-->

01 September 2012

JADILAH WANITA IDAMAN!




Meneladani Ummul Mu’minin Aisyah binti Abu Bakar Radhiyallahu'anha…
“ Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai? “ Tanya Amr bin Al-‘Ash radhiallahuanhu
“ Aisyah!” Jawab Rasulullah shallallahualaihiwasallam
“Kalau dari kalangan laki-laki? Tanya Amr lagi.
“ayahnya, Jawab Beluai lagi. ( HR Bukhari dan Muslim)

Asiyah adalah istri Rasulullah shallallahualaihiwasallam yang paling beliau cintai. Cinta itu seumpama simpul tali yang mengikat sangat erat dan enggan untuk melepas sang kekasih yang dicinta. Demikianlah, beliau mengibaratkan. Istri paling muda, paling cantik, dan satu-satunya wanita yang masih gadis yang beliau nikahi. Ummul mukminin Aisyah merupakan suatu representasi wanita idaman desangan pesona akhlak, fisik dan ilmu yang sangat sempurna.
Sedikit bukti pernyataan diatas bahwa Aisyah merupakan wanita yang sangat cerdas dan brililan, sehingga ulama Hadits menyebutkan bahwa Aisyah adalah orang ketiga terbanyak setelah Abu Hurairah radhilallahuanhu, dan Anas bin Malik Radiallahuanhu yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Silahkan buktikan melalui hadist yang antum baca pasti tidaklah sulit menemukan pernyataan diriwayatkan dari Aisyah bla-bla-bla… dan sangatlah  tepat pernyataan bahwa Aisyah merupakan pintu untuk mengenal kebiasaan-kebiasaan Rasulullah shallahaualaihiwasallam…
Imam Az-Zuhri Berkata, “seandainya Ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahatul Mu’minin dan ilmu seluruh wanita Niscaya Ilmunya Aisyah lebih Utama.
Aisyah merupakan wanita suci sekaligus penyabar ditengah fitnah besar, Haditsul Ifki (berita Dusta) yang akan merusak nama dan reputasi beliau. Dengan keteguhan jiwa, Aisyah radiallahuanhu mempertahankan keyakinannya akan kebenaran dengan mengatakan, Demi Allah aku tidak bertaubat kepada Allah selamanya dari apa yang Rasulullah shallallahu alaihiwasallam katakan. Demi Allah, sesungguhnya aku tahu jika aku mengakui sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang, sedang Allah tahu aku bersih , sungguh Aku telah mengatakan seuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan jika aku mengingkari apa yang mereka katakan, mereka pasti tidak akan mempercayaai dan membenarkanku. Aku hanya akan mengatakan apa yang pernah dikatakann oleh Ya’kub Alaihissalam, Maka Kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap yang kalian ceritakan. (Qs Yusuf : 18)
Saudaraku ketahuilah apa buah dari kesabaran Aisyah? Allah subhanahu Wataala berfirman, “ Sesungguhnya orang orang yang membawa berita bohong itu dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu lebih baik bagi kamu… (QS An Nur:11)
“Engkau adalah istri yang paling dicintai Rasulullah dan beliau tidak akan mencintai sesuatu kecuali baik,” ujar ibnu Abbasa radiallahuanhu kepada Aisyah tentang kesuciannya setelah kepulangannya dari perang Bani Musthaliq.
Pada kesempatan lain Ibnu Abbas berkata : Allah subhanahu wataala telah menurunkan wahyu tentang kesucianmudari atas lapis langit yang ketujuh, maka tidak ada satu masjidpun yang disebutkan nama Allah didalamnya, kecuali kesucianmu akan dibacakan didalamnyya sepajang siang dan Malam”
Namun Meskipun Muda, cantik, dan paling pencemburu diantara istri rasulullah yang lainnya, Aisyah merupakan tipikal wanita yang Qonaah, pengertian dan tidak Manja. Karena Aisyah selalu mengiringi apapun keadaan Rasulullah baik suka maupun duka (sedih, lapang maupun sempit.
“ Dengarkan Wahai Saudaraku…. Demi Allah kami pernah melalui tiga kali hilal (bulan baru) sementara tidak ada api menyala dirumah rasulullah Shallalahu alaihi wasallam. “ kata Aisyah kepada Urwah (anak Asma” Saudara perempuannya).
“ Wahai Bibiku, jadi apakah Makananmu? Tanya sang keponakan.
“ Kurma dan Air saja. Kecuali jika ada tetangga Rasulullah dari Kaum Anshar yang membawakan makanan buat kami. Kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai Makanan, “ jelas Sang Bibi (HR Al Bukhari dan Muslim).
Sebuah Kisah yang sangat menyentuh jiwa, dan dapat sebagai Obat penawar hati yang imannya sedang rendah… Ayolah Berlombalah menjadi Pesona Wanita dan Lelaki Idaman… ( Sebagian Dikutib dari Buku Ust Jon Hariadi “ Belajarlah Menyatakan Cinta)…

Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat



 

Feri Kurniawan
Kita melihat banyak sekali sumber daya yang terpendam di dalam jiwa seseorang dan kita merasakan sumber kisi-kisi kebaikan yang tersimpan dalam diri pemiliknya. Akan tetapi hal itu tidak menular kepada orang lain, tidak memberikan manfaat dan tidak pula menyumbangkan faedah. Bagaimana gambaran yang menyakitkan ketika engkau melihat seorang faqih (ahli fikih) berteman orang jahil yang tidak mengambil faedah apapun dari fikihnya, seorang qari (ahli baca al-Qur`an) yang ditemani orang yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang tidak berguna baginya keindahan bacaannya, dan seorang ‘abid (ahli ibadah) yang berada di samping seorang yang fasik yang tidak menular sedikitpun dari keshalehannya. Dakwah itu sendiri merupakan manfaat yang bersifat umum, maka ketika Abu Dzarr radiallahuanhu masuk Islam, pembicaraan Rasulullah bersamanya adalah sabda beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepadanya:
فَهَلْ أَنْتَ مُبَلِّغٌ عَنِّي قَوْمَكَ, لَعَلَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَنْفَعَهُمْ بِكَ وَيُأْجُرَكَ فِيْهِمْ
Apakah engkau bisa menyampaikan kepada kaum engkau tentang dakwahku, semoga Allah subhanahu wataala memberi manfaat kepada mereka dengan (dakwah) engkau, dan memberi pahala kepadamu pada mereka.”[i]
Tarbiyah pertama pembicaraan pertama masuk Islam adalah tarbiyah berdakwah dan berusaha menyalurkan manfaatnya kepada orang lain.
          Paman Jabir bin Abdullah  meruqyah dari sengatan kalajengking, maka ia berkata,’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari ruqyah dan sesungguhnya aku meruqyah dari sengatan kalajengking.’ Seolah-olah dia minta ijin dalam hal itu. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bersabda:
مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ
Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.’[ii]
          Dan terkadang engkau menemukan sebagian orang yang enggan melakukan sesuatu  yang tidak membahayakannya, padahal berguna bagi orang lain, karena hanya mengurus kepentingan pribadinya. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Karena alasan itulah, Umar bin Kaththab ra mencela Muhammad bin Maslamah ra ketika ia menghalangi adh-Dhahhak ra bin Khalifah  menggali saluran air yang mengalir ke tanahnya yang melewati tanah Muhammad bin Maslamah , maka Umar radhiallahuanh  berkata: ‘Kenapa engkau menghalangi sesuatu yang berguna untuk saudaramu, dan ia menjadi manfaat untukmu, engkau menyiram dengannya yang pertama dan terakhir, dan ia tidak membahayakanmu…demi Allah, ia pasti melewatinya sekalipun di atas perutmu.’[iii]
          Seorang muslim pada dasarnya selalu berusaha memberikan pelayanan kepada yang membutuhkannya, memberi nasehat kepada yang tidak mengetahuinya, memberi manfaat kepada yang berhak menerimanya berdasarkan motivasi dan keinginan dari dirinya. Rasul kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan kepada pamannya Abbas bin Abdul Muththalib ,’Wahai pamanku, bukankah aku mencintaimu? Bukankah aku memberikan manfaat kepadamu? Bukankah aku menyambung silaturrahim kepadamu?[iv] Dan di antara wasiat  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bersabda kepada Abu Barzah  ketika ia berkata kepada beliau: Wahai Rasululah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah subhanahuwataala memberi manfaat kepadaku.’ Beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bersabda:
اُنْظُرْ ماَيُؤْذِي النَّاسَ فَاعْتَزِلْهُمْ عَنْ طَرِيْقِهِمْ
Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.’[v]
Pelayanan seperti ini menambah sifat tawadhu' dan menanamkan makna-makna kebaikan di dalam jiwa seorang da'i, serta menjadikan masyarakat di sekitarnya melihat semangat bekerja padanya dalam segala hal yang memberi manfaat atau menolak bahaya dari mereka.
          Dan apabila seorang mukmin mengingat nikmat Allah azza wajalla kepadanya dengan memberi hidayah, merasakan manisnya iman dan kenikmatan taat, maka ia tidak akan pelit dengan kata-kata yang baik (memberi nasehat dan dakwah), untuk menyelamatkan manusia yang masih belum merasakan seperti yang telah dia rasakan dan terhijab dari apa yang telah dia kenal. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda memberi perumpamaan dengan bumi yang subur, yang menerima hujan lalu menumbuhkan tanaman, maka beliau bersabda:
وَذلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِيْنِ اللهِ عز وجل وَنَفَعَهُ اللهُ عز وجل بِمَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ وَنَفَعَ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ...
"Maka itulah perumpamaan orang paham terhadap agama Allah  , dan Allah   memberi manfaat kepadanya dengan ajaran yang Dia   mengutusku dengannya, mengambil manfaat dengannya, mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain)…"[vi]

