-->

24 Agustus 2012

(PENTING !!!) 50 SOAL DAN JAWABAN DALAM PERMASALAHAN AQIDAH



DITULIS OLEH AL-IMAM MUHAMMAD BIN SULAIMAN AT-TAMIMI RAHIMAHULLAHU TA’ALA

Bismillaah...


Luangkanlah waktu barang sejenak untuk membaca ilmu agama ini... Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang senang akan ilmu agama dan beruntung di sisi-Nya...




Soal 1 : 

Apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh seorang manusia?

Jawab :

Pengetahuan seorang hamba mengenai Rabbnya, agamanya dan nabinya Muhammad صلّى اللّه عليه و سلّم.




Soal 2 :

Siapakah Rabbmu ?

Jawab :

Rabbku adalah Allah yang mentarbiyahku dan yang mentarbiyah seluruh alam semesta dengan nikmatNya, dan Dia adalah sesembahanku tidak ada sesembahan bagiku selainNya, dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2}

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. {al-Fatihah :2}

Dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk dan saya salah-seorang dari makhluk tersebut.




Soal 3 :

Apakah makna Rabb?

Jawab :

Yang menguasai, Yang disembah, Yang mengatur segala sesuatu dan Dia adalah yang berhak untuk diibadahi.




Soal 4 :

Dengan apakah engkau mengetahui Rabbmu ?

Jawab :

Saya mengetahuiNya dengan tanda-tanda kekuasaanNya dan ciptaan-ciptaanNya, dan dari tanda-tanda kekuasaanNya adalah malam, siang, matahari dan bulan, dan dari ciptaan-ciptaanNya adalah langit yang tujuh dan makhluk yang ada di dalamnya serta bumi yang tujuh dan makhluk yang ada di dalamnya dan apa-apa yang terdapat di antara keduanya, dan dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَمِنْ ءَايَاتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَتَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلاَلِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ {37}

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah. {Fushshilat : 37}

Dan firman Allah Ta’ala :

إنَّ رّبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأمْرِهِ ألاّ لّهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {54}

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. {al-A’raaf : 54}




Soal 5 :

Apa Agamamu ?

Jawab :

Agamaku Islam, dan Islam adalah tunduk dan patuh kepada Allah semata.

Dan dalil tentangnya adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ {19}

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. {Ali ‘Imran : 19}

Dan dalil yang lain adalah firman Allah Ta’ala :

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ {85}

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. {Ali ‘Imran : 85}

Dan dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. {al-Maidah : 3}




Soal 6 :

Dibangun di atas apakah agama ini ?

Jawab :

Dibangun di atas lima rukun, yang pertama adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammadصلى الله عليه و سلم hambaNya dan RasulNya, kedua engkau mendirikan sholat, ketiga engkau menunaikan zakat, keempat engkau berpuasa di bulan Ramadhan dan yang kelima engkau beribadah haji ke Baitullah jika mampu untuk melakukannya.




Soal 7 :

Apakah iman itu?

Jawab :

Bahwasanya engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdirNya yang baik dan yang buruk berdasarkan dalil firmanNya Ta’ala :

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Rasul-RasulNya. {al-Baqarah : 285}




Soal 8 :

Dan apakah ihsan itu ?

Jawab :

Yaitu bahwasanya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu dan dalil tentangnya adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ {128}

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. {an-Nahl : 128}



Soal 9 :

Siapakah nabimu ?

Jawab :

Nabiku adalah Muhammad صلّى الله عليه وسلّم bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, dan Hasyim dari suku Quraisy, dan Quraisy dari bani Kinanah, dan Kinanah dari orang Arab, dan orang arab termasuk keturunan Isma’il bin Ibrahim, dan Isma’il merupakan anak dari Ibrahim, dan Ibrahim merupakan keturunan Nuh, عليهم الصلاة و السلام.




Soal 10 :

Dengan apakah beliau diangkat menjadi nabi ? dan dengan apakah beliau diutus menjadi rasul?

Jawab :

Beliau diangkat menjadi nabi dengan turunnya surat Iqra’, dan diutus menjadi rasul dengan turunnya surat al-Muddatstsir.




Soal 11 :

Apakah mu’jizat nabi Muhammad صلّى الله عليه وسلّم ?

Jawab :

Mu’jizatnya adalah Al-Qur’an yang seluruh makhluk tidak kuasa untuk mendatangkan sebuah suratpun semisalnya, mereka tidak mampu melakukan yang demikian itu beserta kefasihan mereka, dan kekerasan pembuangan mereka serta permusuhan mereka kepada Al-Qur’an dan kepada orang-orang yang ittiba’ (mengikuti)nya. Sebagaiman firman Allah Ta’ala :

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ {23}

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. {al-Baqarah :23}

Dan dalam ayat yang lain, Allah عزّ و جلّ berfirman :

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لاَيَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْكَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا {88}

Katakanlah : “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. {al-Isra’:88}.





Soal 12 :

Apakah dalil bahwasanya beliau seorang utusan Allah ?

