-->

14 Agustus 2012

HADITS-HADITS DHO’IF DAN PALSU TENTANG KEUTAMAAN SURAT AL-KAHFI / الأحاديث الضعيفة والموضوعة في فضائل سورة الكهف



Pada postingan sebelumnya kami telah menyebutkan hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi, maka pada kali ini, kami akan melanjutkannya dengan menyebutkan beberapa hadits dho’if , palsu dan batil yang berkaitan dengan keutamaan surat tersebut.
Hal ini dikarenakan banyaknya riwayat-riwayat batil tentang keutamaan-keutamaan surat Al-Kahfi yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di antara keutamaannya ialah sebagai berikut:
1. Surat Al-Kahfi sebagai penghalang dari api neraka bagi siapa saja yang membacanya.
2. Orang yang membaca surat al-Kahfi akan memperoleh pahala besar yang memenuhi jarak antara langit dan bumi.
3. Orang yang membaca surat Al-Kahfi, jika dia mati, maka dianggap sebagai orang yang mati Syahid dan dikumpulkan di padang mahsyar bersama para syuhada’.
4. Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan memasukkannya ke dalam botol, lalu disimpan di dalam rumah maka ia sekeluarga akan bebas dari kefakiran dan gangguan apapun untuk selamanya.
5. Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di tempat-tempat penyimpanan makanan pokok seperti gandum, beras, dan semisalnya, maka ia akan tercegah dari segala hal yang akan merusak makanan pokoknya.
Keutamaan-keutaman besar tersebut telah disebutkan di dalam hadits-hadits berikut ini.

Hadits Pertama:
Imam At-Tirmidzi rahimahullah berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ja’far, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qotadah, dari Salim bin Abi Al-Ja’d, dari Ma’dan bin Abi Tholhah, dari Abu Darda radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَنْ قَرَأَ ثَلاَثَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa membaca tiga ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.”
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi V/162 no.2886, dan ia berkata; hadits ini (derajatnya) Hasan shohih).

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (lemah) karena ia termasuk hadits SYAADZ (yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang tsiqoh (terpercaya) tetapi menyelisihi hadits lain yang diriwayatkan oleh perawi lainnya yang lebih tsiqoh darinya, pent), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah III/509 no.1336, Dho’if At-Targhib wa At-Tarhib I/221 no.883, Dho’if Sunan At-tirmidzi I/343 no.542.
Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits ini Shohih dengan lafazh selain lafazh hadits ini. Adapun lafazh hadits ini maka ia itu Syaadz. Syu’bah atau perowi yang sesudahnya telah keliru. Dan Syu’bah juga pernah keliru di tempat (riwayat) lainnya. kekeliruan pertama, perkataannya (dalam meriwayatkan hadits, pent): “Tiga (ayat)”. Padahal yang benar adalah lafazh: “Sepuluh (ayat)”, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam bagian pertama tentang Hadits-hadits shohih tentang keutamaan surat Al-Kahfi di atas.
Hadits Kedua:
Imam Al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dari jalan Al-Kholili Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani, dari Sulaiman bin Mirqo’, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
سُوْرَةُ الْكَهْفِ تُدْعَى فِيْ التَّوْرَاةِ : اَلْحَائِلَةُ ؛ تَحُوْلُ بَيْنَ قَارِئِهَا وَبَيْنَ النَّارِ
“Surat Al-Kahfi dinamakan di dalam kitab Taurat dengan Al-Ha’ilah; karena surat ini menjadi penghalang antara orang yang membacanya dengan api neraka.”
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’ab Al-Iman II/475 no.2448, dan Ar-Rofi’i I/300).

DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF JIDDAN (sangat lemah), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah VII/256 no.3259.
Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Sulaiman bin Mirqo’ dan Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani.
Al-‘Uqoili berkata tentang Sulaiman bin Mirqo’: “Dia seorang yang Munkar haditsnya. Haditsnya tidak dapat dijadikan mutabi’ (penguat bagi riwayat lain).” (Lihat Adh-Dhu’afa II/143).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani berkata tentang Muhammad bin Abdurrahman Al-Jad’ani di dalam kitab Taqrib At-Tahdzib: “Haditsnya ditinggalkan.”
Dan Al-Baihaqi juga menilai hadits ini cacat (dho’if) karenanya. Beliau berkata: “Muhammad bin Abdurrahman telah meriwayatkan hadits ini sendirian, sedangkan dia adalah perowi yang munkar haditsnya.”
Hadits Ketiga:
حديث : ألا أخبركم بسورة ملأت عظمتها ما بين السماء و الأرض ؟ و لقارئها من الأجر مثل ذلك، و من قرأها غفر له ما بينه و بين الجمعة الأخرى، وزيادة ثلاثة أيام ؟ قالوا : بلى قال : سورة الكهف
Hadits (yang artinya): “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu surat yang mana keagungannya memenuhi jarak antara langit dan bumi, dan orang yang membacanya akan memperoleh pahala seperti itu juga. Dan barangsiapa yang membacanya (pada hari atau malam Jumat, pent), maka dosa-dosanya akan diampuni antara hari Jumat itu hingga hari Jumat berikutnya dan ditambah tiga hari?” mereka (para sahabat) menjawab: “Mau”, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ia adalah surat Al-Kahfi.”
(Diriwayatkan oleh Ad-Dailami, dari Abdurrahman bin Hisyam Al-Makhzumi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha secara marfu’).

