-->

24 Agustus 2012

Keluar Dari Thariqot Tijaniyah (2)

Oleh: Syaikh Muhammad Taqyuddin al-Hilali
Dalam edisi sebelumnya pembaca budiman telah membaca bagaimana syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi mematahkan hujjah syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang kala itu masih menjadi pengikut thariqat at-Tijaniyyah, hingga menyebabkan syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali keluar dari thariqat ini. Kemudian, supaya pembaca mengetahui apa itu thariqat at-Tijaniyyah, bagaimana ajarannya yang menyimpang dari ajaran Rasulullah -shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, insya Allah, dengan meminta pertolongan kepada-Nya, kami akan berusaha melanjutkan kisah ini dengan mengetengahkannya secara bersambung. Inilah kisah lanjutan perjalanan hidup syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali salah seorang ulama yang pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, silakan menyimak ! (pent).
Syaikh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali berkata :
Akupun tidak mempunyai jawaban kecuali seperti apa yang telah aku kemukakan, akan tetapi aku belum menerima pendapat Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Maka syaikh berkata : Pikirkanlah dalil-dalil ini, kita akan membahas lagi dalam pertemuan yang lain. Berikutnya, terjadi tujuh kali pertemuan yang kami lakukan setelah shalat maghrib hingga menjelang isya. Setelah itu aku yakin bahwa aku berada dalam kesesatan, akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku, maka kukatakan pada syaikh : “Siapakah ulama disini (Maroko) yang beraqidah seperti ini, karena suatu masalah baik itu aqidah ataupun furu’ (parsial) wajib kita paparkan sekuat tenaga, (sekalipun) wawasan kita terhadap al-Qur’an dan sunnah tidak banyak.
Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi menjawab : ulama yang beraqidah sepertiku ini adalah ulama yang terkemuka pada thariqat at-Tijaniyyah di seluruh Maroko, yaitu syaikh al-Fatimi asy-Syaradi. Hampir-hampir aku tidak mempercayainya, karena telah mashur di seluruh penjuru Maroko bahwa syaikh al-Fatimi asy-Syaradi termasuk ulama terkemuka, dan salah seorang “Muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah (tokoh terkemuka, bukan muqaddam sebagaimana tertulis dalam edisi sebelumnya, pent.), aku tidak mengatakannya sebagai syaikh at-Tijani, karena syaikh at-Tijani melarang seorang menjadi syaikh selainnya, karena julukan syaikh terkadang difahami orang bahwa selain diri syaih at-Tijani diperbolehkan membuat wirid-wirid thariqat beserta keutamaan dan aqidah-aqidahnya, dan hal ini terlarang, karena yang mengajarkan thariqah ini adalah Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dalam keadaan syaikh at-Tijani tidak tidur dan bukan bermimpi sebagaimana penjelasan lalu. Dan orang yang pertama kali diajari Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- adalah syaikh Ahmad at-Tijani, dan Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- menamainya syaikh thariqat ini. Dan setiap orang penyebar thariqat ini dan pengajar wirid-wiridnya dinamai “Muqaddim”, dan thariqat hanya mempunyai satu sumber dan satu syaikh, dan tidak diperbolehkan bagi thariqat mempunyai lebih dari satu sumber dan lebih dari satu syaikh sebagaimana hal ini tertera dalam kitab-kitab thariqat.
Akupun bersegera pergi menemui asy-Syaikh al-Fatimi –rahimahullah-, saat itu waktu dhuha (pagi), dan syaikh Muhammad bin al-Arabi mewasiatkan kepadaku agar aku tidak bertanya kepada asy-Syaikh al-Fatimi kecuali jika ia sendirian (tidak ditemani seorangpun), setelah sampai aku melihat beliau di kelilingi jama’ah, lalu setelah sebagian dari mereka pulang dan yang lainnya bergantian datang aku tetap berada disitu menunggunya agar aku dapat berbicara sendirian dengan beliau, sampai kami menunaikan shalat dhuhur.
