudkan adalah memperingatkan kebenaran yang ada pada mreka, maka dijelaskan. Kalau seseorang bertanya , “Kebenaran apa yang ada pada mreka? Dan orang yang ditanya mengetahuinya, maka dia jelaskan.

Tetapi maksud terbesar dan terpenting ialah menjelaskan kebatilan yang ada pada mereka untuk diwaspadai oleh penanya dan agar dia tidak cenderung kepada mreka.(Dinukil dari Kitab Al Mahajjah Al Baidha’ hal 7-8)


2)    Fatwa Muhaddits Negri Syam Muhammad Nashiruddin Al Albani

Beliau ditanya :
Wahai Syaikh kami.. para pemuda itu telah membuat banyak hal. Diantaranya ucapan mreka : “Bagi siapa yang hendak berbicara tentang seorang Ahli Bid’ah yang sudah terang perbuatan bid’ahnya dan sikapnya memerangi sunnah, atau tidak demikian tapi dia bersalah dalam permasalahan yang berkaitan dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. (Katanya) seseorang tidak boleh berbicara tentang itu selain harus juga menyebutkan kebajikan yang ada padanya, apa yang mereka namakan sebagai ‘Kaidah Al-Muwazanah Bainal Hasanat Was Sayyiat’ (menyeimbangkan antara kebajikan dan keburukan). Apakah kaidah ini berlaku mutlak? Kami menginginkan perincian dari anda tentang masalah ini.

Jawab :
Perinciannya : Segala kebajikan ada pada mengikuti orang yang telah lalu (Salaf). Apakah Salaf dahulu melakukannya? Ini adalah jalan Ahli Bid’ah! Tatkala seseorang yang berilmu tentang hadits berbicara mengomentari seseorang yang shalih, berilmu, dan faqih di mana ia katakan tentangnya: “Tapi dia muslim, shalih, faqih, dan menjadi rujukan dalam menimba hukum syari’at?!” Allahu Akbar…. Dari mana mereka dapat bahwa seseorang kalau ketika menjelaskan kesalahan seorang muslim -baik ia seorang da’i atau bukan- bahwa dia harus mengadakan ceramah dan menyebutkan kebajikan dari awal hingga akhirnya?? Allahu Akbar… Sesuatu yang sungguh mengherankan!

Syaikh ‘Ali Hasan mengatakan : “Diantara keanehan mereka wahai Syaikh kami, mreka katakan “Rabb kita tatkala menyebutkan Khamr, Dia menyebutkan bahwa ia punya banyak faedah.”

Syaikh Al-Albani mengatakan : “Allahu Akbar! Mreka itu mengangkat-angkat apa yang  kabur dan menginginkan terjadi fitnah serta ingin menyelewengakan maknanya. (Ditranskrip dari Kaset As ilah Mushthafa As Sulaimani oleh Allamah Al Albani)


3)    Fatwa Syaikh Shalih Al Fauzan

Beliau ditanya :
Apakah kami harus menyebutkan kebajikan-kebajikan orang yang kami peringatkan darinya?

Jawaban :
Kalau kamu menyebutkan kebajikan-kebajikannya maka maknanya kamu mengajak untuk mengikutinya. Tidak, tidak! Jangan sebutkan kebajikan-kebajikan mreka. Sebutkan kesalahan mereka saja, sebab tidak diserahkan kepadamu untuk kamu mngatakan keadaannya bersih. Namun yang diserahkan kepadamu adalah menjelaskan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya dan agar orang lain mewaspadainya. Kesalahan yang mreka idap bisa jadi menghilangkan semua kebajikannya, atau bisa jadi pula baik dalam pandanganmu tetapi bukan kebajikan di sisi Allah. (Dinukil dari Kitab Al Ajwaibah Al Mufidah oleh Syaikh Al-Fauzan hal 13-14)

Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu, maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudharat, kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. Jadi bukan untuk mencela kepribadian seseorang atau balas dendam terhadapnya, bukan ini tujuannya. Seseorang yang melakukannya dengan tujuan untuk balas dendam adalah pengekor hawa nafsu. Adapun orang yang meniatkannya untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat maka dialah penasihat bagi kaum muslimin.