Di antara gambaran amaliyah untuk menciptakan manfaat bahwa engkau tidak membiarkan tanah yang engkau miliki menganggur, tanpa diurus atau ditanami, padahal engkau mempunyai saudara yang menganggur, yang mampu mengurus tanah itu dan mengambil manfaat dengannya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ
"Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya. Apabila ia tidak bisa menanaminya, maka hendaklah ia meminta saudaranya untuk menanaminya."[1]
Sangat banyak di kalangan kaum muslim yang mempunyai kemampun yang menganggur, kekayaan yang terpendam, dan energi yang terbuang percuma, dan kita tidak berfikir untuk memanfaatkannya, yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Apakah engkau memberikan sumbangan dengan ilmu pengetahuanmu, bersedekah dengan keringatmu, membantu dengan usahamu, agar engkau selalu termasuk dari orang yang dijadikan Allah I sebagai kunci kebaikan, penutup keburukan, dan saat itulah kabar gembira untukmu adalah surga. Sebagaimana dalam hadits:
فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ بِيَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ بِيَدَيْهِ
"Maka beruntunglah bagi orang yang Allah I menjadikan kunci-kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang yang Allah I menjadikan kunci-kunci kejahatan lewat dua tangannya."[2]
          Dan supaya manfaat terus berlangsung untuk orang-orang seperti itu, maka diberikanlah dukungan dengan harta dan kekuasaan. An-Nasa`i menyebutkan –setelah hadits dalam kitab pembagian harta fai- cara membagi jatah Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam dari harta ghanimah setelah wafatnya beliau, ia berkata: Dan jatah bagian Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam diserahkan kepada imam (pemimpin): ia membeli kuda dari mereka dan senjata, memberikan darinya kepada orang yang dia lihat, dari orang yang berkecukupan dan bermanfaat untuk umat Islam, dan dari kalangan ahli hadits, ilmu, fikih dan al-Qur`an.[3]
          Dan Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat dan menyerupakan dengan pohon kurma  karena selalu hijau dan bisa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:
إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ
"Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.'[4]
Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah azza wajalla, mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan pribadi atau posisi yang berbeda. Rabb  mencela Abu Bakr Radhiallahu Anhu saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah  karena ikut serta dalam peristiwa ifk (berita bohong). Maka tatkala turun firman AllahAzza Wa Jalla:
وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur:22)
Abu Bakar radhiallahu anhu berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Dia Azza Wa Jalla mengampuni kami. dan iapun memberikan manfaat kepada Misthah .
Apakah engkau ingin agar Allah Azza Wa Jalla mengampunimu, maka marilah terus menambah dalam berdakwah, memberi nasehat, faedah dan manfaat, memanfaatkan waktu dan kemampuan… maka sesungguhnya ia seperti yang disabdakan oleh Nabi muhammad Shallallahu Alalaihi wa Sallam.
Di antara gambaran amaliyah untuk menciptakan manfaat bahwa engkau tidak membiarkan tanah yang engkau miliki menganggur, tanpa diurus atau ditanami, padahal engkau mempunyai saudara yang menganggur, yang mampu mengurus tanah itu dan mengambil manfaat dengannya. Dalam hal itu, Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا فَإِنْ لَمْ يَزْرَعْهَا فَلْيُزْرِعْهَا أَخَاهُ
"Barangsiapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya. Apabila ia tidak bisa menanaminya, maka hendaklah ia meminta saudaranya untuk menanaminya."[1]
Sangat banyak di kalangan kaum muslim yang mempunyai kemampun yang menganggur, kekayaan yang terpendam, dan energi yang terbuang percuma, dan kita tidak berfikir untuk memanfaatkannya, yang manfaatnya kembali kepada kaum muslimin. Apakah engkau memberikan sumbangan dengan ilmu pengetahuanmu, bersedekah dengan keringatmu, membantu dengan usahamu, agar engkau selalu termasuk dari orang yang dijadikan Allah Azza Wa Jalla sebagai kunci kebaikan, penutup keburukan, dan saat itulah kabar gembira untukmu adalah surga. Sebagaimana dalam hadits:
فَطُوْبَى لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الْخَيْرِ بِيَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللهُ مَفَاتِيْحَ الشَّرِّ بِيَدَيْهِ
"Maka beruntunglah bagi orang yang Allah I menjadikan kunci-kunci kebaikan lewat kedua tangannya, dan celaka bagi orang yang Allah I menjadikan kunci-kunci kejahatan lewat dua tangannya."[2]
          Dan supaya manfaat terus berlangsung untuk orang-orang seperti itu, maka diberikanlah dukungan dengan harta dan kekuasaan. An-Nasa`i menyebutkan –setelah hadits dalam kitab pembagian harta fai- cara membagi jatah Nabi Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallamdari harta ghanimah setelah wafatnya beliau, ia berkata: Dan jatah bagian Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam diserahkan kepada imam (pemimpin): ia membeli kuda dari mereka dan senjata, memberikan darinya kepada orang yang dia lihat, dari orang yang berkecukupan dan bermanfaat untuk umat Islam, dan dari kalangan ahli hadits, ilmu, fikih dan al-Qur`an.[3]
          Dan Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat dan menyerupakan dengan pohon kurma  karena selalu hijau dan bisa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya, beliau bersabda:
إِنِّي َلأَعْلَمُ شَجَرَةً يُنْتَفَعُ بِهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ
"Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.'[4]
Dan seorang mukmin berusaha memberikan manfaat untuk manusia karena Allah Azza Wa Jalla, mengharap ridha-Nya, dan tidak dikuasai oleh perasaan pribadi atau posisi yang berbeda. Rabb Azza Wa Jalla mencela Abu Bakr t saat ia bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah bin Utsatsah t karena ikut serta dalam peristiwa ifk (berita bohong). Maka tatkala turun firman Allah Azza Wa Jalla:
وَلاَيَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَتُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. an-Nur:22)
Abu Bakar t berkata: bahkan, demi Allah, sesungguhnya kami ingin agar Dia  mengampuni kami. dan iapun memberikan manfaat kepada Misthah .
Apakah engkau ingin agar Allah Azza Wa Jalla mengampunimu, maka marilah terus menambah dalam berdakwah, memberi nasehat, faedah dan manfaat, memanfaatkan waktu dan kemampuan… maka sesungguhnya ia seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."[5]

Kesimpulan:
  1. Apabila seorang mukmin tidak memberikan manfaat, berarti kebaikannya tidak menjalar kepada orang lain.
  2. Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah ia melakukannya.
  3. Segera memberikan manfaat sebelum diminta.
  4. Memanfaatkan semua kesempatan untuk menyampaikan kebaikan.
  5. Manfaat yang paling wajib adalah untuk karib kerabat.
  6. Barangsiapa yang tidak mampu memberikan manfaat, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh untuk tidak membahayakan orang lain.
  7. Manfaat yang paling tinggi adalah jihad dan yang terendah adalah 'uzlah.
  8. Besarnya manfaat disertai besarnya tanggung jawab, dan bahaya juga seperti itu.
  9. Dalam memberikan manfaat, mengambil kesempatan bagi energi yang terbuang percuma untuk kepentingan orang yang membutuhkannya.
  10. Manfaat menjadi dengan memberikan dukungan dengan harta dan kekuasaan.
  11. Di antara karekteristik seorang mukmin adalah:  kebaikannya saja yang selalu terus dirasakan dan banyak manfaatnya.
12. Yang bermanfaat adalah manusia yang terbaik.


