-->

29 Agustus 2012

Contoh Nyata Taqlid Buta di Kalangan NU dan PKB

Nahdatul Ulama


أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]
“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”(QS Hud/ 11: 78).

Taqlid alias mengikuti tanpa tahu dalilnya itu adalah sikap yang tidak terpuji dalam Islam. Lebih tidak terpuji lagi bila berupa taqlid buta terhadap sesuatu yang buta pula, yakni tidak ada dalil yang jelas dan bahkan tidak didukung oleh akal yang waras.
Melakukan hal yang tidak jelas dalilnya dan tidak dapat dicarikan landasan secara akal sehat itu saja sudah merupakan hal yang tercela. Apalagi yang taqlid buta terhadapnya. Ibaratnya: taqlid buta kepada yang buta.
Contohnya, disebutkan, di PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), almarhum KH Hasyim Asy’ari dinobatkan sebagai Rois Aam Akbar.
Itu secara dalil, sama sekali tidak dapat ditemukan dalil yang mendasari dijadikannya seorang yang sudah mati dijadikan pemimpin dalam organisasi yang sedang berjalan di dunia ini. Lha itu orang sudah mati, diangkat oleh organisasi kepengurusan NU sebagai pemimpin saja malahan pemimpin umum yang agung (Rois Aam Akbar). Apakah NU itu organisasi orang-orang yang sudah mati?
Dalil tidak dapat ditemukan untuk melandasinya. Akal sehat pun tidak ketemu yang demikian.
Anehnya, sesuatu yang tidak ketemu dalilya dan tak ketemu pula landasan dari akal sehat itu kemudian diikuti secara taqlid buta oleh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang dinisbatkan kepada Gus Dur. Senin kemarin (27/12/ 2010), mereka mengangkat Gus Dur yang sudah mati setahun yang lalu kini sebagai jabatan Ketua Dewan Syuro Akbar.
Diberitakan, meski sudah wafat, namun KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih tetap diberi jabatan oleh PKB Gus Dur. Para kiai PKB Gus Dur yang didukung peserta muktamar (muktamirin) sepakat memberi jabatan Ketua Dewan Syuro Akbar kepada jenate (mendiang) Gus Dur.
Itulah contoh taqlid buta yang nyata!
Inilah beritanya:

Senin, 27/12/2010 16:50 WIB 
Gus Dur Dinobatkan Sebagai Ketua Dewan Syuro Akbar PKB 
Rois Jajeli – detikNews
Surabaya - Meski sudah wafat, namun KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur masih tetap diberi jabatan oleh PKB Gus Dur. Para kiai PKB Gus Dur yang didukung peserta muktamar (muktamirin) sepakat memberi jabatan Ketua Dewan Syuro Akbar kepada mantan Presiden RI itu.
“Sejak hari ini Gus Dur dinobatkan sebagai Ketua Dewan Syuro Akbar,” ujar Kepala Desk Politik DPP PKB Gus Dur, Adhie Massardi. Penobatan jabatan Gus Dur ini ditetapkan dalam Muktamar III PKB Gus Dur yang digelar di Hotel Garden Palace, Jalan Yos Sudarso, Surabaya, Senin (27/12/2010).
Adhie menjelaskan penobatan itu juga mengacu  pada kepengurusan PBNU. Jika di PBNU, almarhum KH Hasyim Asy’ari dinobatkan sebagai Rois Aam Akbar, maka di PKB, Gus Dur dinobatkan sebagai Ketua Dewan Syuro Akbar.
“Kalau di PBNU, kebesaran Hasyim Asy’ari tidak ada yang menggantikan. Juga demikian Gus Dur, kebesaran beliau di PKB juga tidak ada yang menggantikan,” tutur mantan Juru Bicara Presiden Gus Dur itu.
Bagi Adhie, nama besar Gus Dur juga tidak hanya di PKB, tapi juga diakui di kancah nasional maupun internasional.
Muktamar III PKB Gus Dur digelar mulai Minggu (26/12/2010). Dan hari ini Senin (27/12/2010), putri Gus Dur, Zannuba Ariefah Chafsoh alias Yenny Gus Dur dipilih secara aklamasi sebagai ketua umum DPP PKB Gus Dur.
(bdh/asy)

Terhadap sikap yang menyalahi fithrah manusia normal yang sepert itu, Umat Islam perlu membaca ayat ini, tuntunan sekaligus peringatan dari Allah Ta’ala:

أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ [هود/78]
“Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?”(QS Hud/ 11: 78).
Belum diperoleh keterangan pasti, apakah nanti pelantikan pengurus PKB Gus Dur hasil muktamar ini akan dihadirkan pula mayat Gus Dur dari pekuburannya yang dikabarkan dibangun dengan biaya 180 miliar rupiah atas biaya APBD Jombang, APBD Jatim, dan APBN Pusat itu. (nahimunkar.com)
(Hajaiz Ahmad)

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.