-->

26 Agustus 2012

Perjanjian Allah Dan Perjanjian Nabi-Nya & Larangan Bersumpah Mendahului Allah




Memasuki pembahasan selanjutnya dalam Kitab Tauhid, penulis ingin menjelaskan mengenai perjanjian Allah dan perjanjian nabi-Nya serta larangan mendahului Allah dalam bersumpah. Janji-janji dan sumpah-sumpah yang seperti apa yang dimaksud oleh beliau?

Tentang Perjanjian Allah Dan Perjanjian Nabi-Nya


Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
"Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." (An-Nahl: 91)

Buraidah menuturkan:
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengangkat seorang komandan pasukan perang atau bataliyon, beliau menyampai-kan pesan kepadanya agar bertakwa kepada Allah dan berlaku baik kepada kaum muslimin yang bersamanya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Serbulah dengan memulai membaca "Bismillah fi Sabilillah" (Dengan asma’ Allah, demi di jalan Allah). Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Seranglah. Dan janganlah kamu menggelapkan harta rampasan perang, jangan mengkhianati perjanjian, jangan mencincang korban yang terbunuh, dan jangan membunuh seorang anak pun.
Apabila kamu mendapati musuh-musuhmu dari kalangan orang-orang musyrik, maka ajaklah mereka kepada tiga perkara, mana yang mereka setujui maka terimalah dan hentikan (menyerang) mereka: Ajaklah mereka kepada Islam; kalau mereka setuju maka terimalah dari mereka, lalu ajaklah mereka berpindah dari daerah mereka ke daerah kaum Muhajirin serta beritahukan kepada mereka bahwa apabila mereka melaksanakan ini mereka mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana hak dan kewajiban kaum Muhajirin Tetapi, kalau mereka menolak untuk berpindah (hijrah) dari daerah mereka, maka beritahukan kepada mereka bahwa mereka akan mendapat perlakuan seperti orang-orang badui (pengembara) dari kalangan kaum muslimin, berlaku bagi mereka hukum Allah , sedang mereka tidak menerima bagian apapun dari ghanimah dan fa’i, kecuali bila mereka berjihad bersama kaum muslimin.
Jika mereka menolak perkara tersebut, maka mintalah kepada mereka untuk membayar jizyah. Kalau mereka setuju, maka terimalah dari mereka dan hentikan (menyerang) mereka. Tetapi jika mereka masih juga menolak perkara-perkara tersebut, maka mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka.

Apabila kamu telah mengepung kubu pertahanan musuhmu, lalu mereka menghendaki agar kamu membuatkan untuk mereka perjanjian Allah dan perjanjian NabiNya, maka janganlah kamu buatkan untuk mereka perjanjian Allah dan perjanjian NabiNya; tetapi buatkanlah untuk mereka perjanjian dirimu sendiri dan perjanjian kawan-kawanmu, karena sesungguh-nya lebih ringan resikonya melanggar perjanjianmu dan perjanjian kawan-kawanmu daripada melanggar perjanjian Allah dan perjanjian NabiNya.

Dan apabila kamu telah mengepung kubu pertahanan musuhmu, lalu mereka menghendaki agar kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, maka janganlah kamu mengeluarkan mereka atas dasar hukum Allah, tetapi keluarkanlah mereka atas dasar hukum yang kamu ijtihadkan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah tindakanmu terhadap mereka itu tepat dengan keputusan Allah atau tidak." [1]

Kandungan Bab Ini

  1. Perbedaan antara perjanjian Allah dan perjanjian NabiNya dengan perjanjian kaum muslimin.
  2. Tuntunan yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu supaya mengambil alternative yang lebih ringan resikonya dalam dua perkara tersebut.
  3. Etika dalam berjihad, yaitu supaya menyerbu dengan dimulai membaca "Bismillah fi Sabilillah".
  4. Disyariatkan untuk memerangi orang-orang yang kafir kepada Allah.
  5. Supaya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah dalam berperang melawan orang-orang kafir.
  6. Perbedaan antara hukum Allah dan hukum ijtihad para ulama.
  7. Dalam situasi yang diperlukan, seperti tersebut dalam hadits, disyariatkan kpada komandan atau pemimpin untuk memutuskan hukum dengan menyatakan
    dari ijtihadnya; hal itu demikian, dikhawatirkan hukum yang diputuskannya
    tersebut tidak sesuai dengan hukum Allah ‘Azza wa Jalla.


Larangan Bersumpah Mendahului Allah


Jundab bin Abdullah menuturkan Raululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada seorang laki-laki berkata: "Demi Allah, Allah tidak mengampuni siFulan"; maka firman Allah: "Siapakah yang bersumpah mendahuluiku bahwa aku tidak mengampuni si fulan? Sungguh aku telah mengampuninya dan menghapus amalmu". [2]

Dan disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa orang yang
bersumpah demikian adalah orang yang ahli ibadah. Kata abu Hurairah:"Ia telah mengucapkan perkataan yang telah membinasakan dunia dan akhiratnya". [3]


Kandungan Bab Ini

  1. Diperingatkan untuk tidak bersumpah mendahului Allah
  2. Hadits di atas menunjukkan bahwa neraka lebih dekat kepada seseorang daripada tali sandalnya sendiri
  3. Demikian halnya surga
  4. Sebagai buktinya lagi, perkataan Abu Hurairah: "Ia telah mengucapkan perkataan yang membinasakan dunia dan akhiratnya."
  5. Bahwa seseorang dapat diberi ampunan oleh Allah karena suatu sebab dari perkara yang dibencinya

Catatan Kaki

[1] Hadits Riwayat Muslim
[2]HR Muslim.
[3] HR Ahmad dan Abu Dawud.