[1]  Shahih Muslim, kitab jual beli, bab ke-17, hadits no. 88 (Syarh an-Nawawi 5/454)

[2] Shahih Sunan Ibnu Majah, Muqaddimah (pengantar), bab ke-19, hadits no 193/237 (Hasan)

[3]  Shahih Sunan an-Nasa`i karya Syaikh al-Albani, dari komentar an-Nasa`i  terhadap hadits no 3866 dari kitab pembagian harta fai.

[4] Musnad Ahmad 2/115, seperti dalam riwayat  al-Bukhari dalam kitab ilmu, bab ke-5, no 62 (Fath 1/147)

[5]  Shahih al-Jami' no 3289 (Hasan).
:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."[5]

[i] Shahih al-Jami’, no. 176 (Hasan)

[ii] Shahih Muslim, kitab fadhail, bab ke-28, no. 132/2473.

[iii] Muwaththa’ Imam Malik, kitab Aqdiyah, bab ke-26, hadits ke 33.

[iv] Shahih Sunan Ibnu Majah , kitab shalat,  bab ke-190 no. 1138.

[v] Musnad Imam Ahmad 4/423.

[vi] Shahih al-Bukhari, kitab ilmu, bab ke-20, no. 79 (Fath al-Bari 1/175).

al-Qoshidah al-Nuniyyah


Berkata Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah Rohimahulloh :”

يا من يريد نجاته يوم الحساب

من الجحيم وموقد النيران

اتبع رسول الله فى الاقوال والاعمال

لاتخرج عن القران

وخذ الصحيحين اللذين هما لعقد

الدين والايمان واسطتان

واقرهما بعد التجرد من هوى

وتعصب وحمية الشيطان

واجعلهما حكما ولاتحكم علي ما

فيهما اصلا بقول فلان

واجعل مقالته كبعض مقالة

الاشياخ تنصرها بكل اوان

وانصر مقالته كنصرك للذى

قلدته من غير ما برهان

قدر رسول الله عندك وحده

والقول منه اليك ذو تبيان

ماذا ترى فرضا عليك معينا

ان كنت ذا عقل وذا ايمان

العلم قال الله وقال رسوله

قال الصحابة هم اولوا العرفان

ماالعلم نصبك للخلاف سفاهة
بين الرسول وبين رائ فلان

“ Wahai manusia yang ingin mendapatkan keselamatan

Pada hari perhitungan dari neraka jahim dan panasnya api

Ikutilah ucapan dan perbuatan Rosul

Dan jangan berpaling dari al-Qur’an

Dan ambillah Bukhori dan Muslim sebagai penguat agama dan perantaranya.

Dan bacalah setelah keduanya agar terbebas dari hawa

Nafsu, fanatik, dan lingkaran syaithon

Dan jadikan keduanya sebagai hakim dan janganlah

kamu berhukum sesuatu yang tidak ada di keduanya karena condong pada ucapan seseorang

Dan jadikan perkataannya di atas perkataan para syaikh

Yang kamu jadikan sebagai penolongnya dari segala celaan

Dan tolonglah perkataannnya sebagaimana

pertolonganmu pada orang yang engkau taqlid padanya tanpa dalil.

Dan jadikanlah Rosullalloh sebagai satu-atunya pedoman

ucapanmu darinya yang memiliki penerang.

Maka kamu akan melihat suatu kewajiban yang jelas

Jika kamu orang yang meiliki akal dan iman.

Ilmu adalah firman Alloh dan sabda Rosul

Dan perkataan para shohabat yang memiliki keutamaan

Bukanlah ilmu apabila kamu menyelishi mereka karena kebodohan

Diantara Rosul dan pendapat seseorang.”


( al-Qoshidah al-Nuniyyah. Hal. 970 dan 853 )

Bioghrafi Umar Bin Abdul Aziz




1. KELAHIRANNYA

Beliau lahir pada tahun 61 H/ 682 M di Madinah ada yang mengatakan di Mesir. ( Atsar Umar bin Abdil Aziz Fil Aqidah 1/45 , Tadzkirotul Huffadz 1/118-120 )
Beliau dilahirkan tahun 61 H di Madinah pada era pemerintahan khalifah Yazid bin Mu'awiyah, bertepatan dengan meninggalnya Maemunah istri Nabi Muhammad r. Beliau menghabiskan masa kecilnya di Madinah Munawwarah dengan menimba ilmu dari para ulama yang hidup saat itu. Sehingga terkumpullah pada diri beliau keutamaan ilmu dan agama, disamping keturunan 'darah biru' dan gelimpangan materi. Pasca meninggalnya sang ayah, beliau diminta untuk tinggal di Damaskus oleh khalifah Abdul Malik, paman beliau, lalu dinikahkan dengan salah seorang anaknya; Fatimah. ( al-Bidayah wa an-Nihayah (12/680), Siyar A'lam an-Nubala' (5/117), Tarikh Khulafa' Bani Umayah hal. 253 dan Shofahatun Musyriqah Min at-Tarikh al-Islami, karya Dr. Ali Muhammad Shalabi hal. 396.)

2. Nasab Umar bin Abdul Aziz.

Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu al-'Ash bin Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab; salah satu keturunan Bani Umayah, yang tentu saja berdarah Quraisy. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan Abu Hafs, sedangkan di kalangan Bani Umayyah beliau lebih dikenal dengan al-Asyaj (si pemilik luka di wajah) Julukan tersebut bermula ketika suatu hari beliau masuk ke tambatan kuda, tiba-tiba seekor kuda menyepak wajah beliau. Lalu ayah beliau pun menyeka darah yang mengalir seraya bergumam, "Seandainya engkau dijuluki si Asyaj Bani Umayyah, sungguh bahagialah engkau". Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir, dari jalan Harun bin Ma'ruf, dari Dhamrah.

Berkata al-Hafidz al-Imam adz-Dzahabi Rohimahulloh : “ Dia adalah Umar bin Abdil Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syamsin bin Abdi Manaf , al-Imam al-Hafidz al-Allamah al-Mujtahid al-Zahid al-Abid, al-Sayyid Amirul Mu’minin Haqqon, Abu Hafsin al-Qurosyiy al-Amawy, al-Madani Tsummal Misyri , al-Kholifatu al-Zahid al-Rosyid, Pemberani dari Bani Umayyah, Dia adalah Imam Mujtahid dari Khulafaur Rosyidin , Dia memiliki akhlak dan rupa yang baik , sempurna akalnya, diam yang bagus, politik yang baik yang selalu menjaga keadilan pada setiap saat, seorang yang faqih dan seorang yang alim, mempunyai kecerdasan dan pemahaman yang bersih, Dia selalu bertaubat , ta’at pada Alloh serta lurus pada agamaNya, Seorang Kholifah yang zahid, selalu berbicara pada kebenaran, dan sedikit bicara, serta membenci semua pemimpin yang dholim dan tidak berbuat adil serta mengambil yang bukan haknya dan untuk kepentingan dirinya, beliau menurut ahlul ilmi adalah pemimpin yang lurus dan ulama’ yang beramal dengan ilmunya, beliau juga seorang yang fasih dan cakap dalam berbicara.” ( Siyar A’lamin Nubala’ 5/136, 120, 114, 144 )

Ayahnya; Abdul Aziz -seorang gubernur mesir pada pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan- adalah salah satu kandidat yang dicalonkan untuk menduduki tampuk kekhalifahan sepeninggal ayahnya; Marwan bin Hakam, namun ajal keburu menjemputnya. Sedangkan ibunya; Laila bintu Ashim bin Umar bin Khattab, biasa dipanggil dengan Ummu Ashim. Secara garis keturunan dari pihak ibu, beliau adalah cicit Umar bin Khattab. ( al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir (12/676), Siyar A'lam an-Nubala', karya Adz-Dzahabi (5/114), Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu al-Jauzi hal. 9-10, dan Tarikh Khulafa' Bani Umayah, karya Dr. Nabih Aqil hal. 253. )

Dikisahkan ketika Abdul Aziz hendak melamar Laila, ia berkata kepada atasannya, "Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang terbaik, karena aku ingin melamar seorang perempuan dari keluarga baik-baik". Singkat cerita, akhirnya Abdul Aziz pun menikahi Laila. ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 10. )

