-->

17 Agustus 2012

PENJELASAN RINGKAS PENYIMPANGAN MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI



Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berserta keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang berpetunjuk dengan petunjuk beliau.

Amma ba’du

Saya sudah membaca seabrek kemungkaran di buku-buku Muhammad Alawi Maliki, terutama buku tercelanya, Adz-Dzakhair Al-Muhammadiyah. Dalam buku tersebut, ia menisbatkan sejumlah sifat Allah Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, ucapan Maliki bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kunci-kunci langit dan bumi, berhak membagi lahan di Surga, mengetahui hal ghaib, ruh dan lima hal yang hanya diketahui Allah secara khusus, semua makhluk diciptakan karena beliau, dan malam kelahiran beliau lebih mulia dari Lailatul Qadar.

Menurutnya lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui segala sesuatu. Sebagai contoh, ia mengutip syair-syair berisi minta pertolongan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan dalih beliau tempat berlindung saat kondisi kritis terjadi, jika beliau tidak mengabulkan maka orang yang dilanda musibah berdo’a kepada siapa, dan hal-hal lain yang sebagiannya disebutkan dalam buku ini, karya Syaikh Abdullah bin Sulaiman bin Mani, Hakim Pengadilan Kasasi di wilayah barat dan salah satu anggota Haiah Kibar Al-Ulama. Buku ini berjudul Hiwar Ma’a Al-Maliki Fi Raddi Munkaraatihi Wa Dhalaalatihi.


Saya bahagia dapat memberi kata pengantarnya. Jujur saja, saya merasa sangat terganggu dengan beredarnya banyak sekali kamungkaran dan sebagiannya kekafiran nyata dari Muhammad Alawi Maliki. Dalam bukunya, ia juga mempropagandakan kesesatan, syirik, bid’ah dan kemungkaran.


Banyak ulama, terutama Haiah Kibar Al-Ulama, mengeluarkan pernyataan No. 86 tanggal 11/11/1401H, berisi pengingkaran atas ajakan Maliki kepada syirik kepada Allah, bid’ah, kemungkaran, kesesatan, dan jauh dari manhaj generasi Salaf, yaitu akidah yang bersih dan menyembah Allah dengan benar dalam uluhiyah, rububiyah, kesempurnaan dzat dan sifat-sifat-Nya.


Sebelumnya, saya tidak hanya berniat beraprtisipasi dengan teman-teman Haiah Kibar Al-Ulama dalam mengeluarkan pernyataan yang menentang keyakinan kacau Maliki. Tapi juga bertekad memantau kerancuan dan kemungkaran Maliki, serta menyanggahnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, setelah membaca buku karya Syaikh Abdullah bin Mani ini, saya memuji Allah yang membimbingnya hingga dapat menyanggah pembuat bid’ah dan orang sesat ini (Maliki). Saya pun tidak jadi menyanggah Maliki, karena Syaikh Abdullah punya kesiapan lebih banyak dari saya. Ia menghadapi hujjah dengan hujjah telak dan dalil dengan dalil yang kuat, ia jelaskan kepada manusia seluruh ketidakbenaran Maliki, misalnya akidah tidak benar, pola piker tidak sehat, dan jauh dari kebenaran.


Semoga Allah memberi balasan kepada Syaikh Abdullah atas ghirahnya untuk Islam, penentangannya terhadap kemungkaran, dan upayanya membongkar kerancuan orang-orang sesat dengan bukti-bukti kuat dan hujjah-hujjah akurat dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


Buku ini lengkap dan memadai bagi pencari kebenaran, karena dalil-dalilnya jelas, metodenya bagus dan obyektif terhadap Maliki berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Semoga Allah memberikan balasan kepada Syaikh Abdullah, menambah ilmu dan petunjuknya, menjadikan kita dan dia sebagai pembela-pembela kebenaran dan da'i kepadanya. Allah Mahamendengar dan Mahadekat. Kita juga berdoa kepada Allah agar Dia memberi petunjuk kepada Muhammad Alawi Maliki kepada kebanaran, mengembalikannya kepada jalan lurus, dan memberinya kesempatan bertaubat dengan taubat nasuha, karena Dia Mahadermawan dan Mahamulia.


