-->

15 Agustus 2012

FIRQAH2 SESAT: SYIAH, JAHMIYAH DAN ATSYARI'AH (BAG 2


)
oleh NHawadaa Chan


Syi’ah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Qadariyah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Khawarij terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak seperti al azriqah, al haruriyyah, an najdat, ash shafariyyah, al ibadhiyyah. Sebagian mereka ghuluw dan sebagian lain tidak.

SYI'AH
--------
Syi’ah adalah mereka yang mengaku-aku mengikuti dan menolong ahli bait. Allah berfirman ketika menyebutkan kisah Nuh:

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” (QS. Ash Shaffat : 83)

Yaitu Ibrahim mengikutinya dan menolong agamanya (Nuh) karena setelah Allah mengisahkan Nuh ‘Alaihis Salam, Dia berfirman dengan ayat di atas. Makna asal syi’ah berarti mengikuti dan menolong.

Kemudian nama ini diterapkan kepada golongan ini yaitu golongan yang menyatakan bahwasanya mereka mengikuti ahli bait yaitu Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu dan keturunannya.

Mereka menganggap bahwa Ali diwasiati kekhalifahan sesudah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan bahwasanya Abu Bakar, Umar, Utsman dan para shahabat telah menzhalimi Ali dan merampas kekhalifahan darinya. Demikianlah mereka menyatakan. Sungguh mereka telah berdusta tentang hal itu karena sesungguhnya para shahabat berkumpul dan sepakat untuk membaiat Abu Bakar dan Ali pun termasuk dari mereka (shahabat) ketika dia ikut membaiat Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Hal itu berarti bahwa sesungguhnya mereka telah menuduh Ali Radliyallahu ‘Anhu mengkhianati wasiat itu (karena beliau ikut membaiat, ed.).

Mereka mengkafirkan para shahabat kecuali sedikit dari para shahabat yang mereka anggap baik. Mereka melaknat Abu Bakar dan Umar dan memberi gelar keduanya dengan sebutan “dua berhala Quraisy”.

Termasuk dari madzhab mereka, mereka ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap imam-imam dari kalangan ahli bait. Bahkan mereka memberikan hak kepada imam-imam tersebut untuk membuat syariat dan menghapus hukum-hukum.

Mereka juga menyangka bahwa Al Quran telah diselewengkan dan dikurangi. Bahkan perbuatan mereka sudah sampai pada menjadikan para imam sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan mereka membangun kubur-kubur imam tersebut dan memberi kubah-kubah di atasnya kemudian mereka ber-thawaf mengelilinginya. Di atas kuburan itu juga mereka menyembelih dan bernadzar.

Syi’ah terpecah menjadi golongan yang banyak, sebagiannya lebih ringan kesesatannya dari yang lain dan sebagian lebih keras dari yang lain. Di antara golongan syi’ah: Zaidiyyah, rafidlah itsna ‘asyariyah, ismailiyyah dan fathimiyyah, qaramithah dan lain-lain.

Demikianlah setiap orang yang berpaling dari kebenaran, mereka senantiasa dalam perselisihan dan perpecahan. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk dan jika mereka berpaling sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 137)

Maka barangsiapa yang berpaling dari Al Haq akan diberi musibah dengan kebatilan, penyimpangan, perpecahan dan tidak akan tercapai tujuan bahkan berakhir dengan kerugian. Wal iyadzu billah.

Syi’ah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Qadariyah terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak. Khawarij terpecah ke dalam golongan dan aliran yang banyak seperti al azriqah, al haruriyyah, an najdat, ash shafariyyah, al ibadhiyyah. Sebagian mereka ghuluw dan sebagian lain tidak.

JAHMIYYAH
--------------
Jahmiyyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan yang belajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d bin Dirham belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al ‘Asham seorang yahudi maka jadilah mereka semua murid-murid yahudi. Ajaran/madzhab jahmiyyah adalah tidak menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah dan mereka beranggapan bahwa Allah adalah zat yang kosong dari nama-nama dan sifat-sifat karena menetapkan nama-nama dan sifat-sifat menurut anggapan mereka akan mengakibatkan kesyirikan dan berbilangnya sesembahan. Perkataan mereka tersebut ini adalah syubhat dan kerancuan yang terkutuk.

