-->

01 September 2012

URGENSI SHALAT BERJAMA’AH


Di antara karunia Allah Ta’ala kepada para hambanya adlah bahwasanya Dia telah menetapkan pahala yang sangat besar atas pelaksanaan shalat berjama’ah. Dan pahala yang besar ini di mulai dari tertambatnya hati di Masjid, lalu melangkahkan kaki ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, hingga hamba tersebut selesai dari shalatnya. Dan ternyata pahala itu tidak berhenti samapai disitu, akan tetapi berlanjut sampai orang yang shalat tersebut sampai ke rumahnya. Sebagaimana yang Allah taala pun telah menetapkan pahala secara khusus atas pelaksanaan shalat isya’, subuh, dan ashar dengan berjama’ah.
Keutamaan yang pertama :
Orang yang hatinya tertambat di Masjid akan berada dalam naungan Allah Ta’ala pada hari Kiamat
Asy-syaikani (Imam Al Bukhori dan Imam Muslim) telah meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “ada tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungannya pada hari dimana tidak ada lagi naungan kecuali naungannya yaitu 1. Imam yang Adil,2 seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabnya, 3.seorang laki-laki yang hatinya tertambat ke masjid, 4. dua orang yangsaling mencintai dalam kecintaan kepada Allah, mereka berkumpul dan berpisah atas dasar sinta tersebut (akan tetapi yang dimaksud disini bukanlah seorang ikhwan mencintai akhwat lalu pacaran, khalwat, kawan2? Allah berfirman LaaTakrobuzzina, innahu kaana faahisah), jadi dalam islam tidak ada istilah pacaran yang Syar’i…. apalagi ditengah kondisi umat yang rawan dengan fitnah Syahwat ini… hatta saya sangat mudah melihat adegan yang tidak ahsan dipantai rumah saya (ketika saya lari2 dengan adek2),dan seorang pasutripun tidak ahsan jika melakukan hal tersebut dipantai, apalagi cow-cew yang belum menikah(Ya Allah berilah hidayah kepada Saudara2q yang demikian). Selanjutnya yang kelima 5). Seorang laki2 yang diminta oleh sorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan (untuk berbuat mesum) lalu ia berkata : “sesungguhnya Aku takut kapada Allah. Dan 6) seorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kitinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, serta 7). Seorang yang berdzikir kepada Allah secara menyendiri hingga kedua matanya becucuran air mata” (MuttafaQ ‘alaih (lihat Shahih Al Bukhari kitab Adzan bab Man jalasa fi masjidi yantadzirush shalah dan fadlul masajid, ii/143, no 660)
Imam an-Nawawi mengatakan dalam penjelasan lafazh : warojulun qolbuhu muallaqun fiilmasaajid(dan seorang laki-laki yang hatinya tertambat di masjid)’ makna dari lafadz tersebut adalah ia sangat cinta kepada masjid dan selalu tetap ingin berjamaah didalamnya, dan tidak bermakna bahwa ia selalu duduk2 dan tinggal dimasjid” karena masjid adalah baitulloh dan rumah setiap orang yang bertaqwa. Dan sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang dikunjungi untuk memuliakan orang yang mengunjunginya, maka seperti apakah penghormatan yang diberikan oleh yang maha mulia diantara orang yang mulia?
Point yang kedua yaitu Keutamaan melangkahkan kaki ke masjid untuk melaksanakan shalat berjama’ah… in this to be continue…..
Assalamualaikumwarahmatulllohwabarakatuh… semoga bermanfaat…

