-->

17 Agustus 2012

Mengenaskan, Kematian Nuruddin, Khalifah Pertama Ajaran Ahmadiyah

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/187175_100002273479831_5407796_n.jpg Oleh Ustadz Abu Minhal


Pendahuluan
Mirzan Ghulam Ahmad al-Qadiyani telah membuka pintu fitnah besar, yaitu pengakuan diri sebagai nabi yang melanjutkan dakwah Rasulullah Mauhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dukungan kuat dari kolonialisme dalam bentuk material dan immaterial membuat banyak orang ingin mendekati Si Nabi Palsu ini. Demi mendapatkan limpahan kekayaan duniawi yang telah dinikmati oleh Mirza Ghulam Ahmad dari penjajah Inggris.

Orang-orang dekat si Nabi Palsu
Sebenarnya ajaran-ajaran Ahmadiyah merupakan gagasan pemikiran yang digulirkan oleh beberapa individu yang menjadi tangan kanannya. Mereka rela menjual aqidah dan hati nurani mereka dengan kekayaan duniawi dari kolonialisme dengan mendukung gerakan Ahmadiyah Mirzan Ghulam Ahmad sangat membutuhkan keberadaan dan kontribusi mereka, karena ia bukanlah orang yang cerdas. Ia tidak pernah mempelajari agama islam dengan baik, terutama bahasa arab. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rohimallah menyimpulkan, ”Bila kita kaakan bahwa melalui tangan merekalah Ahmadiyah terbentuk, maka itu lebih benar dan relevan. Sebab mereka itulah yang mendukung kenabian Ghulam Ahmad hanyalah selaku corong bagi apa yang mereka sampaikan” 2. Orang-orang yang dimaksud adalah Nuruddin, Muhammad Ali, Mahmud Ahmad, putra si Nabi Palsu, Khaujah Kamaluddin, Muhammad Ihsan, Mruhi, Yar Muhammad dan Abdullah Timuburi serta Muhammad Shadiq. Dari deretan delapan nama ini, orang pertama, Nuruddin adalah tokoh yang paling penting dan berjasa besar bagi ajaran Ahmadiyah. Orang inilah yang sedang kita bicarakan.

Nuruddin sebelum berjumpa dengan si Nabi Palsu
Pada awalnya, ia hanyalah seorang atheis yang bergabung dengan kaum atheisme India. Pada dirinya, tertanam sifat ambisius yang besar terhadap kekuasaan dan jabatan. Ia juga suka menonjolkan diri. Manakala mulai mengenal Mirza Ghulam Ahmad si Nabi Palsu. Nuruddin dapat merasakan kecocokan dengannya. Karena ambisi besarnya dapat tersalurkan melalui tangan Ghulam Ahmad, Putra Ghulam Ahmad menceritakan dalam Siratul M ahdi (1/141), ”Sesungguhnya yang mulia Syaikh Nuruddin sebelumnya terpengaruh dengan atheisme. Namun setelah bergabung dengan Yang Mulia Ghulam Ahmad, pemikiran itu berangsur-angsur hilang”.

Kedudukan Nuruddin
Posisi Nuruddin sangat penting bagi Ghgulam si Nabi Palsu. Tidak ada orang yang menyamai kedudukannya selain Muhammad Ali.
Orang ini memang dikenal pandai. Ia telah mendalami bahasa arab dan pernah tinggal di Hijaz (Mekah) dalam jangka waktu lama. Penghormatan Mirza Ghulam Ahmad kepadanya sangat istimewa. Ini dapat diperhatikan melalui surat-surat yang dikirim si Nabi Palsu kepadanya. Gelar-gelar dan sanjungan tinggi menjadi ciri penyebutan Nuruddin di surat-surat Mirza Ghulam Ahmad. Sementara si Nabi Palsu menamakan dirinya sebagai khadimnya (pelayannya). Sebagai contoh, Mirza Ghulam Ahmad menulis kepadanya sebuah surat yang diawali dengan pernyataan: ”Kepada junjunganku yang terhormat, saudaraku, Syaikh yang bijak, Nuruddin. Semoga Allah memberikannya keselamatan, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…………….. al-Khadim Ghulam Ahmad (Maktub Ghulam Ila Nuruddin, dalam himpunan kitab Majmuah Maktiib al-Ghulam (5/14, no. 2)
Inilah kebiasaan Mirza Ghulam Ahmad kepada Nuruddin, bakal calon khalifahnya. Apakah masuk akal, seorang nabi menyebut-nyebut muridnya (sahabatnya) dengan bahasa dan gelar tinggi semacam ini? 3
Salah satu tugas penting yang diemban Nuruddin adalah melakukan tashh-hih (mengoreksi) terhadap tulisan-tulisan karya Ghulam bersama tokoh-tokoh pertama Ahmadiyah lainnya. Putra kedua si Nabi Palsu pernah secara tidak langsung menceritakan bukti lain tentang kepalsuan kenabian bapaknya. Ia berkata: ”Sesungguhnya Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan tulisan-tulisan tangan kepada Nuruddin untuk keperluan koreksi…… (Koran al-Fadhl, milik Ahmadiyah, 5 Februari 1929 M).
Dalam kesempatan lain, dalam kitabnya, Siratul Mahdi (1/75), Mahmud Ahmad mengatakan pernyataan senada dengan di atas, ”Sesungguhnya yang mulia (ayahnya) mengirimkan tulisan-tulisan tangan bakal kitab-kitabnya yang berbahasa arab kepada Nuruddin dan Ustadz Muhammad Ihsan Amruhi supaya mereka berdua melakukan perbaikan dan pengoreksian..”.
Syaikh Ihsan Ilahi Zharir berkomentar: ”Seorang nabi memerlukan koreksian pada tulisannya?!” 4 .