Kita tidak tahu apa yang akan mereka katakan tentang diri-diri mereka? Padahal salah satu dari mereka menyatakan bahwa dirinya seorang yang alim, kaya, tukang dan pedagang. Demikian juga mereka menyatakan bahwa mereka mempunyai banyak sifat. Akan tetapi apakah yang demikian itu berarti menunjukkan bahwa ia menjadi banyak orang?

Hal ini bertentangan dengan akal karena tidaklah mesti dengan banyaknya nama-nama dan sifat-sifat menjadikan banyak/berbilangnya ilah (tuhan). Oleh karena itulah ketika orang-orang musyrik dahulu mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:

“Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang.” Mereka berkata: “Orang ini (nabi) menyatakan bahwasanya dia hanya menyembah Tuhan yang satu sedangkan dia masih menyeru kepada tuhan yang banyak.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik)24.” (QS. Al Isra : 110)

Nama-nama Allah itu banyak dan hal itu menunjukkan kesempurnaan dan keagungan-Nya tidak menunjukkan kepada berbilangnya sesembahan sebagaimana yang mereka katakan.

Adapun zat kosong yang tidak mempunyai sifat maka tentunya hal ini tidak mempunyai wujud. Mustahil selama-lamanya jika ada sesuatu yang tidak mempunyai sifat, minimal dia mempunyai sifat wujud (ada).

Di antara syubhat mereka adalah bahwa menetapkan sifat akan mengakibatkan penyerupaan karena sifat-sifat tersebut juga terdapat pada makhluk. Perkataan ini adalah batil sebab sifat-sifat pencipta sesuai dengan-Nya dan sifat-sifat makhluk sesuai dengan mereka dan keduanya tidak saling menyerupai.

Sesungguhnya berkumpul pada jahmiyyah kesesatan dalam hal nama-nama dan sifat-sifat, kesesatan jabriyyah dalam hal menetapkan takdir dimana jahmiyyah berkata: “Sesungguhnya seorang hamba tidak mempunyai keinginan/kehendak dan tidak mempunyai pula usaha, dia hanyalah dipaksa dalam perbuatan-perbuatannya.” Ini berarti bahwasanya jika dia disiksa karena kemaksiatannya maka dia adalah orang yang terzhalimi karena (menurut mereka) kemaksiatan itu bukan perbuatan dia dan dia hanyalah dipaksa untuk melakukan hal itu. Maha Tinggi Allah dari hal yang demikian.

Dengan demikian mereka mengumpulkan antara jabriyah dalam masalah takdir dan jahmiyah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat dan mereka mengumpulkan pula dalam hal itu kepada perkataan murjiah yang mereka gabungkan dengan pernyataan bahwa Al Quran adalah makhluk maka jadilah mereka di atas kesesatan yang bertumpuk.

Berkata Ibnu Qayyim:

(Huruf) jim dan jim kemudian bersama keduanya beriringan huruf-hurufnya dalam satu wazan jabriyyah, murjiah dan jim jahmiyyah. Maka perhatikanlah semuanya dalam satu timbangan maka hukumilah dengan memperhatikan siapa yang sampai terlepas dari ikatan iman25.

Maksudnya semua kelompok sesat tersebut terdapat padanya huruf jim yaitu jabariyyah, murjiah dan jahmiyyah jadi semuanya ada tiga jim. Ketahuilah bahwa jim yang keempat adalah Jahannam.

Kesimpulannya bahwa ajaran jahmiyyah ini terkenal dalam hal meniadakan nama-nama dan sifat-sifat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pecahan dari jahmiyyah adalah ajaran mu’tazilah, asy’ariyyah dan maturidiyyah.

Ajaran mu’tazilah menetapkan nama-nama dan meniadakan sifat-sifat tetapi dalam menetapkan nama-nama mereka menetapkan semata-mata hanya lafazh yang tidak menunjukkan kepada makna dan sifat.

