-->

25 Agustus 2012

Siapa Sebenarnya Pembangkit Radikalisme & Terorisme Modern di Tengah Umat Islam ?


Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA

Dunia internasional secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak terhenti sampai disitu. Sasaran terus berkembang, samapi akhirnya umat islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ud, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia.
Dahulu banyak kalangan yang menuduh bahwa pemerintah Saudi berada di belakang gerakan tidak manusiawi ini. Mereka menuduh bahwa paham yang diajarkan di Saudi Arabia telah memotivasi para pemuda Islam untuk bersikap bengis seperti ini. Akan tetapi, yang mengherankan, tudingan ini masih juga diarahkan ke Saudi, walaupun telah terbukti bahwa pemerintah Saudi termasuk yang paling sering menjadi korban ?
Melalui tulisan ini, saya mengajak saudara sekalian untuk menelusuri akar permasalahan sikap ekstrim dan bengis yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini. Benarkah ideologi ini bermuara dari Saudi Arabia?

Harian “Ashsharqul-Ausat” edisi 8407 tanggal 4/12/2001 M – 19/9/1422 H menukil catatan harian Dr.Aiman al-Zhawahiri, tangan kanan Usamah bin Ladin. Diantara catatan harian Dr.Aiman al-Zhawahiri yang dinukil oleh harian tersebut ialah : “Sesungguhnya Sayyid Quthub dalam kitabnya yang bak bom waktu “Ma’alim Fi At-Thariq” meletakan undang-undang pengkafiran dan jihad. Gagasan-gagasan Sayyid Quthublah yang selama ini menjadi sumber banyaknya pemikiran radikal. Sebagaimana kitab beliau yang berjudul “Al-Adalah Al-Ijtima’ilyah di Islam” merupakan, hasil pemikiran logis paling penting bagi lahirnya arus gerakan radikal. Gagasan-gagasan Sayyid Quthub merupakan percikan api pertama bagi berkorbarnya revolusi yang ia sebut sebagai revolusi Islam melawan orang-orang uang didisebutnya musuh-musuh Islam, baik di dalam atau di luar negeri. Suatu perlawanan berdarah yang dari hari ke hari terus berkembang.”
Pengakuan Dr.Aiman al-Zhawahiri ini selaras dengan pernyataan Meteri Dalam Negeri Saudi Arabia, Pangeran Nayif bin Abdul Aziz al-Su’ud. Pangeran Nayif menyatakan kepada harian “As-Siyasah Al-Kuwaitiyah” pada tanggal 27 Nopember 2002M : “Tanpa ada keraguan sedikitpun, aku katakana bahwa sesungguhnya seluruh permasalahan dan gejolak yang terjadi di negeri kita bermula dari organisasi Ikhwanul Muslimin. Sungguh, kami telah banyak bersabar menghadapi mereka walaupun sebenarnya bukan hanya kami yang telah banyak bersabar. Sesungguhnya mereka itulah penyebab berbagai masalah yang terjadi di dunia arab secara khusus dan bahkan meluas sehingga ke seluruh dunia Islam. Organisasi Ikhwanul Muslimin sungguh telah menghancurkan seluruh negeri Arab.”
Lebih lanjut Pangeran Nayif menambahkan : “Karena saya adalah pemangku jabatan terkait, maka saya rasa perlu menegaskan bahwa ketika para pemuka Ikhwanul Muslimin merasa terjepit dan ditindas di negeri asalnya (Mesir-pen), mereka mencari perlindungan dengan berhijrah ke Saudi, dan saya pun menerima mereka. Dengan demikian, -berkat karunia Allah – mereka dapat mempertahankan hidup, kehormatan dan keluarga mereka. Sedang saudara-saudara kita para pemimpin Negara sahabat dapat memaklumi sikap kami ini. Para pemimpin Negara sahabat menduga bahwa para anggota Ikhwanul Muslimin tidak akan melanjutkan gerakannya dari Saudi Arabia. Setelah mereka tinggal ditengah-tengah kita selama beberapa tahun, akhirnya mereka butuh mata pencaharian. Dan kami pun membukakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Dari mereka ada yang diterima sebagai tenaga pengajar, bahkan menjadi dekan sebagian fakultas. Kami berikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah dan perguruan tinggi kami. Akan tetapi, sangat disayangkan, mereka tidak melupakan hubungan mereka dimasa lalu. Mulailah mereka memobilisasi masyarakat, membangun gerakan dan memusuhi Kerajaan Saudi.”