3. Menuntut ilmu

Beliau diberi anugrah sejak usia kecil cinta terhadap ilmu dan cinta dalam mempelajari serta mengkaji ilmu agama di majlis-majlis ulama’, sebagaimana beliau senantiasa menjaga dan bermajlis ilmu di Madinah, dan Madinah pada waktu itu menjadi kota yang bergemerlap kebaiakan dari ilmu para ulama’, foqoha’ serta orang-orang yang sholih, beliau semangat dalam ilmu sejak usia dini dan awal yang dipelajari beliau dari para ulama dalah adab. ( al-Bidayah Wan Nihayah 12/679 )

Beliau menghafalkan al-Qur’an sejak masih kecil dan al-Qur’an membimbing dirinya hingga menjadi orang yang bersih serta mempunyai kemampuan yang besar untuk menghafal dan menyelesaikannya dengan sempurna dalam upaya mencari ilmu serta menghafalkannya. Dan sungguh membekas semua pelajaran dalam al-Qur’an yang beliau pelajari karena tentang mengenal Alloh, kehidupan, yang wujud, surga, neraka, taqdir dan keputusan, hakekatnya mati beliau sangat takut jika mendengar kematian serta menangis terhadap semua yang terjadi pada umurnya , sampai ibunya mendengar akan tangisannya, dan bertanya mengapa kamu menangis ? beliau berkata :” aku ingat mati, maka ibunyapun juga ikut menangis, seluruh hidupnya beliau bersama al-Qur’an mempelajari serta mengamalkan perintah di dalamnya. ( al-Bidayah Wan Nihayah 12/678 )

4. Guru Umar bin Abdil Aziz

Guru beliau adalah Sa’id bin al-Musayyab Rohimahulloh ( Hayatu Kholifah Umar bin Abdul Aziz Hal. 25 )
Umar bin abadil Aziz belajar pada banyak ulama’ dan Fuqoha’beliau memiliki 33 guru , 8 diantaranya adalah shohabat dan 25 lainnya dari tabi’in ( Musnad Amirul Mu’minin Umar bin Abdil Aziz Hal. 33 )
Beliau penah bermajlis dengan Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu dan yang lainnya dari shohabat serta mendengar dari mereka, maka beliau paling banyak meriwayatkan hadits Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan dari jalan Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu. (Siyar A’lamin 4/47 )

5. Murid

Mujahid berkata,”Kami mendatanginya, dan kami tidak meninggalkannya sebelum kami belajar dari padanya”. ( Biografi Umar bin ‘Abdul “Aziz dalam Tarikh al-khulafa No.153, Tahdzibul Asma An Nawawi No.11/17 Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar no VII/475 )

6. Pujian Ulama’ Kepada Umar bin Abdil Aziz

Adz-Dzahabi berkomentar: "Beliau adalah seorang yang berperawakan dan berakhlak bagus. Memiliki kesempurnaan dalam berpikir, pintar menempatkan diri, jago lobi politik, menjunjung tinggi nilai keadilan dan berusaha mengaplikasikannya semaksimal mungkin, luas ilmunya, mumpuni dalam ilmu psikologi dan diberi kecerdasan luar biasa yang ‘dibungkus’ pemahaman yang menakjubkan. Di samping itu beliau juga dikenal sebagai ahli ibadah, memiliki akidah yang lurus, zuhud meskipun memegang tampuk pemerintahan dan lantang menyuarakan kebenaran meskipun sedikit yang mendukungnya. Para ulama mengkategorikan beliau sebagai salah satu al-Khulafa' ar-Rasyidun ( al-Khulafa' ar-Rasyidun ditujukan pada pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. As-Syafi'i mengatakan: "al-Khulafa' ar-Rasyidun ada lima: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz. Lihat: Siyar A'lam an-Nubala' (5/131).
dan ulama yang mengamalkan ilmunya. ( Al-Bidayah wa an-Nihayah (12/696), Siyar A'lam an-Nubala' (5/120), dan Shofahatun Musyriqah Min at-Tarikh al-Islami hal. 400.)

7. Kepribadian Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problematika yang ada dan memiliki analisa yang tajam.
Di antara karakteristik yang dimilikinya:
a. Rasa takut yang tinggi kepada Allah Azza Wajalla.
Hal yang menjadikan Umar bin Abdul Aziz begitu fenomenal bukanlah karena banyaknya shalat dan puasa yang dikerjakan, tetapi karena rasa takut yang tinggi kepada Allah dan kerinduan akan surga-Nya. Itulah yang mendorong beliau menjadi pribadi yang berprestasi dalam segala aspek; ilmu dan amal.

Dikisahkan pada suatu hari si Umar kecil menangis tersedu dan hal itu terdengar oleh ibunya. Lantas ditanyakan apa sebabnya. Beliau pun menjawab: "Aku teringat mati". Maka sang ibu pun menangis dibuatnya.( Al-Bidayah wa an-Nihayah (12/678) dan Siyar A'lam an-Nubala' (5/116).

Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. "Berilah aku petuah!", Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar: "Wahai Amirul Mukminin !! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberimu manfaat. Sebaliknya jika engkau masuk surga, orang yang masuk neraka juga tidaklah mungkin bisa membahayakanmu". Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu sehingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi.( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 164 )

Beliau paling takut kepada Alloh dan hari kiamat, beliau berdo’a :” Ya Alloh, jika Engkau tahu sesungguhnya aku takut sesuatu selain hari kiamat maka jangan Engkau percaya rasa takutku….ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada tempat antara surga dan neraka, dan sesungguhnya kalian pasti milih salah satu tempat antara keduanya.” ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 232 )

b. Wara'.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh :” Waro’ adalah diantara sifat Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz , menahan diri dari sifat yang membahayakan diri, karena kalau tidak masuk di dalamnya subuhat dan .muharromat dan itu sangat membahayakan, maka barang siapa yang takut dari sifat subuhat maka akan terbebas kehormatan dan agamanya, dan barang siapa yang terjatuh pada subuhat maka dia terjerumus ke dalam hal yang diharomkannya seperti seperti pengembala yang barada di dekat daerah larangan dan hampi terjatuh ke dalamnya.” ( Majmu’ Fatawa : 10/615 )

Di antara bentuk nyata sikap Wara' yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah keengganan beliau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sekedar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, "Wahai khalifah! Bukankah itu hanya sekedar bau aroma saja, tidak lebih?". Beliau pun menjawab: "Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena bau aromanya?".( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu al-Jauzi hal. 192.

Di antara bentuk nyata sikap Wara' yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah menjaga dengan hati-hati penggunaan fasilitas dan uang Negara serta kaum Muslimin, dan beliau menggunakan lampu pada rumah – rumah ketika ada kebutuhan kaum Muslimin, dan ketika selesai kebutuhan mereka maka beliau memadamkannya selanjutnya beliau menggunakan lampu dengan uang pribadinya.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/164 )

Dikisahkan suatu hari Umar bin Abdul Aziz pernah mengidam-idamkan buah apel. Tiba-tiba salah seorang kerabatnya datang berkunjung seraya menghadiahi sekantong buah apel kepada beliau. Lalu ada seseorang yang berujar: "Wahai Amirul Mukminin Bukankah Nabi Shollallohu alaihi wasallam dulu pernah menerima hadiah dan tidak menerima sedekah?". Serta merta beliau pun menimpali, "Hadiah di zaman Nabi Shollallohu alaihi wasallam benar-benar murni hadiah, tapi di zaman kita sekarang ini hadiah berarti suap". ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 189.)

c. Zuhud.

Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat zuhud, bahkan kezuhudan yang dimilikinya tidaklah mungkin bisa dicapai oleh siapa pun setelahnya. Kezuhudan yang mencapai level tertinggi di saat 'puncak dunia' berada di genggamannya.
Sesungguhnya akherat adalah negeri yang kekal dan abadi, oleh karena itu Umar bin Abdul Aziz zuhud pada dunia dan awal zuhud beliau adalah zuhud yang diharomkan, kemudian zuhud yang mubah, dan derajat zuhud yang paling tinggi yaitu zuhud dalam kelebihan rizki karena setiap raja memiliki kekayaan yang berlimpah. Zuhudnya Umar bin Abdil Aziz adalah dibangun di atas kitab dan sunnah dan oleh karena itu beliau meninggalkan semua perkara yang tidak manfaat untuk akheratnya, beliau tidak bangga dengan khilafah yang dipimpinnya, dan tidak sedih atas kehilangan perkara-perkara dunia, beliau meninggalkan apa yang beliau mampu untuk menghasilkan kesenangan dunia yang lebih menyibukkan diri dalam urusan yang lebih baik dalam akheratnya dan mencintai apa yang ada di sisi Alloh Ta’ala.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/146 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Ketika berkuasa Umar bin Abdil Aziz maka beliau zuhud pada dunia beliau menolak apa yang ada di dalamnya, beliau meninggalkan makanan yang beraneka ragam macamnya, ketika beliau dibuatkan makanan jika beliau senang pada makanan itu beliau sembunyikannya sampai ada orang yang masuk mengambil dan memakan makanan itu.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 43 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Beliau berinfaq atas keluarganya pagi dan sore tiap hari sebesar 2 Dirham.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 43 )

Imam Malik bin Dinar Rohimahulloh berkata: "Orang-orang berkomentar mengenaiku, "Malik bin Dinar adalah orang zuhud." Padahal yang pantas dikatakan orang zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. dunia mendatanginya namun ditinggalkannya".( Al-Bidayah wan-Nihayah (12/699) dan Siyar A'lam an-Nubala' (5/134).