(KISAH )BAGI ORANG YANG INGIN MENJADI TETANGGA RASULULAH DI SURGA



Di dalam shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“ Aku dan pemelihara anak yatim di dalam surga seperti ini. “ Beliau sambil memeberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan antara keduanya”.
Sedangkan di dalam shahih Muslim Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“ Pelindung anak yatim, baik anak kerabatnya atau anak orang lain. Aku dan ia bagai seperti ini didalam surge. “ Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dengan jari tengah”.
Kafalatul-Yatim, artinya mengurusi segala urusannya dan berusaha demi kemaslahatannya. Diantaranya dengan memberinya makanan, pakaian, memelihara dan mengembangkan hartanya jika anak yatim itu memiliki harta. Jika ia tidak memiliki harta benda, ia bersedekah untuknya dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah semata. Sedangkan dalam hadits nabi tadi , “ Anak kerabatnya sendiri atau Orang lain”. Artinya bisa jadi anak itu adalah anak kerabatnya atau orang lain. Hubungan kekerabatan misalnya yang melindunginya adalah kakeknya, saudaranya, ibunya, paman dari ayahnya, istrinya, paman dari ibunya, atau orang lain yang mempunyai kedekatan hubungan dengannya. Sedangkan orang lain artinya yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya.
Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“ Barangsiapa menggabungkan seorang anak yatim dari kaum Muslimin ke dalamm makan dan minumnya hingga Allah mencukukannya. Allah mewajibkannya masuk surge kecuali ia melakukan dosa yang tidak terampuni (Diriwayatkan Tirmidzi dari hadits ibnu Abbas, hadits hasan shahih).
Sedangkan diriwayatkan Ahmad dari jalur Ubaidillah bin Zahr, hadits yang juga  diperkuat oleh Abu Hurairah, Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“ Barangsiapa mengusap kepala seorang anak yatim dan ia tidak mengusapnya kecuali karena Allah, baginya setiap satu helai rambut yang diusapnya terdapat kebaikan. Dan Barangsiapa yang berbuat baik kepada anak yatim laki-laki dan anak yati perempuan, aku dan ia seperti ini di surga”.
Seseorang berkata kepad Abu Drda’ Radhiallahu Anhu, berilah aku satu nasihat! Ia berkata, “ sayangilah anak yatim dan dekatkan I akepadamu serta berilah ia makan dari makananmu! Sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sllam pernah didatangi seseorang yang mengadu kepada beliau tentang kekerasan hatinya. Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, jika kamu menginginkan agar hatimu lembut, dekatkanlah anak yatim kepadamu, usaplah kepalanya, dan berilah makan dari makananmu. Karena itu semua membuat hatimu lembut dan mencukupi kebutuhanmu”. (diriwayatkan Thabrani).
Dikisahkan bahwa seorang ulama’ salaf berkata, pada mulanya aku bergelimang kemaksiatan dan minum khamr. Lalu pada suatu hari aku mendapatkan seorang anak yatim dan fakir, aku memungutnya dan berbuat baik kepadanya, aku juga memberinya makan dan pakaian, memandikannya dikamar mandi, menghilangkan kedekilannya, memuliakannyanya sebagaiman aseseorang memuliakan anaknya sendiri bahkan lebih dari itu. Pada malam hari setelah itu aku bermimpi, dalam mimpi itu aku melihat seakan-akan dunia telah kiamat dank au digiring untuk dihisab. Lalu aku digirng menuju neraka karena buruknya amalanku dan kemaksiatan yang telah kukerjakan. Aku ditarik oleh para malaikat penjaga neraka, mereka semua melewatiku dan aku merasa hina dihadapan mereka, lalu semuanya mendorongku menuju neraka. Tiba-tiba anak yatim itu telah menghadang jalanku. Ia berkata, tinggalkan  dia wahai para malaikat hingga aku memintakan syafaat untuknya kepada tuhanku. Karena ia telah berbuat baik kepadaku dan memuliakanku.” Tiba-tiba ada suara dari Allah Azza Wajalla, “ Tinggalkan dia karena aku telah menganugrahkan kepadanya syafaat anak yatim itu karena kebaikannya.”