Dan kepada harian Kuwait “Arab Times” pada hari Rabu, 18 Desember 2002 M, kembali pangeran Nayif berkata: “Sesungguhnya mereka (Ikhwanul Muslimin) mempolitisasi agama Islam guna kepentingan pribadi mereka.
Sekedar membuktikan akan kebenaran dari pengakuan Dr.Aiman Al-Zhawahiri di atas, berikut saya nukil dua ucapan Sayyid Quthub:
Nukilan 1: “Saya menyeru agar kita memulai kembali kehidupan yang islami di satu tatanan masyarakat yang islami. Satu masyarakat yang tunduk kepada aqidah Islam, dan tashawur (pola pikir) yang islami pula. Sebagaimana masyarakat itu patuh kepada syari’at dan undang-undang yang Islami. Saya menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan semacam ini telah tiada sejak jauh-jauh hari di seluruh belahan bumi. Bahkan agam Islam sendiri juga telah tiada sejak jauh-jauh hari pula.” (Al’Adalah Al-Ijtima’iyah 182).
Nukilan 2: “Dan bila sekarang kita mengamati seluruh belahan bumi berdasarkan penjelasan ilahi tentang pemahaman agama dan Islam ini niscaya kita tidak temukan eksistensi dari agama ini.” (Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah hlm.183).
Saudaraku! Sebagai seorang Muslim yang beriman, apa perasaan dan reaksi Anda setelah membaca ucapan ini?
Demikianlah, ideology ekstrim yang diajarkan oleh Sayyid quthub nelalui bukunya yang oleh Dr.Aiman Al-Zhawahiri tersebit sebagai “Dinamit”. Pengkafiran seluruh lapisan masyarakat yang tidak berguna ke dalam barisanya.
Mungkin karena belum merasa cukup dengan mengkafirkan masyarakat secara umum, Sayyid Quthub dalam bukunya “Fi Zhilalil Qur’an” jetika menafsirkan surat Yusuf ayat 78, ia menyebut masjid-masjid yang ada di masyarakat sebagai “tempat peribadatan jahiliyah”. Sayyid Quthub berkata : “Bila umat Islam ditindas di suatu negeri, maka hendaknya mereka meninggalkan tempat-tempat peribadahan jahiliyah. Dan menjadikan rumah-rumah anggota kelompok yang tetap berpegang teguh dengan keislamannya sebagai masjid. Di dalamnya mereka dapat menjauhkan diri dari masyarakat jahiliyah. Di sana mereka juga menjalankan peribadahan kepada Rabbnya dengan cara-cara yang benar. Di waktu yang sama, dengan mengamalkan ibadah tersebut, mereka berlatih menjalankan semacam tanzhim dalam nuansa ibadah yang suci.”
Yang dimaksud ‘ma abid jahiliyah (tempat-tempat ibadah jahiliyah) adalah masjid-masjid kaum Muslimin yang ada. Bisa bayangkan! Para pemuda, yang biasanya memiliki idealisme tinggi dan semangat besar, lalu mendapat doktrin semacam ini, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Benar-benar Sayyid Quthub menanamkan ideologi pada akal pikiran para pengikutnya.