Beliau tidaklah berpakaian melainkan pakaian yang kasar dan jelek, dan meninggalkan berlebih – lebihan yang sebelum beliau berkuasa beliau memerintahkan orang untuk menjual pakaian kebesarannya lalu uangnya diberikan untuk baitul mal kaum Muslimin.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/155 )

Pernahkan terbetik di benak kita seorang kepala negara ketika berkeinginan menunaikan ibadah haji, ia tidak bisa berangkat hanya karena uang perbekalannya tidak cukup? Pernahkah terlintas di bayangan kita seorang bangsawan yang hanya memiliki satu buah baju, itu pun berkain kasar? Beliau Umar bin Abdul Aziz pernah mengalaminya! ( al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 70.

d. Tawadhu'.

Keluhuran budi pekerti yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz sangatlah tinggi. Hal itu tercermin dari sekian banyaknya karakteristik yang menonjol pada diri beliau. Di antaranya adalah sikap Tawadhu'nya.
Berkata Imam az-Zuhaili Rohimahulloh :” Sifat tawadhu’ adalah sifat terpuji salah satu dari sifat politiknya yang membedakan beliau dengan kholifah lainnya, dan telah mencapai zuhudnya Umar bin Abdul Aziz pada sifat tawadhu’nya, karena syarat zuhud yang benar adalah tawadhu’ kepada Alloh Ta’ala.” ( Umar bin Abdul Aziz Li Zuhaili. Hal. 105 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Diantara sifat tawadhu’nya adalah melarang manusia untuk berdiri untuk menyambutnya, beliau berkata :” Wahai manusia “ jika kalian berdiri maka kami akan berdiri dan jika kalian duduk maka kami akan duduk, sesungguhnya manusia hanya berdiri dan berjalan di hadapan Alloh Ta’ala saja, dan beliau berkata kepada pasukan :” Janganlah kalian memulai kepadaku dengan salam, sessungguhnya memulai salam adalah kalim pada kalian.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 34-35 )

Suatu hari ada seorang laki-laki memanggil beliau, "Wahai khalifah Allah di bumi!" Maka beliau pun berkata kepadanya: "Ketika aku dilahirkan keluargaku memberiku nama Umar. Lalu ketika aku beranjak dewasa aku sering dipanggil dengan sebutan Abu Hafs. Kemudian ketika aku diangkat menjadi kepala negara aku diberi gelar Amirul Mukminin. Seandainya engkau memanggilku dengan nama, sebutan atau gelar tersebut aku pasti menjawabnya. Adapun sebutan yang barusan engkau berikan, aku tidaklah pantas menyandangnya. Sebutan itu hanya pantas diberikan kepada Nabi Daud Alaihis Salam dan orang yang semisalnya", seraya membacakan firman Allah Ta’ala :

) يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ (
Artinya: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi". (QS. Shad: 26). ( Sirah Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu Abdul Hakam hal. 46. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 71)

Namun, ada yang lebih mengagumkan lagi! Kisah yang mencerminkan sikap Tawadhu' yang dimilikinya; Kisah Umar bin Abdul Aziz dengan seorang pembantunya.

Pernah suatu saat Umar bin Abdul Aziz meminta seorang pembantunya untuk mengipasinya. Maka dengan penuh cekatan sang pembantu segera mengambil kipas, lalu menggerak-gerakkannya. Semenit, dua menit waktu berlalu, hingga akhirnya Umar bin Abdul Aziz pun tertidur. Namun, tanpa disadari ternyata si pembantu juga ikut ketiduran. Waktu terus berlalu, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz terbangun. Ia mendapati pembantunya tengah tertidur pulas dengan wajah memerah dan peluh keringat membasahi badan disebabkan panasnya cuaca. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun mengambil kipas, lalu membolak-balikkannya mengipasi si pembantu. Dan sang pembantu itu pun akhirnya terbangun juga, begitu membuka mata ia mendapati sang majikan tengah mengipasinya tanpa rasa sungkan dan canggung. Maka dengan gerak reflek yang dimilikinya ia menaruh tangan di kepala seraya berseru karena malu. Lalu Umar bin Abdul Aziz pun berkata menenangkannya: "Engkau ini manusia sepertiku! Engkau merasakan panas sebagaimana aku juga merasakannya. Aku hanya ingin membuatmu nyaman -dengan kipas ini- sebagaimana engkau membuatku nyaman".( Akhbar Abi Hafs, karya al-Ajurri hal. 82. ( al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal.72.)

e. Adil.

Berkata Umar bin al-Khotthob Rodhiallohuanhuma :” Sesungguhnya dari anakku nanti dengan kedudukannya akan memenuhi bumi dengan keadilan ( al-Ma’rif, Ibnu Qutaibah Hal. 362 )
Umar bin Khattab t pernah berkata: "Kelak salah satu keturunanku akan ada yang memenuhi bumi ini dengan keadilan; seorang laki-laki yang di wajahnya ada bekas luka". ( Siyar A’lam an-Nubala (5/116).)
Di antara sekian karakteristik yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz, adil adalah sikap yang paling menonjol. Sikap itulah yang menjadikan nama beliau begitu familiar di telinga generasi setelahnya hingga hari ini. Keadilannya selalu digaungkan oleh para pencari keadilan, entah karena betul-betul ingin menapaktilasi jejaknya ataukah hanya sekedar kamuflase belaka. Yang terpenting adalah nama besarnya telah mendapat tempat di hati para penerus perjuangannya. Dan nama itu terukir indah dengan tinta emas di deretan para pemimpin yang adil, para pemimpin yang terbimbimg oleh kesucian wahyu; Al Qur'an dan Sunnah, para pemimpin yang dijuluki al-Khulafa' ar-Rasyidun. Dan sejarah Islamlah pengukirnya.
Imam Al-Ajurri Rohimahulloh menceritakan sikap adil yang dimilikinya, beliau berujar: "Seorang laki-laki Dzimmi ( Non muslim (yahudi atau nasrani) yang tinggal di negara Islam (muslim) dan terikat perjanjian damai dengan pihak setempat dengan syarat membayar Jizyah (pajak jaminan keamanan) serta tunduk pada hukum Islam. ( al-Mausu'ah al-Fiqhiyah (2/2487).

Penduduk Himsh ( Mu'jam al-Buldan, Yaqut al-Hamawi (2/116). pernah mendatangi Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu: "Hai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah". "Apa yang engkau maksud?", sergah Umar bin Abdul Aziz. "Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku", lanjutnya -saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz-. Maka Umar bin Abdul Aziz pun menanyakan hal itu kepada Abbas, "Apa komentarmu?". "Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku; Walid bin Abdul Malik", sahut Abbas membela diri. Lalu Umar pun balik bertanya kepada si Dzimmi, "Apa komentarmu?". "Wahai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah", ulang si Dzimmi. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun berkata: “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan dari pada hukum Walid bin Abdul Malik”, seraya memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dirampasnya.( Akhbar Abi Hafs hal. 58. Lihat: : al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 78. )

f. Sabar

Dari Hafshoh bin Umar berkata :” Ketika wafat Abdul malik bin Umar bin Abdil Aziz Abinya memujinya di sisi kuburannya, berkata Muslimah :” Bukankah engkau tetap orang yang berkuasa ? beliau berkata :” Tidak, Muslimah berkata :” Bukankah engkau memuji dengan suatu pujian padanya? Beliau berkata :” Sesungguhnya aku takut jika aku diuji oleh Alloh dengan rasa cinta yang berlebihan seorang bapak terhadap anaknya.” ( al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 2/427 )