Jawab :

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولُُ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ {144}

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. {Ali Imran : 144}

Dalil yang lain adalah firman Allah dalam ayat :

مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. {al-Fat-h : 29}



Soal 13 :

Apakah dalil nubuwwah (kenabian) Muhammad ?

Jawab :

Dalil atas kenabian Muhammad adalah firman Allah Ta’ala :

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. {al-Ahzab : 40}

Ayat ini merupakan dalil bahwa Muhammad صلّى الله عليه وسلّم seorang nabi dan beliau merupakan penutup para nabi.




Soal 14 :

Apakah perkara yang Allah mengutus Muhammad صلّى الله عليه وسلّم dengannya ?

Jawab :

Beribadah kepada Allah semata dan tidak mempersekutukanNya, serta tidak menyembah ilah (sesembahan) yang lain bersama Allah, juga melarang mereka dari beribadah kepada makhluk seperti kepada para malaikat, para nabi, orang-orang sholih, batu dan pohon, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ {25}

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. {al-Anbiyaa’ : 25}

Dan firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. {an-Nahl : 36}

Dan firmanNya :

وَسْئَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ {45}

Dan tanyakanlah kepada Rasul-Rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu : Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”. {az-Zukhruf : 45}

Juga FirmanNya :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. {Adz-Dzaariyaat : 56}

Maka diketahui dengan dalil-dalil tersebut bahwa Allah tidaklah menciptakan makhlukNya melainkan supaya mereka menyembahNya dan mentauhidkanNya, dan mengutus para Rasul kepada hamba-hambaNya yang mereka (para Rasul) memerintahkan manusia dan jin kepada tauhid ini.




Soal 15 :

Apakah perbedaan antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah ?

Jawab :

Tauhid rububiyah : adalah perbuatan Rabb ; misalnya mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikannya, menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan mengatur segala urusan.

Tauhid uluhiyah : adalah perbuatan hamba ; misalnya do’a, khauf, roja’, tawakkal, inabah, roghbah, rohbah, nadzar, istighotsah (yang sesuai as-sunnah tentunya), dan yang selain itu dari macam-macam ibadah.




Soal 16 :

Apakah macam-macam ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah ?

Jawab :

Macam-macam ibadah itu yaitu : Do’a, isti’anah (memohon pertolongan), istighatsah (memohon pertolongan setelah terkena musibah), menyembelih qurban, nadzar, khauf (takut), roja’(berharap), tawakkal, inabah (kembali kepada Alloh), mahabbah (cinta), khasyyah (takut dengan berilmu terhadap sesuatu yang ditakutinya), roghbah (berharap cemas), rohbah (takut), menyembah, ruku’, sujud, khusyu’, tadzallul (merendahkan diri), dan ta’zhim (pengagungan kepada Allah) yang merupakan kekhususan-kekhususan uluhiyah.




Soal 17 :

Maka apakah perintah paling mulia yang Allah memerintahkan dengannya ? Dan larangan yang paling besar yang Allah melarang darinya ?

Jawab :

Perintah paling mulia yang Allah memerintahkan dengannya adalah mentauhidkanNya dalam beribadah, dan larangan yang paling besar yang Allah melarang darinya adalah syirik kepadaNya; yaitu memohon kepada selain Allah, atau bermaksud dengan selain yang diperintahkan itu dari macam-macam ibadah. Barangsiapa yang memalingkan sesuatu dari beberapa macam ibadah itu kepada selain Allah maka dia telah menjadikannya sebagai Rabb dan ilah (sesembahan), dan telah menyekutukan Allah dengan selainNya atau bermaksud kepadaNya dengan selain yang diperintahkan itu dari beberapa macam ibadah.




Soal 18 :

Apakah tiga permasalahan yang wajib mempelajarinya dan beramal dengannya ?

Jawab :

Pertama : Sesungguhnya Allah yang menciptakan kita dan memberi rezeki kepada kita dan tidak meninggalkan kita dengan sia-sia, bahkan mengutus kepada kita seorang Rasul; barangsiapa yang menta’ati Rasul itu maka akan masuk surga, dan siapa yang mendurhakainya maka akan masuk neraka.

Kedua : Sesungguhnya Allah tidak ridha dipersekutukan dengan sesuatupun bersamaNya di dalam beribadah kepadanya, tidak dengan malaikat yang dekat kepada Alloh dan tidak juga dengan nabi yang diutus.

Ketiga : Bahwasanya barangsiapa yang menta’ati Rasul dan mentauhidkan Allah tidak boleh mencintai orang yang membenci Allah dan RasulNya walaupun merupakan kerabat dekat.




Soal 19 :

Apa makna Allah ?

Jawab :

Maknanya adalah yang memiliki uluhiyah dan ubudiyah atas seluruh makhlukNya.




Soal 20 :

Untuk perkara apakah Allah menciptakan engkau ?

Jawab :

Untuk beribadah kepadaNya.




Soal 21 :

Apakah beribadah kepadaNya itu ?

