-->

26 Agustus 2012

Hukum Tathayyur


Setelah menjelaskan definisi dan hukum Dukun dan tukang ramal serta Nusyrah, selanjutnya, penulis Kitab Tauhid, menjelaskan apa itu tathayyur (merasa sial karena suatu sebab) dan bagaimana hukumnya. Bagaimana dalil-dalil serta penjelasan para ulama’ mengenai hal ini?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-A’raf:31)

“Utusan-utusan itu berkata, "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Yasin: 19)

Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ‘adwa[1], thiyarah[2], hamah[3] dan shafar[4].” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Dan dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan tambahan, "… dan tidak ada nau’[5] serta ghul[6]."

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas, ia berkata, Telah bersabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, "Tidak ada ‘adwa dan thiyarah, tetapi fa’l menyenangkan diriku." Para sahabat bertanya, "Apakah fa’l itu?" Beliau menjawab, "Yaitu kalimah thayyibah (kata-kata yang baik)."

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad sahih dari ‘Uqbah bin ‘Amir ia berkata, "Thiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Yang paling baik adalah fa’l, dan thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya. Apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya, maka supaya berdo’a, “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Engkau; tiada yang dapat menolak keburukan selain Engkau; dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau.”

Abu Dawud meriwayatkan pula hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud,
“Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik; dan tiada seorang pun di antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan bertawakkal kepada-Nya.”
Hadits ini diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dengan dinyatakan shahih dan kalimat terakhir tersebut dijadikannya sebagai ucapan dari Ibnu Mas’ud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Amr, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengurungkan hajatnya (kepentingannya) karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik. Para sahabat bertanya, "Lalu apakah sebagai tebusannya?" Beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, "Supaya dia mengucapkan, ‘Ya Allah tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau; tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau; dan tiada Sembahan yang hak (benar) selain Engkau.’”

Imam Ahmad meriwayatkan pula hadits dari Al-Fadhl bin Al-’Abbas: “Sesungguhnya thiyarah itu ialah yang menjadikan kamu terus melangkah atau mengurungkan niat (dari keperluanmu).”


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran kedua ayat tersebut di atas.[7]
  2. Dinyatakan bahwa tidak ada ‘adwa.
  3. Dinyatakan bahwa tidak ada thiyarah.
  4. Dan dinyatakan bahwa tidak ada hamah.
  5. Serta dinyatakan bahwa tidak ada Shafar.
  6. Fa’l tidak termasuk yang ditolak dan dilarang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan dianjurkan.
  7. Pengertian fa’l.
  8. Apabila terjadi thiyarah (tathayyur) dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa hukumnya, bahkan Allah menghapusnya dengan tawakkal.
  9. Doa yang harus dibaca oleh orang yang menjumpai hal tersebut.
  10. Ditegaskan bahwa thiyarah adalah syirik.
  11. Pengertian thiyarah yang tercela dan terlarang.

Catatan Kaki

[1] ‘Adwa: penjangkitan atau penularan penyakit.
Maksud sabda Nabi  shallallahu’alaihi wa sallam di sini ialah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman Jahiliyah bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah Ta’ala. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bukan keberadaan penjangkitan atau penularannya; sebab, dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan, “…dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (Hadits riwayat Al-Bukhari).

Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi, namun sebagai insan muslim di samping iman kepada takdir tersebut haruslah berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana usahanya menjauh dari terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir Ilahi.

[2] Thiyarah: merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

[3] Hamah: burung hantu. Orang-orang Jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihatnya; apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah salah seorang di antara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri atau salah satu anggota keluarganya.


Dan maksud sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi seorang muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah dan sudah ditentukan oleh-Nya.

[4] Shafar: bulan kedua dalam tahun Hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram. Orang-orang Jahiliyah beranggapan, bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini (adalah): merasa bahwa hari Rabu mendatangkan sial, dll. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.

[5] Nau’: bintang; arti asalnya adalah: tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Orang-orang Jahiliyah menisbatkan turunnya hujan pada bintang ini, atau bintang itu.
Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini, bahwa tidak ada hujan turun karena bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah Ta’ala.

[6] Ghul: hantu (genderuwo), salah satu makhluk jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya.

Sedang maksud sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada selain Allah serta tidak bertawakkal kepada-Nya. Inilah yang ditolak oleh beliau shallallahu’alaihi wa sallam; untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda,
“Apabila hantu bereaksi menakut-nakuti kamu, maka serukanlah adzan”
Artinya, tolaklah kejahatannya itu dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad.

[7] Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tathayyur termasuk perbuatan Jahiliyah dan syirik, karena segala sesuatu termasuk nasib sial merupakan takdir dari Allah; dan menunjukkan bahwa kesialan terjadi karena perbuatan maksiat kepada Allah.

Cinta Kepada Allah


Selanjutnya, penulis Kitab Tauhid memberikan keterangan mengenai bentuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu bagaimana dengan bentuk cinta kepada selain mereka? Apa saja batasan-batasannya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah:165).

“Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (At-Taubah: 24)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak beriman (sempurna) seseorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.”

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Anas, katanya Telah bersabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api Neraka.[1]

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia berkata,
“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, sekalipun banyak shalat dan shiyamnya, sehingga dia bersikap demikian. Persahabatan di antara manusia umumnya didasarkan atau kepentingan dunia namun hal itu tidak berguna sedikitpun bagi mereka.”

Ibnu ‘Abbas, dalam menafsirkan firman Allah, "… dan putuslah segala hubungan antara mereka sama sekali."[2] mengatakan, "yaitu kasih sayang."


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surah Al-Baqarah.[3]
  2. Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah / At-Taubat. [4]
  3. Wajib Mencintai Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lebih daripada kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.
  4. Pernyataan "tidak beriman", bukan berarti keluar dari Islam, tetapi artinya adalah tidak beriman dengan sempurna.
  5. Bahwa iman ada rasa manisnya. Kadangkala dapat menoreh seseorang dan kadangkala tidak.
  6. Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kewalian dari Allah, dan seseorang tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman kecuali dengan keempat sikap itu.
  7. Pemahaman Ibnu ‘Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan pada umumnya didasarkan atas kepentingan duniawi
  8. Tafsiran ayat, "… dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali”. [5]
  9. Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah, dengan kecintaan yang sangat.
  10. Ancaman terhadap seseorang yang kedelapan perkara tersebut di atas [orang tua, saudara, isteri, kaum keluarga, harta kekayaan, perniagaan dan tempat tinggal] lebih dicintai daripada agamanya.
  11. Memuja selain Allah dengan sendirinya sebagaimana mencintai Allah, itulah syirik akbar.

Catatan Kaki

[1] Dan disebutkan dalam riwayat lain, "Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum …" dst.
[2] Surah Al-Baqarah: 166.
[3] Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa mempertuhankan selain Allah dengan mencintai seperti mencintai Allah maka dia adalah musyrik.
[4] Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala-galanya.
[5] Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akhirat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.