-->

26 Agustus 2012

Keistimewaan Tauhid Dan Dosa-dosa Yang Diampuni Karenanya


Melanjutkan kupas kitab dari Kitab Tauhid , tiba saatnya untuk membahas bab yang kedua. Masih mengenai keutamaan tauhid. Silahkan menyimak.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman[1] mereka dengan kezhaliman (syirik)[2], mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An’am:82)

‘Ubadah bin Ash-Shamit, menuturkan; Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa bersyahadat[3] bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya; dan (bersyahadat) bahwa ‘Isa adalah hamba Allah, dan rasul-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari pada-Nya; dan (bersyahadat pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka adalah benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Syurga betapapun amal yang telah diperbuatnya." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari ‘Itban, "Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada Neraka orang yang berkata, ‘La Ilaha illallah’ (Tiada sesembahan yang hak selain Allah), dengan ikhlas dari hatinya dan mengharapkan (pahala melihat) Wajah Allah."

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk
berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.’ Allah berfirman ‘Katakan hai Musa, La Ilaha Illallah.’ Musa berkata lagi, ‘Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini.’ Allah pun berfirman, ‘Hai Musa, andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada daun timbangan, sedang "La Ilaha Illallah" diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka "La Ilaha Illallah" niscaya lebih berat timbangannya’."
(Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan bahwa hadis ini shahih)

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits, yang dinyatakan hasan, dari Anas Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Allah berfirman, ‘Hai anak Adam, seandainya kamu dating kepada-Ku dengan dosa sepenuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, niscaya akan
Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula’."

Setelah membahas dalil-dalil yang menerangkan keistimewaan tauhid, penulis buku Kitab Tauhid menyebutkan beberapa hal yang dapat diambil hikmahnya dari bab yang kedua ini. Apa saja?

Kandungan Bab Ini
  1. Luasnya karunia Allah
  2. Banyaknya pahala tauhid di sisi Allah
  3. Selain itu, tauhid menghapuskan dosa-dosa
  4. Tafsiran ayat dalam surat Al-An’am [4]
  5. Perhatikan kelima masalah yang tersebut dalam hadits ‘Ubadah
  6. Apabila anda mempertemukan antara hadits ‘Ubadah, hadits ‘Itban dan hadits sesudahnya, akan jelas bagi anda pengertian "La ilaha illallah", dan akan jelas bagi anda kesalahan orang-orang yang tersesat karena hawa nafsunya
  7. Perlu diingat persyaratan yang dinyatakan di dalam hadits ‘Itban, [yaitu ikhlas semata-mata karena Allah dan tidak mempersekutukan-Nya
  8. Para nabi dan perlu diingatkan pula akan keistimewaan "La ilaha illallah"
  9. Bahwa "La ilaha illallah" berat timbangannya mengungguli berat timbangan seluruh makhluk, padahal banyak di antara orang yang mengucapkan kalimat tersebut ringan timbangannya
  10. Dinyatakan bahwa bumi itu tujuh, seperti halnya langit
  11. Langit dan bumi ada penghuninya
  12. Menetapkan sifat-sifat Allah, berbeda dengan pendapat Asy’ariyah. [5]
  13. Apabila anda memahami hadits Anas, anda akan tahu bahwa sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dalam hadits ‘Itban maksudnya adalah dengan tidak melakukan perbuatan syirik sedikitpun, bukan sekedar mengucapkan kalimat tauhid dengan lisan saja
  14. Perhatikanlah perpaduan sebutan sebagai hamba Allah dan rasul-Nya dalam pribadi Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam dan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam
  15. Mengetahui keistimewaan Nabi ‘Isa sebagi kalimat Allah
  16. Mengetahui bahwa Nabi ‘Isa adalah ruh diantara ruh-ruh yang diciptakan Allah
  17. Mengetahui keistimewaan iman kepada kebenaran adanya Surga dan Neraka
  18. Mengetahui sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam "betapapun amal yang telah diperbuatnya."
  19. Mengetahui bahwa timbangan mempunyai dua daun
  20. Mengetahui kebenaran adanya Wajah bagi Allah

Catatan Kaki

[1] Iman ialah ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, diiringi dengan ketulusan niat Lillah dan dilandasi dengan berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

[2] Syirik disebut kezhaliman, karena syirik adalah perbuatan menempatkan sesuatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.

[3] Syahadat ialah persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya, baik lahir maupun batin.
[4] Ayat ini menunjukkan keistimewaan tauhid dan keuntungan yang diperoleh darinya dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan menunjukkan pula bahwa syirik adalah perbuatan zhalim yang dapat membatalkan iman jika syirik itu akbar (besar), atau mengurangi iman jika syirik itu ashghar (kecil).

[5] Asy’ariyah adalah suatu aliran teologis, pengikut Syaikh Abdul Hasan ‘Ali bin Ismail Al-Asy’ari (260 – 324H = 847 – 936M).
Dan maksud penulis di sini ialah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Termasuk sifat yang ditetapkan, ialah kebenaran Wajah bagi Allah, mengikuti cara yang diamalkan kaum Salaf Shalih dalam masalah ini, yaitu: mengimani kebenaran sifat-sifat Allah yang dituturkan oleh Al-Qur’an dan sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil (lihat keempat istilah ini pada kupas kitab Syarh Aqidah Wasithiyah -red vbaitullah.or.id).

Adapun Asy’ariyah dalam masalah sifat yang seperti ini, sebagian mereka ada yang menta’wilkannya (menafsirinya dengan makna yang menyimpang dari makna sebenarnya) dengan dalih bahwa hal tersebut apabila tidak dita’wilkan bisa menimbulkan tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya. Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa syaikh Abdul Hasan Al-Asy’ari sendiri dalam masalah ini telah menyatakan berpegang teguh dengan madzhab Salaf Shalih, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab yang
ditulis di akhir masa hidupnya, Al-Ibanah ‘An Ushulid Diyanah, editor: Abdul Qadir Al-Arna’uth, Beirut: Maktabah Dar Al-Bayan, 1401H), bahkan dalam karya ini beliau mengkritik dan menyanggah tindakan ta’wil yang dilakukan orang-orang yang menyimpang dari madzhab Salaf.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.