Hingga tibalah saat makan siang aku masih belum mendapat kesempatan bersendirian dengannya, dan masih tersisa tiga orang dalam majelisnya, maka akupun (tidak tahan dan) mengatakan padanya bahwa asy-Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi berkata : Wajib bagi kita memaparkan seluruh permasalahan ushul/dasar dan furu/parsial berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, maka perkara yang mencocoki dalam pandangan kita yang sempit ini hendaknya kita terima dan apa yang menyelisihi hendaknya kita tolak, sekalipun yang mengatakannya adalah Imam Malik atau Syaikh Ahmad at-Tijani.
(Setelah mendengar ucapanku ini) beliau memberi isyarat dengan tangannya agar aku menunda (melanjutkan ucapanku). Akupun menunggu sangat lama, (setelah ia tidak menjawab ucapanku) aku mengundurkan diri pergi dari majelisnya pulang menuju madrasah asy-Syaraatin tempat yang aku singgah sebelum aku bertemu dengan Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi. Namun pada hari itu juga setelah shalat isya penjaga gerbang madrasah menjumpaiku dan berkata bahwa Syaikh al-Fatimi asy-Syaradi mengirim budak dan kendaraannya memintamu agar engkau mengunjunginya. Aku tertegun sesaat, sangat terkejut. (Mengapa?) karena dua hal. Pertama : waktu setelah isya bukan waktu berkunjung, kedua : tidak biasanya seorang pemuka ulama yang berusia lanjut mengirim kendaraan untuk menjemput kecuali menjemput seorang yang seusia dengannya dan semisal dalam ilmu, sedangkan aku adalah seorang pemuda.
Kemudian aku segera naik kendaraan itu yaitu seekor baglah (binatang hasil perkawinan silang antara kuda dan keledai) sedangkan pembantu syaikh berjalan (menuntun) di depan, tatkala tiba di rumah syaikh aku mengucapkan salam padanya dan syaikh al-Fatimi membalas dan menyambut dengan baik. Lalu dia berkata : “Wahai anakku, saya adalah seorang yang telah berusia lanjut, tidak mempunyai kekuatan untuk berperang, adapun syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi masih muda, siap jika berperang, dan engkau bertanya kepadaku di depan banyak orang tentang masalah yang sangat penting yang saya tidak dapat menyembunyikan jawabannya namun saya tidak kuasa berterus terang di depan banyak orang. Ketahuilah, bahwa apa yang dikatakan syaikh Muhammad bin al-Arabi kepadamu adalah kebenaran yang tidak terdapat keraguan padanya, saya pernah mengikuti thariqat al-Qadiriyah beberapa lama, kemudian berpindah ke-thariqat al-Wizaniyah beberapa lama juga, kemudian berpindah ke-thariqat at-Tijaniyyah dan menekuninya hingga menjadi “muqaddim” thariqat at-Tijaniyyah, maka tidak saya dapati pada thariqat-thariqat itu faedah, lalu saya tinggalkan semua thariqat itu dan tidak ada dalam diriku lagi tasawuf kecuali saya mencari guru yang mengajariku al-Qur’an dan sunnah, ilmu dan amal. Kalau saya mendapati guru yang mengajari al-Qur’an dan sunnah tentulah saya akan tekun belajar dan menjadi muridnya, sedangkan engkau ingin berpergian ke daerah timur, jika engkau menjumpai syaikh, guru yang berakhlak sebagaimana al-Qur’an dan sunnah baik secara ilmu dan amal, tulislah surat padaku dan beritahukan padaku hingga saya dapat bepergian menemuinya dan saya bertambah yakin dengan keyakinan yang aku dapatkan dalam dialogku dengan Syaikh Muhammad bin al-Arabi al-Alawi.”