Jawab :

MentauhidkanNya dan menta’atiNya.




Soal 22 :

Apakah dalil tentang hal tersebut ?

Jawab :

Firman Allah Ta’ala :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. {adz-Dzaariyaat : 56}




Soal 23 :

Apakah yang Allah syari’atkan pertama-kali kepada kita ?

Jawab :

Mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, dan dalil atas yang demikian itu FirmanNya Ta’ala :

لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {256}

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. {al-Baqarah : 256}




Soal 24 :

Apakah الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى itu ?

Jawab :

لا إله إلا الله (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah). Dan makna لا إله : (Nafi) menafikan, dan إلا الله : (Itsbat) menetapkan.




Soal 25 :

Apakah maksudnya menafikan dan menetapkan disini ?

Jawab :

Menafikan seluruh apa-apa yang disembah selain Allah dan menetapkan untuk beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagiNya.




Soal 26 :

Apa dalil atas yang demikian itu ?

Jawab :

Firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّأ تَعْبُدُونَ {26}

Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya : “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. {az-Zukhruf : 26}.

Ini merupakan dalil nafi (menafikan).

Dan dalil tentang itsbat (menetapkan) adalah FirmanNya :

إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهدِينِ {27}

Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. {az-Zukhruf : 27}




Soal 27 :

Berapa jumlah thagut-thagut itu ?

Jawab :

Banyak dan pemimpin-pemimpinnya ada lima :

1. Iblis la’natullahu.

2. Orang yang disembah dan dia ridha.

3. Orang yang menyeru kepada manusia untuk beribadah kepada dirinya.

4. Orang yang mendakwakan sesuatu (Mengetahui perkara) dari ilmu ghoib.

5. Dan orang yang menghukumi dengan selain apa-apa yang diturunkan Allah.




Soal 28 :

Apakah amal-amal yang paling utama setelah syahadatain ?

Jawab :

Paling utamanya adalah shalat yang lima waktu, dan terdapat beberapa syarat dan rukun-rukun serta kewajiban-kewajibannya; dan syarat-syarat yang paling besar adalah : Islam, berakal, baligh, tidak berhadats, menghilangkan najis, menutup aurat, menghadap kiblat dan masuknya waktu shalat serta niat.

Dan rukun-rukunnya ada empat-belas : Berdiri bagi yang sanggup mengerjakannya, takbiratul ihram, membaca al-Fatihah, ruku’, bangkit dari ruku’, i’tidal, sujud atas tujuh anggota badan, duduk di antara dua sujud, tumaninah di dalam rukun-rukunnya, tertib, tasyahud akhir dan duduk pada saat tasyahud akhir, bershalawat kepada Nabi صلّى الله عليه وسلّم, dan mengucapkan salam.

Dan kewajiban-kewajibannya ada delapan : seluruh takbir selain takbiratul ihram, mengucapkan subhaana rabbiyal al-adhim ketika ruku’, mengucapkan sami’a Allahu liman hamidah bagi imam dan munfarid (orang yang shalat sendiri), dan mengucapkan rabbanaa wa lakal al-hamdu bagi imam dan ma’mum dan munfarid, dan mengucapkan subhaana rabbiyal al-a’la ketika sujud, dan mengucapkan rabbighfirlii di antara dua sujud, dan tasyahud awal, dan duduk ketika tasyahud awal, dan selain daripada ini maka sunnah ; baik itu ucapan maupun perbuatan.




Soal 29 :

Apakah Allah akan membangkitkan makhluk setelah mati ? Dan akan menghisab mereka atas amal-amal mereka yang baik maupun yang buruk? Dan memasukkan orang yang menta’atiNya ke dalam surga? Dan orang yang ingkar kepadaNya serta mempersekutukan dengan selainNya maka dia di neraka ?

Jawab :

Ya, dan dalilnya Firman Allah Ta’ala :

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {7}

Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan . Katakanlah : “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. {at-Taghaabun : 7}

Dan FirmanNya :

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى {55}

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. {Thahaa : 55}

Dalil-dalil yang seperti ini di dalam Al-Qur’an adalah banyak.




Soal 30 :

Apa hukumnya menyembelih kepada selain Allah ?

Jawab :

Hukumnya adalah kafir yang mengeluarkan dari agama (murtad), tidak boleh dimakan sesembelihannya ; dikarenakannya terkumpul padanya dua penghalang :

Pertama : Sesungguhnya merupakan sesembelihannya orang murtad, dan sesembelihannya orang murtad tidak boleh menurut ijma’.

Kedua : Bahwasanya binatang yang disembelih atas nama selain Allah, sungguh Allah telah mengharamkan yang demikian itu pada FirmanNya :

قُل لآّ أجِدُ فِي مَآ أُوحِىَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلآّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. {al-An’am : 145}




Soal 31 :

Apakah jenis-jenis syirik itu ?

