-->

31 Agustus 2012

KEWAJIBAN MERUJUK PADA ULAMA





Petunjuk Allah Ta’ala tidak dapat diketahui dan dicapai hanya dengan akal. Tetapi harus dilandasi dan dibangun dengan wahyu Allah Ta’ala.

Itulah agama Islam yang telah Allah sempurnakan dan ridhai sebagai agama petunjuk yang sempurna. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS Al Maidah:3).

Semua sepakat tentang kesempurnaan petunjuk Allah Ta’ala ini.

Lantas
▓ bagaimana cara mengenalnya setelah Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam meninggal dunia?
▓▓ Dan para sahabat yang menyaksikan penerapan petunjuk tersebut telah meninggal juga?


ULAMA PENJAGA SYARI’AT ISLAM

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjaga Al Qur’an, sehingga tidak mungkin dirubah lafadz dan hurufnya.

Musuh Islam sudah putus asa dalam merubah lafadz dan hurufnya. Akan tetapi setan dan para budaknya berusaha memasukkan penyimpangan dan pengkaburan makna kandungan AlQur’an.

Sehingga
▓ penambahan dan pengurangan ini dapat menyesatkan sebagian manusia.

Mereka ingin memadamkan cahaya agama Allah Ta’ala dengan segala kemampuannya. Akan tetapi Allah Ta’ala akan selalu menyempurnakan cahayaNya dan menjaga agamaNya. FirmanNya,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci”(QS. Ash Shaf:8).

Untuk itulah
▓ Allah Ta’ala membangkitkan para ulama Islam untuk memerangi sethan dan para budaknya. Menjelaskan kebenaran dan kebatilan kepada umat manusia. Sehingga petunjuk dan ajaran Islam ini terjaga dan terpelihara hingga hari kiamat nanti.


Syaikhul Islam dengan gamblang menyatakan,
▓ ”Al Qur’an berbeda dengan yang lainnya -karena pengkhususan dari Allah; sebagai mu’jizat yang berbeda dengan perkataan manusia, sebagaimana firman-Nya

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لاَيَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْكَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah,”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS Al Isra’:88)

dan diriwayatkan secara mutawatir, maka tidak ada seorangpun yang bersemangat merubah lafadz dan hurufnya; tetapi sethan bersemangat memasukkan pengkaburan dan penyimpangan dalam makna-maknanya dengan perubahan dan ta’wil. bersemangat memasukkan tambahan dan pengurangan yang dapat menyesatkan sebagian manusia dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu’alahi Wasallam . Lalu Allah membangkitkan para ulama pengkritik, ahli petunjuk dan kebenaran. Mereka memerangi tentara syethan dan membedakan antara kebenaran dan kebathilan, serta bersemangat menjaga sunnah dan makna-makna Al Qur’an dari tambahan dan pengurangan.”4


▓ Dalil-dalil lain yang menunjukkan wajib merujuk kepada para ulama -dalam agama ini- di antaranya ialah :

Pertama.
►Ulama adalah pemimpin agama dan penjaga syari’at.

FirmanNya,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS As Sajdah : 24).

Mereka dijadikan pemimpin karena :
••►kesabaran dan keyakinan mereka kepada ayat-ayat Allah.
••►Keyakinan tersebut tidak akan mereka dapati kecuali dengan ilmu.

Syaikhul Islam Ibnu taimiyah berkata,“Dengan kesabaran dan yakin, dicapai imamah (kepemimpinan) dalam agama.”

Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan hal ini dengan pernyataannya,
“Allah telah menjadikan para ulama penjaga dan pengaman agama dan wahyuNya. Meridhai mereka untuk menjaga, menegakkan dan membelanya. Cukuplah itu sebagai kedudukan yang tinggi dan keutamaan yang agung.

Allah berfirman,

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِى بِهِ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَاؤُلآءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَيْسُوا بِهَا بِكَافِرِينَ

“Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah (pemahaman agama) dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya (yang tiga macam itu), maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak mengingkarinya”. (QSAl An’am : -89).14

Kedua.
►Ulama adalah hujjah Allah terhadap hambaNya di dunia.
••►Hujjah tidak dapat ditegakkan, kecuali melalui seorang ‘alim yang berilmu.

Tentang hal ini Allah berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمْ أَمْرُُ مِّنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً..

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syetan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (QS An Nisa’ : 83).

Ketiga.
►Ulama termasuk dalam ulil amri, sebagaimana tafsir kebanyakan ulama salaf mengenai firman Allah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisa : 59).

Keempat.
►Ulama adalah ahli dzikri, sebagaimana difirmankan Allah,

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوحِى إِلَيْهِمْ فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS An Nahl : 43).


Dari dalil-dalil di atas,
▌jelaslah kewajiban merujuk kepada ulama dalam memahami agama ini, agar tidak tersesat dan menyimpang.

Mudah-mudahan kita dapat menjadikan para ulama sebagai :
▌nara sumber
▌dan rujukan dalam memahami agama ini.

Tentu saja,
▌melihat dan menimbang semua pendapat mereka dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta ijma’ para sahabat dan pemahaman para salafush shalih.

______

4 Majmu’ Fatawa, 1/7.

5 Miftah Daris Saadah hal.167-168. Dinukil dari Badai’ Tafasir Al Jami’ Li Tafsir Ibnil Qayyim, Karya Yusri Sayid Ahmad 2/477.

6 Madarijus Salikin 2/482.

7 Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud no.3641, At Tirmidzi no.3682, Ibnu Majah no.223, Ahmad 5/196 dan Ad Darimi 1/98. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Bashair Dzawi Syaraf Bi Syarhi Marwiyati Manhajis Salaf , hal.33.

8 Yang mereka juluki ulama masail.

9 Dalam istilah mereka ulama dakwah, yang berkeliling melakukan jaulah dari rumah ke rumah dan dari masjid ke masjid.

10 Pembagian dan pengelompokan ulama dakwah dan ulama masa’il merupakan hal yang tidak ada dasarnya, bahkan tidak ada sebelumnya dari kalangan para salaf. Pembagian ini dilakukan sebagian orang bodoh yang belum mengenal arti penting dan peran ulama dalam perbaikan umat.

11 Pengkaburan ajaran yang benar.

12 Kedustaan ahlil bathil.

13 Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Ali Hasan dalam Tasfiyah Wa Tarbiyah, hal 24

14 Dinukil dari Bashair Dzawi Syaraf Bi Syarhi Marwiyati Manhajis Salaf, hal.37.

Dinukil dr :
http://ustadzkholid.com/manhaj/kewajiban-merujuk-pada-ulama/

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.