Apabila keadaan menuntut untuk disebutkan nama orang yang dibantah tersebut supaya masyarakat mengetahuinya maka yang seperti ini adalah karena kemaslahatan yang nyata.

Para ahli hadits menyebutkan nama-nama rawi yang dicela, mereka mengatakan: Si Fulan, Si Fulan dan Si Fulan adalah para pendusta, Fulan lainnya buruk hafalannya, Si Anu seorang Mudallis, mereka menjelaskan dengan mengatakan Fulan (menyebutkan namanya). Mereka tidak bertujuan untuk mencela seseorang namun hanya bermaksud untuk menjelaskan kebenaran supaya diketahui bahwa orang ini dalam periwayatan haditsnya dicela sehingga manusia menjauhinya dan berhati-hati terhadapnya. Intinya adalah tergantung pada maksud dan tujuan, jika tujuannya adalah untuk mencela seseorang maka ini adalah hawa nafsu sehingga tidak boleh dilakukan.

Andaikan tujuannya adalah untuk menjelaskan kebenaran dan nasihat kepada masyarakat maka hal itu tidak mengapa, Alhamdulillaah.

[Dinukil dari buku Jawab Tuntas Masalah Manhaj Penulis Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan  Dikumpulkan oleh Jamal bin Furaihan Al Haritsi Penerbit Pustaka Al Haura Hal. 150-151]


4)    Fatwa ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi

Beliau ditanya :
‘Adnan ‘Ar’ur berkata : “Sesungguhnya suatu sikap adil dan inshaf ketika memberikan nasehat dan memperingatkan, untuk menyebutkan kebajikan-kebajikan mereka di samping keburukan-keburukannya”. Apa komentar anda yang mulia tentang kaidah ini?

Jawaban :
Ini sebuah kaidah yang batil. Ini kaidah bagi Ahli Bid’ah yang dengannya mereka ingin membantah kebenaran.
Bukanlah kewajiban orang yang menyebutkan kesalahan dan membantahnya untuk menyebutkan kebajikan. Nabi tatkala dimintai musyawarah oleh Fathimah binti Qais tentang pinangan Abi Jahm dan Mu’awiyah, beliau bersabda : “Adapun Abu Jahm, dia seorang yang suka memukul perempuan. Sedangkan Mu’awiyah adalah orang faqir tidak mempunyai harta. Menikahlah dengan Usamah. (HR. Muslim)

Nabi tidak menyebutkan kebajikan-kebajikan mereka. Demikian juga tatkala istri Abu Sufyan berkata mengadukan suaminya, “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir” (HR.Bukhari 5364 dan Muslim 1714)

Nabi tidak membantahnya dan tidak mengatakan, “Kamu tidak boleh menyebutkan demikian pada saat ini.” Tapi Nabi memerintahkannya untuk mengambil apa yang bisa mencukupinya bersama anak-anaknya secara benar.
Maka pendapat ini (muwazah/menyeimbangkan) adalah pendapat batil yang sebagian Syaikh telah membantahnya, semisal Syaikh Rabi’. Bahkan beliau telah membantah mreka sebanyak satu buku. (Ditranskrip dari Kaset Aqwalul ‘Ulama Fii Ibthali Qawa’id ‘Ad’ar ‘Ur no.1)


KESIMPULAN TENTANG MANHAJ MUWAZANAH

Wahai anakku, telah Nampak jelas bagimu dari apa yang lalu bahwasanya ketika kita hendak memperingatkan dari orang-orang bodoh yang mengangkat-angkat diri Ahli Bid’ah yang sesat, maka tidak ada dalil syari’at yang mengharuskan kita menyebutkan kebajikan-kebajikan mereka, kalau memang ada. Sebab kebajikan mreka tentu kembali kepada mreka sendiri, sedangkan kemungkaran dan penyelisihan yang ada pada mereka kembali kepada umat.

