-->

25 Agustus 2012

Kiat Harumkan Nama di Dunia dan Akherat



Berbicara tentang nama, memang tidak ada habisnya. Seperti pepatah mengatakan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan Nama.” Dan kita semua sebagai makhluk pasti akan merasakan kematian, kapan dan dimana pun kita berada. Allah ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dan firman-Nya pula:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

Seorang penyair berkata:
كُلُّ ابْنِ أُنْثَى وَإِنْ طَالَتْ سَلاَمَتُهُ #  يَوْمًا عَلَى آلَةٍ حَدْبَاءَ مَحْمُوْلُ  
Setiap manusia, betapa pun panjang umurnya
Kelak di suatu hari, dirinya akan terusung di atas keranda
Setiap orang yang mati pasti meninggalkan nama dan jejak rekam yang baik maupun buruk bagi keluarga, masyarakat dan generasi sesudahnya. Maka di sini timbul pertanyaan-pertanyaan yang cukup penting, bagaimana kita meninggalkan nama yang harum bagi generasi di belakang kita? Seperti apa kita akan diingat ketika kita sudah tidak lagi ada di dunia ini? Ketika mendengar nama kita, apa yang akan dikenang orang? Kebaikan atau kejahatan? Orang yang bersih atau koruptor? Orang yang jujur atau pendusta dan penipu? Orang yang amanah atau pengkhianat? Dan pertanyaan-pertanyaan semisal.

Nama kita akan dikenang orang sesuai dengan bagaimana perbuatan kita selama hidup di dunia. Jangan lupa bahwa nama ini akan kita wariskan pula ke anak cucu kita. Betapa kasihannya jika anak kita akan dikenal sebagai anak penjahat, koruptor, penipu, pelacur, penjudi, pemabuk, pembunuh, penyebar kebatilan dan kesesatan,  dan lain sebagainya. Sesuatu yang bukan kesalahan mereka, namun mereka harus menanggungnya sepanjang hidup mereka. Karena itu, nama baik adalah hal yang cukup penting untuk selalu kita perhatikan dan jaga.

MENGHARUMKAN NAMA BAIK DALAM PANDANGAN MANUSIA
Sebagian orang yang tamak dan berambisi meraih ketenaran, popularitas dan kenangan yang baik, mereka melakukan hal-hal yang dianggapnya dapat mengabadikan nama baik sepeninggal mereka. Di antara yang banyak dilakukan oleh sebagian orang dalam rangka itu, mereka membuat patung-patung baik oleh diri mereka sendiri ketika masih hidup atau dibuat oleh keluarganya atau orang lain dari generasi penerusnya yang menghargai dan menghormatinya karena memandang bahwa orang tersebut memiliki jasa-jasa dan kebaikan yang besar bagi orang lain dan kehidupan.

Sebagian lain ada yang menggantungkan prasasti-prasasti (batu/benda keras) yang bertuliskan nama mereka pada bangunan-bangunan yang mereka buat seperti masjid, pesantren atau sekolah atau selainnya.

Ada pula sebagian lain yang membagi-bagikan sumbangan kepada masyarakat baik berupa uang ataupun bahan makanan pokok demi mendapatkan simpati dan mengharumkan nama dan agar jasanya dikenang oleh mereka. Hal ini sering terjadi apalagi di saat musim pemilu atau pilkada.  Dan masih banyak cara-cara lain yang dilakukan oleh manusia dalam rangka mengharumkan namanya.

SIAPAKAH ORANG YANG PALING HARUM NAMANYA SEPANJANG SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA?
Orang yang baik dan memiliki jasa besar bagi manusia dan kehidupan akan selalu dikenang oleh sejarah. Semakin besar jasa dan manfaat seseorang bagi manusia, maka semakin harum namanya dan semakin banyak pula orang yang mengenangnya. Dan pada setiap generasi hampir dipastikan terdapat orang-orang yang berjasa besar bagi generasinya dan dikenang kebaikan-kebaikannya.

Dengan pembahasan ini, kita tidak berniat untuk dikenang oleh sejarah, dan jangan sampai ada di anatara kita yang berbuat sesuatu karena ingin dikenang atau dianggap hebat karena itu bisa-bisa akan membuat kita lalai dan riya’ (berbuat karena mau dilihat orang). Tapi faktanya memang seperti itu. Orang yang baik akan dikenang kebaikannya. Demikian pula sebaliknya, orang yang jahat dan buruk akan dikenang kejahatan dan keburukannya.