DERAJAT HADITS:
Hadits ini dinyatakan DHO’IF JIDDAN (Sangat Lemah) oleh syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah V/504 no.2482, dan Dho’if Al-Jami’ Ash-Shoghir no.2160).
Di dalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Hisyam Al-Makhzumi (dia adalah putranya Abdullah bin Ikrimah Al-Makhzumi).
Ibnu Hibban berkata tentangnya: “Dia (Hisyam Al-Makhzumi) menyendiri dalam meriwayatkan hal-hal yang tidak ada asal-usulnya dari hadits riwayat Hisyam bin Urwah. Aku tidak tertarik (atau tidak terkagumkan) untuk berhujjah dengan hadits yang ia riwayatkan secara sendirian.”
Syaikh Al-Albani berkata: “Anaknya Hisyam Al-Makhzumi (yang bernama) Abdurrahman tidak aku dapatkan biografinya sekarang ini.”
Telah beredar pula beberapa riwayat BATIL dan PALSU yang didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan surat Al-Kahfi, di antaranya ialah:
Hadits Keempat:
حديث : مَنْ كَتَبَهَا وَجَعَلَهَا فِيْ إِنَاءِ زُجَاجٍ ضَيِّقِ الرَّأْسِ ، وَجَعَلَهَا فِيْ مَنْزِلِهِ ، يَأْمَنُ الفَقْرَ وَالدَّيْنَ، وَيَأمَنُ هُوَ وَأَهْلُهُ مِنْ أَذَى النَّاسِ ، وَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى أَحَدٍٍ أبداً
Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di sebuah wadah yang terbuat dari kaca yang ujungnya sempit (semacam botol, pent), lalu meletakkannya di dalam rumahnya, maka ia akan merasa aman dari kefakiran dan (terlilit) hutang sebagaimana ia dan keluarganya merasa aman dari gangguan manusia, dan ia tidak akan merasa butuh kepada seorang pun selama-lamanya.”
Hadits Kelima:
حديث : مَنْ كَتَبَهَا وَجَعَلَهَا فِيْ مخازن القمح والشعير والأرُزّ والحِمَّص وغير ذلك دَفَعتْ عنه كلّ مؤذٍ بإذن الله تعالى من جميع ما يطرأ على الحُبوب في خَزْنها إن شاء الله تعالى
Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi dan menjadikannya di tempat-tempat penyimpanan gandum, beras, himmash (sejenis kacang-kacangan, pent) dan selainnya, niscaya dengan izin Allah surat Al-Kahfi tersebut akan mencegah dari dirinya segala hal yang akan mengganggunya, yaitu berupa apa-apa yang akan merusak biji-bijian tersebut di dalam tempat penyimpanannya, insya Allah Ta’ala.”
Hadits Keenam:
حديث : من قرأ سورة ( الكهف ) في كلّ ليلة جُمُعة ، لم يَمُت إلاّ شهيداً ، ويبعثه الله مع الشهداء ، واُوقف يوم القيامة مع الشهداء
Riwayat (yang artinya): “Barangsiapa menulis surat Al-Kahfi pada setiap malam Jumat, maka ia tidak akan mati kecuali dalam keadaan mati syahid, dan Allah akan membangkitkannya bersama para syuhada’, dan pada hari Kiamat ia akan di berdirikan (di padang Mahsyar, pent) bersama para syuhada’.”
DERAJAT HADITS:
Hadits-hadits ini (Hadits keempat, kelima dan keenam) derajatnya PALSU DAN BATIL.
Hadits-hadits ini didustakan atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena beliau tidak pernah mengucapkannya. Dan saya (penulis) sudah berusaha mencarinya di kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah Wal Jama’ah baik hadits Shohih maupun Dho’if, dan ternyata sampai saat ini belum menemukannya juga. Kemudian saya mencarinya di beberapa sumber atau situs kelompok (agama) Syi’ah dan ternyata saya menemukannya. walhamdulillah. Mereka menisbatkan riwayat-riwayat tersebut kepada imam Abu Abdillah Ja’far Ash-Shodiq, salah satu imam mereka yang berjumlah 12 (dua belas) imam.

Maka dari itu, kita sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus lebih berhati-hati dalam menuntut ilmu agama, baik secara langsung dengan duduk di hadapan seorang guru maupun dengan jalan membaca buku atau artikel-artikel yang ada di majalah, bulletin maupun yang ada di situs-situs internet. Guru yang kita ambil ilmunya, serta buku, majalah dan situs internet yg kita baca haruslah jelas aqidah dan manhajnya. Sehingga kita selamat dari berbagai kesesatan dan kebatilan dalam beribadah kepada Allah dan benar dalam menerapkan syariat Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Wallahu Al-Hadi ila Sawa-i As-Sabiil.
(Artikel ini telah selesai disusun oleh penulis di tempat tinggalnya, Klaten – Jawa Tengah, pada hari Selasa, 13 Desember 2011, menjelang Maghrib. Walhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmu ash-shoolihaat).

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.