Kalau saja saat itu aku mempunyai ilmu seperti yang kumiliki saat ini, akan kukatakan padanya : sesungguhnya guru yang engkau cari lebih dekat denganmu dari siapa saja, karena syaikh yang kamu cari dan engkau ingin bepergian menemuinya sekalipun jauh adalah dirimu sendiri, dengan syarat engkau mempunyai kemauan yang kuat untuk mengamalkan al-Qur’an dan sunnah dan membuang taklid bagaimanapun keadaannya.
Maka semoga Allah membalas keduanya dengan kebaikan dan meliputi mereka berdua dengan rahmat-Nya.
Sesudah selang 20 tahun, aku bertemu dengan syaikh Abdul Aziz bin Idris salah seorang ulama kota Tatwan beliau salah seorang murid syaikh al-Fatimi, kemudian aku kisahkan hikayat ini, lalu ia berkata :
Aku juga mengalami hal yang serupa ini, setelah aku menamatkan pelajaranku di Universitas al-Qarawiyin, aku pergi menemui syaikh al-Fatimi, karena beliau adalah syaikhku yang paling utama, aku katakan padanya : wahai syaikh, saya akan kembali ke negeriku kota Tatwan , saya berharap engkau membekaliku dengan doa-mu yang baik dan mengajarkan wirid-wirid thariqah at-Tijaniyyah. Maka syaikh al-Fatimi menjawab : Kasihan sekali engkau ini, engkau telah hafal al-Quran, telah belajar ilmu-ilmu agama Allah yang memungkinkan bagimu memahami kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya, tidak cukupkah ini semua ? hingga engkau mencari petunjuk selainnya ? thariqat itu tidak ada apa-apanya, hendaknya engkau mempelajari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.
Maka Allah menyingkapkan dariku -dengan keutamaan-Nya- kegelapan syirik dan bid’ah, dan Dia membukakan bagiku pintu tauhid dan mengikuti ajaran Rasulullah, alhamdulillah, bagi-Nya-lah pujian dan karunia. Saya mohon kepada Allah agar menguatkan kita dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sesungguhnya Dialah pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Lalu aku bertanya-tanya, darimanakah syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi –rahimahullah- mendapatkan cara untuk berdialog seperti yang terjadi padaku dengannya?
Dulu aku mengira ia mendapatkannya dari syaikh Syuaib ad-Dukkali seorang yang alim dan seorang dai yang memperbaiki umat, karena syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi pernah berdialog dengannya yang menyebabkan ia keluar dari thariqat at-Tijaniyyah, maka syaikh Muhammad al-Arabi al-Alawi melakukan hal itu juga pada diriku, namun selang beberapa lama aku mendapati cara dialog ini dari kitab “Ghayatul Amani fi ar-Rad ala an-Nabhani” karya seorang alim salaf Muhammad Syukri al-Alusi al-Bhagdadi –rahimahullah-, kitab ini termasuk kitab yang paling bagus dari buku-buku salafiyyah yang mendebat ahli bid’ah dari kalangan pengikut thariqat sufi, yang mencekik leher-leher mereka dengan ungkapan gaya bahasa yang mengena, seolah-olah kitab itu adalah untaian mutiara dalam rangkaian yang indah, sedikit sekali kitab yang semisalnya, sebuah peribahasa inggris ini pantas dikatakan padanya : “Teman itu harus ada sekalipun jumlah buku sedikit, namun mereka adalah orang-orang yang baik.”
Inilah penyebab aku keluar dari thariqat at-Tijaniyyah Yang tidak terlintas sebelumnya dalam benakku sedikitpun, dan ini hasil dari petunjuk yang meyakinkan, yang tidak dapat diragukan lagi bahwasanya ajaran thariqat tijaniyyah sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab mereka dan keyakinan mereka sama sekali tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, dan penjelasannya anda akan dapati pada penjelasan setelah ini. (bersambung, dengan judul “Kitab-kitab Thariqat at-Tijaniyyah”, insya Allah).
Dikutip dari : Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi.19, hal. 18-20

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.