Ketua Umum Idarah Al-Buhuts Al-Ilmiyah wal Al-Ifta wa Ad-Da’wah wa Al-Irsyad.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

[Disalin dari Kata Pengantar kitab Hiwar Ma'a Al-Maliki Fii Raddi Munkaratihi Wa Dhalalatihi, Edisi Indonesia Dialog Bersama Al-Maliki, Bantahan Tuntas Penyimpangan Dan Kesesatan Al-Maliki, Penerbit Nashirul Haq, Penerjemah Tim Nashirul Haq, Cetakan 3-1424H/5/2003M]


http://almanhaj.or.id/content/128/slash/0


==========================
==========================

Mengenal lebih dekat “Syaikh”nya Nahdatul Ulama


http://ibnuramadan.wordpress.com/2008/11/20/mengenal-lebih-dekat-%E2%80%9Csyaikh%E2%80%9Dnya-nahdatul-ulama/


Pertanyaan : “Didaerah Jawa Timur banyak saudara-saudara yang kita belajar di pondok pesantren salafiyyah (Ustadz Ali Saman berkomentar: Masya Allah…Salafiyyah NU, Nahdatul Ulama ?!?!?! ) sangat mengagungkan sosok Kyai Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki, Siapakah sosok syaikh tersebut ? Apakah benar dia seorang Muhaddits Ahlus Sunnah? Apakah sekarang masih hidup ? Apakah sumbangsih Syaikh Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki terhadap perkembangan dakwah salafiyyah di Saudi pada umumnya dan para alumninya di Indonesia pada khususnya?


Ustadz Ali Saman menjawab : Ikhwanifillah A’azakumullah…saya kemaren membaca di majalah Al Furqon ( Al Furqon Gresik, Edisi 5 Thn. III hal. 2 ) perdebatan antara Ustadz Aunur Rofiq dengan salah satu pengagum Syaikh Muhammad Alwi Al Maliki, pengagum Alwi Al Maliki tersebut mengatakan bahwa syaikhnya adalah Muhadditsul Ahlus Sunnah. Syaikh Muhammad Alwi Al Maliki duhulunya adalah pernah ngajar di haram (tanah suci), dan orang salafy. Kemudian setelah itu banyak penyimpangan-penyimpangan.
Salah satunya buku yang menunjukkan penyimpangannya adalah dia menulis buku yang berisi pengkultusan Nabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam dan mengarang tentang sunnahnya maulid nabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemudian habis itu, ia dikeluarkan atau dipecat dari mengajar di halaqah di masjidil haram oleh kepemimpinan tinggi masjid al haramain. Bahkan terjadilah hiwar (debat/dialog) yang sangat kuat sekali antara syaikh Sulaiman Ibnu Mani’ (Anggota Kibar Ulama Saudi) dengan Syaikh alwi almaliki di Mekkah, dan hiwar/dialog itu direkomendasikan oleh Syaikh AbdulAzis bin Baz ( Mufti Kerajaan Arab Saudi waktu itu ) dan terbitlah bukunya dan sudah diterjemahkan “Dialog dengan Alwi Al Maliki”, Silahkan baca bukunya…..Syaikh Sulaiman Ibnu Mani’ membantah dengan nash Al Quran, Sunnah Nabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akal terhadap pendapat alwi al maliki yang membolehkan Maulid Nabi.