Lalu aku terbangun, “ katanya. “ dan aku bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Aku mengerahkan segala kemampuan untuk memberikan kasih sayang kepada anak-anak yatim”.
Oleh Karena itu Anas bi Malik Radhiallahu Anhu, pelayan Rasulullah Shallallahu Alalaihi wa Sallam berkata,
“ sebaik-baik rumah adalah rumah yang didalamnya ada seorang anak yatim yang diperlakukan secara baik. Dan seburuk-buruk rumah adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan secara tidak baik. Dan hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang berbuat baik kepada seorang anak yatim atau janda.”
Diriwayatkan pula bahwa Allah mewahyukan kepada Dawud Alaihis Sallam,
“ wahai Dawud, jadilah kamu bagai seorang bapak penyayang kepada anak yatim. Jadilah kamu sebagai suami yang setia bagi seorang janda. Ketahuilah bahwa sebagaimana kamu menanam, pastilah kamu menuai.”
Artinya adalah balasan amal yaitu sebagaimana yang telah kita kerjakan. Yakni, kamu akan mati dan kamu meninggalkan anak yatim atau seorang janda.”
Dawud Alahis Sallam berdoa dalam salah satu munajatnya, “ tuhanku, apakah balasan bagi orang yang melindungi anak yatim dan seorang janda yang hanya mengharapkan keridhaanmu? “ Allah berfirman, “ balasannya adalah kamu Aku lindungi pada perlindunganKu dimana tidak ada perlindungan selain perlindunganku. Yakni naungan Arasy-Ku pada hari kiamat.
Tentang keutamaan berbuat baik kepada seorang janda dan anakn yatim terdapat kisah seorang Alawi (keturunan Ali Radhilallahu Anhu). Dating ke kota Balkh, negri Persia. Ia mempunyai seorang istri yang yang juga alawiyah, darinya ia mempunyai banyak anak perempuan, keluarga itu hidup serba kecukupan dan kenikmatan. Tiba-tiba sang suami meninggal dunia dan istri serta anak-anaknya ditimpa penderitaan dan kemiskinan sepeninggalannya. Anak-anaknya berbiat pergi ke negeri lain karena khawatir akan disatroni oleh musuh-musuhnya. Semuanya sepakat bahwa mereka akan berangkat pada malam yang sangat dingin. Ketika sampai di negeri tujuan, si ibu memasukkan anak-anaknya ke sebuah masjid yang jauh dari perumahan penduduk. Ibu itu keluar mengais makanan dari anak-anaknya, ia melewati dua kelompok orang, satu kelompok dimpimpin oleh seorang muslim ia adalah pemimpin spiritual negeri itu. Ia mempriorotaskan menemui si muslim dann menjelaskan kepadanya keadaanya.
Ia berkata, “ saya adalah seorang Alawiyah, saya mempunyai banyak anak perempuan yatim, mereka saya amankan di sebuah masjid. Dan pada malam  ini aku hendak mencari makanan untuk mereka.”
Si Muslim berkata kepadanya, “ Tunjukkan kepadaku bukti bahwa kamu adalah Alawiyah yang mulia!”
Saya adalah wanita asing di negeri ini dan tidak ada yang mengetahui siapa saya, “ jawabnya, lalu si Muslim itu paling darinya. Wanita itu pergi dengan membawa kesedihan di hati. Kemudian ia dating menemui seorang majusi itu. Kepadanya ia menjelaskan keadaanya dan anak-anak yatim itu, dan bahwa dirinya wanita alawiyah. Ia juga menceritakan pertemuannya dengan syaikh muslim tadi. Orang majusi itu berdiri dan mengutus salah seorang istrinya untuk membawa semuanya, ibu dan anak-anaknya kerumahnya dan diberinyalah mereka makanan terbaik. Mereka juga diberi pakaian sebaik-baik pakaian, dan mereka semua menginap dirumah itu dengan segala rasa senang dan terhormat.
