-->

02 September 2012

Ada Yang Bertanya, Apa sih Jamaah Tabligh Itu?

Selayang pandang, orang yang memandang Jama’ah Tabligh, pasti akan terkagum-kagum terhadap jama’ah ini.

Betapa tidak!
Anggota jama’ah ini nampak begitu khusyu’ dalam shalat. Bahkan, dzikir mereka sampai menangis-nangis.
Mereka begitu giat dalam berdzikir dan berdakwah. Seakan begitu ikhlas, tawadzu’ dan berbagai macam penampilan lahiriyah yang mengagumkan.
Begitulah, kadang penampilan dhahir itu menipu orang-orang yang kurang memahami Sunnah.
Dibalik penampilan yang mengagumkan itu, ternyata tersimpan berbagai penyimpangan dan keyakinankeyakinan sesat.
Perhatikanlah pendapat-pendapat ulama’ tentang jama’ah ini. Sejak pertama kali berdiri, jama’ah ini sudah berdiri di atas pondasi yang salah. Yaitu berdiri berdasarkan mimpi sang pendirinya, Muhammad Ilyas.
Dia mengatakan,“Tersingkaplah bagiku usaha dakwah tabligh ini dan diresapkan ke dalam hatiku, dalam mimpi tafsir ayat:
(QS Ali Imran/3:110)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang munkar, dan beriman kepada Allâh.
(QS Ali Imran/3:110)
Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia, seperti halnya para nabi. Firman Allâh: ‘dikeluarkan’ merupakan isyarat, bahwa kerja dakwah ini tidak hanya di satu tempat saja, namun dibutuhkan perjalanan ke negeri-negeri lain. Dan tugasmu adalah amar ma’ruf nahi mungkar.” (Lihat buku Mahfudhat Ilyas, hal. 57, oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul Jama’ah Tabligh, Aqidatuha Wa Afkaruha Wa Masyayikhiha, hal. 14).
Konon katanya, peristiwa itu terjadi di Madinah An-Nabawiyah, seperti yang dinukil oleh Abul Hasan An-Nadwi dalam kitabnya berjudul Syaikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Ad Diiniyyah. (Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, terbitan As Shaff, tahun 1999).
Menanggapi perkataan ini, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitab Al Jama’ah Islamiah hal. 366, berkata :
”(Mimpi seperti) ini merupakan sejenis wahyu (dan wahyu telah terputus semenjak wafatnya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam).
Jika mereka katakan: Ini adalah ilham!
Maka aku katakan: Tidak ada seorangpun dari umat ini yang mendapat ilham, karena syari’at telah sempurna dan tidak membutuhkan ilham. Jika memang ada yang mendapat ilham, maka orang itu adalah Umar, bukan yang lainnya sebagaimana ditegaskan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.”
Itulah Jama’ah Tabligh.
Ada lagi yang perlu diperhatikan dari masalah mimpi ini. bahwa jama’ah ini banyak menjadikan mimpi sebagai rujukan dan dasar dalam beramal.
Sehingga kitab-kitab pegangan mereka banyak memuat mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap shalih. Padahal agama Islam ini sudah sempurna. Tidak memerlukan mimpi untuk melengkapinya. Apalagi mimpi itu tidak jelas asal-usulnya. Pantaskah kita menjadikan sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya sebagai pegangan?
Jama’ah yang pertama kali didirikan di India ini, di masyarakat dikenal dengan berbagai sebutan. Satu diantaranya ialah Jama’ah Jaulah atau Khuruj.
Tidaklah mengherankan, karena bagi Jama’ah Tabligh, jaulah atau khuruj merupakan amalan yang sangat utama. Mereka menganggap khuruj sebagai jihad, bahkan jihad yang paling besar. Sehingga mereka sangat bersemangat melakukan khuruj dalam rangka “dakwah”.
Benarkah mereka berdakwah kepada Allâh?
Harus disadari, bahwa untuk berdakwah membutuhkan ilmu. Tidak cukup hanya berbekal semangat.
Kalau hanya berbekal semangat, niscaya kesesatan pasti tidak terelakkan.
Sementara anggota jama’ah ini sangat bersemangat berdakwah, namun mereka sangat disayangkan kurang, bahkan tidak peduli dengan ilmu syar’i. Lalu berbekal apakah mereka berdakwah?
Masalah lain yang mengundang tanda-tanya, ialah apa dalil yang mendasari khuruj mereka?
Mereka memang banyak menyampaikan alasan-alasan mengenai khuruj. Namun dalil-dalil yang mereka sampaikan tidak bisa dijadikan pegangan secara benar. Kalaulah mereka mau mengakui secara jujur, bahwa –sebenarnya– yang menjadi dasar khuruj, ialah mimpi sang pendiri jama’ah ini. Sebagaimana dikatakan Muhammad Ilyas.
Inilah Jama’ah Tabligh dengan khuruj yang menjadi ciri khas mereka. Tidakkah mereka banyak membuat dusta atas nama Allâh dan RasulNya ?
Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
hadits
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku,
maka hendaklah ia bersiap menempati tempatnya dari neraka.”
Akhirnya marilah kita bertakwa kepada Allâh dengan menjalankan syari’at-syari’atNya. Hanya kepada Allâh lah kita memohon pertolongan, agar kita senantiasa diberi petunjuk dalam menjalankan ketaatan kepadaNya.
Dan kepada saudara-saudaraku, marilah kita merujuk kepada kebenaran yang haq.
(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VII)
sumber: http://majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=226