Beliau berkhutbah :” Tidaklah seseorang yang ditimpah suatu musibah kemudian dia berkata :” Inna lillahi Wainna ilaihi Roji’un” kecuali dia akan diberikan pahala yang lebih baik oleh Alloh dari pada yang telah diambilNya, beliau berkata :” Orang yang ridho itu sedikit dan sabar itu pijakan orang yang beriman” beliau berkata :” Barang siap yang beramal tanpa ilmu kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikannya. Barang siap yang tidak memperhitungkan ucapan dan amal perbuatannya maka akan banyak kesalahannya, orang ridho itu sedikit, pertempuran orang mu’min adalah sabar.” ( al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 2/428 )

Kesabaran yang paling besar yang diujikan pada Umar bin abdil Aziz pada masa hidupnya adalah kesabaran yang terjadi dalam urusan khilafah, beliau berkata :” demi Alloh, tidaklah aku duduk di tempatku ini kecuali aku takut bahwa kedudukanku bukan pada tempatnya, walaupun aku ta’at pada semua yang aku kerjakan untuk menyelamatkannya dan memberikan pada haknya yaitu al-khilafah. Akan tetapi aku bersabar sampai Alloh memutuskan perkaranya pada khilafah, atau mendatangkan kemenangannya padanya.” ( an-Namudzi al-Idari al-Mustakhlishu Min Irodati Umar bin abdil Aziz . Hal. 144 )

g. Manhajnya

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Ketika beliau berkuasa beliau menulis surat , Beliau berkata :” Adapun sesudah itu : Aku wasiatkan kepada kalian semua untuk bertaqwa kepada Alloh Ta’ala menetapi kitabulloh dan mengikuti sunnah NabiNya Shollallohu alaihi wasallam dan petunjukNya, dan tidaklah bagi seseorang dalam kitabulloh dan sunnah NabiNya dalam suatu perkara dan tidaklah suatu pendapat melainkan bersungguh-sungguh dalam mengikutinya, maka demi Dzat yang jiwaku dan sisa hidupku dalam mengurusi umat Muhammad shollallohu alaihi wasllam ..ikutilah kitaballoh dan sunnah Rosululloh Shollalohu alaihi wasallam serta jauhi hawa nafsu , kesesatan yang jauh, maka barang siapa yang beramal yang tidak dari al-Qur’an dan As-Sunnah maka tidak ada kemulyaan dan derajat di dunia dan di akherat …sesungghnya manusia yang paling hina menurutku adalah orang yang hidupnya menyelisihi sunnah.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 65-67, al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 1/284-287 )

Berkata Imam Maimun bin Mahron Rohimahulloh :”Aku berada di sisi Umar bin Abdil Aziz beliau banyak menangis dan meminta kepada RobbNya kematian, maka aku berkata :” mengapa engkau minta mati padahal Alloh telah menjadikan engkau kebaikan yang banyak, engkau menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah ? beliau berkata :” Tidakkah aku ingin menjadi hambaNya yang sholih ketika Alloh mengikohkan penglihatannya dan melaksanakan semua perintahNya, Alloh Ta’ala berfirman :” Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” QS.Yusuf :101 ) sungguh beliau meminta do’a mati membawa iman, dan berdo’a untuk mengikuti orang-orang yang sholih.” ( al-Aqdul farid 4/396, al-Atsar al-warodah 1/224 )

Berkata Imam Hajib bin Kholifah al-Barjami Rohimahulloh :” Aku menyaksikan Umar bin Abdil Aziz berkhutbah pada manusia setelah beliau menjadi Kholifah, beliau berkhutbah :” Apa yang dicontohkan Nabi Shollalohu alaihi wasallam dan para shohabatnya adalah agama yang kami mengambilnya dan kami berhenti jika keduanya tidak melakukan, dan apa yang selain dari keduanya maka kami buang.” ( Jami’ul ulum Wal Hikam Hal. 288 al-Hilyah 5/298 )

Berkata Imam Umar bin Abdil Aziz Rodhiallohuanhu :” Telah mencontohkan Rosululloh Shollalohu alaihi wasallam dan kholifah sesudahnya suatu tauladan yang wajib diikuti, berpegang teguh dengan kitabillah adalah kekuatan agama yang tidak boleh bagi seorangpun yang merubah dan menggantinya, dan tidak boleh berfikir dalam suatu perkara yang akan menyelisihinya, barang siap yang diberi hidayah maka dia mendapat petunjuk, barang siapa yang menolong sunnahnya maka dia ditolong, barang siapa yang meninggalkannya dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman maka Alloh akan palingkan jalannya dan akan menempatkannya di neraka jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 40 )

Umar bin "Abdul Aziz Rodhiallohuanhuma pernah berwasiat kepada sebagian pegawainya, "Aku berwasiat kepadamu agar senantiasa bertaqwa kepada allah dan berlaku sederhana dalam menjalankan perintah-Nya,mengikuti Sunnah (tuntunan)Rasulullah meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang diada-adakan oleh orang-orang setelahnya, dan berhentilah pada batas-batas ajarannya. Dan ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah berbuat bid'ah melainkan telah ada sebelumnya hal yang menunjukan kebid'ahannya dan pelajaran buruk yang ditimbulknanya. Karena itu, kamu wajib berpegang kepada As-sunnah, sebab ia tameng dan pelindung (dari berbagai kesesatan dan kebinasaan-Pen) bagi dirimu dengan izin Allah. Dan ketahuilah, barang siapa yang berjalan diatas sunnah, maka ia telah mengetahui bahwa tindakan menyelisinya adalah termasuk kesalahan, kekeliruan, sikap berlebih-lebihan dalam kedunguan. Maka generasi terdahulu dari umat ini (As-salafus sholih) dan telah berhenti dan menahan diri mereka dengan ilmu yang mapan (dari bid'ah-bid'ah) padahal mereka adalah orang yang sangat sanggup membalas suatu masalah agama, akan tetapi mereka tidak membahasnya." [ Shahih sunan Abi Dawud No. 4612 dan lihat takrij kitab Asy-Syariah, Atsar No. 292]

Wafatnya.

Beliau meninggal dunia hari jum'at di sepuluh hari terakhir bulan Rajab tahun 101 H pada umur 40 tahun, setelah memegang tampuk kekuasaan selama kurang lebih 2 tahun 5 bulan 4 hari, dikarenakan stroke yang menimpanya. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau meninggal dunia karena diracun para pejabat Bani Umayah. Wallahu A'lam. Lihat: ( al-Bidayah wa an-Nihayah (12/719), Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 327 dan al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz, karya Dr. Ali Muhamad Shalabi hal.329.)

Beliau meninggalkan 3 orang istri: Fatimah bintu Abdul Malik bin Marwan, Lumais bintu Ali bin Haris, Ummu Utsman bintu Syu'aib bin Zayyan, dan 14 orang anak laki-laki: Abdul Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Bakr, Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zayyan, Abdul Aziz, Abdullah, serta 3 orang anak perempuan: Ummu Ammar, Aminah, Ummu Abdillah.( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 314-315.)

Beliau memiliki 14 anak 13 laki-laki dan 3 putri , yang putra adalah : Abdul Malik, Abdul aziz, Abdulloh, Ibrohim, Ishaq, Ya’kub, Bakar al-Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zuban, Yang putri ada 3 yaitu : Aminah, Ummu Ammar, Ummu Abdillah. ( Siyar A’lamin Nubala’ 1/23, Syiroh Umar bin Abdil Aziz, Ibnul Jauzi Hal. 338 Fiqih Umar bin Abdil Aziz 1/24 )

Ia wafat pada tahun 101 H ( Biografi Umar bin ‘Abdul “Aziz dalam Tarikh al-khulafa no.153, Tahdzibul Asma An Nawawi no.11/17 Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar no VII/475 )

Ia wafat pada tahun 101 H/ 720 M Umurnya 40 tahun. ( Atsar Umar bin Abdil Aziz Fil Aqidah 1/45 , Tadzkirotul Huffadz 1/118-120 )

Syafiiyah: Wajib Mengikuti manhaj salaf, Tidak boleh menyelisihinya




         Para ulama ahlussunnah wal jamaah, apapun madzhab fiqih yang mereka tempuh dalam jenjang berusaha mempelajari dan memahami ahkam syariat, tetap mengikuti madzhab salaf. Begitu juga dengan para ulama madzhab syafiiyah yang memang berada di atas manhaj ahlussunnah wal jamaah. Beda dengan orang-orang yang mengaku bermadzhab syafii, tetapi mereka beragama dengan berlandaskan ilmu kalam mantiq dan pemahaman tasawwuf sufi. Banyak ucapan para ulama syafiiyah yang mengajak untuk mengikuti madzhab salaf dan mewajibkannya. Demikian ini akan kami bawakan perkataan-
perkataan para ulama syafiiyah tentang wajibnya mengikuti madzhab salaf (salafiy).

