-->

13 Agustus 2012

Meneladani Himmah Salafush Sholih dalam Menuntut Ilmu Syar’i



Ilmu adalah karya dan aktivitas hati. Jika anda tidak mau meluangkan waktu untuk ilmu, tentu anda tidak akan mendapatkannya. Jika anda arahkan diri anda pada kesenangan-kesenangan duniawi, anda akan jauh dari ilmu. Orang yang lebih mengutamakan kesenangan dunianya dari pada kenikmatannya mendapatkan ilmu, selamanya ia tidak akan mendapa

tkan derajat ilmu. Tetapi jika ia bisa membayangkan nikmatnya mendapatkan ilmu, ia masih punya harapan untuk menjadi anggota keluarga besar orang-orang yang berilmu. Itulah sebabnya mengapa para ulama salafush sholih begitu antusias dalam menuntut dan menghimpun ilmu. Antusias mereka sungguh tidak ada bandingannya. Berikut ini adalah beberapa contohnya :



Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma




Ketika beberapa negara telah berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin, Ibnu Abbas lebih memilih kehausan oleh udara yang panas karena harus menelusuri jalan-jalan kota Madinah demi mencari ilmu, dari pada bernaung di bawah pohon taman-taman di Syiria, atau di tepi-tepi sungai Nil, sungai Tigris, dan sungai Ifrat.




Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bercerita, “Ketika beberapa kota berhasil ditaklukkan oleh pasukan Islam, orang-orang mencari harta dunia. Sedangkan aku lebih memilih menemui Umar radhiyallahu ‘anhu. Setiap anak manusia itu punya keinginan, dan keinginanku ialah sehat dan punya waktu luang guna mendapatkan ilmu syar’i sebagai bekal ke surga. Untuk hal itulah seharusnya orang-orang berakal saling berlomba. Bagiku dunia adalah bekal yang menipu, dan kebahagiaan sejati itu ada di surga yang abadi, tempat segala kenikmatan tak terbatas.




Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

Bercerita tentang kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia mengatakan, “Aku biasa datang ke rumah Ubai bin Ka’ab, jika ia sedang tidur, aku rela menunggunya sambil tidur di depan pintunya. Melihat kedudukannku sebagai kerabat dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku yakin ia tidak akan marah jika dibangunkan karena kedatanganku. Tetapi aku tidak mau membuatnya bosan. Aku juga berusaha menemui siapapun dengan cara menyamar, demi menjaga perasaannya mengingat aku adalah termasuk kerabat dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”



Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah




Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Jika aku hendak menuntut ilmu, aku katakan, ‘Ya Allah, aku harus punya penghidupan’. Dan setiap kali melihat ilmu yang harus dipelajari, aku katakan, ‘Ya Allah, berikanlah keleluasaan padaku untuk mendapatkannya, dan tolong berikan aku bekal yang cukup.”




Demikian besar tekad beliau dalam menuntut ilmu, sehingga mendorong ibunya untuk bersedia membiayainya. Dengan tulus ibunya berkata, “Wahai putraku, carilah ilmu. Biarkan aku yang akan mencukupimu dengan uang hasil tenunanku.”




Begitu tinggi perhatian dan semangat Sufyan Ats-Tsauri dalam menuntut ilmu. Diceritakan oleh Abu Nu’aim, bahwa sufyan Ats-Tsauri pernah mengatakan, “Selain amal-amal fardhu, amal yang paling utama ialah menuntut ilmu.” Dan ia juga pernah mengatakan, “Aku akan terus mempelajari ilmu selama aku masih mendapati orang yang mau mengajarkannya padaku.”






Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah




Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Aku hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun, dan aku hafal kitab al-Muwaththo’ ketika berusia sepuluh tahun.”




Beliau juga mengatakan, “Setelah mengkhatamkan Al-Qur’an, aku masuk masjid dan bertemu dengan beberapa ulama. Begitu mendengar hadits atau masalah yang lain aku langsung hafal. Ibuku tidak punya uang yang bisa ia berikan padaku untuk membeli kertas. Maka begitu melihat tulang yang bisa untuk menulis aku ambil dan aku gunakan untuk menulis. Dan jika sudah penuh aku simpan tulang itu ke dalam guci kuno milik keluargaku. Aku tidak punya uang ketika aku sedang menuntut ilmu pada usia yang masih sangat muda, yaitu kurang dari tiga belas tahun. Aku biasa pergi ke kantor pemerintahan untuk minta kertas-kertas bekas yang masih bisa aku gunakan untuk menulis pelajaran.”




Ibnu Abi Hatim berkata, ‘Aku pernah mendengar Al-Muzani mengatakan, “Asy-Syafi’i ditanya, ‘Bagamana kesenangan anda terhadap ilmu?’ Ia menjawab, ‘Setiap kali mendengar satu kalimat yang belum pernah aku dengar, seluruh anggota tubuhku merasakan nikmat seolah-olah semua bisa mendengar seperti sepasang telinga.’ Asy-Syafi’i ditanya, ‘Bagaimana antusias anda terhadap ilmu?’ Ia menjawab, ‘Seperti orang materialis yang serakah ketika melihat peluang mendapatkan harta yang banyak.’ Beliau juga pernah ditanya, ‘Bagaimana keadaan anda dalam mencari ilmu?’ Ia menjawab, ‘Seperti seorang ibu yang mencari putra satu-satunya.’