(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun VII)
Selayang pandang, orang yang memandang Jama’ah Tabligh, pasti akan terkagum-kagum terhadap jama’ah ini. Betapa tidak! Anggota jama’ah ini nampak begitu khusyu’ dalam shalat. Bahkan, dzikir mereka sampai menangis-nangis. Mereka begitu giat dalam berdzikir dan berdakwah. Seakan begitu ikhlas, tawadzu’ dan berbagai macam penampilan lahiriyah yang mengagumkan.
Begitulah, kadang penampilan dhahir itu menipu orang-orang yang kurang memahami Sunnah. Dibalik penampilan yang mengagumkan itu, ternyata tersimpan berbagai penyimpangan dan keyakinankeyakinan sesat. Perhatikanlah pendapat-pendapat ulama’ tentang jama’ah ini. Sejak pertama kali berdiri, jama’ah ini sudah berdiri di atas pondasi yang salah. Yaitu berdiri berdasarkan mimpi sang pendirinya, Muhammad Ilyas. Dia mengatakan,“Tersingkaplah bagiku usaha dakwah tabligh ini dan
diresapkan ke dalam hatiku, dalam mimpi tafsir ayat:
(QS Ali Imran/3:110)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang munkar, dan beriman kepada Allâh.
(QS Ali Imran/3:110)
Sesungguhnya engkau dikeluarkan untuk umat manusia, seperti halnya para nabi. Firman Allâh: ‘dikeluarkan’ merupakan isyarat, bahwa kerja dakwah ini tidak hanya di satu tempat saja, namun dibutuhkan perjalanan ke negeri-negeri lain. Dan tugasmu adalah amar ma’ruf nahi mungkar.” (Lihat buku Mahfudhat Ilyas, hal. 57, oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul Jama’ah Tabligh, Aqidatuha Wa Afkaruha Wa Masyayikhiha, hal. 14).
Konon katanya, peristiwa itu terjadi di Madinah An-Nabawiyah, seperti yang dinukil oleh Abul Hasan An-Nadwi dalam kitabnya berjudul Syaikh Muhammad Ilyas wa Da’watuhu Ad Diiniyyah. (Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Riwayat Hidup dan Usaha Dakwah Maulana Muhammad Ilyas, terbitan As Shaff, tahun 1999).
Menanggapi perkataan ini, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam kitab Al Jama’ah Islamiah hal. 366, berkata :
”(Mimpi seperti) ini merupakan sejenis wahyu (dan wahyu telah terputus semenjak wafatnya Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam). Jika mereka katakan: Ini adalah ilham! Maka aku katakan: Tidak ada seorangpun dari umat ini yang mendapat ilham, karena syari’at telah sempurna dan tidak membutuhkan ilham. Jika memang ada yang mendapat ilham, maka orang itu adalah Umar, bukan yang lainnya sebagaimana ditegaskan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.”
Itulah Jama’ah Tabligh. Ada lagi yang perlu diperhatikan dari masalah mimpi ini. bahwa jama’ah ini banyak menjadikan mimpi sebagai rujukan dan dasar dalam beramal. Sehingga kitab-kitab pegangan mereka banyak memuat mimpi-mimpi orang-orang yang dianggap shalih. Padahal agama Islam ini sudah sempurna. Tidak memerlukan mimpi untuk melengkapinya. Apalagi mimpi itu tidak jelas asal-usulnya. Pantaskah kita menjadikan sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya sebagai pegangan?
Jama’ah yang pertama kali didirikan di India ini, di masyarakat dikenal dengan berbagai sebutan. Satu diantaranya ialah Jama’ah Jaulah atau Khuruj. Tidaklah mengherankan, karena bagi Jama’ah Tabligh, jaulah atau khuruj merupakan amalan yang sangat utama. Mereka menganggap khuruj sebagai jihad, bahkan jihad yang paling besar. Sehingga mereka sangat bersemangat melakukan khuruj dalam rangka “dakwah”.
Benarkah mereka berdakwah kepada Allâh?
Harus disadari, bahwa untuk berdakwah membutuhkan ilmu. Tidak cukup hanya berbekal semangat. Kalau hanya berbekal semangat, niscaya kesesatan pasti tidak terelakkan. Sementara anggota jama’ah ini sangat bersemangat berdakwah, namun mereka sangat disayangkan kurang, bahkan tidak peduli dengan ilmu syar’i. Lalu berbekal apakah mereka berdakwah?
Masalah lain yang mengundang tanda-tanya, ialah apa dalil yang mendasari khuruj mereka?
Mereka memang banyak menyampaikan alasan-alasan mengenai khuruj. Namun dalil-dalil yang mereka sampaikan tidak bisa dijadikan pegangan secara benar. Kalaulah mereka mau mengakui secara jujur, bahwa –sebenarnya– yang menjadi dasar khuruj, ialah mimpi sang pendiri jama’ah ini. Sebagaimana dikatakan Muhammad Ilyas.
Inilah Jama’ah Tabligh dengan khuruj yang menjadi ciri khas mereka. Tidakkah mereka banyak membuat dusta atas nama Allâh dan RasulNya ?
Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
hadits
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku,
maka hendaklah ia bersiap menempati tempatnya dari neraka.”
Akhirnya marilah kita bertakwa kepada Allâh dengan menjalankan syari’at-syari’atNya. Hanya kepada Allâh lah kita memohon pertolongan, agar kita senantiasa diberi petunjuk dalam menjalankan ketaatan kepadaNya.
Dan kepada saudara-saudaraku, marilah kita merujuk kepada kebenaran yang haq.

 http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/05/20/ada-yang-bertanya-apa-sih-jamaah-tabligh-itu/

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.