-->

24 Agustus 2012

BEBERAPA POKOK KESESATAN AJARAN SUFI


Ditulis Oleh: Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi 

Sesungguhnya Ahli bid’ah telah meletakkan beberapa pokok ajarannya sejak awal perkembangannya. Oleh karena itu seseorang tidak akan mengerti hakikat tasawuf kecuali setelah melihat beberapa pokok ajarannya, maka, dalam tulisan ini cukuplah menyebutkan beberapa pokok ajarannya. Dan itulah yang terpenting !.
Maksudnya tulisan ini setidaknya bisa mengingatkan kepada umat Islam agar berhati-hati dan tidak terjerat oleh jarinngan bid’ah mereka. Sebab saaat ini para Da’I (pendakwah) Sufi ( tarekat) tengah gencar-gencarnya menyebarkan bid’ahnya. Dan tidak sedikit dari kalangan muslimin yang masih bodoh-belum tahu hakekat kesesatan sufi-yang terpedaya dengan bualan mereka.
Beberapa pokok ajaran tasawuf diantaranya:

1. Thariqoh
Yang dimaksud adalah hubungan murid (seseorang yang berkehendak untuk sampai kepada Alloh dengan jalan dzikir dan memelihara dzikir tersebut) dengan syaikh (guru)nya. Baik Syaikh tersebut masih hidup maupun mati. Caranya, dzikir waktu pagi dan petang hari sesuai dengan izin sang Syaikh-nya tersebut. Ini harus dilakukan secara Iltizam (konsisiten) berdasarkan perjanjiannya. Dalam perjanjiannya, Syaiakh menyelamatkan sang murid dari segala petaka dan mengeluarkan dari segala macam cobaan. Sang Syaikh mendoakan melalui istghotsah kepadaNya, serta ia akan memberi syafaat pada hari kiamat dengan memasukkannya ke surga. Sedangkan bagi sang murid, hendaknya ia Iltiam selama hidupnya dengan wirid beserta adabnya, seperti halnya ia harus senantiasa iltizam terhadap amalan-amalan tarekat dan tidak boleh beralih kepada tarekat lainnya.