Sulaim bin Ayyub ar-Razi rahimahullah




Beliau adalah salah seorang imam besar madzhab Syafi’i yang wafat tahun 447 H. Ia adalah orang yang sangat menghargai waktu. Ia tidak mau menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Abul Faraj Ghaits bin Ali at-Tanukhi ash-shuri menuturkan, ‘Aku mendapatkan cerita tentang Sulaim bin Ayyub ar-Razi. Ia adalah orang yang sangat menghargai waktu. Ia tidak mau membiarkan waktu berlalu barang sebentar pun tanpa ada gunanya sama sekali, mungkin untuk menulis, atau untuk belajar, atau untuk membaca, dan lain sebagainya. Abul Faraj al-Isfirayini, salah seorang muridnya, bercerita kepadaku, bahwa pada suatu hari Sulaim bin Ayyub ar-Razi datang ke rumahnya. Ketika hendak pamit pulang ia berkata, ‘Dalam perjalanan ke sini tadi aku berhasil membaca satu juz.’




Mu’ammal bin Husain juga bercerita kepadaku, bahwa pada suatu hari ia melihat Sulaim sedang memperbaiki penanya yang patah ketika sedang dipakai menulis, sementara sepasang bibirnya nampak bergerak-gerak. Belakangan diketahui bahwa ketika memperbaiki penanya tadi ia tetap membaca, rupanya ia tidak mau membiarkan ada waktu kosong yang berlalu begitu saja.’




Ibnu Abi Hatim rahimahullah




Imam Adz-Dzahabi berkata, Ali bin Ahmad al-Khawarzami mengatakan mengutip ucapan Ibnu Abi Hatim, ‘Aku tinggal di Mesir selama tujuh bulan. Kami tidak pernah makan kuah. Siang hari aku gunakan buat berkeliling ke para guru. Sementara malam harinya aku gunakan buat menulis naskah dan mencari perbandingan. Pernah pada suatu hari aku dan temanku mendatangi seorang guru. Lalu orang-orang berkata, ‘Ia sakit’. Ketika pulang kami melihat seekor ikan besar. Karena tertarik kami lalu membelinya untuk dimasak. Tetapi sesampai di rumah, sudah tiba waktunya kami harus belajar kepada seorang guru. Selama tiga hari kami biarkan ikan tersebut sehingga hampir membusuk. Namun kami tetap memasak dan memakannya juga, meskipun rasanya sangat tidak nikmat. Kemudian ia berkata, “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan memanjakan jasmani.”




Bahkan ada seorang ulama yang sangat sedih sehingga jatuh sakit gara-gara ia terlambat mendapatkan suatu ilmu. Ketika Syu’bah bin Al-Hajjaj orang-orang menuturkan sebuah hadits yang belum pernah didengarnya, ia berkata, “Aduh, menyedihkan sekali!” Ia merasa sangat menyesal sehingga jatuh sakit.




Muhammad Amin Asy-Syanqiti rahimahullah




Beliau menuntut ilmu semenjak kecil. Ia mempelajari berbagai disiplin ilmu dari beberapa orang guru. Hal itu karena ia terdorong oleh keinginannya yang kuat dan cita-citanya yang tinggi untuk bisa mendapatkan banyak ilmu serta menguasainya dalam waktu yang sesingkat mungkin.




Salah satu contoh yang membuktikan betapa ketika masih muda ia sudah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap lmu, ialah pengalamannya ketika sedang dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Ia mengatakan, “Karena terlalu sibuk mencari ilmu, aku jadi tidak sempat memikirkan keinginan untuk menikah, karena menurutku hal itu bisa menggangguku. Aku pernah ditawari oleh seorang teman untuk menikah dengan seorang wanita yang cukup cantik. Sebenarnya aku merasa tertarik padanya dan mau menikahinya, dengan syarat ia mau sabar menunggu aku yang sedang menuntut ilmu, Tetapi mungkin karena terlalu lama, ia menjadi putus asa dan tidak sabar. Akhirnya ia memilih menikah dengan seorang hartawan. Aku terima kenyataan itu dengan lapang dada. Aku tidak kecewa, karena aku memang belum puas menuntut ilmu.”




Pada suatu hari seorang teman berkata kepadaku, “Menikahlah sebelum terlanjur tua. Saat ini banyak wanita cantik dari keturunan orang baik yang mau menikah denganmu.” Temanku itu bermaksud supaya aku segera menyelesaikan tholabul ilmi. Dan sebagai jawabannya aku tulis bait-bait sya’ir ini :




Orang-orang itu menasihati aku untuk menikah besok pagi


Mereka bilang padaku, menikahlah dengan seorang wanita yang menawan kerlingannya, anggun, periang, dan lembut


Nanti kamu akan menemukan selaksa nikmat


Kerlingannya laksana anak panah yang menembus hati yang luka.


Bagiku itu biasa


Tetapi berapa banyak terjadi anak panah yang telah membunuh


seorang pasukan yang lemah dan tak bersenjata seperti diriku ini


Makanya aku katakan kepada mereka


Biarkan sajalah aku


Karena saat ini hatiku masih bingung dan menjerit


Aku masih asyik dengan wanita pujaanku


yang parasnya berkilau seakan-akan pagi yang cerah


Aku melihat ia begitu cantik dengan pakaiannya yang sangat anggun


Aku masih enggan berfikir untuk meninggalkannya


demi menikahi wanita yang kalian tawarkan kepadaku itu




Demikian, gambaran singkat pofil para ulama dan himmah (semangat) mereka dalam menuntut ilmu. Subhanallah! Alangkah indahnya jika kita semua dapat meneladaninya. Mudah-mudahan daurah yang kita ikuti dua hari ini dapat membangkitkan himmah kita dan meninggalkan kemalasan yang selama ini menyelimuti dan mengikat kita. Mari bangkit bersama, pasti kita bisa!






By : Abu Harits, Lc


Mudir STTQ Isy Karima




http://www.isykarima.com/Ust.-Badru-T/meneladani-himmah-salafush-sholih-dalam-menuntut-ilmu-syari.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.