-->

17 Agustus 2012

APA KEYAKINAN RAFIDHAH (SYI’AH) TERHADAP AL-QUR’AN-UL KARIM YANG ADA DI TENGAH-TENGAH KITA SEKARANG, PADAHAL ALLAH TELAH BERJANJI UNTUK MENJAGANYA ?

Disusun oleh

Abdullah bin Muhammad As Salafi.

Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah, mengatakan sesungguhnya Al-Qur’an yang ada di pada kita, bukanlah Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar, ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi’ah meyakini adanya pelencengan (perubahan) dalam Al-Qur’an seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al Tibrisi dalam kitabnya Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab. [1]
Dan Muhammad bin Ya’qub Al Kulaini berkata di Usulul Kafi di bawah Bab bahasan : Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Qur’an seluruhnya, kecuali para imam dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja’far berkata : Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan Al Qur’an secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mempu mengumpulkannya dan menghafalnya seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam setelah mereka.
Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab Al-Ihtijaaj dan Al Mulla Hasan dalam tafsirnya As Shaafi sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Qur’an, yang di dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor. Dan sungguh kami telah memandang untuk mengumpulkan Al-Qur’an dan menghilangkan setiap apa-apa yang di dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshr. Dan Zaid pun telah memenuhinya untuk itu, kemudian berkata : Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al-Qur’an sesuai yang anda minta, lalu jelas atas saya akan Al-Qur’an yang dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda kerjakan? Maka berkata Umar : Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid : Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya, berkata Umar : Tiada jalan keluar kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mempu melakukannya [2].
Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk mendatangkan Al Qur’an kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa Al Qur’an yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakar, agar kita bersatu atasnya. Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu, sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakr hanyalah untuk menegakkan hujjah atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat Sesungguhnya kami akan hal ini dalam keadaan lengah (Al-Araf :172), atau agar kalian tidak mengatakan ; Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami (Al-Araf : 129). Sesungguhnya Al Qur’an ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : Apakah ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : Ya, jika telah bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia atasnya [3].
Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah taqiyah, akan tetapi kitab itu terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap alquran.
Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Qur’an, yang pertama yang diketahui, dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang didakwakan oleh syi’ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Qur’an yaitu :
Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu, Mereka mendakwakan ayat ini dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah, dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.
[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Fashlul Khithab, oleh Hasan bin Muhammad Taqiyun Nuri Al Tibrisi, hal : 32.
[2] Lihatlah saudara seiman, alangkah kejinya kisah yang dibuat-buat oleh kaum syiah terhadap para sahabat.
[3] Al Ihtijaaj oleh Al Tibrisi hal :225, kitab Fashlul Khithab, hal : 7. copyleft almanhaj.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.