2. Syaikh pemberi izin wirid

Dari beberapa pokok tarekat sufi, yakni mementingkan keberadaan syaikh atau yang mewakilinya) yang memberikan bacaan wirid bagi muridnya. Keberadaan Syaikh merupakan salah satu wahana untuk menjaring muslim awam dan orang-orang bodoh dari kalangan mereka sendiri, Dengan demikian mereka bisa diperdaya guna kepentingan syaikhnya. Selain itu mereka menjadi ‘tersihir’ untuk mencurahkan semua potensi harta dan fisiknya bagi syaikh atau yang mewakilinya.
Sesungguhnya keberadaan syaikh itu, menurut syariat bisa dibenarkan.melalui Syaikh (yang memiliki ilmu dan tahu jalan menuju Alloh) itulah yang bisa diambil ilmunya dan mencontohnya. Hingga terbentuklah kesempurnaan jiwa lantaran bimbingannya dalam Islam, yang demikian ini adalah perkara yang terpuji dan dituntunkan syar’i. Karena tidaklah mungkin seseorang tahu tentang Alloh, tentang apa yang dicintai dan dibenciNya, dan mengetahui bagaimana cara beribadah serta mendekatkan diri kepadaNya, Hal ini akan terlaksana secara baik jika seorang menjadi murid seorang Syaikh yang alim dan berilmu. mau belajar kepadanya dan dididik dibawah pengawasan syaikh tersebut.
Suatu kesalahan, yakni jika belajar kepada syaikh yang memberi syarat dengan wirid dan amalan-amalan tarekat, apalagi syaikhnya tersebut adalah seorang yang bodoh ( dalam ilmu agama-red) bahkan bisa jadi buta huruf !!. Hal ini nyata adanya di masyarakat kita. Sebab, banyak diantara syaikh kalangan sufi tarekat ternyata mereka adalah buta huruf. Kalaupun mereka mengetahui suatu maka hanyalah sebatas rukun Islam seperti shalat !!!. Dalam kalangan tarekat, seorang syaikh berwenang memberikan wirid/amalan hanya sebatas wirid dan amalan yang ia miliki. Dan itu pun diberikan kepada muridnya setelah muridnya berkhidmat kepadanya dalam suatu proses yang panjang. Setelah itu sang murid diberi gelar syaikh dan diberi hak izin untuk memberikan wirid yang telah diterimannya kepada orang lain.
Itulah sisitem pewarisan ilmu mereka. Ironisnya, mereka justru menyatakan batil terhadap orang yang memakai sanad dalam periwayatan hadits yang sampai kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , yakni sebagaimana lazimnya digunakan oleh pada ahli hadits. Bahkan, ada dari kalangan tarekat yang berceloteh, bahwa tidak perlu menggunakan silsilah sanad (dalam hadits-red) karena aib bagi mereka, sebab bagi kalangan tarekat mereka memakai metode langsung dari Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dalam keadaa terjaga bukan dalam keadaan tidur apalagi bermimpi, sebagaimana perkataan Ahmad At Tijani (pendiri tarekat tijaniyah) dalam Jawahiru Al Ma’ani (hal 97) dia berkata,” adapun sanad dalam tarekat muhammadiyah (maksudnya at-Tijaniyah) bahwasannya Ia mengabariku:.” Sesungguhnya kami telah mengabari dari para syaikh tapi Allah belum menakdirkan dari mereka apa yang kami kehendaki. Namun sunggup sayyid kami, ustadz kami dalam hal ini adalah sayyidul wujud (penghulu segala yang ada) yakni nabi Sholallahu laihi Wassalam, Dan Alloh telah menakdirkan dibukannya kepada kami dan sampainya kami kepada Belaiu Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam . Serta kami pun tidak akan berpaling kepada selainya kepada masyaikh lainnya. Adapun dalam hal keutamaan pengikutnya (yakni pengikut tarekat Tijaniyah), Sayyidul Wujud (tang dimaksud adalah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam) telah berkata barangsiapa mencintainya (yakni mencintai ahmad bin Muhammad At Tijani), maka ia termasuk Kekasih Nabi, Dan tidaklah ia akan mati, kecuali setelah benar-benar menjadi seorang wali.”
Dan yang lebih mengherankan lagi dalam dunia tarekat, mensyaratkan bagi syaikh yang menjadi murabbi yang memiliki kewenangan khusus harus memiiliki sifat sempurna. Padahal yang demikian tidak mungkin dimiliki sekalipun oleh sebagian para nabi. Berdasarkan persyaratan semacam ini, mereka menetapkan bagi pemimpin-pemimpin tarekat untuk memberi wirid dan mengarahkan. Dan sungguh, tidak ada sama sekali pada mereka sifat-sifat sempurna wlaupun hanya sepersepuluh atau bahkan seperseratusnya. Sehubungan dengan hal itu, perlu dinukil kementar At Tijani, Jawahiru Al Ma’ani Juz II hal 185,” Adapun hakekat Syiakh washil (syaikh yang berperan sebagai