-->

26 Agustus 2012

Tauhid, [Hakikat Dan Kedudukannya]


Inilah bab pertama dari pembahasan Kitab Tauhid. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah[1] kepada-Ku" (Adz-Dzariyat: 56)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut [2] itu’." (An-Nahl: 36)

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’." (Al-Isra’: 23-24)

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun (berbuat syirik) [3]." (An-Nisaa’: 36)

"Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu sebab yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Al-An’am: 151 – 153)

Ibnu Mas’ud berkata: "Barangsiapa yang ingin melihat wasiat Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam, yang tertera di atas cincin stempel milik beliau, maka hendaklah ia membaca firman Allah "Katakanlah (Muhammad): ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia …’ dan seterusnya, sampai pada firman-Nya: "Dan (kubacakan): ‘Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus …’ dan seterusnya." [4]

Mu’adz bin Jabal menuturkan,"Aku pernah diboncengkan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku: ‘Hai Mu’adz, tahukah kamu apa yang hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah?’ Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliaupun bersabda: ‘Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya.’ Aku bertanya Ya rasulullah tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau menjawab ‘Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri’." (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam shahih mereka)

Catatan Kaki

[1] Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam.

Dan inilah hakikat agama Islam, karena Islam maknanya ialah menyerahkan diri kepada Allah semata-mata yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.


Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai Allah. Dan suatu amal diterima oleh Allah sebagai suatu ibadah apabila diniati ikhlash, semata-mata karena Allah; dan mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam.

[2] Thaghut ialah setiap yang digunakan -selain Allah- dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi; baik yang digunakan itu berupa batu, manusia, ataupun setan.
Menjauhi thaghut: mengingkarinya; membencinya; tidak mau menyembah dan memujanya baik dalam bentuk dan dengan cara apapun.

[3] Berbuat syirik, memperlakukan sesuatu -selain Allah- sama dengan Allah dalam hal yang merupakan hak khusus bagi-Nya.

[4] Atsar ini diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Al-Munzir dan Ibnu Abi Hatim.

Kandungan Bab Ini
  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah
  2. Ibadah adalah hakekat tauhid, karena pertentangan yang terjadi [antara Rasulullah dengan kaum musyrikin] dalam masalah tauhid ini.
  3. Barangsiapa yang belum melaksanakan tauhid ini, belumlah ia beribadah (menghamba) kepada Allah. Di sinilah letak pengertian firman Allah:
    "Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah."
    (Al-Kafirun: 3)
  4. Hikmah diutusnya para rasul, [ialah untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik]
  5. Pengutusan Rasul telah mencakup seluruh umat
  6. Bahwa ajaran / tuntunan para Nabi adalah satu [yaitu tauhid (pemurnian ibadah kepada Allah)]
  7. Masalah besar, yaitu bahwa ibadah kepada Allah tidak akan terwujud dengan sebenar-benarnya kecuali dengan mengingkari thaghut. Dan inilah pengertian firman Allah, "Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat." (Al-Baqarah: 256)
  8. Pengertian thaghut bersifat umum, meliputi setiap yang diagungkan selain Allah
  9. Ketiga ayat muhkamat yang tersebut dalam surat Al-An’am menurut kaum Salaf, mempunyai kedudukan yang penting karena terkandung di dalamnya sepuluh masalah, yang pertama adalah larangan terhadap perbuatan syirik.
  10. Ayat-ayat muhkamat yang tersebut dalam surat Al-Isra’, mengandung delapan belas masalah, dimulai dengan firman Allah, "Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)" (Al-Isra’: 22)
Dan diakhiri dengan firman-Nya, "Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam Neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)." (al-Isra’:39)

Serta Allah mengingatkan kepada kita akan pentingnya masalah-masalah ini dengan firman-Nya, "Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu." (al-Isra’: 39)
  1. Ayat dalam surat An-Nisa’, disebutkan di dalamnya sepuluh hak, yang pertama yaitu sebagaimana firman Allah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (An-Nisa’: 36)
  2. Perlu diingat wasiat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di saat akhir hayat beliau
  3. Mengetahui hak Allah ‘Azza wa Jalla yang wajib kita laksanakan
  4. Mengetahui hak para hamba Allah yang pasti akan dipenuhi-Nya, apabila mereka melaksanakan hak-Nya terhadap mereka
  5. Bahwa masalah ini tidak diketahui oleh sebagian besar sahabat.[1]
  6. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan masalah ini untuk maslahat
  7. Dianjurkan untuk menyampaikan kepada sesama muslim suatu berita yang menggembirakannya
  8. Rasulullah merasa khawatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah Ta’ala.
  9. Jawaban orang yang ditanya sedangkan dia tidak tahu, adalah "Allah wa rasuluhu a’lam" (allah dan rasul-Nya lebih mengetahui)
  10. Boleh menyampaikan ilmu kepada orang-orang tertentu, tanpa yang lain.
  11. Kerendahan hati Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam karena ketika menunggang keledai, beliau shalallahu’alaihi wa sallam mau memboncengkan orang lain dibelakangnya
  12. Boleh memboncengkan seseorang di atas binatang, jika binatang itu kuat
  13. Keutamaan Mu’adz bin Jabal
  14. Bahwa tauhid mempunyai kedudukan yang sangat mendasar.

Catatan Kaki

[1] Tidak diketahui sebagian besar para sahabat, karena Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menyuruh Mu’adz agar tidak memberitahukannya kepada mereka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah sehingga tidak mau berlomba-lomba mengerjakan amal shalih. Maka Mu’adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu’adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.