Jawab :

Jenis-jenisnya adalah : meminta hajat-hajat (kebutuhan-kebutuhan) kepada orang yang telah mati, dan beristighatsah kepada mereka dan menyengaja datang kepada mereka. Dan ini adalah pangkal kesyirikan makhluk, karena sungguh telah terputus amalan mayit itu dan dia tidak bisa mendatangkan manfa’at dan mudharat bagi dirinya sendiri, dan juga faedah bagi orang yang beristighosah kepadanya, dan memohon kepadanya agar ia memberikan syafa’at untuknya kepada Allah, dan ini merupakan kebodohan yang ada padanya tentang syaafi’ (yang memberi syafa’at) dan masyfu’ (orang yang diberi syafa’at), karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memberikan kepada seseorang untuk memberikan syafa’at di sisiNya kecuali dengan izinNya dan Allah tidaklah menjadikan permintaan kepada selainNya sebagai sebab untuk izinNya, karena sesungguhnya yang menjadi sebab untuk izinNya adalah kesempurnaan Tauhid, maka adanya kemusyrikan ini adalah dengan sebab tercegahnya izin dari Allah Ta’ala.

Syirik terbagi dua :

1. Syirik yang mengeluarkan dari millah (Agama) dan ini adalah syirik akbar.

2. Syirik yang tidak mengeluarkan dari millah (Agama) dan ini adalah syirik ashghar seperti syirik riya’.




Soal 32 :

Apakah jenis-jenis nifaq itu dan maknanya ?

Jawab :

Nifaq terbagi dua :

1. Nifaq I’tiqodi

2. Nifaq Amali

Nifaq I’tiqodi : Disebutkan di dalam Al-qur’an di beberapa ayat, Allah Ta’ala memastikan kepada pelakunya tempatnya di dasar neraka.

Nifaq Amali : Disebutkan di dalam sabda Rasulullah صلّى عليه و سلّم:

أربع من كن فيه كان منافقًا خالصًا, و من كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق, حتى يدعها : إذا حدث كذب, وإذا عاهد غدر, وإذا خاصم فجر, وإذا اؤتمن خان "

Empat perkara yang apabila terdapat padanya maka dia adalah benar-benar seorang munafiq dan barangsiapa yang padanya terdapat dari sifat-sifat itu maka ada padanya dari sifat nifaq itu, sehingga dia meninggalkannya : Apabila dia berkata berdusta, dan jika berjanji melanggar janjinya, dan jika berbantah-bantahan dia melampaui batas, dan jika diberi amanat maka dia khianat.

Juga seperti sabdanya صلّى عليه وسلّم :

"آية المنافق ثلاث : إذا حدث كذب, وإذا وعد أخلف, وإذا اؤتمن خان"

Tanda munafiq ada tiga : Jika berkata berdusta, dan jika berjanji tidak memenuhi janjinya, dan jika diberi amanat khianat”.

Berkata sebagian ulama : Dan nifaq ini kadang-kadang berkumpul bersama pokok Islam akan tetapi apabila nifaq itu sudah menancap kokoh dan sempurna maka kadang-kadang pelakunya terlepas dari Islam, secara keseluruhan walaupun ia sholat dan shaum, dan dia menyangka bahwa dirinya seorang muslim, karena sesungguhnya iman itu mencegah dari perkara-perkara ini. Maka jika perkara-perkara itu sempurna bagi seorang hamba, dan tidak ada baginya apa-apa yang mencegahnya dari hal-hal nifaq (kemunafikan); maka tak lain dia adalah benar-benar seorang munafiq.




Soal 33 :

Apa tingkatan kedua dari tingkatan-tingakatan Agama Islam ?

Jawab :

Yaitu Iman.




Soal 34 :

Berapa cabangnya iman itu ?

Jawab :

Yaitu lebih dari tujuh puluh cabang; yang paling tinggi adalah ucapan : {لاإله إلا الله} dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu termasuk cabang dari iman.




Soal 35 :

Ada berapa rukun-rukun iman ?

Jawab :

Ada enam : Bahwa engkau beriman kepada Allah, dan para malaikatNya, dan kitab-kitabNya, dan Rasul-RasulNya, dan kepada hari kiamat, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.




Soal 36 :

Apa tingkatan ketiga dari tingkatan-tingkatan Agama Islam ?

Jawab :

Ialah Ihsan, dan hanya ada satu rukun. Yaitu bahwa engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya dan jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Allah melihatmu.




Soal 37 :

Apakah manusia dihisab dan dibalas berdasarkan amal-amal mereka setelah dibangkitkan atau tidak ?

Jawab :

Ya, dihisab dan dibalas sesuai amal-amal mereka dengan dalil Firman Allah Ta’ala :

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَائُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى {31}

Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). {an-Najm : 31}




Soal 38 :

Apa hukumnya orang yang mendustakan kebangkitan setelah mati ?

Jawab :

Hukumnya adalah kafir dengan dalil FirmanNya :

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {7}

Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah : “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan “. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. {at-Taghaabun : 7}




Soal 39 :

Apakah tersisa umat yang tidak diutus oleh Allah kepada mereka seorang Rasul yang memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan menjauhi thaghut ?