Keagungan Dan Kekuasaan Allah ‘Azza Wa Jalla


Inilah bab terakhir dari Kitab Tauhid, penulis menjelaskan betapa besar keagungan dan kekuasaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala miliki. Simak khabar-khabar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam mengenai (sebagian) kekuasaan Allah pada hari Kiamat. Juga, kedudukan-Nya dan ‘Arsy-Nya dengan bumi, langit dan alam semesta.

Keagungan Dan Kekuasaan Allah ‘Azza Wa Jalla  [1]


Firman Allah ‘Azza wa Jalla :  “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)

Ibnu Mas’ud menuturkan:
“Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami)
bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Allah berfirman: "Akulah Penguasa."

Tatkala mendengarnya, tersenyumlah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu; kemuliaan beliau Shallallahu’alaihi wa sallam membacakan firman Allah:
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari Kiamat…" dst.


Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim:
"… gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian digoncangkanNya dan Dia-pun berfirman: "Aku-lah Penguasa, Akulah Allah"."

Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Al-Bukhari:
"… meletakkan semua langit di atas satu jari, air serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari…" (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
"Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari Kiamat, lalu diambil dengan Tangan KananNya, dan ber-firman:  "Akulah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?" Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan Tangan KiriNya dan berfirman: "Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?"

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas , ia berkata:
"Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Allah Ar-Rahman, tiada lain hanyalah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu."

Ibnu Jarir berkata:
"Yunus menuturkan padaku, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia menuturkan: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Ketujuh langit itu berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagai-kan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai."

Ibnu Jarir berkata pula: "Dan Abu Dzarmenuturkan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
"Kursi itu berada di ‘Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir."

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia menuturkan:
"Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun; antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun; dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun; sedang ‘Arsy berada di atas samudra air itu; dan Allah berada di atas ‘Arsy tersebut, tidak tersembunyi bagi Allah suatu apapun dari perbuatan kamu sekalian." [2]

Dan diriwayatkan dengan lafazh seperti ini oleh Al-Mas’udi dari ‘Ashim dari Abu Wa’il dari ‘Abdullah", demikian dinyatakan Adz-Dzahaby; lalu katanya: "Atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan."

Al-’Abbas bin Abdul Muthalibmenuturkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dengan bumi?" Kami menjawab: "Allah dan RasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Antara langit dan bumi jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya perjalanan 500 tahun, sedang ketebalan masing-masing langit adalah perjalanan 500 tahun. Antara langit yang ke tujuh dengan ‘Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi. Allah di atas itu semua dan tidak tersembunyi bagiNya sasuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam."[3]


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat tersebut di atas. [4]
  2. Pengetahuan-pengetahuan tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana terkandung dalam hadits pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.Mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan tafsiran yang menyimpang dari kebenaran.
  3. Ketika pendeta Yahudi itu menyebutkan pengetahuan tersebut kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam, beliau membenarkannya dan turunlah ayat Al-Qur’an menegaskannya.
  4. Rasulullah tersenyum tatkala mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.
  5. Disebutkan dengan tegas dalam hadits adanya dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit diletakkan di tangan kanan dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat nanti.
  6. Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain itu disebut tangan kiri.
  7. Disebutkan keadaan orang-orang yang berlaku lalim dan berlaku sombong pada hari Kiamat.
  8. Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Allah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang.
  9. Besar (luasnya) Kursi dibanding dengan langit.
  10. Besarnya (luasnya) ‘Arsy dibandingkan dengan Kursi.
  11. ‘Arsy bukanlah Kursi, dan bukanlah samudra.
  12. Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain perjalanan 500 tahun.
  13. Jarak antara langit yang ke tujuh dengan Kursi perjalanan 500 tahun.
  14. Dan jarak antara kursi dengan samudra perjalanan 500 tahun pula.
  15. ‘Arsy, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, berada di atas samudra tersebut.
  16. Allah berada di atas ‘Arsy.
  17. Jarak antara langit dan bumi ini perjalanan 500 tahun.
  18. Masing-masing langit tebalnya perjalanan 500 tahun.
  19. Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dengan permukaannya, jaraknya perjalanan 500 tahun.


Dan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Mengetahui.  Segala puji hanya milik Allah Rabb sekalian alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga dan para sahabatnya.

Catatan Kaki

[1]Dalam Bab terakhir ini, penulis mennyebutkan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan Al Hadits yang menjelaskan keagungan dan kekuasaan Allah, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya Allah saja Tuhan yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia dan hanya milik Alllah dengan segala sifat kesempurnaan dan kemuliaan.
[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud.
[3]  Hadits riwayat Abu Dawud dan Ahli Hadits lainnya.
[4] Ayat ini menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah dan kecilnya seluruh makhluk dibandingkan denganNya; menunjukkan pula bahwa siapa yang berbuat syirik, berarti tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.
________________________

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.