Di malam itu syaikh muslim tadi bermimpi dalam tidurnya bahwa hari kiamat telah datang, bendera telah di pasang di kepala Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba terdapat istana dari batu zamrud berwarna hijau, berandany terdiri dari mutiara dan batu nilam. Pada istana itu juga terdapat  kubah-kubah dari mutiara dan permata. Ia bertanya, wahai Rasulullah untuk siapakah istana itu? Rasulullah menjawab untuk seorang muslim yang bertauhid. Ia Berkata, “ya Rasulullah, saya adalah seorang muslim yang bertauhid.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “ Tunjukkan kepadaku bahwa kamu adalah seorang muslim yang bertauhid!”. Lalu orang itu terdiam bingung. Rasulullah  shallallahu alaihi wa sallam berkata, “mengapa ketika seorang alawiyah itu datang kamu katakana, Tunjukkan bukti kepadaku bahwa kamu alawiyah?Dan sekarang kamu, tunjukkan bukti bahwa kamu Muslim!.
Orang itu lalu tersadar dan bersedih telah mengusir wanita malang itu. Ia berkeliling ke seluruh penjuru negeri untuk mencari dimana wanita itu berada. Akhirnya ada yang memberitahu kepadanya bahwa wanita itu ada dirumah orang majusi. Ia mengirim seorang utusan kepada si majusi itu dan ia pun datang kepadanya bersama utusan itu.  Si muslim berkata “ aku menghendaki darimu wanita Alawiyah itu serta anak-anaknya.” Ia menjawab tidak ada jalan untuk itu, sungguh saya telah mendapatkan keberkahan dari mereka, sesuatu yang belum aku dapatkan.” Si muslim berkta , Ambillah seribu dinar dan serahkan mereka kepadaku!.”
“ tidak akan aku lakukan.” Kata si Majusi
“ Harus”
“ Apa yang kamu inginkan itu akulah yang paling berhak, dan istana yang kamu lihat dimimpimu itu diciptakan untukku. Tahukah kamu keislamanku? Demi Allah, Tidaklah aku tidur pada malam tadi, aku dan keluargaku semuanya melainkan semuanya telah masuk islam melalui wanita Alawiyah itu. Aku juga bermimpi sebagaimana mimpimu tadi malam. Lalu Rasulullah bersabda kepadaku, Alawiyah serta anak-anaknya itu milik kamu. “ aku berkata, Ya wahai Rasulullah.” Beliau berkata lagi, istana itu juga milik kamu dan keluargamu. Kamu dan keluargamu termasuk penghuni surge, Allah telah menciptakanmu sebagai seorang mukmin di alam Azali.”
Si Muslim itu pergi dengan kesedihan dan kegundahanya, tidak ada yang menge tahui kadar kesedihannya kecuali Allah.
Lihatlah, mudah-mudahan Allah merahmatimu. Lihatlah betapa keberkahan itu Allah karuniakan berkat budi baik kepada seorang janda dan ank-anak yatim, karunia yang berupa kemuliaan bagi pelaku kebaikan itu selama di dunia.
Oleh karena itu dijelaskan dalam kedua kitab shahih, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda,
“ Orang yang berusaha berbuat baik kepada janda dan orang miskin bagai seorang mujahid dijalan Allah. “ (diriwayatkan Bukhari, Muslim dan Ibnu Majjah dari Hadits Abu Hurairah).
Perawi hadits ini berkata,” aku kira beliau bersabda juga bagai orang shalat (malam) yang tidak pernah istirahat, dan bagai orang yang berpuasa yang tiada berbuka.”
As-Sa’I kepada mereka adalah orang yang mengurus urusan kemaslahatan mereka dengan hanya mengharapkan keridhaan Allah. Mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kepada kita kemuliaannya, sesungguhnya Allah maha pemberi dan Maha Mulia, mahakasih, Maha Pengampun dan Maha penyayang.