Tetapi dalam hal membuat biografi maka kita mesti menyebutkan kebajikan dan keburukan. Inilah jalan Salaf. Rafi’ bin Asyras berkata : “Diantara hukuman untuk orang Fasiq dan Ahli Bid’ah bahwa kebajikannya tidak disebutkan.” (Lihat Sayarah ‘Ilal At Tirmidzi karya Ibnu Rajab Al Hambali 1/353)

Dalam tema biografi, lihatlah misalnya Siyar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi. Ini sebuah kitab biografi para Ulama’ dan orang cerdik dalam Islam. Ketika membicarakan biografi Al-Hajjaj bin Yusuf, ia berkata : “Dia mempunyai kebajikan-kebajikan yang tenggelam dalam lautan dosanya. Sedangkan urusannya kembali kepada Allah. Dia mempunyai Tauhid secara global. Dia juga mempunyai orang-orang yang setara dari kalangan orang-orang zhalim yang diktator dan penguasa.” (Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ no.1470)



SEBUAH UNTAIAN WASIAT SEBELUM BERPISAH

Wahai anakku… sebelum saya menutup pena, saya wasiatkan kepadamu untuk berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta memahami keduanya sesuai dengan faham Safush Shalih. Sebagaimana saya mewasiatkan kepadamu untuk kembali kepada Para Ulama’ dalam semua yang tersamar bagimu. Bahkan saya mewasiatkan kepadamu untuk menuntut ilmu di hadapan Para Ulama yang telah dikenal mempunyai keselamatan Aqidah, kebenaran Manhaj, dan menetapi Sunnah dalam hal ucapan dan amalannya. Orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Rasulullah diutus membawanya sebagai dasar yang mereka yakini dan pegangi. Karena sesungguhnya Ilmu itu keteguhan dan benteng dari segala fitnah syahwat dan syubuhat.
 
Kewajibanmu menetapi Ulama maka sukalah kepada mereka,
Mereka akan memberimu Ilmu agar kamu menjadi tahu
Semua orang menyangka kalau dirimu bagian dari mereka…
Kalau kamu tetap bersama orang yang berpetunjuk,
Semua teman akrab mengikuti kepada temannya
Hal ini telah dikatakan oleh mereka dahulu….

Ketika kamu telah mendalami Ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka hendaklah selalu menjadi Syi’armu :

Cita-cita saya dari dunia adalah Ilmu yang saya sebarkan,
Dan tebarkan di setiap kampung dan kota...
Mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang seolah,
Banyak orang lupa menyebutkannya dalam banyak acara ceramah...

Semoga Allah memberikan rizki kepada kami dan kamu beserta seluruh kaum muslimin pemahaman dalam agama dan keteguhan di atas kebenaran yang nyata, serta menjadikan kita sebagai para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk.

Subhanakallahumma wabihamdika Asyhadu alla ilaaha illa anta Astaghfiruka wa Atubu ilaiih
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh……….

                                                     Abu ‘Abdillah, Faishal bin ‘Abduh Qaid Al-Hasyidi





Sumber : BERKENALAN DENGAN JAMA’AH TABLIGH
Pengarang : Abu ‘Abdillah, Faishal bin ‘Abduh Qaid Al-Hasyidi
Kata Pengantar : Asy-Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajury
Alih Bahasa : Al-Ustadz Abu Ismail Fuad, LC
Editor : Abu Muhammad Syu’bah
Layout : Mitra Grafika Klaten
Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1429 H
Penerbit : Cahaya Ilmu Press
Perum KCVRI No 11 Kencuran, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta









Diberdayakan oleh Blogger.