Dan sudah barang tentu, ia tidak berhenti pada penanaman ideologi semata. Ia juga melanjutkan doktrin terornya dalam wujud yang lebih nyata. Simaklah, bagaimana ia mencontohkan aplikasi nyata dari ideology yang ia ajarkan: “Menimbang berbagai faktor ini secara komprehensif saya memikirkan suatu rencana dan cara untuk membalas perbuatan musuh. Aku pernah katakana kepada para anggota  jama’ah : “Hendaknya mereka memikirkan suatu rencana dan cara, dengan mempertimbangkan bahwa mereka pulalah yang akan menjadi eksekutornya. Tentunya cara itu disesuaikan kengan potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu dengan pasti cara apa yang tepat bagi mereka dan saya juga tidak bias menentukannya ….. Tindakan kita ini sebagai balasan atas penangkapan langsung beberapa anggota organisasi Ikhwanul Muslimin. Kita membalas dengan menyingkirkan pimpinan-pimpinan mereka, terutama presiden, perdana menteri, ketua dewan pertimbangan agung, kepala intelijen dan kepala kepolisian. Balasan juga dapat dilanjutkan dengan meledakkan berbagai infrastruktur yang dapat melumpuhkan transportasi kota Kairo. Semua itu bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada anggota Ikhwanul Muslimin didalam dan diluar kota Kairo. Serangan juga dapat diarahkan ke pusat pembangkit listrik dan jembatan layang.” (Limad a \addamuni oleh Sayyid Quthub hlm: 55)
Pemaparan singkat ini menyingkap dengan jelas akar dan sumber pemikiran ekstrim yang melekat pada jiwa sebagian umat Islam di  aman ini.
Hanya saja, perlu diketahui bahwa menurut beberapa pengamat, gerakan Ikhwanul Muslimin dalam upaya merealisasikan impian besarnya, telah terpecah menjadi tiga aliran ;
1. ALIRAN HASAN AL-BANNA
Dalam mengebangkan jaringannya, Hasan al-Banna lebih mementingkan terbentuknya suatu jaringan sebesar-besarnya, tanpa peduli dengan perbedaan yang ada di antara mereka. Kelompok ini senantiasa mendengungkan slogan:
Kita bersatu dalam hal yang sama, dan saling toleransi dalam setiap perbedaan antara kita.
Tidak engherankan bila para penganut ini siap bekerja sama dengan siapa saja, demi mewujudkan tujuannya. Prinsip-prinsip agama bagi mereka sering kali hanya sebatas pelaris dan pelican agar gerakanny di terima oleh masyarakat luas. Tidak heran bila corak politis nampak kental ketimbang agamis pada kelompok penganut aliran ini. Karenany, dalam perkumpulan dan pengajian mereka, permasalahan politik, strategi pergerakan dan tanz him sering menjadi tema utama pembahasan.
2. ALIRAN SAYYID QUTHUB
Setelah bergabungnya Sayyid Quthub ke dalam barisan Ikhwanul Muslimin, terbentuklah aliran baru yang ekstrim pada tubuh Ikhwanul Muslimin. Pemikiran dan corak pergerakannya lebih memudahkan konfrintasi. Ia menjadikan pergerakan Ikhwanul Muslimin terbelah menjadi dua aliran. Melalui berbagai tulisannya, Sayyid Quthub menumpahkan ideology ekstrimnya. Tanpa segan-segan ia mengkafirkan seluruh pemerintah umat Islam yang ada, dan bahkan seluruh lapisan masyarakat yang tidak sejalan dengnnya. Karenanya ia menjuluki masjid-masjid umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagai “tempat peribadatan jahiliyah”.
3. ALIRAN MUHAMMAD SURUR ZAENAL ABIDIN
Setelah pergerakan Ikhwanul Muslimin mengalami banyak tekanan di negeri mereka, yaitu Mesir, Suria dan beberapa negeri Arab lainnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Negara yang paling kondusif untuk menyelamatkan diri dan menyambung hidup ketika itu ilaha Kerajaan Saudi Arabia. Hal itu karena penguasa Kerajaan Saudi saat itu begitu menunjukkan solidaritas kepada mereka yang ditindas di negeri mereka sendiri. Lebih dari itu, pada saat kerajaan Saudi sedang kebanjiran pendapatan minyak buminya, mereka membuka berbagai jenjang, sehingga mereka kekurangan tenaga pengajar. Jadi, keduanya saling membutuhkan. Untuk itu, mereka diterima dengan dua tangan terbuka oleh otoritas Pemerintah Saudi Arabia. Selanjutnya, merekapun dipekerjakan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di sana.
Di sisi lain, Pemerintahan Masir, Suria dan lainnya merasa terbataskan dari banyak pekerjaannya. Mereka tidak berkeberatan dengan sikap Pemerintah Saudi Arabia yang memberikan tempat kepada para pelarian Ikhwanul Muslimin, sebagaimana ditegaskan oleh Pangeran Nayif bin Abdul Aziz di atas.
