-->

02 September 2012

Tinta Apa Yang Akan Kalian Torehkan??

Kalau mau diibaratkan, Ajaran islam ini seperti white board, yang putih, polos,
Lalu datanglah ajaran baru (bid'ah) digambarkan disini adalah seperti spidol warna biru, ditulislah whiteboard tersebut,

Lalu datang lagi ajaran baru (bid'ah baru), digambarkan seperti spidol warna merah, datang yang lain warna hijau dan warna lainnya ,.. sehingga tersisa sedikit saja warna putihnya,..

Lalu ada sekelompok orang yang berusaha mengembalikan ke warna semula, dengan membersihkan warna-warna yang ada, … sehingga warna tersebut sedikit demi sedikit menjadi putih,..

akan tetapi apa respon dari pengikut warna biru, hijau, merah dan warna lainnya,..

dituduhlah orang yang berusaha mengembalikan supaya menjadi putih itu sebagai pengadu domba, pemecah belah, wahhabi, antek yahudi dan tuduhan semisalnya Allaahulmusta'an….laa hawla wala quwwata illa billah
 
 
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: .
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali 'Imran : 104)

"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu." (Al Maa'idah: 78-79)

Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisanya, jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman" (HR. Muslim no. 49)

Dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar harus memperhatikan hal-hal berikut:

Yang pertama: Hendaknya ia mengetahui mana yang ma'ruf dan mana yang munkar.

Karena jika ia tidak mengetahui, bisa jadi yang ia larang adalah sesuatu yang diperintah dan yang diperintahkan malah ia larang.

Yang kedua: Mengetahui dengan pasti, bahwa seseorang telah meninggalkan kebaikan atau melakukan kemunkaran.

Jangan hanya menuduh atau dengan prasangka, Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (Hujuraat: 12)

Oleh karenanya saat Nabi Shallallau'alaihi wa sallam khutbah pada hari jum'at, ada seseorang datang langsung duduk dan tidak melakukan shalat tahiyatul masjid, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadanya, "Apakah kamu sudah shalat?" Ia menjawab, "Belum" Beliau bersabda, "Berdirilah, shalatlah dua rakaat." (HR. Bukhari no.931 dan Muslim no. 875)

Dalam hadits tersebut Beliau tidak langsung menegur "Kenapa kamu tidak shalat?" atau "Shalatlah." Namun Beliau bertanya terlebih dahulu, "Apakah kamu sudah shalat?" Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam memastikan terlebih dahulu, setelah Beliau mengetahui, lalu Beliau memerintahkan. Karena bisa jadi ia sudah melakukan shalat tanpa sepengetahuan Beliau, atau ia sudah melakukannya saat Beliau lengah.

Yang Ketiga: Tidak menghilangkan kemunkaran dengan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Contoh dalam hal ini adalah seperti pelaku demo.

Yang keempat: Dengan akhlaq yang baik atau lemah lembut. karena menyampaikan dengan lemah lembut akan mudah diterima daripada dengan ucapan yang kasar ataupun dengan tindak kekerasan.

Yang jadi perselisihan Ulama', apakah menjadi syarat dalam memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk, bahwa orang yang melakukannya harus melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya?

Yang benar bahwa tidak disyaratkan, wajib baginya memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran walaupun dia tidak melakukan perintah tersebut dan tidak menghindari larangan tersebut. Karena dari keduanya punya kewajiban yang terpisah dari yang lain, dan keduanya tidak saling berkaitan.

(Syarah Riyadhus Shalahin, Syaikh Muahammad bin Shalih al-Utsaimin. Penerbit Darus sunnah, dengan ringkas)

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.