Jawab :

Tidak tersisa umat kecuali telah diutus kepadanya seorang Rasul berdasarkan dalil Firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. {an-Nahl :36}




Soal 40 :

Apakah jenis-jenis Tauhid ?

Jawab :

1. Tauhid ar-Rububiyah : yaitu tauhid yang orang-orang kafir pun mengakuinya sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلاَتَتَّقُونَ {31}

Katakanlah : “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab : “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” {Yunus : 31}

2. Tauhid al-Uluhiyah : yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dari seluruh makhluk; sesungguhnya ilah itu pada kalimat orang Arab adalah yang dimaksudkan untuk diibadahi, dan mereka mengatakan sesungguhnya Allah itu adalah ilah dari ilah-ilah yang disembah, akan tetapi mereka menjadikan bersamaNya ilah yang lain misalnya orang-orang sholih dan para malaikat. Dan selain mereka berkata bahwa Allah ridha dengan hal ini dan mereka (orang-orang sholih dan para malaikat) akan memohonkan syafa’at kepada kami disisiNya.

3. Tauhid as-Shifaat : Tidak akan tegak Tauhid ar-Rububiyah dan tidak pula Tauhid al-Uluhiyah kecuali dengan menetapkan sifat-sifat akan tetapi orang-orang kafir itu lebih berakal daripada orang-orang yang mengingkari sifat-sifat.




Soal 41 :

Apa yang wajib bagiku apabila Allah memerintahku dengan suatu perintah ?

Jawab :

Wajib bagimu dengan tujuh tingkatan :

Pertama : Mengilmuinya.

Kedua : Mencintainya.

Ketiga : Bertekad untuk mengerjakan.

Keempat : Amal.

Kelima : Ikhlas dan benar sesuai apa yang disyari’atkan.

Keenam : Berhati-hati terhadap perbuatan yang dapat menghapus amalnya.

Ketujuh : Kontinyu mengamalkannya.




Soal 42 :

Apabila manusia sudah mengetahui bahwa Allah memerintahkan tauhid dan melarang syirik apakah tingkatan-tingkatan ini tertutup juga kepadanya :

Jawab :

Tingkatan pertama : Kebanyakan manusia berilmu bahwasanya tauhid itu hak dan syirik adalah bathil, akan tetapi berpaling dan ia tidak bertanya! Serta mengetahui bahwa Allah mengharamkan riba, tapi menjual dan membeli dan ia tidak bertanya! Dan mengetahui haramnya memakan harta anak yatim serta bolehnya makan secara ma’ruf, tapi mengurus harta anak yatim dan ia tidak bertanya!

Tingkatan kedua : Mencintai apa-apa yang diturunkan Allah dan mengkafirkan orang yang membecinya; maka kebanyakan manusia tidak mencintai Rasul bahkan membencinya dan membenci risalah yang dibawa beliau, walaupun ia mengetahui bahwa Allah yang menurunkannya.

Tingkatan ketiga : Bertekad untuk mengerjakan, dan banyak dari manusia mengetahui dan mencintai akan tetapi tidak bertekad karena takut bisa merubah dunianya.

Tingkatan keempat : Amal, dan banyak dari manusia jika bertekad atau beramal lalu orang yang diagungkan dari kalangan para syaikh menjelaskan kepadanya maka ia meninggalkan amalnya.

Tingkatan Kelima : Banyak sekali dari orang yang beramal tetapi tidak ikhlas, dan jikapun ikhlas maka amalnya tidak benar (Tidak mencontoh Rasulullah صلّى الله عليه وسلّم ).

Tingkatan keenam : Bahwa orang-orang yang sholih merasa takut amal mereka menjadi sia-sia sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

أَن تَحْبَطَ أَعْمَالَكُمْ وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ {2}

Supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. {al-Hujuraat : 2}.

Dan ini adalah sesuatu yang sangat jarang sekali di zaman kita ini.

Tingkatan ketujuh : Kontinyu di atas yang hak dan takut dari su’ul khotimah (kesudahan yang buruk). Dan ini juga merupakan perkara yang paling ditakuti oleh orang-orang yang sholih.




Soal 43 :

Apa makna kufur dan jenis-jenisnya ?

Jawab :

Kufur terbagi dua :

1- kufur yang mengeluarkan dari agama dan ada lima jenis :

Pertama : Kufur karena mendustakan, Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ {68}

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? {al-Ankabut : 68}

Kedua : Kufur karena sombong dan enggan tapi membenarkan. Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ {34}

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. {al-Baqarah : 34}

Ketiga :Kufur karena ragu-ragu, yaitu kufur karena berprasangka, Allah Ta’ala berfirman :

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ…(إلى قوله) : ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلاً {37}

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri… sampai FirmanNya : lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? {al-Kahfi :35 – 37}

Keempat : Kufur karena berpaling, dan dalilnya Firman Allah Ta’ala :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّآ أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ {3}

Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. {al-Ahqaaf : 3}

Kelima : Kufur karena nifaq dan dalilnya Firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ ءَامَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَيَفْقَهُونَ {3}

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. {al-Munaafiquun : 3}

2- Kufur ashghar yang tidak mengeluarkan dari agama, yaitu kufur ni’mat, dan dalilnya adalah Firman Allah Ta’ala :

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ {112}

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. {an-Nahl : 112}

Dan FirmanNya :

إِنَّ اْلأِنسَانَ لَظَلُومُُ كَفَّارُُ {34}

Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah). {Ibrahim : 34}




Soal 44 :

Apakah syirik itu dan apa jenis-jenisnya ?