Selama tinggal di Kerajaan Saudi Arabia inilah, beberapa tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin berusaha beradaptasi dengan paham yang diajarkan di sana. Sebagaimana kita ketahui, Ulama-Ulama Saudi Arabia adalah para penerus dakwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang anti pati dengan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah. Sehingga, selama mengembangkan pergerakannya, tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin turut menyuarakan hal yang sama. Hanya dengan cara inilah mereka bias mendapatkan tempat dimasyarakat setempat. Inilah factor pembeda antara aliran ketiga dari aliran kedua, yaitu adanya sedikit perhatian terhadap tauhid dan sunnah. Walaupun pada tataran aplikasinya, masalah tauhid acap kali dikesampingkan dengan cara membuat istilah baru yang mereka sebut dengan tauhid hakimiyah.
Istilah ini sebenarnya bukanlah baru, istilah ini tak lebih dari kamuflase para pengikut Sayyid Quthub untuk mengelabui pemuda-pemuda Saudi Arabia semata. Istilah ini mereka ambil dari doktrin Sayyid Quthub yang ia tuliskan dalam beberapa tulisannya. Berikut salah satu ucapannya yang menganspirasi mereka membuat istilah tauhid hakimyyah ini: “Teori hokum dalam agama Islam dibangun di atas persaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah. Dan bila dengan persaksian ini telah ditetapkan bahwa peribadatan hanya layak ditujukan kepada Allah semata, maka ditetapkan pula bahwa perundang-undangan dalam kehidupan umat manusia adalah hak Allah semata. Dari situ sis, hanya Allah Yang Maha Suci, yang mengatur kehidupan umat manusia dengan kehendak dan taqdir-Nya. Dan dari sisi lain, Allah jualah yang berhak mengatur keadaan, kehidupan , hak, kewajiban dan hubungan mereka, juga keterkaitan mereka dengan syari’at dan ajaran-ajarannya… Berdasarkan kaidah ini, manusi tidak dibenarkan untuk membuat undang-undang, syari’at, dan peraturan pemerintah menurut gagasan diri-sendiri. Karena perbuatan ini artinya menolak sifat uluhiyah Allah dan mengklaim bahwa pada dirinya terdapat sifat-sifat uluhiyah. Dan sudah barang tentu ini adalah nyata-nyata perbuatan kafir.” (Al ‘Adalah Al-ijyima iyah hal.80)
Ketika menafsiri ayat 19 surat al An’am, Sayyid Quthub lebih ekstrim dengan mengatakan: “Sungguh sejarah telah terulang, sebagaimana yang terjadi pada saat pertama kali agama Islam menyeru umat manusia kepada “la ilaha illallah”. Sungguh, saat ini umat manusia telah kembali menyembah sesame manusia, mengalami penindasan dari pemuka agama dan berpaling dari “la ilaha illallah”. Walaupun sebagian dari mereka masih tetap mengulang-ulang ucapan “la ilaha illallah” akan tetapi tanpa memahami kandungannya. Ketika mereka mengulang-ulang syahadat itu, mereka tidak memasukkan kandungannya. Mereka tidak menentang penyematan sebagian manusia sifat “al-hakimiyah” pada dirinya. Padahal “al-hakimiyah” adalah sinonim dengan “al-uluhiyah”.
Yang dimaksud Sayyid Quthub pernyataan diatas, antara lain adalah para muadzin yang selalu menyerukan kalimat syahadat. Anda bias bayangkan, bila para muadzin di mata Sayyid Quthub demikian adanya, maka bagaimana halnya dengan selain mereka? Bila demikian cara Sayyid Quthub memandang para muadzin yang menjadi benteng terakhir bagi eksistensi agama Islam di masyarakat, maka kira-kira bagaimana pandangannya terhadap diri Anda yang bukan muadzin?