Sebagai contoh, Raja Namrudz di jaman nabi Ibrahim alaihis salam,  Fir’aun di jaman nabi Musa alaihis salam dan raja-raja zhalim lainnya dikenang, tapi manusia tahu bahwa mereka semua adalah orang-orang kafir yang zhalim dan banyak berbuat dosa. Qarun juga dikenang tapi dengan kesombongannya. Demikian pula Kaisar Nero dan Hitler dikenang tapi mereka kejam. Allah ta’ala berfirman menceritakan Fir’aun dan pengikutnya yang dibinasakan oleh Allah dalam keadaan kafir agar dijadikan kenangan dan pelajaran bagi umat-umat yang datang sesudahnya:

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (.) فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلا لِلآخِرِينَ
“Maka tatkala mereka membuat kami murka, kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), Dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS. Az-Zukhruf: 55-56)

Abu Lahab dan Abu Jahal juga dikenang dengan kekufuran, kesyirikan dan permusuhannya yang keras terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat. Mereka semua dikenang namun keburukan merekalah yang dikenang lebih dominan oleh masyarakat di zamannya dan generasi yang datang sesudahnya hingga hari kiamat.

Sedangkan manusia yang paling baik dan harum namanya sepanjang zaman di dunia dan akhirat, dan disepakati oleh kawan dan lawan maka dia tiada lain adalah nabi kita Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang Allah utus sebagai penutup para nabi dan rasul. Hal ini dikarenakan beliau merupakan manusia yang paling besar jasa dan manfaatnya bagi seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini. Beliau diutus oleh Allah sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadi orang yang paling harum namanya dan paling dikenang jasa-jasanya oleh manusia sepanjang zaman di dunia dan akhirat berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَك
“Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (QS. Al-Insyirah: 4)

Qotadah rahimahullah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Bahwa Allah meninggikan penyebutan nama nabi shallallahu alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Tiada seorang khatib, orang yang membaca tasyahud dan mendirikan shalat melainkan mengucapkan, ‘Asyhadau an laa ilaaha illallaahu wa asyhadu anna muhammadan rasulullah’.

Hasan Al-Bashri rahimahullah menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Bahwa Allah tidaklah disebutkan (nama-Nya) di suatu tempat melainkan disebutkan pula bersamanya nama nabi shallallahu alaihi wa sallam.”

Dan ada pula yang menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Kami (Allah) meninggikan penyebutan namamu di hadapan para malaikat di langit dan di sisi orang-orang beriman di bumi.” (Lihat Fathul Qadir karya imam Syaukani, Tahqiq Abdur Razzaq Al-Mahdi (V/568), Darul Kitab Al-Arabi, Beirut – Lebanon, cet. Pertama th.1420 H / 1999 M).

Abu Hayyan rahimahullah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, “Bahwa Allah menyebutkan nama nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama dengan nama-Nya di dalam kalimat syahadat, adzan, iqomat, tasyahud, khutbah, di dalam beberapa ayat Al-Qur’an, dalam penamaannya sebagai nabi dan rasul Allah, dan disebutkan pula namanya di dalam kitab-kitab (Allah) terdahulu.” (Al-Bahrul Muhith Fit Tafsir (10/500), Darul Fikri, cet. Pertama th. 1426 H / 2005 M).

MENGHARUMKAN NAMA BAIK DALAM PANDANGAN ISLAM
Sebagai seorang muslim, kita semua pasti tidak ingin menjadi kenangan buruk bagi orang-orang sesudah kita. Namun kita juga tidak berharap untuk dihormati, dihargai, atau mendapatkan kemuliaan dari manusia, karena manusia bisa berubah. Tapi hendaknya kita semua berharap kemuliaan dan keridhoan itu hanya dari Allah Dzat yang maha mulia. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخِطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ 
“Barangsiapa mencari keridhoan dari Allah (saja) meskipun manusia benci kepadanya, niscaya Allah akan ridho kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia ridho kepadanya pula. Dan barangsiapa mencari keridhoan dari manusia dengan membuat Allah murka kepadanya, niscaya Allah akan murka kepadanya dan Dia akan menjadikan manusia murka kepadanya pula.” (HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya no.276 (I/497), dari Aisyah. Syuaib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya Hasan.”).

Di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ
“Barangsiapa mencari keridhoan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia. Dan barangsiapa membuat manusia murka dengan keridhoan Allah, maka Allah akan mencukupinya dari kejahatan manusia.” (Shahih. HR. Ibnu Hibban no.277 (I/510), dari Aisyah. Dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no.6010). 