Jawab :

Ketahuilah bahwa tauhid itu lawannya syirik.

Syirik ada tiga jenis : syirik akbar, dan syirik ashghor, dan syirik khofi.

Jenis yang pertama : Syirik akbar dan terbagi empat :

Pertama : Syiriknya berdo’a, Firman Allah Ta’ala :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ {65}

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). {al-Ankabuut : 65}

Kedua : Syiriknya niat; kehendak dan maksud, Firman Allah Ta’ala :

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ {16}

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nisaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. {Huud : 15-16}

Ketiga : Syiriknya keta’atan, Firman Allah Ta’ala :

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ {31}

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. {at-Taubah : 31}

Keempat : Syiriknya mahabbah (rasa cinta), Firman Allah Ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ للهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ {165}

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). {al-Baqarah : 165}

Jenis yang kedua : Syirik ashghor yaitu riya’, Firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا {110}

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan TuhanNya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada TuhanNya. {al-Kahfi : 110}

Jenis yang ketiga : syirik khofi, dan dalilnya sabda Rasulullah صلّى الله عليه وسلّم :

الشرك في هذه الأمة أخفى من دبيب النمل على الصفاة السوداء في ظلمة الليل

Syirik pada umat ini lebih tersembunyi dari semut yang merayap di atas batu hitam pada gelapnya malam.1




Soal 45 :

Apa perbedaan antara qadar dan qadha’ ?

Jawab :

Al-Qadar القدر pada asalnya adalah mashdar قَدَرَ qadara, kemudian dipakai pada takdir yang maknanya adalah tafshiil (perincian) dan tabyiin (penjelasan), dan dipakai juga kebanyakannya pada takdir Allah untuk sekalian alam sebelum terjadinya.

Adapun qadha’ maka dipakai kepada makna hukum kauni, kepada berlangsungnya takdir-takdir dan apa-apa yang telah ditulis pada kitab-kitab pertama, dan terkadang ini dimutlakkan kepada qadar yang merupakan tafshiil (perincian) dan tamyiiz (pembedaan).

Dan dimutlakkan juga qadar kepada qadha yang merupakan hukum kauni dengan terjadinya takdir-takdir.

Dan qadha dimutlakkan kepada hukum dinii syar’i; Firman Allah Ta’ala :

ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ

Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan {an Nisaa’ : 65}.

Dan qadha dimutlakkan kepada selesai dan tamat sebagaimana FirmanNya :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ

Apabila telah ditunaikan shalat {al-Jumu’ah :10}.

Dan dimutlakkan kepada perbuatan itu sendiri, Firman Allah Ta’ala :

فَاقْضِ مَاأَنتَ قَاضٍ

Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan {Taahaa : 72}.

Dan dimutlakkan kepada pengumuman dan memberi khabar, Firman Allah Ta’ala :

وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil. {al-Israa’ :4}

Dan dimutlakkan kepada kematian, diantaranya perkataan mereka : qadhaa fulan artinya ia mati; Firman Allah Ta’ala :

وَنَادَوْا يَامَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

Mereka berseru: ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” {az-Zukhruf : 77}.

Dan dimutlakkan kepada adanya azab, Firman Allah Ta’ala :

وَقُضِيَ اْلأَمْرُ

Dan diputuskanlah perkaranya. {al-Baqarah :210, Huud : 44}

Dan dimutlakkan kepada tetapnya sesuatu dan sempurnanya, sebagaimana FirmanNya :

وَلاَتَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ

Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu. {Thaahaa : 114}

Dan dimutlakkan kepada putusan dan hukum, sebagaimana FirmanNya :

وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْحَقِّ

Dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil. {az-Zumar : 69}

Dan dimutlakkan kepada penciptaan; sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit. {Fushshilat : 12}

Dan dimutlakkan kepada wajib, sebagaimana FirmanNya :

وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا

Dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. {Maryam : 21}

Dan dimutlakkan kepada perintah dinii, sebagaimana FirmanNya :

أَمَرَ أَلاَّتَعْبُدُوا إِلآًّإِيَّاهُ

Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. {Yusuf : 40}

Dan dimutlakkan kepada sampainya hajat, seperti : Qadhaitu wathri (saya menyampaikan hajatku); dan dimutlakkan kepada melazimkan pihak yang berperkara dengan hukum, dan dimutlakkan kepada makna menunaikan, seperti FirmanNya Ta’ala :

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu. {al-Baqarah : 200}.