penghubung), yaitu telah berhasil menyingkap semua hijab (penghalang) secara sempurna guna melihat keberadaan tuhan dengan mata kepadalnya sendiri, dan benar-benar atas dasar keyakinan. Tingkatan demikian diawali dengan muhadharah (menghadirkan sang syaikh), yakni dengan cara menelaah dari balik tabir tebal tentang hakekat yang ada, Berikutnya mukasyafah yakni menelaah hakekat dari tabir tipis. Kemudian Musyahadah, yaitu melihat hakekat dengan tanpa tabir penghalang, yang ini tentunya dengan kekhususan. Bila telah demikian artinya seseorang telah mencapai kedudukan yang paling tinggi, yakni kedudukan yang membatalkan dan menghapuskan (syariat), serta telah mencapai proses melebur dan menyatu (fana’ Al fana’). Tidaklah mencapai derajat ini kecuali dengan pertolongan Al Haq didalam AL Haq dan dengan Al Haq. Maka tidaklah tersisa sesuatu kecuali Alloh dan (menyatu) dengan-Nya. Maka tahapan ini tidak ada lagi istilah yang dihubungi atau yang menghubungi.” Sampai ucapannya,” maka, inilah syaikh yang patut dimintai. Bila seorang murid melihat rahasia sifat seperti ini, maka lazim baginya untuk menyerahkan diri kehadapan sang syaikh sepertimayit dihadapan yang memandikannya. Dia tidak memiliki hak memilih, berkemauan, meberi dan berfaedah. Oleh karena itu bila diisyaratkan kepadanya suatu amalan atau suatu perkara maka jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan, kenapa, bagaimana, bukankah, untuk apa. Karena pertanyaan itu membuka pintu kebencian dan pengusiran.”
3. Perjanjian atau Baiat, jabat Tangan, dan Talqin
Termasuk pokok ajaran tasawuf adalah ikrar janji setia (baiat) seorang murid kepada sang syaikh tarekat, atau yang mewakilinya. Baiat itu meliputi ksanggupan untuk iltizam (konsisten) dalam mengamalkan wirid, ketaatan, dan cinta. Selain itu, dibaiat pula untuk iltizam dengan kelompok tarekatnya serta tidak boleh beralih ke kelompok tarekat lainnya sampai mati. Pelaksanaan baiat itu dengan cara meletakkan tangan diatas tangan syaikh sambil mengenggamkan jari jemarinya diatas jari sang syaikh, seraya memejamkan mata. Kemudian sang syaikh menuntunkan kata-kata,” Sya berjanji utuk beriltizam berwirid dengan syarat-syarat…” kemudian sang syaikh memebrikan wirid. Dengan amalan tqlid ini mereka membuat kata-kata perjanjian, baiat, berjabat tangan dan talqin.
Sesungguhnya baiat adalah sesuatu yang disyariatkan, yakni sebagaimana Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam pernah membaiat para Shohabat rodliallohu anhum . Adapun baiat yang dilakukan kepada imam adalah bid’ah, seperti kelompok tarekat dan kelompok sempalan lainnya, diadakan guna menjaring kaum muslimin awam dan orang-orang yang bodoh dangkal ilmu agamanya. Dengan baiat ini, dimaksudkan agar bisa memberikan bekas (atsar) pada jiwa mereka (yang akan bergabung dengan kelompoknya). Hingga mereka bisa dikendalikan/diatur dan mentaati hukum dan aturan sang syaikh, inilah hakekat baiat orang tasawuf taarekat.
Adapun talqin yang dilakukan dengan memejamkan mata seraya mengenggam jari merupakan perbuatan bid’ah. Talqin dilakukan semata penipuan belaka. Dengan talqin seakan-akan adalah hal ritual keagamaan yang khusus. Hingga semakin sempurnalah penanaman atsar (pengaruh) kepada jiwa orng-orang awam agar mereka terjerat dalam jaringan sesat mereka. Dengan cara itu,mereka bisa menguasainya dengan mengatasnamakan syaikh, baiat, dan tarekat. Sepertinya wirid yang disyariatkan sang syaikh, maka baiat, talqin, dan ritual tarekat lainnya dalah bid’ah.
4. Wirid Sufi (antara Haq dan Batil)
Wirid yang dimaksud, seorang Muslim mengamalkan ibdah sunnah dan berjanji utnuk mengamalkannya selama hidupnya.
Wirid bagi pengikut tarekat, baik berupa dzikir atau doa yang diberikan oleh syiakh (atau orang yang diberi wewenang) atau orang yang mewakilinya, diberikan kepada murid agar bersih batinnya dan bisa sampai ke derajat mukasyafah, musyahadah dan fana’ dalam dzat Allah [sehingga tidak ada sebutan ’Penyambung’ dan ‘yang disambung’ atau washil dan maushul. Lantaran hamba dan Allah telah menyatu.
Dalam doa yang diajarkan kaum tarekat tidak lepas dari kata-kata syirik, kufur, bid’ah sepereti tawassul dengan orang yang telah mati, beristighotsah kepada mayit dan berdoa kepada selain Alloh.