Makmum Masbuk, Iftirasy atau Tawaruk




وسئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله في فتاوى نور على الدرب : نعلم بأن التورك سنة صحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولكني لا أتورك إلا إذا كان موضع جلوسي يسمح لي وذلك خوفاً من أن أوذي المسلمين في الجلوس أفيدوني جزاكم الله خيراً؟
Pertanyaan, “Saya mengetahui bahwa duduk tawaruk itu berdasarkan hadits yang shahih dari Rasulullah akan tetapi dalam dataran praktik aku tidak pernah mempraktekkannya kecuali mana kala tempat yang ada longgar karena aku khawatir menyakiti kaum muslimin [baca: jamaah yang lain] jika aku memaksakan diri untuk duduk tawaruk padahal ruang yang tersedia sempit”

فأجاب :
التورك كما قال السائل سنة لكنه في التشهد الأخير من كل صلاة فيها تشهدان فيكون في المغرب ويكون في الظهر وفي العصر وفي العشاء أما الفجر وكل صلاة ثنائية فليس بها تورك
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, “Duduk tawaruk sebagaimana penuturan penanya adalah suatu hal yang Nabi ajarkan. Namun hal ini berlaku untuk tasyahud akhir pada shalat yang memiliki dua duduk tasyahud. Sehingga duduk tawaruk ada pada shalat Magrib, Zuhur, Ashar dan Isya. Sedangkan shalat subuh dan semua shalat yang jumlahnya hanya dua rakaat, tidak ada padanya duduk tawaruk.
والتورك يكون في التشهد الذي يعقبه سلام فلو قدر أن أحداً من الناس دخل مع الإمام في صلاة الظهر في الركعة الثانية فإنه إذا تشهد الإمام التشهد الأخير سيبقى على هذا المسبوق ركعة فلا يتورك في هذه الحال لأن توركه وإن كان تشهداً أخيراً بالنسبة لإمامه لكنه ليس تشهداً أخيراً بالنسبة له فلا يتورك فيه مع الإمام ولكنه إذا قضى مع الإمام الصلاة تورك…
Duduk tawaruk hanya berlaku pada tasyahud yang dilanjutkan dengan salam. Andai ada makmum maksud yang mengikuti shalat Zuhur saat imam melaksanakan rakaat kedua maka jika imam melakukan tasyahud akhir maka makmum masbuk tersebut masih kekurangan satu rakaat. Oleh karena itu, dalam kondisi tersebut makmum masbuk tidak duduk tawaruk karena saat itu meski terhitung adalah tasyahud akhir bagi imam namun bukanlah tasyahud akhir bagi makmum masbuk sehingga makmum masbuk tersebut tidaklah duduk tawaruk bersama imamnya. Namun jika dia sudah menyelesai kekurangan rakaatnya maka pada saat itu dia duduk tawaruk.
أما كون الإنسان لا يتورك إذا كان في الصف لئلا يؤذي غيره فهذا حق إذا كان هناك ضيق ولم يتمكن الإنسان من التورك إلا بأذية أخيه فإنه لا يتورك وهنا يكون ترك سنة اتقاء أذية.
Tidak mau duduk tawaruk dalam shalat berjamaah supaya tidak menyakiti jamaah yang lain adalah sikap yang benar jika memang ruang yang tersedia untuk duduk memang sempit sehingga tidak memungkinkan duduk tawaruk tanpa menyakiti orang yang ada di sampingnya. Dalam kondisi ini, tidak perlu duduk tawaruk. Sehingga berlaku dalam kondisi ini ‘meninggalkan amalan yang dianjurkan dalam rangka tidak menyakiti sesama muslim’”.

Sumber:
http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_5079.shtml

- سئل الشيخ صالح الفوزان – حفظه الله – : فضيلة الشيخ ، لو دخل رجل إلى الصلاة مع الإمام وهو مسبوق بركعتين مثلا ، فإذا سجد الإمام للتشهد الأخير وتورك فهو في حق المأموم الأول ، فهل الأفضل أن يتورك أو يفترش ؟
Pertanyaan, “Ada seorang makmum masbuk yang tertinggal dua rakaat misalnya saat imam duduk tawaruk untuk tasyahud akhir maka untuk makmum terhitung sebagai tasyahud awal. Bentuk duduk seperti apakah yang terbaik bagi makmum saat itu, tawaruk ataukah iftirasy?”

فأجاب :
لا .. يفترش لأنه بالنسبة له التشهد الأول فيفترش نعم
Jawaban Syaikh Shalih al Fauzan, “Masbuk tersebut tidak duduk tawaruk namun iftirasy karena tasyahud ketika itu untuk dirinya terhitung sebagai tasyahud awal”.

Sumber:
http://alfawzan.ws/node/12587


- سئل الشيخ علي حسن الحلبي – حفظه الله – : شيخنا بارك الله فيكم…عندي سؤال حول صلاة المسبوق..كيف يجلس في التشهد الأخير من صلاة العشاء مثلا ( افتراشا أو توركا ) إذا كان مسبوقا وعليه إتمام ركعة أو ركعتين؟ أفتونا مأجورين..و جزاكم الله خيرا.
Pertanyaan, “Saya punya pertanyaan seputar tata cara shalat makmum masbuk. Saat imam duduk tasyahud akhir dalam shalat Isya misalnya apakah makmum masbuk duduk iftirasy ataukah tawaruk mengingat dia masih kurang satu atau dua rakaat?

فأجاب :
جلوسه باعتبار صلاته هو ،لا صلاة إمامه.
فيفترش في الثانية ويتورك في الأخيرة
Jawaban Syaikh Ali al Halabi, “Yang jadi patokan untuk duduk makmum masbuk adalah shalat si masbuk, bukan shalat imamnya. Sehingga makmum masbuk ini duduk iftirasy mana kala dia duduk setelah mengerjakan dua rakaat dan duduk tawaruk mana kala duduk tersebut adalah tasyahud akhir baginya”.

