-->

06 September 2012

SHOLAWAT BADRIYYAH ( BADAR ) --> BID'AH



“Sholawat Badriyyah” yang mengandung kebaathilan :

Adapun Sholawat Badriyyah adalah :
▌sholawat lokal,
▌karangan kyai Indonesia,
▌▌yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur di era tahun 1960-an.

Di tahun 1960-an,
▌kaum Muslimin di Indonesia mengalami kegelapan akibat pengaruh dan fitnah dari Partai Komunis Indonesia (PKI), maka Kyai Ali Mansyur (– ia lulusan Pesantren Lirboyo, Kediri –) yang dikala itu menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, Jawa Timur dan sebagai Pengurus Cabang NU Banyuwangi, menyusun syair Sholawat Badriyyah, yang kemudian beredar luas di masyarakat Indonesia sampai sekarang.

Berdasarkan cerita,
▌suatu pagi orang-orang yang ada di sekitar rumahnya berdatangan ke rumah Kyai Ali Mansyur dengan membawa beras. Katanya, mereka bermimpi untuk membantu Kyai Ali Mansyur karena ia sedang mendapatkan “sesuatu”, yang mana Kyai Ali Mansyur bermimpi didatangi orang-orang berjubah putih.

Kemudian
pada siang harinya Kyai Ali Mansyur langsung pergi menemui Habib Hadi Al Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya itu. Habib Hadi menyatakan bahwa orang-orang yang berjubah putih itu adalah ruh para pejuang Badar. Katanya, mereka adalah arwah Shohabat yang ikut dalam perang Badar. Sehingga kemudian sholawatnya disebut dengan Sholawat Badar atau Sholawat Badriyyah.

Bahkan ada cerita lagi sesudahnya, bahwa ada seorang Habib yang datang dari Jakarta, yakni Habib Ali (dari Kwitang), padahal ketika itu Sholawat Badar belum dipublikasikan, akan tetapi Habib Ali sudah mengetahuinya. Habib Ali Kwitang lalu meminta agar Kyai Ali Mansyur membacakan syair Sholawat Badriyyah itu. Semua yang hadir terharu dan menangis ketika mendengar syair sholawat tersebut dibacakan.

Selanjutnya tidak berselang lama dari kejadian tersebut, Habib Ali mengundang para Kyai dan Habaib ke Kwitang, Jakarta untuk suatu pertemuan. Salah satu yang diundang adalah Kyai Ali Mansyur. Lalu dalam pertemuan tersebut, sekali lagi Kyai Ali Mansyur diminta untuk membacakan syair Sholawat Badriyyah hasil gubahannya itu. Maka kemudian Sholawat Badriyyah pun dikenal secara meluas oleh masyarakat.

Demikianlah sekelumit sejarah Sholawat Badriyyah, yang sebenarnya merupakan sholawat lokal (hanya di Indonesia), yang mendapatkan dukungan dari para Habaib. Dan kisah ini dimuat dalam buku Antologi NU Sejarah Istilah Amaliyah Uswah, karangan Haji Sulaiman Fadeli.

Adapun naskah redaksi Sholawat Badriyyah adalah sebagai berikut:

“Sholaatullooh Salaamullooh ‘Alaa Thooha Rosuulillaah
Sholaatullooh Salaamullooh ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa bi Bismillaah Wa bil Haadi Rosuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh

llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Washrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahi Naffisil Kurbaa Minal ‘Aashiina Wal ‘Athbaa

Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wakam Min Rohmatin Hasholat Wakam Min Dzillatin Fasholat
Wakam Min Ni’matin Washolat Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Aulaita Dzal Faqri

Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Laqad Dhooqot ‘Alal Qolbi Jamii’ul Ardhi Ma’ Rohbi
Fa Anji Minal Balaash Sho’bi Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Atainaa Thoolibir Rifdi Wajullil Khoiri Was Sa’di

Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Falaa Tardud Ma ‘al Khoibah Balij ‘Alnaa’Alath Thoibah
Ayaa Dzal ‘izzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Wa in Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati

Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathoolibin Minnaa
Wadaf’ i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadh-lin Wadzuu ‘Athfin

Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allooh
Washolli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allooh.”

Artinya:
Rahmat dan keselamatan Allooh,
Semoga tetap untuk Nabi Thooha utusan Allooh,
Rahmat dan keselamatan Allooh,
Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allooh.

Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”,
Dan dengan Nabi yang menunjukkan lagi utusan Allooh,
Dan seluruh orang yang berjuang karena Allooh,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.

Ya Allooh, semoga Engkau menyelamatkan ummat,
Dari bencana dan siksa,
Dan dari susah dan kesempitan,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badri ya Allooh.

Ya Allooh semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan,
Dan semoga Engkau (Allooh) meniauhkan tipu dan daya musuh-musuh,
Dan semoga Engkau mengasihi kami,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar Ya Allooh.

Ya Allooh, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan,
Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan,
Dan semoga Engkau hilangkan semua bencana dan wabah penyakit,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.

Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,
Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan,
Dan sudah banyak dari ni’mat yang telah sampai,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.

Sudah berapa kali Engkau (Allooh) memberi kekayaan orang yang makmur,
Dan berapa kali Engkau (Allooh) memberi nikmat kepada orang yang fakir,
Dan berapa kali Engkau (Allooh) mengampuni orang yang berdosa,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.

Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini,
karena banyakhnya marabahaya yang mengerikan,
Dan malapetaka yang menghancurkan,
semoga Allooh menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan,

Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan,
Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan,
Semoga Allooh meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah,

Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allooh.
Maka janganlah Engkau (Allooh) menolak kami menjadi rugi besar,
Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria.
Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan prabowo,

Dengan sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Jika Engkau (Allooh) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah
kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami,
Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan akhirat,

hilangkan bencana-bencana hamba,
lantaran berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Ya Allooh, semoga Engkau mengampuni kami dan memuliakan diri kami,
dengan mendapat hasil beberapa permohonan kami,

Dan menolak keburukan-keburukan dari kami,
Dengan mendapat berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Ya Allooh, Engkau lah yang punya belas kasihan,
dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang,

Sudah banyaklah kesusahan yang hilang,
Dari sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.
Dan semoga Engkau (Allooh) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya,

dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung,
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya,
Sebab berkahnya shohabat Ahli Badar ya Allooh.


Dari redaksi sholawat Badriyyah tersebut, terdapat kalimat “…Wa bil Haadi Rosuulillaah…” (Dan ber-Tawassul dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم), dimana hal ini adalah merupakan suatu Bid’ah karena tidak ada ajarannya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم pun tidak melakukannya, demikian pula para Imaam yang mu’tabar (valid) seperti Imaam Asy Syafi’i, Imaam Maalik, Imaam Ahmad bin Hanbal رحمهم الله, dll mereka juga tidak pernah melakukannya. Apalagi bila sampai orang yang membaca sholawat tersebut lalu mempunyai keyakinan bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan Ahlul Badar lah yang bisa memberikan manfaat ataupun menghilangkan madhorot bagi dirinya, maka ia telah jatuh pada kesyirikan; karena seyogyanya yang dapat memberikan manfaat ataupun menghilangkan madhorot hanyalah Allooh سبحانه وتعالى sebagaimana telah dijelaskan dalam banyak ayat-ayat Al Qur’an diatas.

Setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat, maka ber-tawassul itu hanyalah dibolehkan dengan cara bertawassul menggunakan Nama-Nama Allooh سبحانه وتعالى, bertawassul dengan menggunakan amalan-amalan kita yang shoolih, ataupun bertawassul dengan do’a orang shoolih yang masih hidup (maksudnya, kita meminta supaya orang shoolih yang masih hidup tersebut mendo’akan kita kepada Allooh سبحانه وتعالى, agar Allooh سبحانه وتعالى menolong kita).

Jadi bertawassul dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang telah wafat saja adalah terlarang, apalagi bertawassul dengan para Mujahid (Ahlul Badar), sebagaimana redaksi “…Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allooh…” dalam sholawat Badriyyah diatas?

Wahai kaum Muslimin, hendaknya kalian mewaspadai hal ini. Karena ber-tawassul kepada orang yang sudah meninggal itulah yang tergolong perkara yang Harom (tidak diperbolehkan).

Disisi lain, Sholawat Badar tersebut adalah sholawat karangan orang, bahkan baru dibuat pada tahun 1960-an (jadi baru sekitar 50-an tahun yang lalu). Bandingkanlah dengan Sholawat yang jelas-jelas shohiih-nya dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, yang telah disampaikan kepada kita sejak sekitar 1432 tahun yang lalu. Mengapa sebagian dikalangan kaum Muslimin malah meninggalkan Sholawat yang Shohiih dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu mengamalkan sholawat karangan orang yang kebanyakan tidak luput dari ghuluw, Bid’ah atau Syirik? Hendaknya kaum Muslimin kembali kepada Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.