Dzikir mereka ada yang haq disyariatkan Islam), seperti kalimah thayyibah la ilaha illallah) mereka namakan sebagai zikir umum, dan ada pula dzikir yang tidak disyariatkan Islam, hanya karangan orang pengikut tarekat seperti lafadz alla, Allah yang diucapkan berulang kali dengan jumlah tertentu, atau melafalkan kata hayyun, hayyun dan semisalnya. Mereke namakan sebagai dzikir khusus (masing-masing tarekat memiliki dzikir khusus sendiri-sendiri) bahkan ada yang mengucapkan huwa,huwa (Dia, Dia) yang mereka namakan dzikir khusus yang paling khusus (khos Al Khos).
Perhatikanlah !! bagaimana mereka membagikan dzikir menjadi dzikir umum, dizikir khusus dan dzikir paling khusus. Kita berlindung kepada Alloh Azza wa Jalla kadi kesesatan nyata dan kita berlepas diri dari kebohongan yang jelas.
5. Khalwah
Khalwah, bila seorang menyendiri (menjauhi keramaian manusia), menurut istilah tarekat sufi khlawah berarti menyendirinya seorang murid, dengan izin syaikhnya dan dibawah pengawasan dan bimbingannya ditempat-temat tertentu (missal dilubang yang digali dalam tanah atau ditempat masuk antara pintu dan tengah rumah (dilhiz) selama kurangd ari sepuluh malam dan tidak lebih dari empat puluh malam) Mereka berdalil dengan tahanuts-nya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di Goa Hira’ sebelum diutus sebagai Rosul Alloh.
Adapun masa sepuh malam, mereka berdalil berdasar masa iktikaf Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam di bulan Ramadhan. Sedang yang menjadi dalil mereka untuk khalwah selama empat puluh malam adalah berdasar masa janji Alloh kepada nabi Musa Alaihi Sallam, ‘ Dan ingatlah, ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sesembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang dzalim.” [QS baqoroh 51].
Diantara kebd’ahan khalwah tarekat sufiyah, diantaranya :
Pelaksanaannya di tempat gelap, berapa banyak murid dan pengikut tarekat setelah berkhalwah menjadi tidak beres ucapan, amalan, pikirannya seperti orang gila
Selama kholwah, senantiasa diam, padahal yang semacam ini telah dilarang oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam berdasar hadits tentang peristiwa Abu Israil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori, bahwa Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam melihat seorang lelaki berdiri dibawah terik matahari, kemudian Beliau menanyakan kepada para Sahabat,” Sedang apa ini ?” Para Sahabat menjawab,” Abu Israil tengah melaksanakan nadzar. Ia (abu Israil) akan berdiri dibawah terik matahari (berjemur) dan tidak mau berteduh, tidak mau berbicara, serta berpuasa.” Maka Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam memerintahkan padanya untuk duduk, berteduh, berbicara dan tetap (menyempurnakan) puasanya.

