-->

09 Agustus 2012

Niat Setiap Hari Atau Saja Sekali Dalam Satu Bulan ?




pernik
Niat adalah salah satu rukun puasa, dan tidak sah puasa seseorang kecuali dengan dua perkara ini [1]
Nabi shallallahu’alayhi wa sallam bersabada,
مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa (Ramadhan) sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya”.[2]
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah niatnya harus setiap hari?
Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama menjadi dua pendapat.
Pendapat pertama. Cukup bagi yang berpuasa untuk niat sekali saja pada awal Ramadhan dan niatnya mencukupi selama sebulan penuh, selagi puasanya tidak terputus dengan safar atau sakit. [3] Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Malik, Ishaq bin Rahawih, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad,[4] karena puasa Ramadhan adalah satu kesatuan ibadah yang tidak terpisahkan
Pendapat kedua. Wajib bagi yang berpuasa untuk niat setiap hari. Karena setiap hari adalah ibadah puasa tersendiri yang harus niat. Inilah pendapatnya Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad menurut pendapat yang mahsyur. [5]
Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat pertama yaitu cukup bagi orang yang berpuasa untuk niat sekali saja pada awal hari Ramadhan dan niatnya mencukupi selama sebulan penuh. Kecuali, apabila puasanya terputus dengan safar atau sakit maka wajib memperbaharui niatnya lagi. Allahu’alam.[6]
referensi: Panduan Lengkap Puasa Ramadhan, oleh Ust. Syahrul Fatwa dan Ust Yusuf bin Mukhtar.
________________
[1]. Bada’i ash-Shana’i 2/1006 al-Kasani, Bidayatul Mujtahid 2/557, Ibnu Rusyd, Rasudhah ath-Thalibin hlm. 29 an-Nawawi
[2]. HR. Abu Dawud No. 2454, Nasa’i 4/196, Tirmidzi No. 730, Ibnu Majah No. 1700, Ahmad 44/53; Dishahihkan al-Albani dal al-’Irwa’ No. 914.
[3]. Al-Irsyad ila Sabili ar-Rasyad hlm. 145 Muhammad bin Ahmad al-Hasyimi (Tahqiq: Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki)
[4]. Al-Istidzkar 10/35 Ibnu Abdil Barr, al-Mughni 4/337 Ibnu Qudamah
[5]. Al-Mughni 4/337, al-Majmu’ 6/302, Kifayatul Akhyar hlm. 286 Taqiyyuddin Muhammad al-Husaini
[6]. Asy-Syarh al-Mumthi’ 6/370 Ibnu Utsaimin, Taudhihul Ahkam 3/468 Abdullah al-Bassam, Masa’il Mu’ashirah hlm. 421 Nasyif bin Jam’an.

Diberdayakan oleh Blogger.