-->

28 Agustus 2012

Do’a dan Dzikir yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam



Kalau mereka mau memahami satu saja dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih dari sekian banyak hadits, maka mereka akan sadar bahwa do’a dan dzikir itu dilaksanakan dengan cara sembunyi dan suara perlahan. Dalam hadits tujuh golongan yang akan dilindungi Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada hari Kiamat, diantaranya nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan :
“… seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi/ sendiri, lalu mengalirkan air mata…” (HR. Al-Bukhari no.660 – Fat-hul Baari II/143 dan Muslim no. 1031. Lihat Riyaadhush Shaalihiin no. 376).

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: “Berdo’alah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raaf: 55)


Dalam sebuah hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Orang – orang mengangkat suaranya ketika bertakbir dan bedo’a, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Rabb yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya kalian berdo’a kepada Rabb Yang Mahamendengar lagi Mahadekat, dan Dia bersama kalian”.” (HR. Al-Bukhari no.2992, 4220, 6384, 6610, 7386, Muslim no. 2704 dan Ahmad IV/402 dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu).


Seperti Nabi Zakariya ‘alaihissalam beliau berdo’a dengan suara yang lembut :

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: “ Yaitu ketika ia berdo’a kepada Rabb-nya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam: 3)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: “Dan sebutlah (Nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang – orang yang lalai.” (QS. Al-A’raaf: 205)

Ada satu riwayat yang shahih bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu (wafat tahun 32 H) ‘(‘Abdullah bin Mas’ud, kun-yahnya Abu ‘Abdirrahman. Ia seorang ulama dari kalangan Sahabat yang pintar, faham Kitabullah, faqih tentang agama dan alim tentang Sunnah. Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ I/461-499 oleh Imam adz-Dzahabi)’ pernah melihat satu kaum di masjid, mereka membuat beberapa halaqah (kelompok), setiap halaqah ada seorang yang memimpin dan di tangan mereka ada biji-bijian tasbih, lalu (si pemimpin) berkata: “Bertakbirlah seratus kali,” dan mereka bertakbir seratus kali, lalu berkata: “Bertahlillah (ucapkan: Laa Ilaaha illallaah) seratus kali,” dan mereka bertahlil seratus kali, kemudian berkata: “Bertasbihlah (ucapkan: Subhaanallaah) seratus kali,” dan mereka bertasbih seratus kali.
Kemudian ‘Abdullah bin Mas’ud mendatangi halaqah-halaqah dzikir tersebut, lalu berkata: “Apa yang kalian lakukan?” Jawab mereka: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, (ini adalah) batu kerikil (biji-bijian tasbih) yang kami pakai untuk menghitung tahlil dan tasbih.” ‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Hitunglah kejelekan dan kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin tidak akan hilang kebaikan-kebaikan kalian. Celakalah kalian wahai ummat Muhammad, alangkah cepatnya kebinasaan kalian, mereka Sahabat-Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak yang masih hidup, ini pakaiannya belum rusak dan bejananya belum hancur, demi Rabb yang jiwaku ada di tangan-Nya, apakah kalian merasa lebih baik dari agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, atau kalian membuka pintu kesesatan?” Mereka berkata: “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdirrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan!” Beliau berkata: “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak benar caranya! Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Nanti akan ada satu kaum yang membaca al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka!” (Lanjut Ibnu Mas’ud) : “Demi Allah, aku melihat apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut kebanyakan (adalah) dari kalian.” (Lihat riwayat lengkapnya dalam Sunan ad-Darimi I/68-69, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah no. 2005).
Riwayat ini banyak sekali manfaatnya, di antaranya:
- ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu mengingkari cara berdzikir dengan berjama’ah meskipun niatnya baik, karena hal ini merupakan sesuatu yang bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan meskipun dianggap baik oleh orang banyak.
- Yang menjadi tolok ukur dalam beragama bukanlah banyaknya ibadah, tetapi ibadah itu sesuai dengan Sunnah atau tidak? Dan setiap orang harus menjauhkan bid’ah, karena bid’ah akan membawa kesesatan.
- Bahwa pemahaman para Sahabat ridhwanullah ‘Alaihim ajma’iin adalah hujjah. Kalau seandainya dzikir secara berjama’ah itu baik, maka para Sahabat sudah melakukannya.

Dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih, tidak ada satupun riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memimpin majelis dzikir berjama’ah bersama para Sahabat, baik sesudah shalat lima waktu maupun pada kesempatan lainnya. Yang ada, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan al-Qur’an, lafazh dan maknanya kepada para Sahabat, dan mengajarkan sunnah-sunnah, mengajarkan tauhid, bagaimana beribadah kepada Allah dengan benar, menjauhkan syirik, mengajarkan shalat, akhlak, adab-adab Islam, hukum-hukum halal dan haram dan lainnya.


Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah (wafat tahun 597 H) berkata: “Iblis telah menyesatkan kebanyakan dari orang awam dengan menghadiri majelis – majelis dzikir dan mereka sengaja menangis… Sesungguhnya aku mengetahui, banyak sekali orang yang hadir di majelis tersebut bertahun – tahun, menangis, berpura – pura khusyu’, tetapi keadaan mereka tidak berubah sedikitpun juga, mereka masih tetap bermuamalah dengan riba (rentenir/ lintah darat), menipu dalam jual beli, tidak tahu tentang rukun shalat ‘(Banyak yang tidak tahu tentang tata cara shalat, dari mulai takbir sampai salam, bahkan sangat banyak yang tidak tahu tentang makna syahadatain, tauhid Uluhiyyah, Ama’ul wash Shifat dan konsekuensinya. Allahul Musta’aan)’, selalu ghibah (membicarakan ‘aib kaum Muslimin) dan durhaka kepada kedua orang tua. Mereka adalah orang – orang yang terkena perangkap iblis (syaitan), aku melihat bahwa mereka menyangka bahwa hadir di majelis dzikir tersebut dan menangis akan menghapus dosa-dosa yang mereka lakukan?!” (Lihat, al-Muntaqa an-Nafiss min Talbiss Ibliss lil Imam Ibnil Jauzi hal. 542 oleh Syaikh ‘Ali Hasan‘Ali’Abdul Hamid cet. I Daar Ibnil Jauzi 1410 H).


Oleh karena itu, majelis ilmu dikatakan majelis dzikir. Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan kita bertanya kepada ahludz dzikir .

“ Maka bertanyalah kepada ahludz dzikir (ahli ilmu/ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan orang yang bearilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas bintang – bintang lainnya.” (HR. Ahmad V/196, at-Tirmidzi no.2682, Sunan Ibni Majah no. 223 dari Sahabat Abud Darda’ radhiyallahu 'anhu. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no.6297)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan ilmu lebih aku sukai/cintai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah al-Wara’.” (HR. Al-Hakim I/92, Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 4214)


Do’a dan dzikir adalah ibadah, sedangkan syarat diterimanya ibadah ada dua:

1. Ikhlas (semata-mata karena Allah), menjauhkan syirik besar dan syirik kecil (riya’)
2. Ittiba’ (sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam)

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala selalu melimpahkan shalawat dan salam serta barakah-Nya yang melimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam keluarganya dan para Sahabatnya ridhwanullah ‘Alaihim ajma’iin


Disadur dan diringkas dari Buku Do’a & Wirid (Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.