-->

27 Agustus 2012

Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Menetapkan Sifat Al-Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza Wa Jalla

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Sifat al-‘Uluw merupakan salah satu dari Sifat-Sifat Dzatiyah Allah Azza wa Jalla yang tidak terpisah dari-Nya. Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini -sebagai-mana sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya- diterima dengan penuh keimanan dan pembenaran oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sifat Allah ini ditunjukkan oleh sama’ (Al-Qur'an dan As-Sunnah), akal, dan fitrah. Telah mutawatir dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya.

Di antara dalil dari Al-Qur’an As-Sunnah tentang sifat al-‘Uluw adalah:

1. Firman Allah Azza wa Jalla "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang.” [Al-Mulk : 16]

2. Firman Allah Azza wa Jalla "Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” [An-Nahl : 50]

3. Firman Allah Azza wa Jalla "Sucikanlah Nama Rabb-mu Yang Mahatinggi.” [Al-A’laa : 1]

4. Firman Allah Azza wa Jalla "Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” [Faathir : 10]

5. Pertanyaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang budak wanita: "Dimana Allah?” Ia menjawab: “Allah itu di atas langit.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa aku?” “Engkau adalah Rasulullah,” jawabnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah ia, karena sesungguhnya ia seorang Mukminah.” [1]

Terdapat dua permasalahan yang terkandung di dalam hadits ini:
Pertama, disyari’atkan untuk bertanya kepada seorang Muslim: “Di mana Allah?”
Kedua, jawaban yang ditanya adalah: “Di (atas) langit”
Maka, barangsiapa yang memungkiri dua masalah ini, ber-arti ia memungkiri al-Mushthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam). [2]

6. Hadits Tentang Kisah Isra’ dan Mi’raj.
Yaitu sebuah hadits yang mutawatir, sebagaimana disebutkan oleh sejumlah ulama antara lain Syaikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau berkata: [3] “

Di dalam beberapa redaksi hadits menunjukkan kepada ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya, di antaranya ungkapan: "Lalu aku dinaikan ke atasnya, maka berangkatlah Jibril bersamaku hingga sampai ke langit yang terendah (langit dunia), ia pun mohon izin agar dibukakan (pintu langit).’ [4]

Kemudian naiknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga melewati langit ketujuh dan berakhir pada sisi Rabb-nya, lalu didekatkan oleh Rabb kepada-Nya dan difardhukan shalat atasnya.”

7. Jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Dzul Khuwasyirah: "Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit?” [5]

Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata: “Ketinggian Allah di samping ditetapkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah ditetapkan pula melalui akal dan fitrah. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal dapat ditunjukkan dari sifat kesempurnaan-Nya. Sedangkan tetapnya ketinggian Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya tertuju ke arah yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja, yang besar maupun yang kecil, orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai-sampai di dalam sujud pun seseorang mendapat kecenderungan hatinya ke arah itu. Tidak seorang pun dapat memungkiri hal ini, dengan mengatakan bahwa hatinya itu berpaling ke arah kiri dan kanan atau ke bawah.” [6]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Foote Note

[1]. Hadits shahih riwayat Muslim (no. 537), Abu ‘Awanah (II/141-142), Abu Dawud (no. 930), an-Nasa-i (III/14-16), ad-Darimi (I/353-354), Ibnul Jarud dalam al-Muntaqaa’ (no. 212), al-Baihaqi (II/249-250) dan Ahmad (V/447-448), dari Sahabat Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami Radhiyallahu ‘anhu
[2]. Lihat Mukhtasharul ‘Uluw (hal. 81) oleh Imam adz-Dzahabi, tahqiq Syaikh Mu-hammad Nashiruddin al-Albani.
[3]. Lihat Ijtimaa’ul Juyuusy al-Islaamiyyah (hal. 55) oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Basyir Muhammad ‘Uyun.
[4]. HR. Al-Bukhari (no. 3887) dan Muslim (no. 164 (264)) dari Sahabat Malik bin Sha’sha’ah Radhiyallahu 'anhu. Lihat lafazh hadits ini selengkapnya pada pembahasan ke-25: Isra’ dan Mi’raj di halaman 254.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 4351), Muslim (no. 1064) dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri.
[6]. Diringkas dari Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 389-390), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki, lihat juga kitab Manhajul Imaam asy-Syafi’i fii Itsbaatil ‘Aqiidah (II/347).

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.