-->

17 Agustus 2012

Larangan Mencaci Ulil Amri



Ustadz Agus Hasan Bashori

Ahlussunnah mengharamkan mencaci dan menghina ulil amri, atau melaknat mereka atau melakukan sesuatu yang buruk kepadanya, karena hal itu mencederai ketaatan kepadanya dan menyalahi wasiat-wasiat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam menghadapinya. Ini dari satu sisi, hal itu membantu dan mendukung pembangkangan dan pemberontakan kepadanya. Keharaman ini berdasarkan nash al-Qur’an dan Sunnah. [1]

Di samping itu mencaci ulil amri adalah salah satu sifat khawarij (meskipun tidak selalu yang melakukannya adalah orang khawarij). Seorang dari mereka telah lancang dan lantang mengatakan kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- “Berbuat adillah wahai Muhammad”. Sementara yang lain pada saat menerobos masuk ke rumah Khalifah Utsaman untuk membunuhnya, dia berkata: “Ya na’tsal!” sambil menarik jenggot Khalifah Utsman. Mereka mengatakan “Ya na’tsal” karena menghina Khalifah Utsman dengan menyerupakan Khalifah dengan orang Mesir yang bernama Na’tsal yang jenggotnya sangat panjang. Atau menyerupakan Khalifah Utsman dengan seorang Yahudi  yang bernama Na’tsal [2]. Atau dimaksudkan maknanya dalam bahasa, karena makna Na’tsal adalah “orang tua yang tolol” atau Hyena jantan.

Inilah tanda mereka, maka barangsiapa menyerupai suatu kaum ia termasuk didalamnya. Ahlussunnah berdalil akan haramnya mencaci dan melaknat ulil amri ini dengan beberapa hadits, antara lain:
“Melaknat orang muslim itu seperti membunuhnya.” [3]
“Bukanlah orang mukmin itu tukang mencela, tukang melaknat, tukang berkata keji dan kotor.” [4]
“Mencaci muslim itu fasiq dan membunuhnya adalah kufur.” [5]
“Kami dilarang oleh para pemimpin kami dari para sahabat Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Janganlah kalian mencaci umara’ kalian, jangan mencurangi mereka dan jangan mendurhakai mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguhnya perkaranya dekat.” [7]

Redaksi Abu Nu’aim dalam
Akhbar Ashfahan 774:
“…Janganlah kalian mencaci umara’ kalian dan jangan mencela mereka. Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguhnya perkatanya dekat.”

Ini adalah kesepakatan atau bisa disebut ijma’ para pembesar sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas larangan mencaci dan mencela umara’, karena akan berakibat buruk dan memperburuk keadaan, termasuk menambah motivasi untuk melawan sulthan.


Perhatikan sejarah berikut ini:


Abdullah ibn ‘Ukaim berkata: “Saya tidak akan membantu atas pembunuhan Khalifah selamanya setelah Utsman.” Maka dikatakan: “Wahai Abu Ma’bad apakah engkau membantu atas darahnya?” Dia berkata: “Aku menilai, menyebut keburukan-keburukannya adalah bantuan atas darahnya.” [8]

Oleh karena itu para salaf shalih memberikan peringatan keras atas perbuatan mencaci maki sulthan. Abu Ishaq al-Subai’i berkata: “Tidaklah satu kaum mencaci amir mereka melainkan mereka dihalangi dari kebaikannya.”

Abu Mijlaz berkata: “Mencaci maki imam adalah pencukur, aku tidak akan mengatakan pencukur rambut, akan tetapi pencukur agama.”


Abu Idris al-Khaulani berkata: “Janganlah kalian mencela para imam karena mencela mereka adalah pencukur; yaitu pencukur agama, bukan pencukur rambut. Ingatlah para pencela itu adalah orang-orang yang merugi dan seburuk-buruk orang buruk.”


Di samping itu menjelek-jelekkan ulil amri (ulama dan umara’, begitu pula menjelek-jelekkan yang lain) dengan menyebar luaskan dosa-dosa pribadinya di tengah-tengah masyarakat adalah termasuk ghibah yang haram, bukan termasuk nasehat dan ishlah. Rasulllah shallallahu ‘alaihin wa sallam bersabda: “Barangsiapa memberi saudaranya mau’izhah di hadapan khalayak ramai maka sesungguhnya ia telah membuka aibnya (mengolok-ngoloknya).”


Sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu telah mengingkari seseorang yang menjelek-jelekkan Abdullah ibn Amir Gubernur Bashrah dari pihak Utsman, pada saat dia berkata dalam khutbahnya:
“Coba lihatlah Gubernur kita ini, dia memakai pakaian orang-orang fasiq.”

Maka sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Diamlah. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menghina sulthan Allah di bumi, maka Allah menghinakannya.”
 