Pelaksanaan Khalwah jauh dari indra manusia, dan suara manusias sangat menyakitkan mereka, sehingga menjadikan mereka membuat lubang dengan menggali tanah, dengan suanana yang gelap, dan inilah bid’ah yang munkar.
Seorang murid tidka boleh memikirkan apapun ketika berkhalwah, baik memikirkan makna ayat Al Qur’an atau Sunnah, sebab yang demikian bisa mengganggu wirid haqiqi yang memerlukan dzikir dan khalwah. Ini adalah persyaratan yang rusak dan bathil karena syariat Islam tidak menetapkannya.
Seorang murid tidak dibolehkan masuk atau keluar khalwah, kecuali dengan idzin Syaikh murobbi, Sedangkan apabila berhadapan dengan Syaikhnya hendaklah bersikap seperti mayit saat dimandikan. Tidak berpendapat, berinisiatif, atau membantah. Inliah bentuk pemasungan terhadap nilai kemanusiaan seorang muslim.
Senantiasa ada keterkaitan hati kepada Syaikh dengan disertai I’tiqod.

6. Kasyaf (Kontemplasi)
Hakekat kasyaf ialah terbukanya hati dari cahaya ghaib pada seorang sufi lantaran telah mencapai tingkat ma’rifat. Yang demikian tidak bisa diterima dengan akal, tetapi hanya bisa diterima hati. Dibalik martabat kasyaf ada martabat lain yakni at-tajalla yaitu nampaknya dzat ilahiah di mata wujud yang dzahir.
Sesungguhnya proses kasyaf dan at-tajalla akan berujung pada hulul dan wihdah al wujud (proses bersatunya hamba dengan Allah), setelah menyatu pada sisi orang yang bersangkutan maka lantas ia mengaku sebagai Tuhan secara mutlak, wal ‘iyadzu billahi.
7. Al fana’
Inti ajaran fana’ senantiasa memperbanyak dzikir hingga mencapai ketentraman hati yang terdalam, mereka berhujjah degan ayat,” katakanlah dengan dzikir kepada Allah hati akan tentram [QS ar Ra’du 28].
Dzikir yang dilakukannya hingga tertimpa lalai dengan dunia dan kemudian mabuk dengan yang dicintainya. Kemudian, fana’ dari alam, artinya ia tidak melihat sesuatu. Dan berikutnya ia mencapai derajat fana’ dari al fana’. Dalam batas demikian, ia telah berhasil mencapai tingkat pembatal atau penghapus syariat. Tahap ini menjadikan hancurnya semua gambar dan bayangan,d an hapusnya semua pengaruh. Maka tidaklah tersisa kecuali haq dalam Haq untuk Haq dan dengan Haq. Mereka mendefinisikan fana’ ialah habis dan menjadi rusaklah alam besama wujudnya. Dalam pandangan mereka, bahwasanya ia sirna dari nisbah perbuatan atasnya. Atau, jadilah ia wali dengan sendirinya dan dia ia tidak saksikan kecuali dalam alam ini kecuali hanya Allah saja. Hal ini seperti diibaratkan seseorang tidak bisa melihat bintang di siang hari lantaran telah terbitnya matahari.
Adapun lalai hilang diri, mabuk, fana’, fana’ al fana’, pembatal/penghapus syariat semuanya adalah awal kebohongan, kerusakan, dan kebatilan. Hingga hal tersebut menhasilkan sesuatu yang rusak dan jahat yakni hulul, wihdah al wujud. Dikatakannya, apabila seorang murid telah mencapai derajat ini, maka tidak ada yang ia saksikan kecuali hanyalah Allah. Maka jadilah semua alam ini Allah- menurut prasangka mereka. Semoga Allah menghancurkan mereka dan melaknatnya. Kenap mereka buta dengan firman Alloh Azza wa Jalla ,” Tidaklah ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.”[QS Asy Syuro 11], dan firman-Nya,” Katakanlah :’Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [QS Al Ikhlas 1], dan firmanNya,” Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [QS Al Ikhlas 4].
8. Zhahir dan Batin, Syari’at dan Hakekat
Diantara kebid’ahan sufi yakni adanya pembagian ilmu menjadi zhahir dan batin, dan pembagian agama menjadi syari’at dan hakekat. Mereka menisbatkan bahwa Islam adalah tarekat (jalan,cara), Sedangkan tarekat hanyalah washilah (sarana), dan buahnya adalah hakekat. Inilah kesesatan Sufi mereka membagi-bagi Islam sesuai hawa nafsu mereka diatas kebodohan. Mereka buta terhadap sabda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,” Hendaklah kalian berhati-hati dengan sesuatu yang baru. Maka sesungguhnya sesuatu yang baru (dalam agama) adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, dan kesesatan pasti di neraka.” {HR Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, Shahih Jami’ Ash-Shagir no 2549). Dan Sabda belia,” Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan kami (yakni Islam), padahal hal itu tidak pernah kami perintahkan, maka hal itu pasti tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih Jami’ Ash Shagir 5970).
wallahu ta’ala ‘alam
Diterjemahkan dan ringkas dari Ila Tashawwuf Ya ‘Ibadallah, oleh : Syaikh Abubakar jabir Al Jazairi.dilarang mengkopi kecuali menyertakan www.al-aisar.com sebagai sumbernya

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.