-->

13 Agustus 2012

Apakah Harta Anak Yatim dan Orang Gila Wajib Dizakati ?



Pertanyaan :
هل تجب الزكاة في مال اليتيم والمجنون ؟
“Apakah harta anak yatim dan orang gila wajib dizakati ?”
Jawab :
تجب الزكاة في مال كل منها، إذا كان حراً مسلماً تام الملك، لما روى الدارقطني، مرفوعاً إلى النبي صلى الله عليه وسلم : (مَنْ وَلِيَ مَالَ الْيَتِيْمِ فَلْيَتَّجِرْ بِهِ، وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ). ولما روى مالك في الموطأ، عن عبد الرحمن بن القاسم عن أبيه أنه قال : (كَانَتْ عَائِشَةُ تَلِيْنِيْ وَأَخًا لِيْ يَتِيْمَيْنِ حَجْرِهَا فَكَانَتْ تُخْرِجُ مِنْ أَمْوَالِنَا الزَّكَاةَ). والقول بوجوب الزكاة في مال كل منهما هو قول علي وابن عمر وجابر وعائشة والحسن بن علي، حكاه عنهم ابن المنذر.
“Harta anak yatim dan orang gila wajib dizakati jika ia seorang merdeka, beragama Islam, dan sempurna kepemilikannya. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy[1] secara marfuu’ sampai pada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa diserahi harta anak yatim, maka usahakanlah ia dan jangan ditinggalkan hingga (habis) termakan zakat’. Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Maalik (bin Anas)[2] dalam Al-Muwaththa’ : ‘Aisyah adalah seorang yang mengurus aku dan saudara kali-lakiku yang yatim. Ia (‘Aisyah) mengeluarkan zakat dari harta-harta kami”. Pendapat tentang wajibnya zakat pada harta anak yatim dan orang gila merupakan pendapat Ibnu ‘Umar, Jaabir, ‘Aisyah, dan Al-Hasan bin ‘Aliy. Dihikayatkan hal tersebut oleh Ibnul-Mundzir”.[3]
[Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fataawaa Az-Zakaah; dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnid, hal. 11].


[1] Diriwayatkan oleh Ad-Daaruquthniy (3/5 no. 1970 – Al-Arna’uth), yang secara tepat dan lengkapnya sebagai berikut :
حدثنا علي بن محمد المصري ثنا الحسن بن غليب الهذلي الأزدي ثنا سعيد بن عفير ثنا يحيى بن أيوب عن المثنى بن الصباح عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام فخطب الناس ، فقال من ولي يتيما له مال فليتجر له ولا يتركه حتى تأكله الصدقة
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad Al-Mishriy : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ghulaib Al-Hadzaliy Al-Azdiy : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Ufair : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, dari Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash : Bahwasannya Rasuullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri lalu berkhutbah pada orang-orang. Beliau bersabda : “Barangsiapa yang diserahi anak yatim yang mempunyai harta, hendaklah ia usahakan dan jangan ia tinggalkan hingga (habis) termakan zakat”.
Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidziy no. 641, Al-Baihaqiy 4/107, dan Al-Baghawiy no. 1589. Sanad hadits ini lemah dikarenakan Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah, seorang perawi dla’iif. At-Tirmidziy berkata setelah membawakan hadits tersebut : “….Dalam sanad terdapat pembicaraan, karena Al-Mutsannaa bin Ash-Shabbaah dilemahkan dalam haditsnya”.
Secara lebih lengkap, bisa dilihat pembahasannya dalam Irwaaul-Ghaliil, 3/258-260 no. 788.- Abul-Jauzaa.
[2] Al-Muwaththa’ 2/241 no. 642 (Al-Hilaaliy). Diriwayatkan pula oleh Ibnu Zanjuwaih dalam Al-Amwaal (3/992/1812), Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm (2/29) & Al-Musnad (1/408/616), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (4/108) & Ash-Shughraa (2/61/1218) & Ma’rifatus-Sunan wal-aatsaar (3/248/2266) & Al-Khilaafiyaat (ج٢/ق١٢٠/أ) . Atsar ini shahih.- Abul-Jauzaa’.
[3] Ini adalah pendapat jumhur ulama, kecuali Hanafiyyah (dan juga diriwayatkan dari sebagian salaf) yang tidak mewajibkannya. Wallaahu a’lam.- Abul-Jauzaa’.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.