Hadits itu ada yang Hadits Marfuu’ (مرفوع = yaitu Hadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).

Ada pula Hadits Mauquuf (موقوف = yaitu Hadits yang sanadnya tersambung sampai kepada Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم).

Lalu ada pula Hadits Maqtu’ (yaitu Hadits yang sanadnya tersambung, paling tinggi hanya sampai kepada para Taabi’iin atau para Imaam yang Mujtahidiin).

▓ Sholawat Badriyyah itu apa sebutannya?
••►Sholawat Badriyyah itu tidak Marfu’, tidak Mauquuf, tidak pula Maqtu’;
••►karena ia hasil karangan orang di zaman sekarang tetapi digembar-gemborkan bahwa “fadhilah-nya mantap”, sehingga sebagian kaum Muslimin terkecoh, bahkan melalaikan Sholawat yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم (sebagaimana yang kita baca pada Tasyahhud Akhir) yang sesungguhnya merupakan sholawat yang afdhol (utama) untuk diamalkan oleh kaum Muslimin.

Jangankan Maqtu’, sedangkan yang Mauquuf saja tidak bisa dijadikan Hujjah. Karena Hujjah itu haruslah berdasarkan Hadits yang Marfu’. Apalagi bagi Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, maka dalil itu haruslah Marfu’, dan Marfu’ yang shohiih. Kalau Marfu’-nya tidak shohiih (lemah/ palsu) pun, maka juga tidak bisa dijadikan sebagai daliil.

Maka, bagaimana mungkin menyatakan bahwa Sholawat Badriyyah itu memiliki fadhillah sampai 8 macam, padahal seyogyanya itu bukan dalil?

Sholawat itu adalah Ibadah, dan Ibadah itu haruslah terpaku pada contoh dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Sholawat Badriyyah itu bukan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, bahkan didalamnya terkandung unsur Bid’ah atau kesyirikan. Di zaman Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka tidak ada tawassul kecuali dengan apa yang beliau صلى الله عليه وسلم lakukan untuk beliau صلى الله عليه وسلم sendiri. Setelah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم wafat, para Shohabat pun tidak pernah ada yang bertawassul kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, apalagi dengan memegang-megang kuburan beliau صلى الله عليه وسلم dan sebagainya, sebagaimana yang sering dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin di zaman sekarang yang sudah merupakan perkara kesyirikan.

Hendaknya kaum Muslimin puas dengan apa yang berasal dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja, dan tidak menggunakan selain dari ajaran Muhammad Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Di zaman sekarang, banyak orang mengaku sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, namun bila diteliti maka amalan-amalannya adalah sangat jauh dari tuntunan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Di Indonesia, yang kaum Musliminnya sebagian besar mengaku bermadzab Syafi’iy, hendaknya membuka Kitab Riyaadhus Shoolihiin karya Imaam An Nawawy رحمه الله (tokoh yang dikenal dikalangan madzab Asy Syaafi’iy) dan pelajarilah sholawat seperti apa yang ditulis dalam Kitab tersebut. Insya Allooh, sholawat atas Rosuulullooh yang صلى الله عليه وسلم ditulis oleh Al Imaam An Nawawy رحمه الله adalah berdasarkan pada Hadits-Hadits Shohiih Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dan tidak satupun tercantum dalam Kitab tersebut sholawat seperti sholawat Badriyyah, sholawat Nariyyah, sholawat Al Fatih dan yang sejenisnya. Maka semestinya, kaum Muslimin konsekwen, bila menyatakan dirinya bermadzab Asy Syaafi’iy, karena redaksi sholawat yang ada di dalam Kitab Riyaadhus Shoolihiin (Kitab yang menjadi rujukan madzab Asy Syaafi’iy tersebut) saja belum diamalkan semuanya, lalu mengapa malah mengamalkan redaksi sholawat hasil karangan manusia yang tidak ada sama sekali dalam Kitab tersebut?

Hendaknya kita bermohon kepada Allooh سبحانه وتعالى agar hati kita selalu ditunjukkan kepada apa yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم.

Dari: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3746503983648&set=a.1653325175486.2085068.1307751853&type=1

Dinukil dari
Sholawat Yang Bukan Sholawat

Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc. MM.Pd

http://ustadzrofii.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.