Mereka dinamakan dengan mu’tazilah (kelompok yang memisahkan diri) karena imam mereka yaitu Washil bin Atha’ adalah salah seorang murid Hasan Al Bashri Rahimahullah, seorang imam tabi’in yang mulia. Ketika Hasan Al Bashri ditanya tentang pelaku dosa besar apa hukumnya? Maka beliau berkata dengan perkataan Ahlus Sunnah wal Jamaah: “Sesungguhnya dia seorang Mukmin yang kurang imannya, dinamakan Mukmin karena imannya dan fasik karena dosa besarnya.”

Akan tetapi Washil bin Atha’ tidak mau menerima jawaban dari gurunya maka dia keluar dan berkata: “Tidak, saya beranggapan bahwa pelaku dosa besar bukan termasuk orang Mukmin dan bukan pula orang kafir, ia berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan.”

Kemudian dia memisahkan diri dari gurunya, Hasan Al Bashri dan duduk di salah satu sisi masjid dan berkumpul dengan kaum dari kalangan awam jahil yang mau mengambil ucapannya.

Seperti itulah dai yang sesat di setiap waktu pasti akan ada yang bergabung kepadanya dari kebanyakan manusia, inilah hikmah Allah. Mereka meninggalkan majlis Hasan Al Bashri, Syaikh Ahlus Sunnah yang majlisnya merupakan majlis kebaikan dan majlis ilmu tetapi mereka lebih suka memilih bergabung kepada majlis seorang yang berpaham mu’tazilah yaitu Washil bin Atha’ seorang yang sesat dan menyesatkan.

Banyak orang-orang yang serupa dengan mereka di jaman kita ini, mereka meninggalkan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bergabung dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang menyimpang26.

Sejak waktu itulah mereka dinamakan dengan mu’tazilah karena mereka memisahkan diri dari Ahlus Sunnah wal Jamaah dimana mereka menafikan sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menetapkan bagi-Nya nama-nama yang kosong dari makna dan menghukumi pelaku dosa besar sebagaimana yang diyakini oleh khawarij yaitu mereka kekal di neraka. Akan tetapi mu’tazilah menyelisihi khawarij tentang hukum pelaku dosa besar di dunia dimana mereka mengatakan: “Sesungguhnya dia berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan bukan orang Mukmin bukan pula kafir.” Sedangkan khawarij mengatakan: “Kafir.”

Maha Suci Allah! Apakah masuk akal bahwa manusia tidak Mukmin dan tidak pula kafir? Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah berfirman:

“Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman.” (QS. Ath Thaghabun : 2)

Tidaklah Dia (Allah) mengatakan di antara kalian ada yang berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan. Tetapi apakah mereka (mu’tazilah) memahaminya? Kemudian bercabang dari madzhab mu’tazilah yaitu madzhab asy’ariyah.

ASY'ARIYAH
---------------
Asy’ariyah dinisbatkan kepada Abul Hasan Al Asy’ari Rahimahullah. Dulunya Abul Hasan Al Asy’ari seorang yang berpemahaman mu’tazilah kemudian Allah mengaruniai anugerah hidayah kepadanya sehingga dia mengetahui kebatilan madzhab mu’tazilah maka dia berdiri di masjid pada hari Jumat dan mengumumkan bahwa ia berlepas diri dari madzhab mu’tazilah dan melepaskan bajunya seraya berkata:

“Saya melepaskan madzhab mu’tazilah sebagaimana saya melepaskan bajuku ini.” Akan tetapi setelah berlepasnya dia dari madzhab mu’tazilah lalu beralih kepada madzhab kullabiyyah yaitu pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab. Abdullah bin Sa’id bin Kullab adalah seorang yang menetapkan 7 (tujuh) sifat dan menafikan selainnya. Dia berkata: “Akal tidak dapat membuktikan kecuali hanya tujuh sifat saja yaitu Al Ilmu, Al Qudrah, Al Iradah, Al Hayah, As Sam’u, Al Bashar dan Al Kalam (sifat Mengetahui, Mampu, Iradah, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berbicara).”