Ikhwanifillah A’azakumullah….Syaikh Alwi Al Maliki sebenarnya memiliki manhaj yang baik sebelum ia dikeluarkan dari mengajar di masjidil haram. TETAPI sekarang manhajnya sudah rusak, akidahnya sudah rusak, dan banyak disana ia menghalalkan tawassul yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya, bahkan mengagungkan Rasulullah sampai-sampai menjadikan Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam seolah-olah sebagai ilah atau sebagai Tuhan, dan hal ini adalah sumber dari kesesatan agama Syi’ah, yang mereka mengagungkan Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam melebihi derajat yang Allah turunkan kepada dia (Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam). Syaikh Alwi Al Maliki setelah disuruh taubat oleh para ulama disana ( Saudi maksudnya ). Ia tidak mau taubat dari perbuatan dosanya, Akhirnya pemerintah setempat memutuskan menghukum Syaikh Sayyid Alwi Al Maliki sebagai tahanan rumah. Dan menurut cerita teman saya, suatu ketika ia pernah nekad untuk keluar untuk sholat ied di masjidil haram, dan ketika keluar dari masjidil haram dan para syabab tahu bahwa orang tersebut adalah syaikh yang memiliki dan mendakwahkan aqidah tauhid yang rusak, akhirnya para syabab langsung mengerubungi dia untuk berusaha memukulinya, akhirnya mulai saat itu, pemerintah setempat melarang ia dari sholat id (ditempat umum). Syaikh alwi al maliki menyebarkan kesesatan ajarannya melalui pembangunan ma’had diberbagai tempat dengan nama ma’had “Ar ribath”, dia membungkus kesesatan ajarannya dengan slogan ajaran cinta kepada ahlul bait (allawiyyin) , yang sebenarnya adalah mencela kepada ahlul bait itu sendiri !!!. Ma’had Ar ribath di Mekkah didirikan oleh dia di tempat yang sangat tersembunyi sekali, “laa ya’rifuha illa ahluha” / “tidak ada orang yang tahu kecuali orang – orang yang menginduk kepada ma’had ini”. Sampai saya sendiri pernah mencoba mencari tahu ma’had ar ribath kayak apa ???, tapi tidak ketemu…karena mereka tahu bahwa saya dari jam’iyyah islamiyyah dari penampilan saya. Di Maroko dan Madinah didirikan ma’had ar ribath juga. Santrinya memiliki ciri khas yang sangat unik sekali diantaranya memakai gamis seperti yang saya pakai TETAPI gamis mereka nyapu masjid/lantai (isbal maksudnya ) dan memakai selendang hijau (coba antum teliti, penampilan kyai-kyai NU…niscaya antum akan tahu dengan siapa dia belajar). Sampai-sampai ketika mereka keluar masuk di perkemahan dan hotel-hotel jama’ah haji mereka mengatakan “Kita ini dari Islamic University menawarkan kambing kurban 200 riyal ?” padahal kambing yang kita beli itu harganya 350 riyal. “Sisanya dari mana ? “Sisanya ? Wallahu a’lam bish showab”, Mengapa mereka berani menjual kambing dengan 200 riyal ?, karena mereka menyembelih kambing sebelum hari id dengan dalil bahwa (kata mereka) madzab Syafi’iyyah membolehkannya. Padahal tidak ada madzab syafi’i yang membolehkannya !!!. Kemudian habis itu ya ikhwan…ciri-cirinya mereka itu, Masya Allah…kelihatannya mereka iltizam kepada sunnah, padahal mereka itu menindas-nindas dan menguburkan sunnah itu sendiri. Sunnahnya bagaimana? Sunnah yang mereka sering tampakkan adalah hadits yang berbunyi (yang artinya) “Sholat menggunakan siwak itu pahalanya lebih dari 70 kali sholat”, padahal hadits ini adalah hadits yang dho’if !!! Kalaupun seandainya hadits ini adalah hadits yang shohih, maka derajatnya hasanun lighoirihi. Ketika mau sholat, mereka langsung ambil siwak, meskipun imam sudah takbir, mereka tetap sibuk siwak-an, padahal Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam mengatakan “fa idzaa kabbara fakkabaruu..”Apabila ia (imam) bertakbir, bertakbirlah kalian..”. ngga’ usah pakai ushalli…ngga’ usah pakai siwak. Adapun mengenai murid-muridnya …Murid-muridnya banyak sekali bertebaran di Indonesia, bahkan sekarang ini banyak dan lebih banyak lagi, mereka membuat jam’iyyah lanjutan setelah Ma’had Ar Ribath…yaitu Jam’iyyah Al Ahqaf. Apel siaganya tiap pagi adalah…keliling kuburan syaikh mereka. Oleh karena tidak pantas mereka menisbatkan pesantrennya kepada salafiyyah, karena salafiyyah adalah ..salafy adalah ashhabunnabi Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam wa ashhabul kiram, itu yang kita nama salafiyah.dan kita tidak menyebut pesantren mereka dengan pesantren salafiyyah !!! Salafiyyah yang mereka (murid Alwi Al Maliki di Indonesia dan Nahdatul ‘Ulama) maksudkan adalah pesantren tradisional, ngajinya pake kitab kuning, mandinya dengan 2 qullah meskipun sudah kotor/butek/keruh airnya sampai-sampai membuat kulit gatal. ( maksudnya orang – orang “salafiyyah” NU mengganggap bahwa air yang telah mencapai 2 qullah tidak dapat ternajisi oleh apapun…padahal pemahaman yang benar tidaklah demikian, baca keterangan Ustadz. Abdulhakim bin Amir Abdat mengenai hadits masalah ini pada As Sunnah edisi 06/tahun VII/1424 H/2003 M hal. 11 )