Sumber:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=7541

الشيخ عبد المحسن بن حمد العباد
السؤال: نرجو توضيح كيفية جلوس المسبوق إذا وجد الإمام في الركعة الأخيرة؟ وهل يدعو فيها بدعاء التشهد الأول أو الأخير؟
Pertanyaan, “Kami berharap mendapatkan penjelasan mengenai tata cara duduk makmum masbuk yang menjumpai imam pada rakaat terakhir. Apakah masbuk tersebut membaca sebagaimana bacaan tasyahud awal ataukah sebagaimana bacaan tasyahud akhir?”
المسبوق إذا جاء والإمام في التشهد الأخير يجلس كجلوس الإمام وكجلوس المصلين الذين لم يسبقوا، فيجلس متوركاً كما جاءت في ذلك السنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالإمام يتورك ومن وراءه يتورك والمسبوق يتورك، ولا يعتبر نفسه أنه في التشهد الأول، بل يأتي بالتشهد ويأتي بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ويدعو ويكثر الدعاء حتى يسلم الإمام، فهو يتابع الإمام في هيئة الجلوس وفي كونه يتشهد ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ويتخير من الدعاء ما شاء، كما جاء ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وليس معنى ذلك أنه يجلس في التشهد يسكت، بل يفعل كما يفعل الإمام.
Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al Abbad, “Jika imam sedang melaksanakan tasyahud akhir makmum masbuk itu tetap duduk sebagaimana bentuk duduknya imam dan jamaah yang lain yang tidak masbuk, sehingga dia duduk tawaruk. Demikianlah yang sejalan dengan sunnah Rasulullah. Jika imam duduk tawaruk maka semua makmum duduk tawaruk, termasuk di dalamnya makmum masbuk. Makmum masbuk ketika itu tidak boleh menganggap dirinya berada dalam tasyahud awal, sehingga yang dia baca adalah bacaan tasyahud terus salawat ditambah doa dan hendaknya dia memperbanyak doa hingga imam mengucapkan salam. Jadi makmum masbuk itu mengikuti imam dalam bentuk duduk dan bacaannya sehingga masbuk tersebut di samping membaca bacaan tasyahud juga membaca salawat dan memilih doa apa saja yang dia kehendaki. Demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah. Jadi makmum masbuk itu tidak hanya duduk lantas diam namun dia membaca sebagaimana bacaan imamnya”.
Sumber:
http://ar.islamway.net/fatwa/32933?ref=g-rel

http://ustadzaris.com/duduk-makmum-masbuk

Lutut Dulu atau Tangan Dulu



Lutut Dulu atau Tangan Dulu

س2/ ما صحة قوله صَلَّى الله عليه وسلم نهى رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم أن يبرك أحدكم كما يبرك البعير؟
Pertanyaan, “Shahihkah hadits yang melarang orang yang shalat untuk turun sujud sebagaimana onta turunnya onta untuk menderum?”

ج/ هذا ليس على هذا اللفظ هو هذا الحديث مشهور معروف يعني مشهور التداول لا مشهور المعنى الاصطلاحي «لا يبرك أحدكم كما يبرك البعير» هذا هو القدر المحفوظ، ثم اختلفت الرواية في بقية الحديث «وليضع يديه قبل ركبتيه» ورويت «وليضع ركبتيه قبل يديه» والعلماء اختلفوا أي هذه الروايات هو الصحيح.
Jawaban Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh –Menteri Agama KSA saat ini-, “Hadits yang ditanyakan adalah hadits yang terkenal dalam pengertian tersebar di masyarakat, bukan masyhur dalam pengertian ilmu hadits. Bagian awal hadits bunyinya adalah “janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya onta ketika hendak menderum”. Hanya inilah bagian hadits yang shahih sedangkan lanjutan hadits ada beberapa versi, ada yang berbunyi, “hendaknya dia letakkan tangannya sebelum lututnya’. Versi lain mengatakan, “hendaknya dia letakkan dua lututnya sebelum dua tangannya”. Para ulama hadits memperselisihkan manakah tambahan yang shahih dari dua versi tambahan di atas.

والصواب عندي أن كل هذه الروايات فيها اضطراب لا يصح منها شيء؛ بل الزيادات هذه كلها مضطربة، والثابت «لا يبرك أحدكم كما يبرك البعير»،
Pendapat yang benar menurutku, kedua versi tambahan tersebut adalah riwayat yang goncang, tidak ada satu pun yang sahih. Keduanya goncang [baca: lemah]. Sehingga riwayat yang valid hanyalah bagian awal hadits yang berbunyi, “janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya onta ketika hendak menderum”.