Kedudukan al-hakimiyyaah; kewenangan untuk meletakan syari’at dalam Islam, sebenarnya tidaklah seperti yang digambarkan oleh Sayyid Quthub sampai menyamai kedudukan uluhiyyah. Al-Hakimiyah hanyalah bagian dari rububiyah Allah. Karenanya, setelah mengisahkan tentang penciptaan langit bumi, serta pergantian siang dan malam, Allah berfirman: “Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. al A’raf/7:54-55)
Pada ayat 54, Allah menegaskan bahwa mencipta dan memerintah yang merupakan kesatuan dari rububiyah adalah hak Allah. Pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan agar kita diwujudkan dengan berdoa dengan rendah diri dan suara yang halus. Dengan demikian, tidak tepat bila al-hakimiyah disejajarkan dengan uluhiyah. Apabila sampai dikesankan bahwa al-hakimiyah di zaman sekarang lebih penting disbanding al-uluhiyah.
Ucapan Sayyid Quthub semacam inilah yang mendasari para pengikitnya untuk lebih banyak mengurus kekuasaan dan para penguiasa disbanding urusan dakwah menuju tauhid dan upaya memerangi kesyirikan yang banyak terjadi dimasyarakat. Karenanya, di antara upaya Kerajaan Saudi Arabia dalam menanggulangi ideologi sesat ini adalah dengan berupaya membersihkan pemikiran masyarakatnya dari doktrin-doktrin Sayyid Quthub yang terlanjur meracuni pemikiran sebagian mereka. Diantara terobosan yang menurut saya cukup bagus dan layak ditiru ialah :
  1. Manik kitab-kitab yang mengajarkan ideology ekstrim dari perpustakaan sekolah. Di antara kitab-kitab yang di tarik ilaha kitab: Sayyid Quthub Al-Muftara ‘alaih dn kitab Al-Jihad Fi Sabilillah.
  2. Membentuk badan rehabilitasi yang beranggotakan para Ulama guna meluruskan pemahaman dan menetralisasi doktrin ektrim yang terlanjur meracuni akal para pemuda. Terobosan kedua ini terbukti sangat efektif, dan berhasil menyadarkan ratusan pemuda yang telah teracuni oleh pemikiran ektrim, hingga mereka kembali menjadi anggota masyarakat yang sewajarnya.
Mengakhiri pemaparan ringkas ini, ada baiknya bila saya mengetengahkan pernyataan Pangeran Sa’ud al-Faisal, Mentri Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia, pada pertemuan U.S – Saudi Arabia Business Council (USSABC) yang berlangsung di kota New York, pada tanggal 26 April 2004. Pangeran Sa’ud berkata: “Menanggapi tuduhan-tuduhan ini, sudah sepantasnya bila Anda mencermati fenomena jaringan al=Qaedah bersama pemimpinnya Bin Ladin. Walaupun ia terlahir di Saudi Arabia, akan tetapi ia mendapatkan ideology dan pola pikirnya di Afganistan. Semuanya berkat pengaruh dari kelompok sempalan gerakan Ikhwanul Muslimin. Saya yakin, hadirin senua telah mengenal gerakan ini. Fakta ini membuktikan bahwa Saudi Arabia dan seluruh masjid-masjid terbebas dari tuduhan sebagai sarang ideologi tersebut.

Dan kalaupun ada pihak yang tetap beranggapan bahwa Saudi Arabia bertanggung jawab atas kesaalahan yang telah terjadi, maka sudah sepantasnya Amerika Serikat juga turut bertanggung jawab atas kesalahan yang sama. Dahulu kita sama-sama mendukung perjuangan mujahidin dalam membebaskan Afganistan dari penjajahan Uni Soviet. Dan setelah Afganistan merdeka, kita membiarkan beberapa figur tetap bebas berkeliaran, sehingga mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak jelas. Kita semua masih mengingat, bagaimana para mujahidin disambut dengan penuh hormat di Gedung Putih. Bahkan tokoh fiktif Rambo dikisahkan turut serta berjuang bersama-sama dengan para mujahidin”. (Sumber situs resmi Kementrian Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia. http/www.mofa.gov.sa/Detail.asp?InNewsItemId=39825)
Semoga pemaparan singkat ini dapat sedikit membuka sudut pandang baru bagi kita dalam menyikapi berbagai ideology, sikap dan pergerakan ekstrim yang berkembang di tengah masyarakat. (ibnuramadan wordpress.com)
————————-
Dikutib dari : Assunnah Edisi 10/Thn.XIII/Muharam1431H/Januari 2010M

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.