Maka dari itu, tindakan apapun yang kita lakukan hendaknya diniatkan semata-mata mengharap keridhoan dan balasan dari Allah ta’ala. Tidak mengharapkan sesuatu apapun dari manusia baik berupa pujian, imbalan, popularitas dan ketenaran maupun lainnya. Hal ini sebagaimana yang bisa kita petik dari do’a salah seorang istri Fir’aun dalam al-Qur’an yang tetap teguh pada keyakinannya pada Allah. Ia berdo’a agar dibangunkan untuknya “baitan fil jannah” (rumah di surga)–bukan “baitan fil ardhi (rumah di bumi)” ataukah “prasasti di bumi yang dikenang orang lain”. Dia hanya berharap pada Allah, diselamatkan jiwa, dan keyakinannya dari virus-virus orang zalim. Allah ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam (surga) Firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahriim: 11)

Dia berfirman pula:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insaan: 9)

Jangan sampai kita melakukan suatu amalan dengan niat dan tujuan supaya dikenang dan dipuji oleh manusia karena akan menyebabkan kebinasaan. Sebagaimana dikabarkan oleh nabi shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadits yang diriwayatkan imam Muslim di dalam kitab Shahihnya (no.1905) tentang golongan manusia yang pertama kali diadili oleh Allah dan dicampakkan ke dalam api neraka pada hari kiamat, dan mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an, dan orang yang bersedekah, namun mereka mengerjakan ibadah-ibadah yang agung tersebut tanpa ikhlas karena Allah.

Sikap seorang muslim manakala mendengar banyak pujian orang terhadap dirinya, maka ia pun semakin banyak beristigfar kepada Allah. Dia takut kepada Allah, jangan sampai karena pujian itu membuat dirinya riya’, beribadah dan beraktivitas karena mau dikenang, atau dilihat orang lain. Hal ini sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala menerima atau mendengar pujian kepada dirinya:

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ , وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَيَعْلَمُوْنَ, وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ
“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. (Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan).”
(HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 761. Isnad hadits tersebut dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 585. Kalimat dalam kurung tambahan dari Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 4/228 dari jalan lain).

Mari berlomba-lomba kita buat prasasti terbaik di surga -karena surga juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda- dengan berbudi baik, berkata-kata yang baik, dan beramal dengan sebaik-baik amalan. Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

BEBERAPA AMALAN ISLAM YANG DAPAT MENGHARUMKAN NAMA DI DUNIA DAN AKHIRAT
Sesungguhnya ajaran Islam semuanya merupakan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Bila mereka menjalankannya dengan iltizam (komitmen), maka akan lahir insan-insan terbaik yang tidak dijumpai pada umat-umat agama lain, dan para sahabat Nabi adalah contoh konkritnya. Semua orang memuji dan menyanjung serta mendoakan kebaikan bagi mereka –kecuali orang-orang yang jauh dari taufiq Allah- lantaran keislaman mereka yang bagus dan jasa besar mereka bagi umat Islam sehingga mereka dikenang dengan kenangan yang baik, red).

Namun, dalam halaman yang cukup terbatas ini, kami (penulis) akan sebutkan beberapa amalan yang bisa mengharumkan nama baik seorang hamba ketika ia masih hidup di dunia ini ataupun sesudah meninggalnya berdasarkan dalil-dalil syar’i:

1. Beriman dan Bertakwa kepada Allah kapanpun dan di manapun.
Hal ini merupakan perkara yang paling agung dan paling utama untuk mengharumkan nama seorang hamba di dunia dan akhirat. Karena apabila seorang hamba telah beriman kepada Allah dan senantiasa bertakwa kepada-Nya, maka Allah akan mencintainya dan memerintahkan para malaikat dan hamba-hamba-Nya yang lain untuk mencintainya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ “

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil malaikat Jibril (seraya mengatakan, pent), “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, maka cintailah dia”, maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril berkumandang di langit dengan mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah ia”, maka (para malaikat) penghuni langit pun mencintainya, lalu ditanamkan rasa menerima (dan mencintainya, pent) pada penduduk bumi.” (HR. Bukhari no.7047 dan Muslim no.2637).

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa agar nama kita harum dan dicintai oleh Allah, para malaikat dan manusia maka hendaknya kita berupaya memperoleh kecintaan dari Allah dengan cara beriman dan bertakwa dengan sebenar-benarnya.

2. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan menuliskannya
Hal ini bisa dilakukan oleh para ulama dan penuntut ilmu yang telah mapan keilmuannya dengan cara mengajarkan ilmu kepada manusia tentang perkara-perkara agama mereka. Disamping itu juga dengan cara mengarang dan menuliskan ilmunya di dalam sebuah majalah atau buku atau blog di internet agar ilmunya terjaga, tersebar luas dan bermanfaat bagi generasi-generasi yang datang sesudahnya.

Berapa banyak ulama yang meninggal dunia semenjak ratusan tahun yang lalu tetapi ilmunya masih ada, dikenang dan dimanfaatkan melalui kitab-kitab yang telah dikarangnya lalu dipakai dari generasi ke generasi sesudahnya dengan perantara para muridnya kemudian para pencari ilmu setelah mereka. Dan setiap kali kaum muslimin menyebutkan nama penulisnya, mereka selalu mendoakan kebaikan dan memohon rahmat dan ampunan kepada Allah baginya. Ini adalah keutamaan dan karunia dari Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Berapa banyak generasi yang diselamatkan Allah dari kesesatan dengan jasa seorang ulama, maka ulama itu mendapatkan seperti pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ
“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah no.240 (I/88), dan dihasankan oleh syaikh al-Albani).

Sama saja apakah dia mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain secara langsung atau berupa buku yang mana orang-orang mempelajarinya setelah kematiannya.

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ
“Orang yang mengajarkan ilmu (kebaikan) dimintakan ampunan oleh segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, sampai ikan-ikan yang ada di dalam lautan.” (HR. Abu Daud no.3641 (II/341), at-Tirmidzi no.2682 (V/48), dan al-Baihaqi di dalam Al-Adaab no.862).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no.2674 (IV/2060), Abu Daud no.4609 (II/612), At-Tirmidzi no.2674 (V/43), Ibnu Majah no.206 (I/75), Ahmad no.9149, dan Ibnu Hibban no.112 (1/318), dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani).

3. Shodaqoh jariyah
Shadaqah jariyah adalah suatu ketaatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala, agar orang-orang umum bisa memanfaatkan harta yang disedakahkannya tersebut sehingga pahalanya mengalir baginya sepanjang barang tersebut masih ada.

Para ulama telah menafsirkan shadaqah jariyah dengan wakaf untuk kebaikan. Seperti mewakafkan tanah, masjid, madrasah, rumah hunian, kebun kurma, mushaf Al-Qur’an, kitab yang berguna, dan lain sebagainya. Disini merupakan dalil disyariatkannya mewakafkan barang yang bermanfaat dan perintah untuk melakukannya, bahkan itu termasuk amalan yang paling mulia yang bisa dilakukan seseorang untuk kemuliaan dirinya di dunia dan akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ إِبْنُ آدَمَ إِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِه, أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
 “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendo’akannya.” [HR. Muslim, HR. Muslim (5/73), Imam Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad hal.8, Abu Daud (2/15), an-Nasa’i (2/129), ath-Thahawi di dalam Al-Musykil (1/85), al-Baihaqi (6/278), dan Ahmad (2/372). Lihat Ahkamul Jana-iz Wa Bida’uha oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal.224].

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Bukhari no.439 (I/172), dan Muslim no.533 (I/378)).

4. Mendidik anak menjadi anak sholih
Anak adalah anugerah Allah yang diamanahkan kepada kedua orang tuanya. Dan amanah ini akan dimintai pertanggung-jawabannya kelak pada hari kiamat. Orang tua akan selamat dan sukses di dunia dan akhirat apabila mampu menunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Kesuksesan orang tua dalam mengemban amanah ini ditandai dengan kesuksesannya dalam mendidik anaknya menjadi anak shalih yang taat kepada Allah dan kedua orang tuanya serta bermanfaat bagi orang lain. Semakin banyak kebaikan dan manfaat yang dilakukan oleh anak sholih tersebut, maka semakin banyak pahala yang mengalir kepada kedua orang tuanya dan semakin banyak pula orang memuji dan mengenangnya.  

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.”(HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.

5. Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia
Zuhud (tidak meminta-minta dan berharap) terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain dapat menyebabkan seseorang dicintai oleh manusia. Di samping itu juga Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang zuhud. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu anhu, ia menceritakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku satu amalan yang jika aku mengamalkannya maka aku akan dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau dicintai Allah, dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya engkau dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah no.4102 dan ini lafazhnya, Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no.5972, Al-Hakim IV/313, dan selainnya. Syaikh Al-Albani menghasankannya di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.944 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no.922).