Foot Note:


[1] Baca
Kitabal-Amr Biluzum Jama’ah al-Muslimin wa Imamihim wat-Tahdzir min Mufaraqatihim, karangan Dr. Abdussalam Barjas Abdil Karim. 121-128; Kitab Kasyf al-Syubuhat al-’Ashriyyah ‘an al-Da’wah al-Ishlahiyyah as-Salafiyyah, Abdul Aziz Rais Alu Rais, 39.
[3] HR.Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dll, dari Tsabit ibn Dhahhak.
[4] HR.Ahmad dan Bukhari (dalam al-Adab al-Mufrad) dari ibn Mas’ud, hadits shahih.
[5] HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dari Ibn Mas’ud
[6] Bukan (jangan membenci mereka), lihat hadits Ummu Salamah dikeluarkan oleh Muslim. [afwan, tdk bisa tulis huruf/font arab - admin]
[7] HR. Ibn Abi Ashim dalam al-Sunnah, ibn Abdil Barr dalam al-Tamhidm, Abul Qasim al-Ashbahani yang bergelar Qiwam as-Sunnah dalam al-Targhib wat-Tarhib, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dengan redaksi: “Kami diperintah oleh para pemimpin kami dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar kami tidak mencaci umara’ kami.” Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrij as-Sunnah libnmi abi Ashim (1015) mengatakan: sanadnya jayyid.
[8] Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, ibn Sa’d dalam al-Thabaqat, al-Fasawi dalam al-Ma’rifat wat-Tarikh, al-Khatib dalam al-Muttafaq wal-Muftaraq dengan sanad shahih.

Sumber: Disalin ulang dari Majalah Qiblati, Edisi 10, Tahun VI, Sya’ban 1432H/Juli 2011, Hal 36-38, Oleh: Ustadz Abu Hamzah Agus Hasan Bashori -hafizhahullahu ta’ala- dalam Rubrik Dakwah yang berjudul “Ilmu Manhaj Dakwah Salafiyyah”, Prinsip Keenam: Imamah & Kewajiban Taat Ulil Amri Bag.7.

http://alqiyamah.wordpress.com/2011/07/22/larangan-mencaci-ulil-amri-ustadz-agus-hasan-bashori/

BERDOALAH UNTUK KEBAIKAN MEREKA

Ketika menyebutkan biografi Khalifah Bani Abbas, al Mustanjid Billah, Imam adz Dzahaby memberikan komentarnya dengan berkata :

“Seorang penguasa, jika memiliki akal yang baik dan agama yang kuat, niscaya akan baiklah urusan pemerintahan.

Jika akalnya lemah sementara agamanya baik, maka agamanya akan membawanya untuk selalu bermusyawarah dengan para cendekiawan hingga akan baiklah seluruh urusannya dan keadaan akan berjalan sebagaimana mestinya.

Jika agamanya kurang, sementara pemikirannya cemerlang, niscaya akan susahlah negara dan rakyat. Sebab kejeniusannya itu akan membawanya untuk selalu memperbaiki keadaan rakyat dan negara, semata-mata karena pertimbangan duniawi bukan pertimbangan ketakwaan.

Jika agama dan akalnya kurang, niscaya akan banyak kerusakan, rakyat akan terabaikan dan kelelahan. Kecuali jika dalam pribadinya terdapat kekuatan jiwa dan kewibawaan, maka hal tersebut akan menutupinya.

Bila penguasa itu seorang yang pengecut, kurang agamanya, tidak memiliki kejeniusan, banyak penyimpangannya, maka sungguh dia telah membawa dirinya kepada bencana. Mungkin saja dia akan dijatuhkan dan dipenjara jika tidak dibunuh. Dunianya lenyap, kesalahan akan meliputinya dan dia akan menyesal dengan penyesalan –yang Demi Allah- tidak akan bermanfaat bagi dirinya.

Dan kita pada hari ini berputus asa akan adanya seorang penguasa yang baik dari segala sisinya. Jika saja Allah memudahkan untuk umat ini seorang penguasa yang memiliki banyak kebaikan dan sedikit keburukan, maka siapakah orangnya??

Ya Allah, perbaikilah keadaan pemimpin dan rakyat. Sayangilah hamba-hamba-Mu dan berikanlah mereka petunjuk. Dukunglah penguasa mereka, dan tolonglah dia dengan taufiq-Mu...”.

[Imam adz Dzahaby dalam bukunya Siyar A’laam an Nubalaa’, XX/ 418]

 Imam al-Barbahari rahimahullah (wafat tahun 329 H) dalam kitabnya, Syarhus Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya.”

(Syarhus Sunnah (no. 136), oleh Imam al-Barbahary) 


Saudara-saudaraku,, Jangan lupakan para pemimpin kaum muslimin dalam doa-doa Anda... 

Kebaikan mereka adalah kebaikan untuk seluruh rakyat dan negara...

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.