Perkataan para ulama Syafiiyah
1. Al-Imam Abu Ismail Utsman Ash-Shobuni Asy-Syafii rahimahullah (- 449 H) berkata dalam awal risalahnya ( I’tiqod Ahlussunnah Ashabul Hadits Hal. 34 ) :

سألني إخواني في الدين أن أجمع لهم فصولا في أصول الدين التي استمسك بها الذين مضوا من أئمة الدين وعلماء المسلمين والسلف الصالحين، وهدوا ودعوا الناس إليها في كل حين، ونهوا عما يضادها وينافيها جملة المؤمنين المصدقين المتقين، ووالوا في اتباعها وعادوا فيها، وبدعوا وكفروا من اعتقد غيرها، وأحرزوا لأنفسهم ولمن دعوهم إليها بركتها وخيرها، وأفضوا إلى ما قدموه من ثواب اعتقادهم لها، واستمساكهم بها، وإرشاد العباد إليها، وحملهم إياهم عليها، 

“Aku diminta oleh saudara-saudaraku seagama untuk mengumpulkan bagi mereka fasal-fasal tentang ushuluddin (keyakinan, aqidah, i’tiqod) yang dipegang teguh oleh para imam agama dan ulama kaum muslimin serta para salaf yang shalih, dan mereka memberi petunjuk dan mengajak orang-orang kepadanya dalam semua kesempatan, dan melarang dari yang berlawanan dan bertentangan dengannya, sekumpulan kaum mukminin yang membenarkan dan bertaqwa. Mereka loyal dalam mengikutinya dan memusuhi (orang yang menyelisihinya) dalam masalah itu. Mereka membid’ahkan dan mengkufurkan orang yang meyakini selainnya. Mereka memelihara berkah dan kebaikannya bagi diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka ajak kepada ushuluddin ini. Mereka telah mencapai pahala keyakinan mereka, sikap mereka berpegang teguh dengannya, memeri petunjuk manusia kepadanya dan kesabaran mereka terhadap balasan manusia di atas aqidah itu.”
Kesimpulan:
a.) Para salaf shalih dan para ulama kaum muslimin dulu mengajak manusia kepada aqidah salaf dalam setiap waktu dan melarang dari yang menyelisihinya.
b.) Mereka –para ulama dan salaf shalih- loyal kepada orang yang mengikuti aqidah salaf dan memusuhi orang yang sebaliknya.
c.) Mereka –para ulama dan salaf shalih- membid’ahkan dan mengkufurkan orang yang meyakini selain aqidah salaf.
d.) Dulu, kaum muslimin sangat perhatian dengan aqidah salaf, sehingga mereka bertanya kepada Imam Abu Utsman Ash-Shabuni tentang aqidah salaf untuk mereka pegang.

2. Al-Imam Al-Mawardi Asy-Syafii rahimahullah (-450 H) di dalam Al-Hawi Fi Fiqhi Asy-Syafii (2/523): Beliau membawakan pendapat Imam Asy-Syafii tentang doa istisqa’ (minta hujan) yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Imam Asy-Syafii berkata:

وَأُحِبُّ أَنْ يَفْعَلَ هَذَا كُلَّهُ وَلَا وَقْتَ فِي الدُّعَاءِ لَا يُجَاوِزَ .

“Aku suka hendaknya dia melakukan semua ini dan tidak ada waktu dalam doa yang dia tidak boleh melampauinya.”
Kemudian Al-Imam Al-Mawardi memberikan komentar:

وَهَذَا كَمَا قَالَ : وَذَلِكَ هُوَ الْمُخْتَارُ ؛ لِأَنَّهُ مَرْوِيٌّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْقُولٌ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ .

“Dan ini seperti yang beliau katakan. Itulah pendapat yang dipilih, karena itu yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dinukilkan dari salaf shalih radhiyallahu ‘anhum.”
Kesimpulan:
a.) Dalam berpendapat, Imam Syafii berijtihad dengan dalil yang sampai kepada beliau dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak berbicara dalam masalah agama tanpa dalil yang dijadikan landasan pendapat.
b.) Pendapat yang ada dalilnya dan mencocoki pendapat salaf itulah yang dipilih. Di sini ada isyarat bahwa pendapat salaf itulah yang diikuti dan dijadikan rujukan.

3. Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah (384-458 H) Imam An-Nawawi dalam Khulashoh Al-Ahkam (1/462-463): dalam menetapkan sifat Allah bahwa dia mengatakan:

لا يجوز وصفه – سبحانه – إلاّ بما دل عليه كتاب الله تعالى أو سنة رسوله صلى الله عليه وسلم ، أو أجمع عليه سلف هذه الأمة

“Tidak boleh mensifati Allah subhanahu wa ta’ala kecuali dengan yang ditunjukkan oleh Kitabullah atau sunnah rasul-Nya atau ijma’ salaf ummat ini.”
Kesimpulan:
a.) Dalam masalah asma wa sifat Allah, kita juga berhujjah dengan Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ salaf. Karena madzhab salaf itulah yang seharusnya diikuti.
b.) Beriman dengan Asma’ wa sifat Allah termasuk beriman dari rukun iman pertama, yaitu iman kepada Allah.
c.) Salaf adalah panutan dalam beragama.
d.) Imam Al-Baihaqi tidak membolehkan seseorang untuk beraqidah selain yang dipegangi salaf.

3. Perkataan Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah (384-458 H) sebagaimana dinukil Imam An-Nawawi dalam Khulashoh Al-Ahkam (1/462-463):

وَرَوَى الْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَادِهِ ، عَن ابْن الْمُبَارك أَنه سُئل عَن مسح الْوَجْه إِذا دَعَا الْإِنْسَان ؟ قَالَ : ” لم أجد لَهُ ثبتاً ، وَلم يكن يرفع يَدَيْهِ ” . قَالَ الْبَيْهَقِيّ : ” لست أحفظ فِي مسح الْوَجْه هُنَا عَن أحد من السّلف شَيْئا . قَالَ : وَاخْتلفُوا فِي ذَلِك فِي الدُّعَاء خَارج الصَّلَاة ، قَالَ : فَأَما فِي الصَّلَاة فَهُوَ عمل لم يثبت فِيهِ خبر ، وَلَا أثر ، وَلَا قِيَاس فَلَا يُفعل ، ويقتصر عَلَى مَا فعله السّلف من رفع الْيَدَيْنِ دون الْمسْح هَذَا كَلَام الْبَيْهَقِيّ . 
وَأما حَدِيث عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْه : ” أَن النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ كَانَ إِذا رفع يَدَيْهِ فِي الدُّعَاء لم يحطهما حَتَّى يمسح بهما وَجههفَرَوَاهُ التِّرْمِذِيّ . وَقَالَ : ” حَدِيث غَرِيب ، انْفَرد بِهِ حَمَّاد بن عِيسَى ، وَحَمَّاد هَذَا ضَعِيف ” فَهُوَ حَدِيث ضَعِيف .

[Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnul Mubarok, bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah ketika seseorang berdoa. Maka dia menjawab: “Aku tidak mendapati hal itu tsabit, dan hendaknya dia tidak mengangkat kedua tangannya.” Al-Baihaqi berkata: “Aku tidak menghapal sesuatupun di sini dari salah seorang salaf tentang mengusap wajah... Para ulama telah berbeda pendapat tentang hal itu dalam doa di luar sholat ... Adapun di sholat, maka itu adalah amalan yang tidak tsabit sebuah hadits tentangnya, tidak pula sebuah atsar (riwayat shohabat dan setelahnya) dan tidak pula qiyas, maka tidak bisa dilakukan. Dan hendaknya mencukupkan diri sebagaimana yang dilakukan oleh salaf berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah.” Demikian ucapan Al-Baihaqi.
Al-Imam An-Nawawi melanjutkan: Adapun hadits Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dulu jika mengangkat kedua tangannya dalam dia, beliau tidak menaruhnya sampai beliau mengusap wajahnya dengan keduanya. Maka ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dia berkata: “Hadits ghorib, Hammad bin Isa meriwayatkan sendirian dan dia dho’if.” Maka hadits ini dho’if.]
Kesimpulan:
a.) Mengikuti madzhab salaf dalam masalah ibadah, seperti ibadah sholat.
b.) Tidak berpendapat dengan sesuatu amalan yang tidak ada dalilnya, baik dari al-qur’an atau hadits dan ijma’ salaf.
c.) hadits tentang mengusap wajah setelah berdoa dengan kedua tangan adalah dho’if. Sehingga hal itu tidak diamalkan.
d.) Imam Al-Baihaqi dan Imam An-Nawawi ketika berpendapat berusaha mengikuti dalil dan madzhab salaf. Bagaimana dengan kaum muslimin sekarang yang mengaku bermadzhab syafii? Banyak orang yang tidak mengenal madzahab salaf yang sesungguhnya bahkan malah mencela madzhab salaf. Mereka menggolongkan para teroris sebagai seorang salaf. Ini adalah sebuah kejahatan kepada para salaf.