Dan qadha pada semua itu adalah mashdar (kata dasar). Iqtadha al-Amru al-Wujuba (perintah menghendaki wajib), dan menunjukkannya. Al-Iqtidha’ ialah ilmu tentang tatacara sistem; dan perkataan mereka : Laa aqdhii minhu al-‘ujbu, berkata al-Ashmai’ : tetap dan tidak berakhir.


Qadar adalah ketentuan Allah terhadap segala sesuatu sejak zaman azali, sedangkan Qadha' merupakan pelaksanaan Qadar ketika terjadi. (Kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris.)




Soal 46 :

Apakah takdir kebaikan dan keburukan secara umum seluruhnya dari Allah Ta’ala atau tidak ?

Jawab :

Takdir dalam kebaikan dan keburukan adalah umum :

فعن علي رضي الله عنه قال : كنا في جنازة في بقيع الغرقد, فأتى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فقعد فقعدنا حوله, و معه مخصرة فنكس, فجعل ينكت بمخصرته, ثم قال : "ما منكم من أحد, ما من نفس منفوسة, إلا وقد كتب الله مكانها في الجنة و النار, و إلا قد كتبت شقية أو سعيدة" قال : فقال رجل : أفلا نمكث على كتابنا وندع العمل ؟ فقال : "من كان من أهل السعادة فسيصير إلى عمل أهل السعادة, و من كان من أهل الشقاوة فسيصير إلى عمل أهل الشفاوة" ثم قرأ : فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى {5} وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى {6} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى {7} وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى {8} وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى {9} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى {10}

Dan dari Ali رضي الله عنه berkata : Ketika kami mengiringi jenazah di pekuburan Baqi Ghorqod, maka datang Rasulullah صلى الله عليه وسلم lalu beliau duduk kemudian kami pun duduk di sekitarnya, Beliau membawa sebuah tongkat dan membalikkannya lalu menghentak-hentakkan tongkatnya itu, kemudian Beliau bersabda : “ Tidaklah seorang pun dari kalian, dan tidaklah dari diri seseorang yang dilahirkan, kecuali sungguh Allah telah tetapkan tempatnya di surga dan neraka, dan sungguh telah ditetapkan celaka atau bahagianya” Berkata Ali : Maka berkata seorang lelaki : Tidakkah kita tinggal pada ketetapan kita dan meninggalkan amal ?

Maka Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda : “Barangsiapa yang telah ditetapkan termasuk golongan yang bahagia maka akan dimudahkan kepada amal golongan yang bahagia, dan barangsiapa yang termasuk golongan yang celaka maka akan dimudahkan kepada amal golongan yang celaka.” Kemudian Beliau membaca ayat : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa {5} dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) {6} maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah {7} Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup {8} serta mendustakan pahala yang terbaik {9} maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar {10} {al-Lail : 5-10}

Dan di dalam hadits disebutkan :

"واعملوا فكل ميسر, أما أهل الشقاوة فييسرون لعمل أهل الشقاوة, و أما أهل ألسعادة فييسرون لعمل أهل السعادة" ثم قرأ : فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى {5} وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى {6} الآيتان.

“Beramallah kalian karena semuanya dimudahkan, adapun golongan yang celaka maka mereka dimudahkan kepada amal golongan yang celaka, dan adapun golongan yang bahagia maka akan dimudahkan kepada amal golongan yang bahagia” kemudian Beliau membaca dua ayat : Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa {5}dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) {6}{al-Lail : 5-6}





Soal 47 :

Apakah makna لا إله إلا الله ?

Jawab :

Maknanya adalah tidak ada yang sesembahan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah, dan dalilnya adalah FirmanNya Ta’ala :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia {al-Israa’ : 23}

Maka FirmanNya : أَلاَّ تَعْبُدُوا (Supaya kamu jangan menyembah)

Adalah makna لا إله ,

Dan FirmanNya : إِلآ إِيَّاهُ (selain Dia)

Adalah makna . إلا الله




Soal 48 :

Tauhid apakah yang diwajibkan Allah kepada para hambaNya sebelum sholat dan shaum ?

Jawab :

Yaitu tauhid ibadah, maka janganlah engkau menyembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, janganlah engkau menyembah Nabi صلى الله عليه و سلم dan jangan pula yang lainnya; sebagaimana FirmanNya Ta’ala :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا {18}

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. {al-Jin : 18}




Soal 49 :

Manakah di antara dua orang ini yang paling utama : Orang miskin yang sabar atau orang kaya yang bersyukur ? Dan apakah batasan sabar dan batasan syukur ?

Jawab :

Adapun permasalahan kaya dan miskin, maka orang yang sabar dan orang yang bersyukur keduanya merupakan orang-orang beriman yang paling utama, tapi yang paling utama dari keduanya adalah orang yang paling takwa, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. {al-Hujuraat : 13}

Adapun batasan sabar dan batasan syukur : masyhur di kalangan ulama bahwa sabar adalah tiadanya keluh-kesah dan syukur ialah bahwa engkau menta’ati Allah dengan nikmatNya yang diberikan Allah kepadamu.