Mengklaim diri sebagai khalifah pengganti Mirza Ghulam Ahmad
Pasca kematian si Nabi Palsu tibalah kesempatan untuk memnuhi ambisi besar yang terpendam. Nuruddin memproklamirkan diri sebagai khalifah pertama. Ia berkata: ”Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa Dia telah menjadikan diriku sebagai khalifah-Nya (setelahGhulam Ahmad). Siapakah yang mampu merebut selendang khalifah dariku?….Dia berkehendak menjadikan diriku imam dan khalifah kalian. Katakanlah apapun yang kalian inginkan. Setiap tuduhan dan celaan kalian kepadaku, tidaklah kembali kecuali kepada Allah. Karena Dia telah mengangkatku sebagai khalifah…(Termaktub dalam sebuah majalah Ahmadiyah 14/234).
Pihak kolonialisme pun setuju dengan dirinya. Sebab, mereka telah menguji dan membuktikan kesetiaan dan kesetiaan Nuruddin selama ini untuk menjadi pelayan mereka. Meski dengan menpertaruhkan agama, dan harus berkhianat kepada kaum muslimin.
Setelah tambuk kekuasaan berada ditangannya, ia pun pernah mengaku kalau posisinya seperti posisi Abu Bakar radiallahuanhu yang meneruskan tongkat estapet dakwah Rasulullah ?!5

Akhir hayat yang mengenaskan
Sepak terjangnya yang buruk menuai balasan dari Allah. Allah menetapkan Nuruddin mengalami sakit yang berkepanjangan. Sampai kehilangan kemampuan berbicara dan kesadarannya. Akhirnya ia meninggal dalam kondisi mengenaskan. Sementara anaknya yang masih remaja harus mati oleh racun yang dibubuhkan oleh orang Ahmadiyah. Istrinya lari dengan lelaki lain pasca kematian sang suami.
Tidak hanya ini saja, putri Nuruddin yang menikah dengan Mahmud Ahmad, putra si Nabi Palsu, juga tewas terbunuh. Dan suaminyalah yang ternyata membunuh dua anak Nuruddin itu. Sementara putra Nuruddin yang lain, diusir dan dituduh berbuat nifak (ala Ahmadiyah, red).

Penutup
Demikianlah, nasib Nuruddin, pembesar Ahmadiyah dan keluarganya. Tragis memang, seperti kondisi Mirza Ghulam Ahmad yang mati di toilet akibat penyakit kolera yang dideritanya. Namun itu belum ada apa-apanya dengan siksa Allah di akhirat kelak atas kelakuan buruknya dalam mendukung Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi mampunyai balasan.
Semoga Allah senantiasa menaungi kita dengan ilmu dan hidayah-Nya. Wallahu a’lam.


1. Diangkat dari al-Qadiyaniyah, Dirasat Wa Tahlil karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir (wafat 194101987), Idarah Turjumanis Sunnah Lahore Pakistan tanpa tahun, hal 179-185
2. Hal. 179
3. Hal. 182
4. Hal. 180
5. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkomentar, ”Bagaimana bisa manusia kotor ini mensejaharkan dirinya dengan Abu Bakar radiallahuanhu insan yang suci

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.