-->

03 September 2012

Akhirnya, Hakikat Dakwah Mereka Tersingkap…!!!


Akhirnya, Hakikat Dakwah Mereka Tersingkap…!!!
wahdahOleh : Ustadz Amiruddin Djalil, LC
Meluruskan Kesalahpahaman tentang
kedatangan ‘pasukan’ Wahdah Islamiyah di Masjid Khadijah Sudiang Makassar
————————————————————————————
Tulisan ini kami tujukan kepada ikhwah-ikhwah salafi yang belum mengerti duduk persoalan perihal kedatangan beberapa ikhwah dari Wahdah Islamiyah di Masjid Khadijah pada penghujung acara daurah bedah buku “ Lau Kaana Khairan “ oleh  Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat (Hari Ahad, 25 Mei 2008 pukul 14.00). Kita perlu mengambil hikmah dibalik peristiwa tersebut dan memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala ketentuan dari-Nya. Al Hamdulillah, kejadian itu telah menjawab pertanyaan yang selama ini cukup sulit dijelaskan.
Karena banyak kaum muslimin yang bertanya-tanya tentang perbedaan gerakan dakwah Wahdah Islamiyah dengan dakwah salafiyah. Sebab mereka mengklaim juga sebagai pelopor dakwah salafiyah. Tetapi kini hakikat gerakan dakwah mereka tersingkap karena mengambil posisi berhadapan langsung dengan Al Ustadz Abdul Hakim Abdat sebagai salah seorang da’i salafi. Hal itu terbukti dengan adanya isu-isu yang mereka sebar yang tak layak dialamatkan kepada seorang da’i dan ahli ilmu. Artinya, apabila Al Ustadz Abdul Hakim adalah seorang salafi (mengingat hubungan beliau sangat dekat dengan murid-murid Syaikh Al Bani),  maka lawannya tentu bukan salafi.
Sebenarnya rencana dialog antara Al Ustadz Abdul Hakim dan pihak Wahdah Islamiyah sudah dibatalkan jauh sebelum ‘pasukan’ itu datang. Bukti pembatalan itu masih tersimpan rapi dalam HP milik Akh Rudi Pramono. Dialog tersebut dibatalkan karena kondisi yang kurang kondusif dan persiapan penyelenggara yang juga tidak matang. Sehingga jika dipaksakan akan lebih banyak mendatangkan mudharat daripada manfaat. Pihak panitia daurah hanya mempersilahkan kepada pihak Wahdah Islamiyah untuk mengikuti acara daurah sebagaimana peserta lainnya. Dipersilahkan pula bagi mereka bertanya tentang gerakan dakwah mereka. Karena manhaj salaf adalah bertanya kepada orang berilmu dan bukan mengajaknya berdebat. Namun hingga acara berakhir pihak Wahdah belum juga datang. Mereka datang justru ketika acara telah selesai dan Al Ustadz Abdul Hakim sudah keluar dari masjid untuk makan siang. Anehnya, pihak Wahdah seakan memaksa bertemu dengan alasan tabayyun (memperjelas permasalahan) dan silaturahmi. Mereka sengaja membuat kesan seakan Al Ustadz Abdul Hakim tidak jantan dan tidak berani menghadapi mereka. Hal itu terungkap dari pernyataan Ustadz Rahmat (dari pihak Wahdah), “Kami inginkan jadi betul-betul laki-laki.” Padahal merekalah yang tidak beradab karena datang pada waktu yang tidak disepakati lalu memaksakan kehendak bertemu. Terlebih lagi mengeraskan suara dalam masjid seperti demonstran. Sungguh perilaku yang sangat jauh daripada adab-adab Islami.  Wallahu Musta’an.
Makassar, 27 Mei 2008 M.
Penulis
Amiruddin bin Abdul Djalil.
Mengenai tabayyun dan silaturahmi dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu membawa ‘pasukan’ dilengkapi kamera peliput yang tak ubahnya kunjungan pejabat penting. Al Ustadz Abdul Hakim-walhamdulillah-bisa ditemui oleh siapa saja pada saat-saat luangnya. Apalagi ustadz-ustadz Wahdah yang sebagiannya sudah kenal baik dengan beliau. Akan tetapi sampai Al Ustadz Abdul Hakim pulang, tak seorang pun Ustadz Wahdah yang mengunjunginya secara perorangan untuk tabayyun dan silaturahmi jika benar-benar menghendaki kebaikan.
Maka kita patut bertanya-tanya tentang apa tujuan dibalik kedatangan ‘pasukan’ itu ? Semoga saja bukan sekedar menjatuhkan kredibilitas seorang da’i salafi dihadapan kaum muslimin. Semoga pula bukan sekedar untuk mencari-cari kemenangan.
Namun yang jelas, permintaan dialog itu menunjukkan kesadaraan mereka tentang adanya perbedaan antara dakwah ‘salafi’ yang mereka terapkan dengan dakwah salafi yang diterapkan oleh Al Ustadz Abdul Hakim Abdat. Mengingat persoalan yang diperselisihkan adalah dari segi manhaj dakwah. Maka kejadian ini pun menjadi pelajaran bagi kaum muslimin bahwa klaim Wahdah Islamiyah sebagai pelopor dakwah salafiyah masih sangat diragukan.
Inilah hikmah terbesar yang patut kita puji Allah Subhanahu Wa Ta’ala karenanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.