4. Imam Al-Haramain Abul Ma’ali rahimahullah (419-478 H) sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/349-350):

ركبت البحر الأعظم، وغصت في كل شيء نهى عنه أهل العلم في طلب الحق فرارا من التقليد والآن فقد رجعت واعتقدت مذهب السلف

“Aku telah mengarungi samudra yang terbesar, dan aku telah menyelami segala sesuatu yang dilarang oleh para ulama, untuk mencari kebenaran, lari dari taqlid. Sekarang aku telah kembali dan meyakini madzhab salaf.”
Kesimpulan:
- Tempat kembali dalam memahami agama yang benar adalah dengan mengikuti madzhab salaf.

5. Imam An-Nawawi rahimahullah (631-676 H) ( dalam Muqaddimah Al-Majmu 1/27) ketika menceritakan tentang Kitab beliau Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَعْرِفَةَ مَذَاهِبِ السَّلَفِ بِأَدِلَّتِهَا مِنْ أَهَمِّ مَا يُحْتَاجُ إلَيْهِ ….. وَبِذِكْرِ مَذَاهِبِهِمْ بِأَدِلَّتِهَا يَعْرِفُ الْمُتَمَكِّنُ الْمَذَاهِبَ عَلَى وَجْهِهَا، وَالرَّاجِحَ مِنْ الْمَرْجُوحِ، وَيَتَّضِحُ لَهُ، وَلِغَيْرِهِ الْمُشْكِلَاتُ، وَتَظْهَرُ الْفَوَائِدُ النَّفِيسَاتُ، وَيَتَدَرَّبُ النَّاظِرُ فِيهَا بِالسُّؤَالِ، وَالْجَوَابِ، وَيَتَفَتَّحُ ذِهْنُهُ، وَيَتَمَيَّزُ عِنْدَ ذَوِي الْبَصَائِرِ، وَالْأَلْبَابِ، وَيَعْرِفُ الْأَحَادِيثَ الصَّحِيحَةَ مِنْ الضَّعِيفَةِ، وَالدَّلَائِلَ الرَّاجِحَةَ مِنْ الْمَرْجُوحَةِ،

“Ketahuilah bahwa mengenal madzhab-madzhab salaf dengan dalil-dalilnya termasuk perkara yang dibutuhkan … dan dengan menyebutkan madzhab-madzhab mereka dengan dalil-dalilnya, orang yang mapan akan mengetahui madzhab-madzhab itu sesuai dengan kedudukannya yang sesuai, mengetahui pendapat yang rojih (kuat) dari yang lemah, perkara-perkara yang rumit akan menjadi jelas bagi dia dan orang lain, akan nampak faedah-faedah berharga, dan orang yang memperhatikannya akan terlatih dengan soal jawab, akalnya akan terbuka, dan dia akan mempunyai keistimewaan di sisi orang-orang yang berakal. Dia juga akan mengetahui hadits-hadits yang shohih dari hadits yang dho’if, mengetahui dalil yang kuat dari yang lemah. …”

6. Al-Imam Adz-Dzahaby rahimahullah (673 – 748 H) berkata dalam kitab beliau
( Siyar A’lam An-Nubala (13/380):

الامانة جزء من الدين، والضبط داخل في الحذق، فالذي يحتاج إليه الحافظ أن يكون تقيا ذكيا، نحويا لغويا، زكيا حييا، سلفيا، يكفيه أن يكتب بيده مئتي مجلد، ويحصل من الدواوين المعتبرة خمس مئة مجلد، وأن لا يفتر من طلب العلم إلى الممات، بنية خالصة وتواضع، وإلا فلا يتعن.

“Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hafizh adalah: Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang salafy (orang yang mengikuti madzhab salaf), cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap”.
Beliau menyebautkan bahwa diantara syarat untuk menjadi seorang al-hafidz, adalah dia seorang salafi, seorang yang mengikuti madzhab salaf.
7. Ibnu Hajar Al-’Asqolani Asy-Syafii rahimahullah (773-852 H) berkata dalam Fathul Bari (13/253):

ومما حدث أيضاً تدوين القول في أصول الديانات فتصدى لها المثبتة والنفاة، فبالغ الأول حتى شبه، وبالغ الثاني حتى عطل، واشتد إنكار السلف لذلك كأبي حنيفة، وأبي يوسف، والشافعي. وكلامهم في ذم أهل الكلام مشهور. وسببه أنهم تكلموا فيما سكت عنه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه. 
وثبت عن مالك أنه لم يكن في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر شيء من الأهواء يعني بدع الخوارج، والروافض، والقدرية. 
وقد توسع من تأخر عن القرون الثلاثة الفاضلة في غالب الأمور التي أنكرها أئمة التابعين وأتباعهم.ولم يقتنعوا بذلك حتى مزجوا مسائل الديانة بكلام اليونان، وجعلوا كلام الفلاسفة أصلاً يردون إليه ما خالفه من الآثار بالتأويل ولو مستكرهاً. 
ثم لم يكتفوا بذلك حتى زعموا أن الذي تربوه هو أشرف العلوم وأولاها بالتحصيل، وأن من لم يستعمل ما أصطلحوا عليه فهو عامي جاهل، فالسعيد من تمسك بما كان عليه السلف، واجتنب ما أحدث الخلف

“Dan termasuk yang terjadi juga adalah penyusunan buku tentang pendapat dalam masalah akidah, sampai kelompok yang menetapkan sifat Datang dan kelompok yang meniadakannya memasukinya. Yang pertama berlebihan sampai melakukan tasybih, yang kedua berlebihan sampai menolak sama sekali. Dan sangat keras pengingkaran salaf terhadap hal itu, seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Asy-Syafii. Ucapan mereka dalam mencela ahlul kalam sangatlah terkenal. Sebabnya karena orang-orang itu berbicara tentang perkara yang didiamkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya. Dan telah datang dari Imam Malik bahwa tidak ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, Umar sedikitpun dari al-hawa (bid’ah), yakni bid’ah-bid’ah khowaroj, syiah rofidhoh dan qodariyah.
Orang-orang yang datang setelah tiga generasi (awal) yang utama dalam keumuman perkara yang diingkari oleh para imam tabiin dan tabiut tabiin. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan hal itu sampai mencapurkan antara permasalahan-permasalahan agama dengan ucapan-ucapan yunan, dan menjadikan perkataan ahli filsafat sebagai dasar kembalinya atsar-atsar yang menyelisihinya dengan cara mentakwilnya, meskipun dengan enggan.
Kemudian orang-orang itu tidak merasa cukup dengan itu saja, sampai mereka meyakini bahwa yang mereka ajarkan adalah ilmu yang paling utama dan paling mulia untuk dipelajari dan menyangka bahwa orang yang tidak memakai istilah-istilah mereka adalah orang yang awam lagi bodoh.
Maka orang yang berbahagia adalah orang yang berpegang teguh dengan yang dipegang oleh salaf sholih dan menjauhi perkara yang diada-adakan kholaf (orang-orang belakangan).”
Cukuplah ucapan beliau sebagai pelajaran bagi orang yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

8. Imam As-Suyuthi rahimahullah (849-911) dalam Al-Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘An Al-Ibtida’ hal 8:

فكيف لو رأوا ما أحدثوا في هذا الزمان فيه من الزيادات القبيحة. فاحذره يا أخي، واقتد بالسلف الصالح.

“Maka bagaimana kalau mereka melihat terhadap apa yang diada-adakan oleh orang-orang pada masa ini, yang padanya ada tambahan-tambahan yang jelek. Maka berhati-hatilah saudaraku, dan teladanilah salaf sholih.”
Wallahu a’lam.

Diberdayakan oleh Blogger.