-->

16 Mei 2013

Ketika Kelak Engkau Ku Panggil Sayang

Dan ketika Aku datang dengan sebuah bunga kering di selip jemariku. Ini adalah bunga mawar yang pernah kupetik di berandaku karena lamanya waktu hingga massa melayukannya dengan setia Karena ketiadaanku juga membuat tunas tak tersiram di hujan tangsimu Inilah sejarahku tanda aku tak meninggalkan aksara namamu dalam sajakku Tapi engkau melupakanku dengan bunga layuku yang setangkai Dan pot kaca telah menyilaukanmu dengan dunia Yaaaah... aku tak menyalahkanmu bunga! Karna rumus dunia memang begitu adanya.. Yang berkilau lebih menyilaukan daripada seonggok tangkai bunga ketiadaan tetapi seperti biasa, hal kecil yang mengingatkanku padamu merasuk dalam hidupku. Setangkai bunga ketiadaan ku tempatkan pada pot kesetiaan Lalu ada yang bertanya '' Buat apa setangkai bunga itu taklah berharga?.'' Aku diam dengan aksara yang mencoba mencari jawab dari tafsir rindumu yang terlupa Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi... Dunia yang meninggalkanku atau aku meninggalkan duniamu.. Aaaargh.. tapi...

25 Februari 2013

Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah

“Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah,” “apa semua yang ada sekarang itu bid’ah?!” “kalau memang maulidan bid’ah, kenapa kamu naik motor, itukan juga bid’ah.” Kira-kira kalimat seperti inilah yang akan terlontar dari mulut sebagian kaum muslimin ketika mereka diingatkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bid’ah yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ucapan ini dan yang senada dengannya lahir, mungkin karena hawa nafsu mereka dan mungkin juga karena kejahilan mereka tentang definisi bid’ah, batasannya dan nasib jelek yang akan menimpa pelakunya. Karenanya berikut uraian tentang difinisi bid’ah dan bahayanya dari hadits Aisyah yang masyhur, semoga bisa meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang bid’ah sehingga mereka mau meninggalkannya di atas ilmu, Allahumma amin. Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ...

16 Desember 2012

Bid’ah Dalam Perkara Duniawi

Pertanyaan: Wahai Sahamatus Syaikh, saya tahu adanya batasan yang rinci dalam membedakan antara sunnah dan bid’ah, namun tolong j elaskan kepada kami apa batasan antara bid’ah dalam agama dengan bid’ah dalam masalah duniawi. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab: Dalam masalah duniawi, tidak ada bid’ah, walaupun dinamakan bid’ah (secara bahasa). Manusia membuat mobil, pesawat, komputer, telepon, kabel, atau benda-benda buatan manusia yang lain semua ini tidak dikatakan bid’ah walaupun memang disebut bid’ah dari segi bahasa, namun tidak termasuk bid’ah dalam istilah agama. Karena bid’ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, itu semua disebut bid’ah. Sebagaimana dalam ayat: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ “Allah adalah Pencipta langit dan bumi” (QS. Al Baqarah: 117) maksud ayat ini yaitu Allah Ta’ala membuat mereka (langit dan bumi) yang sebelumnya tidak ada. Demikian, secara bahasa memang istilah bid’ah secara mutlak...

Mengkritisi Perkataan: Perbedaan adalah Rahmat!

“Perselisihan umatku adalah rahmat“. Hampir tidak ada di antara kita yang tak pernah mendengar atau membaca had its ini. Ia sangat begitu akrab dan populer sekali, baik di kalangan penceramah, aktivis dakwah, penulis, bahkan oleh masyarakat biasa masa kini. Hanya saja, sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban: Apakah kemasyhuran ungkapan tersebut berarti kualitasnya bisa dipertanggung jawabkan?! Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk mengkritisi ungkapan tersebut dari sudut sanad dan matan-nya?! Tulisan berikut mencoba untuk mengorek jawabannya. Semoga Allah menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Aamiin. Teks Hadist اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Penjelasan: Hadits ini TIDAK ADA ASALNYA. Para pakar hadits telah berusaha untuk mendapatkan sanadnya, tetapi mereka tidak mendapatkannya, sehingga al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ ash-Shaghir: “Barangkali saja hadits ini dikeluarkan dalam sebagian kitab ulama...

Keyakinan Syi'ah, Kotoran Imam Dapat Menghindarkan Api Neraka dan Membuat Masuk Sorga

Ibnu Babawaih al-Qummi laporan dalam bukunya: "Manlaa Yahdurhul-Faqeeh" vol.4, halaman 418 Dilaporkan Ahmad b. Muhammad b. Sa'id al-Kufi pepatah: Dikisahkan kepada kami Ali b. al-Hasan b. Fidaal, dari ayahnya dari Abul-Hasan Ali b. Musa al-Ridha [AS] mengatakan: "Tanda-tanda untuk Imam adalah: 1 - Dia yang paling luas dari semua orang. 2 - Dan yang paling bijaksana dari semua (Manusia). 3 - Dan yang paling benar dari semua (Manusia). 18 ... Kotorannya jauh lebih baik daripada berbau aroma misk ". The Grand Ayat, Akhond Mulla Zainul Abideen-al-Galbaigani, dalam bukunya: Anwaar al-Wilayah, halaman 440 menulis: "Kotoran Imam tidak memeiliki bau apa-apa melainkan baunya seperti minyak misk siapa yang meminum air kencing, darah dan memakan kotoran mereka (IMAM) Maka, Allah akan hndarkan dari api neraka dan membuat dia masuk sorga Abu Jafar mengatakan: "Untuk Imam ada 10 tanda:. Ia lahir murni dan disunat .... dan jika dia kentut berbau kesturi" (Al-Kafi...

Diberdayakan oleh Blogger.