وإذا تقرر ذلك فإن النهي في هذا الحديث عن مشابهة البعير في هيئة البروك، في هيئة البروك؛ لأنه نهى عن بروك كبروك البعير (لا يبرك أحدكم كما يبرك البعير) فظاهر من الحديث أنَّ النهي عن أن يبرك المصلي بروكا كبروك البعير، وبروك البعير له هيئة، وهذه الهيئة قد تكون بتقديم اليدين على الركبتين، وقد تكون بتقديم الركبتين على اليدين.
Jika penjelasan di atas telah dipahami dengan baik maka larangan yang ada dalam hadits di atas adalah larangan untuk menyerupai onta dalam masalah bentuk turunnya karena yang Nabi larang adalah turun sebagaimana turunnya onta ketika hendak menderum. Sehingga zhahir hadits menunjukkan bahwa orang yang sedang mengerjakan shalat dilarang turun sujud sebagaimana bentuk turunnya onta ketika mau menderum. Turunnya onta untuk menderum itu memiliki bentuk yang khas, bentuk khas ini bisa terjadi baik kita turun dengan mendahulukan tangan dari pada lutut ataupun kita mendahulukan lutut dari pada tangan.

والهيئة: أن يكون الأعلى المؤخرة، وأن يكون الرأس منخفضا.
Bentuk khas tersebut adalah kepala merunduk dan bagian atas badan dimundurkan

هذه هي الهيئة المنهي عنها؛ يعني إذا سجد أحدكم فلا يبرك بروك البعير يعني لا يجعل رأسه منخفض يصل إلى الأرض هكذا مثل البعير إذا أراد أن يبرك ويبقى ظهره عالي؛ يعني هكذا هذه صفة بروك البعير، فيها إضرار بالمصلي.
Inilah bentuk turun yang terlarang. Sehingga makna sabda Nabi, “janganlah salah satu kalian turun untuk sujud sebagaimana bentuk turunnya onta ketika hendak menderum” adalah ketika hendak sujud hendaknya kepala tidak dibuat merunduk sampai ke lantai semisal onta ketika hendak turun sedangkan punggun masih dalam posisi di atas. Inilah bentuk turunnya onta untuk menderum dan bentuk semacam ini berdampak negatif bagi orang yang mengerjakan shalat.

وهذا داخل تحت قاعدة عامة وهي أن: المصلي لا يشابه الحيوانات ولا يماثلها في هيئة الصلاة.
Larangan turun sujud sebagaimana onta ini termasuk dalam kaedah umum dalam shalat yaitu orang yang sedang mengerjakan shalat dilarang untuk menyerupai atau sama dengan hewan dalam gerakan-gerakan shalat.

فنهى عن إقعاء كإقعاء الكلب، وعن نقر كنقر الغراب، الغراب ينقر بإيش؟ ينقر بمنقاره، هل نقول إن المنقار هو الأنف هو أشبه شيء بالمنقار ونقول إن معناه أن لا يجعل أنفه على الأرض؟ لا، العلماء فهموا من نقرة الغراب هذه من السرعة، الغراب السرعة ويرفع رأسه، وافتراش الكلب وأشباه ذلك؛ يعني ينهى في هذا الحديث عن الهيئة.
Nabi melarang orang yang shalat untuk duduk sebagaimana duduknya anjing dan mematuk sebagaimana gagak mematuk. Gagak mematuk dengan paruhnya. Apakah kita katakan bahwa paruh dalam hal ini serupa dengan hidung lalu maknanya hidung tidak boleh diletakkan di lantai? Bukan demikian maknanya. Para ulama memahami dari larangan mematuk sebagaimana gagak mematuk adalah shalat yang dilakukan super cepat. Gagak cepat sekali mematuk lalu mengangkat kepalanya. Nabi juga melarang orang yang shalat untuk meletakkan hastanya di lantai sebagaimana anjing dan serupa itu. Di sini Nabi melarang turun sujud sebagaimana bentuk turunnya onta ketika akan menderum.