Dia berkata: “Inilah yang dapat dibuktikan/dipahami oleh akal, adapun apa yang tidak ditunjukkan oleh akal (menurut dia) tidak bisa ditetapkan.”

Kemudian Allah mengaruniakan kembali hidayah kepada Abul Hasan Al Asy’ari sehingga dia meninggalkan madzhab kullabiyyah dan kembali kepada ajaran Imam Ahmad bin Hanbal dan dia berkata: “Sekarang saya mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahlus

Sunnah wal Jamaah Ahmad bin Hanbal. Sesungguhnya Allah bersemayam di atas Arsy dan sesungguhnya Dia mempunyai tangan dan wajah.” Beliau menyebutkan hal ini dalam kitabnya, Al Ibanah ‘an Ushul Ad Diyanah dan juga dalam kitabnya yang kedua, Maqaalat Al Islamiyyin wa Ikhtilaf Al Mushallin.

Disebutkan bahwasanya Abul Hasan Al Asy’ari berada di atas madzhab Imam Ahmad bin Hanbal walaupun masih tersisa padanya beberapa penyimpangan ..

Sedangkan pengikut Abul Hasan Al Asy’ari tetap berada di atas madzhab kullabiyyah dan kebanyakan mereka senantiasa berada di atas madzhabnya yang pertama sehingga mereka dinamakan dengan asy’ariyyah sebagai nisbat (penyandaran) kepada Abul Hasan Al Asy’ari dalam madzhabnya yang pertama. Adapun setelah beliau kembali ke madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah maka penisbatan madzhab ini (asy’ariyyah) kepada beliau adalah suatu kekeliruan. Yang benar adalah madzhab kullabiyyah bukan madzhab Abul Hasan Al Asy’ari Rahimahullah karena dia telah bertaubat dari hal tersebut. Dan beliau telah menulis tentang hal tersebut dalam kitabnya, Al Ibanah ‘an Ushul Ad Diyanah yang menjelaskan secara terang-terangan kembalinya beliau berpegang sebagaimana yang diyakini pada Ahlus Sunnah wal Jamaah khususnya Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah. Walaupun masih ada padanya beberapa penyimpangan misalnya perkataannya tentang Al Kalam:

“Sesungguhnya Kalamullah adalah makna tersendiri yang berdiri sendiri dengan Dzat-Nya. Dan Al Quran adalah pengulangan ucapan atau ungkapan dari Kalamullah. Al Quran itu bukan Kalamullah itu sendiri.”

Inilah madzhab asy’ariyyah pecahan dari madzhab mu’tazilah dan madzhab mu’tazilah pecahan dari madzhab jahmiyyah kemudian terpecah-pecah menjadi madzhab-madzhab yang banyak. Semuanya berasal dari madzhab jahmiyyah.

Inilah kira-kira pokok firqah-firqah (golongan-golongan) 27.
Yang secara berurutan sebagai berikut:

Pertama qadariyyah.
Kemudian asy’ariyyah.
Kemudian khawarij.
Kemudian jahmiyyah.

Kemudian firqah-firqah tersebut terpecah-pecah menjadi golongan yang banyak, tidak ada yang dapat menghitung jumlahnya kecuali Allah, dimana telah disusun kitab tentang perkara ini di antaranya:

1. Kitab Al Farqu baina Al Firaq, Al Baghdadi.
2. Kitab Al Milal wa An Nihal, Muhammad bin Abdil Karim Asy Syahristani.
3. Kitab Al Fishal fi Al Milal wa An Nihal, Ibnu Hazm.
4. Kitab Maqaalat Al Islamiyyin wa Ikhtilafi Al Mushallin, AbulHasan Al Asy’ari.

Setiap kitab tersebut menjelaskan tentang golongan-golongan beserta macamnya, jumlahnya, penyimpangannya dan perkembangannya. Hingga sampai di jaman kita ini senantiasa berkembang, bertambah dan tumbuh darinya menjadi madzhab yang lain dan berpecah darinya pemikiran-pemikiran yang baru yang muncul dari pokok pemikiran 4 kelompok tersebut. Tidak satu pun kelompok yang masih tetap berada di atas kebenaran kecuali Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di setiap jaman dan tempat mereka selalu di atas kebenaran sampai terjadinya hari kiamat.

Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang terang-terangan di atas Al Haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang perkara Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu 28.”

Segala puji bagi Allah, sungguh mereka Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi qadariyyah nufat (yang menolak takdir). Mereka beriman kepada takdir yang sesungguhnya ini termasuk dari rukun iman yang enam. Bahwasanya tidak terjadi sesuatu pun di alam ini kecuali dengan Qadha dan Qadar-Nya Subhanahu wa Ta’ala karena Dia Maha Pencipta, Pengatur, Raja dan Penguasa.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar : 62)

Tidak ada yang dapat mengatur alam ini kecuali karena Kehendak-Nya, Iradah-Nya, Qudrah-Nya dan Takdir-Nya. Allah mengetahui segala apa yang ada dan segala apa yang akan terjadi sejak azali.

Kemudian Dia menulisnya di Lauh Mahfuzh kemudian Dia menghendaki dan mengadakan serta menciptakannya. Sesungguhnya seorang hamba mempunyai kehendak dan usaha serta pilihan. Tidaklah seorang hamba dicabut iradahnya hingga ia dipaksa dalam semua perbuatan-perbuatannya sebagaimana yang dikatakan oleh jabriyyah al ghullat maka Ahlus Sunnah menyelisihi mereka dalam perkara ini.

Madzhab mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) tentang para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bahwa mereka berwala’ (berloyalitas) kepada semua para shahabat, baik itu Ahlul Bait maupun bukan. Berwala’ kepada semuanya, Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang dengan itu mereka telah merealisasikan firman Allah Ta’ala:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman ….” (QS. Al Hasyr : 10)

Berbeda dengan syi’ah, Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi mereka karena syi’ah membedakan di antara para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka berloyalitas kepada sebagian shahabat dan membenci/memusuhi sebagian shahabat yang lain sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah berwala’ mencintai mereka semua. Semua shahabat saling mempunyai keutamaan dan yang paling utama di antara mereka adalah Khulafa Ar Rasyiddin kemudian sepuluh orang yang diberi kabar masuk Surga kemudian Muhajirin yang lebih mulia dari Anshar, para shahabat yang ikut perang Badr, yang ikut Baiat Ridwan maka mereka semua Radliyallahu ‘Anhum memiliki keutamaan.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini adanya keharusan mendengar dan taat terhadap pemerintah berbeda dengan khawarij.

Ahlus Sunnah meyakini keharusan untuk mendengar dan taat kepada penguasa/pemerintah Muslimin dan mereka berpendapat tidak bolehnya keluar (memberontak) terhadap imam Muslimin meskipun mereka melakukan kesalahan selama kesalahannya bukan kekafiran dan kesyirikan. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memberontak terhadap mereka karena semata-mata maksiat sebagaimana beliau bersabda:

“Kecuali kalian lihat kekufuran yang nyata yang di sisi kalian ada keterangan dari Allah tentangnya 29.”

Demikian juga Ahlus Sunnah wal Jamaah menyelisihi jahmiyyah dan sempalan-sempalan mereka dalam hal Asma Allah dan Sifat-Nya. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman sebagaimana yang Allah sifatkan bagi Diri-Nya dan sebagaimana yang Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sifatkan Bagi-Nya dan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dalam hal tersebut tanpa penyerupaan (tasybih), pemisalan (tamtsil), penyelewengan (tahrif) dan menolak (ta’thil).

“ … tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura : 11)

Segala puji bagi Allah, sesungguhnya pada madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah telah terkumpul Al Haq dalam semua perkara dan terhadap semua masalah dan mereka berselisih/berbeda dengan setiap apa yang ada pada firqah (golongan) yang sesat dan aliran yang batil. Maka barangsiapa yang menginginkan keselamatan sesungguhnya inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bab ibadah. Mereka beribadah kepada Allah berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh syariat berbeda dengan sufi atau ahlul bid’ah dan khurafiyyin (orang-orang yang meyakini khurafat yang tak berdalil) yang tidak mengikuti Al Kitab dan As Sunnah dalam peribadatan mereka tetapi mereka mengikuti apa-apa yang ditetapkan bagi mereka oleh syaikh-syaikh thariqat dan imam-imam mereka yang sesat. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan saya dan kalian termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan karunia-Nya dan kemuliaan-Nya, semoga Dia memperlihatkan kepada kita yang haq (kebenaran) itu suatu kebenaran dan memberikan kita (kekuatan) mengikutinya dan memperlihatkan pada kita kebatilan itu suatu kebatilan dan memberikan kita (kekuatan) untuk menjauhinya.

Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan (permohonan).

Demikianlah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kepada keluarganya serta para shahabatnya

Catatan Kaki:
----------------
25 Nuniyah Ibnul Qayyim halaman 115. Yakni mereka mengumpulkan antara jabriyyah dan jahmiyyah dan murjiah tiga huruf jim dan jim yang keempat adalah Jahannam.

26 Maka kamu akan menjumpai mereka mengumpulkan kaset-kaset, kitab-kitab mereka dan mereka bersemangat untuk mendapatkannya. Apabila kamu katakan kepada mereka bahwa di kitab-kitab ini terdapat kesalahan-kesalahan yang menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah Salaful Ummah dimana terdapat padanya perkataan Al Quran adalah makhluk atau ta’wil terhadap sifat-sifat Allah atau hasutan untuk memberontak kepada pemerintah Muslimin atau kesalahan- kesalahan lainnya maka mereka akan berkata: “Ini adalah kesalahan yang sepele tidak menghalangi kamu untuk membaca dan mendengarnya.” Padahal dalam kitab- kitab ulama kita baik dahulu maupun sekarang telah mencukupi semuanya. Demikianlah mereka berusaha menyesatkan setiap orang yang mendengar omongan mereka.

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh- penuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (QS. An Nahl : 25)

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa pendahulu (Salaf) kita ada yang menjauhi orang yang hanya berkata dengan satu bid’ah atau hanya mentakwil satu sifat saja? Abdul Wahhab bin Abdul Hakam Al Waraq, salah seorang sahabat Imam Ahmad Rahimahullah ditanya tentang Abu Tsaur maka dia berkata: “Saya tidak beragama padanya kecuali dengan perkataan Ahmad bin Hanbal. Dijauhi Abu Tsaur dan orang yang berkata seperti perkataannya.”

Hal itu karena (Abu Tsaur) menafsirkan hadits tentang gambar yang tafsirnya menyelisihi dari perkataan Salaf. Maka bagaimana dengan orang yang tidak bisa dikumpulkan banyaknya kesalahan dan dihitung (kesalahan tersebut) kecuali melalui kitab-kitab (ulama). Walaupun demikian kamu masih mendengar sebagian mereka berkata: “Kesalahan-kesalahan yang sepele tidak berarti menghalangi untuk membacanya.”
Dan tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah.

27 Berkata Ibnu Abi Randaq Ath Thurthusyi dalam kitabnya, Kitab Al Hawadits wal Bida’ halaman 14:
Ketahuilah bahwa ulama kita --Radliyallahu ‘Anhum-- berkata: “Pokok bid’ah ada 4 (empat) dan jenisnya ada 72 kelompok yang merupakan pecahan dan sempalan dari 4 pokok yaitu khawarij, mereka adalah kelompok pertama yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib Radliyallahu ‘Anhu kemudian rawafidh, qadariyyah dan murjiah.”

28 Telah terdahulu takhrij-nya, catatan kaki halaman 17 nomor 10.

29 Bagian dari hadits Ubadah bin Ash Shamit dan lafazhnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyeru kami maka kami membaiatnya dan yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan semangat maupun lesu, dalam keadaan susah maupun senang dan kita dalam keadaan dizhalimi dan tidak mencabut ketaatan dari pemiliknya. Beliau bersabda:

“Kecuali kalian lihat padanya kekufuran yang nyata berdasarkan keterangan dari Allah.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari (7056) dan Muslim (III/1470, 42).

===
Cp :
https://www.facebook.com/note.php?note_id=451077763517&id=1641726078

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.