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Engkau senantiasa menjadi mulia di mata manusia, atau manusia senantiasa memuliakanmu jika engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan manusia. Jika engkau mengambil apa yang ada di tangan manusia, mereka meremehkanmu, membenci perkataanmu dan benci kepadamu.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali II/204-205)

Ada seorang Arab Badui bertanya kepada penduduk Bashrah, “Siapakah orang mulia di desa ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al-Hasan (maksudnya Hasan al-Bashri seorang ulama tabi’in, pen).” Orang Arab Badui itu bertanya lagi, “Kenapa ia mulia bagi penduduk Bashrah?” penduduk Bashrah menjawab, “Manusia membutuhkan ilmunya, sedangkan ia tidak membutuhkan dunia mereka.” (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali II/206)

6. Berakhlak dan bermuamalah yang baik kepada sesama manusia
Manusia yang paling mulia akhlaknya dan paling baik muamalahnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan rekomendasi dari Allah kepada beliau dengan firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Beliau senantiasa berakhlak dan bermuamalah dengan baik kepada seluruh makhluk. Karena salah satu tugas mulia beliau dalam berdakwah adalah menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku ini diutus (oleh Allah) agar menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. al-Hakim no.4221 (II/670) dan ia berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim, akan tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya (di dalam kitab Shahih keduanya, pent), dan al-Baihaqi no.20571 (X/191)).

Oleh karenanya, beliau menjadi manusia yang paling harum namanya dan paling dikenang keluhuran akhlaknya oleh manusia sepanjang sejarah. Maka sepantasnya bagi kita semua sebagai umatnya agar senantiasa meneladani beliau dalam hal akhlak, muamalah dan selainnya.

Terdapat banyak dalil syar’i yang memberikan pujian dan sanjungan kepada orang-orang yang berakhlak mulia dan bermuamalah baik dengan sesama manusia. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم:” إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari no.6029 (X/452) dengan Fathul Bari, Muslim (IV/1810) no.3321).

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ “.
Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang paling berbuat baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang paling berbuat baik kepada tetangganya.”
(HR. Tirmidzi IV/333 no.1944, al-Hakim (IV/181) dan ia berkata; “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dan Ahmad II/167 no.6566, dan Syu’aib al-Arnauth berkata: “Isnadnya kuat sesuai syarat imam Muslim).

7. Suka membantu dan meringankan beban orang lain
Orang yang gemar membantu dan meringankan beban dan kesulitan orang lain baik dengan harta benda, perkataan, perbuatan, pikiran positif ataupun lainnya, dia akan dicintai dan dikenang jasa-jasa baiknya oleh manusia. Ini dikarenakan jiwa manusia secara fitrah mencintai siapa saja yang suka menolong dan berbudi baik kepadanya.

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata ketika menyebutkan pendapat para ulama tentang amalan yang paling utama: “Golongan ketiga berpendapat bahwa ibadah yang paling utama dan bermanfaat ialah amalan apa saja  yang mengandung manfaat yang mengalir kepada orang lain seperti membantu orang-orang fakir, menyibukkan diri dengan hal-hal yang ada maslahatnya bagi manusia, memenuhi kebutuhan mereka, dan membantu mereka dengan harta, kedudukan dan manfaat lainnya. Itu semua lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya terbatas bagi pelakunya saja.” (Madarijus Salikin (I/87) dengan sedikit perubahan, dan dinukil dari kitab Tajridul Ittiba’ Fi Bayani Asbabi Tafadhulil A’mali, karya Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hal.153).

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Secara garis besar, sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan paling bersabar dalam menghadapi gangguan manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
(Latha-iful Ma’arif hal.411, dan dinukil dari kitab Tajridul Ittiba’ Fi Bayani Asbabi Tafadhulil A’mali, karya Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili hal.154).

Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya:
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai oleh Allah? Dan amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia, dan amalan yang paling dicintai oleh Allah ialah engkau menggembirakan seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau melunasi hutangnya, atau mengenyangkannya dari rasa lapar. Dan sungguh aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu hajat lebih aku cintai daripada aku beri’tikaf selama sebulan di masjidku ini (masjid Nabawi), dst….” (HR. ath-Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir no.13646 (XII/453).

Demikian pembahasan sederhana ini kami tulis dengan harapan agar menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, yang senantiasa mengalirkan pahala dan memperberat timbangan amalan pada hari kiamat kelak. Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc
[Sumber: Majalah AS-SUNNAH Edisi 06 / Thn. XIV, Dzul Qo’dah 1431 H / 2010].

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.