والهيئة هذه قد تحصل بتقديم اليدين على الركبتين؛ يعني في ابن آدم، وقد تحصل بالعكس.
فإذن المقصود من السنة في ذلك أن لا تشابه البعير في هيئة البروك، إن قدمت يديك على رجليك ولم تشابه فالأمر واسع، وإن قدمت الركبتين ولم تشابه فالأمر واسع؛ لكن لا تشابه البعير في هيئة البروك.
bentuk khas onta – untuk manusia- ketika hendak turun sujud ini bisa terjadi baik ketika kita mendahulukan tangan dari pada lutut atau pun sebaliknya. Jadinya yang dimaksudkan oleh hadits adalah larangan menyerupai onta dalam bentuk turun. Jika kita turun sujud dengan mendahulukan tangan dari pada lutut namun tidak serupa dengan bentuk turunnya onta maka itu pun boleh dilakukan. Jika kita mendahulukan lutut dan tidak serupa dengan bentuk turunnya onta, ini pun diperbolehkan. Yang pokok, jangan menyerupai onta dalam bentuk turun.

لهذا ذكر الترمذي في جامعه حينما ساق الحديث قال: وقال بعض أهل العلم يقدم يديه على ركبتيه، وقال آخرون يقدم ركبتيه على يديه، والأمر في ذلك واسع عندنا. كأنه [أشار] إلى ما ذكرنا.
Oleh karena itu, Tirmidzi dalam sunannya setelah membawakan hadits berisi larangan turun untuk sujud sebagaimana turunnya onta mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan hendaknya tangan lebih didahulukan dari pada lutut. Sedangkan ulama yang lain mengatakan agar lutut lebih didahulukan dari pada tangan. Menurut kami, semuanya boleh”. Mungkin beliau mengisyaratkan penjelasan yang telah kami sampaikan.

هناك بحث لغوي بحثه بعضهم هل ركبتا البعير في رجليه أم في يديه؟ وهذا في الحقيقة بحث مفيد لغوي؛ لكن هو خارج عن محل الفقه عند التدقيق؛ لأن المقصود الهيئة، الرُّكَب إذا كانت في يدي البعير أو كانت في رجليه هيئة البعير واحدة وهو أن الرأس منخفض والأعلى مرتفع.
Ada sebagian orang yang melakukan pengkajian dari tinjauan bahasa Arab apakah lutut onta itu terletak pada kaki belakang ataukah pada kaki depannya. Sebenarnya bahasan ini adalah bahasan yang bagus dari sisi bahasa Arab akan tetapi sayang bahasan tersebut jika dicermati lebih mendalam keluar dari kandungan hukum yang ada dalam hadits di atas karena yang dimaksudkan oleh hadits adalah larangan menyerupai bentuk turunnya onta. Baik lutut onta terletak di kaki depan ataukah di kaki belakangnya bentuk turun tetap sama yaitu posisi kepala merunduk sedangkan posisi punggung masing tinggi” [Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh dalam ceramahnya yang berjudul ‘Thalibul Ilmi wal Bahts’ tepatnya pada sesi tanya jawab pada jawaban untuk pertanyaan kedua].

http://ustadzaris.com/turun-sujud-lutut-tangan

seputar Ucapan “Alhamdulillah ‘ala Kulli Hal”




Pertanyaan:
Ustadz, kalimat Alhamdulillah ‘ala kulli hal digunakan pada kondisi yang seperti apa?!

Jawaban:
Ucapan Alhamdulillah ‘ala kulli hal Nabi tuntunkan untuk dibaca dalam beberapa kondisi.
Pertama, setelah bersin
عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala rasulillah namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin” [HR Tirmidzi no 2738, dinilai hasan oleh al Albani].
عَنْ أَبِى أَيُّوبَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَلْيَقُلِ الَّذِى يَرُدُّ عَلَيْهِ يَرْحَمُكَ اللَّهُ وَلْيَقُلْ هُوَ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ».
Dari Abu Ayub, Rasulullah bersabda, “Jika salah satu diantara kalian bersin hendaknya dia mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“. Orang yang mendengarnya merespon dengan mengucapkan, “Yarhamukallahu“. Kemudian orang yang bersin mengucapkan, “Yahdikumullahu wa yushlih baalakum“”[HR Tirmidzi no dinilai sahih oleh al Albani].
Kedua, ketika melihat hal-hal yang tidak menyenangkan
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».
Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat”. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal“” [HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani].
Artikel http://ustadzaris.com/ucapan-alhamdulillah-%E2%80%98ala-kulli-hal

Diberdayakan oleh Blogger.