Nah oleh sebab itu, Ikhwanifillah A’azzakumullah….dikatakan pula Syaikh Alwi Al Maliki ini memiliki ziarah (kunjungan) ke Indonesia setiap satu tahun sekali, ziarahnya langsung ke Jawa Timur, ke tempat para fans nya ( maksudnya bekas muridnya ), Saya orang jawa timur…dan banyak bertemu dengan pengikut-pengikut mereka ini. Bahkan satu cerita mengatakan, Wallahu a’lam cerita ini betul atau tidak…bahkan diantara orang-orang yang diziarahi terutama orang-orang madura… arek-arek situbondo itu…mereka rela menikahkan anaknya dengan syaikh ini, dalam rangka mengambil keturunan habaib. Perlu kita ketahui keturunan habaib tidak ada fungsinya disisi Allah swt kecuali dengan taqwa !!!. Habaib banyak…habaib banyak di Indonesia…yang ngaku habaib …habib…habib…habib, tapi perbuatannya…adalah menyalahi Sunnah Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam, bukan pencinta Rasulullah Shalllallahu ‘Alaihi Wassalam. Katanya habaib juga masih main perempuan… Katanya habaib juga masih jualan tanah surga, katanya…perbuatan macam apa yang dilakukan para habaib seperti ini ???


Ikhwanifillah… antum coba sekarang lihat di Bogor, kebetulan saya waktu itu tinggal di Jakarta dan saya suka ke Bogor…disana ada kuburan yang dikeramatkan milik habib fulan… omzetnya setiap hari atau setiap minggu, melebihi 30 Juta, oleh karena itu mereka tidak mau meninggalkan kerjaan seperti ini…bayangkan 1 minggu dapat 30 juta…bandingkan dengan gaji pegawai negeri…satu minggu dapat berapa ??? belum potongan-potongan yang lain…, yang datang disana juga para pejabat – pejabat, seperti inilah kondisi umat kita, yang mau dibohongi oleh pemuja-pemuja kuburan habaib. Dan parahnya…para prajurit-prajurit alawiyyin (maksudnya murid alwi al maliki) ini banyak mengajar di Pesantren NU, seperti Pesantren Tebu Ireng, Pesantren Kyai As’ad, dan Pesantren Ash Shidiqiyyah di Kedoya Jakarta. Ciri-ciri mereka sama…kalau pake gamis, sorbannya/selendangnya berwarna hijau…kalau pake sarung, ngga’ tahu saya ciri-ciriya…(SELESAI TANYA JAWAB )


Sumber : ditranskrip dari CD Dakwah Bedah Buku Intensif 2004 CD-3, Sesi tanya jawab (kajian tanggal 13 Dzulhijjah 1424 H) dengan Ustadz Ali Saman Hasan, Lc (Alumni Univ. Islam Madinah, sekarang mengajar di Ma’had Al Irsyad Tengaran, Salatiga )


Wallahu Ta'ala 'alam wal musta'aan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.