SOAL 50 :

Apa yang engkau wasiatkan kepadaku ?

Jawab :

Yang aku wasiatkan kepadamu dan aku mengajakmu kepadanya : Memahami tentang tauhid dan menelaah kitab-kitab tauhid; karena hal itu menjelaskan hakikat tauhid kepadamu yang Allah telah mengutus RasulNya dengan tauhid itu, dan hakikat syirik yang Allah dan RasulNya telah mengharamkannya dan menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak akan diampuniNya, dan surga diharamkan bagi orang yang melakukannya, serta orang yang mengerjakan perbuatan syirik tersebut terhapus amalannya.

Dan subtansinya adalah dalam mengetahui hakikat tauhid yang Allah telah mengutus RasulNya dengan tauhid ini dan dengannya seseorang menjadi muslim yang terbedakan dari syirik dan pelakunya.



Tulislah untukku perkataan yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepadaku


Pertama apa yang aku wasiatkan kepadamu :

Perhatian terhadap apa yang Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم telah datang dengannya dari sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala; oleh karena hal itu datang darii sisi Allah dengan setiap apa yang dibutuhkan oleh manusia, sebab Allah tidaklah membiarkan sesuatu yang mereka mendekat kepadaNya dan kepada surgaNya kecuali Allah telah memerintahkan mereka dengannya, dan tidaklah sesuatu yang menjauhkan mereka dari Allah dan yang mendekatkan mereka kepada azabNya kecuali Allah telah melarang mereka dan memperingatkan mereka darinya. Maka Allah telah menegakkan hujjah atas makhluknya hingga hari kiamat; dan tidak ada hujjah bagi seorang pun kepada Allah setelah diutusnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم .

Allah عز و جل berfirman tentang hal tersebut dan tentang saudara-saudaranya dari kalangan mursaliin (para rasul Allah سبحانه و تعالى ) :

إِنَّآأَوْحَيْنَآإِلَيْكَ كَمَآأَوْحَيْنَآإِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya. {an-Nissa’ : 163}

Hingga FirmanNya :

لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا {165}

Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. {an-Nisaa’ : 165}

Maka perkara yang paling besar yang Nabi صلى الله عليه و سلم telah datang dengannya dari sisi Allah dan hal pertama yang manusia diperintah dengannya adalah mentauhidkan Allah dengan beribadah kepadaNya saja dan tidak menyekutukanNya, serta mengikhlaskan agama hanya untukNya semata, sebagaimana Firman Allah عز و جل :

يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ {1} قُمْ فَأَنذِرْ {2} وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ {3}

Hai orang yang berkemul (berselimut) {1} bangunlah, lalu berilah peringatan ! {2} dan Tuhanmu agungkanlah {3} {al-Muddatstsir : 1-3}.

Dan makna FirmanNya : وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ {3} (dan Tuhanmu agungkanlah), artinya : Agungkanlah Tuhanmu dengan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya semata tidak ada sekutu baginya. Dan ini sebelum perintah sholat, zakat, shaum, haji dan syari’at-syari’at Islam yang lainnya.

Dan makna : قُمْ فَأَنذِرْ {2} (bangunlah, lalu berilah peringatan !), artinya: Berilah peringatan tentang syirik di dalam beribadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya. Dan ini sebelum peringatan tentang zina, mencuri, riba, menzhalimi manusia dan selain yang demikian itu yang termasuk dosa-dosa besar.

Dan pokok ini adalah pokok-pokok agama yang paling agung dan paling fardhu; dan oleh sebab tujuan inilah Allah menciptakan makhluk, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. {adz-Dzaariyaat : 56}

Dan oleh sebab itu pulalah Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. {an-Nahl : 36}

Dan karena sebab itu pulalah manusia terbedakan antara muslim dan kafir; barangsiapa yang mendatangi Allah pada hari kiamat dan dia seorang muwahid (orang yang bertauhid) dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang mendatangiNya dengan kesyirikan maka dia akan masuk neraka, walaupun dia seorang ahli ibadah. Dan ini adalah makna perkataanmu : {لا إله إلا الله}karena sesungguhnya ilah itu adalah yang diminta dan diharap untuk mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan, juga ditakuti dan bertawakkal kepadaNya.
    • أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

      فَمَن يُرِدِ اللّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّ
      ذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

      "fa may yuridillaahu ay yahdiyahuu yasyrah shadrahuu lil islaam(i), wa may yurid ay yudhillahuu yaj'al shadrahuu dhayyiqan harajan ka'annamaa yashsha'adu fissamaa'(i), kadzaalika yaj'alullaahurrijsa 'alal ladziina laa yu'minuun(a).

      Barangsiapa yg dikehendaki Allah akan mendpt hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya utk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dn sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kpd orang-orang yg tdk beriman"6.125

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.