-->

18 Agustus 2012

Selamat Jalan Ramadhan Hadirmu Selalu Ku tunggu di Pintu Hatiku :'(


Satu hal yang mesti direnungkan di akhir Ramadhan ini mengenai amalan yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan. Benarkan amalan tersebut diterima di sisi Allah? Perlu diketahui bahwa kebiasaan para ulama salaf, mereka serius dalam beramal, namun setelah beramal, mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Di akhir bahasan terdapat kata-kata indah dari Ibnu Rajab mengen
ai perpisahan dengan bulan Ramadhan.

Renungan di Akhir Ramadhan


Ibnu Rajab berkata, “Para ulama salafush sholih biasa bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan amal dan bersungguh-sungguh ketika mengerjakannya. Setelah itu, mereka sangat berharap amalan tersebut diterima dan khawatir bila tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam ayat,


وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ


“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang penuh khawatir, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka” (QS. Al Mu’minun: 60).”[1]


‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,


إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ


“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”


Dari Fadholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikanku sekecil biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ


“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”


Malik bin Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih kukhawatirkan daripada banyak beramal.”


Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”


‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”[2]


Adakah yang yakin amalannya di bulan ini diterima …


Shalat tarawih yang dilakukan setiap malam, yakinkah diterima?


Tilawah Al Qur’an setiap malamnya, yakinkah diterima?


Sedekah dan buka puasa, yakinkah diterima?


Kita hanya bisa berharap dan perbanyak do’a, moga Allah menerima setiap amalan kita di bulan Ramadhan dan memperjumpakan kita kembali dengan bulan penuh barokah ini.


Sebagian ulama salaf ada yang berkata, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”


Selamat Jalan Ramadhan


Rangkaian kata-kata perpisahan dengan Ramadhan dari Ibnu Rajab:


Wahai hamba Allah, bulan Ramadhan telah bersiap-siap untuk berangkat.


Tidak ada lagi yang tersisa kecuali saat-saat yang singkat.


Barangsiapa yang telah melakukan kebaikan selama ini, hendaklah ia menyempurnakannya.


Barangsiapa yang malah sebaliknya, hendaklah ia memperbaikinya dalam waktu yang masih tersisa. Karena ingatlah amalan itu dinilai dari akhirnya.


Manfaatkanlah malam-malam dan hari-hari Ramadhan yang masih tersisa,


Serta titipkanlah amalan sholih yang dapat memberi kesaksian kepadamu nantinya di hadapan Al Malikul ‘Alam (Sang Penguasa Hari Pembalasan).


Lepaskanlah kepergian (bulan Ramadhan) dengan ucapan salam yang terbaik:


"Salam dari Ar-Rahman (Allah) pada setiap zaman.


Atas sebaik-baik bulan yang hendak berlalu.


Salam atas bulan di mana puasa dilakukan.


Sungguh ia adalah bulan yang penuh rasa aman dari Ar-Rahman.


Jika hari-hari berlalu tak terasakan.


Sungguh kesedihan hati untuk tak pernah hilang."


Ibnu Rajab berkata pula:


Di mana kepedihan (dan kesedihan) orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang hari Ramadhan? Di manakah duka orang-orang yang shalat pada waktu malam?


Jika demikian keadaan orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan selama Ramadhan, bagaimanakah keadaan orang-orang yang telah merugi pada siang dan malam?


Apakah manfaat tangisan mereka yang melalaikan bulan Ramadhan ini, sementara musibah yang akan menimpanya demikian besar?


Betapa banyak nasihat telah diberikan kepada orang yang malang, namun tidak juga memberikan manfaat untuknya.


Betapa banyak ia telah diajak untuk melakukan perbaikan, namun ia tidak juga menyambutnya.


Betapa sering ia menyaksikan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, namun ia sendiri malah semakin jauh dari-Nya.


Alangkah seringnya berlalu dihadapannya rombongan orang-orang yang menuju kepada-Nya, sedangkan dia hanya duduk berpangku tangan (malas beribadah).


Hingga setelah waktu menyempit dan kemurkaan-Nya telah membayang,


Ia pun menyesali kelalaiannya pada saat penyesalan tidak lagi bermanfaat dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan telah menghilang.


Beliau kembali berkata pula:


Wahai bulan Ramadhan.


Berikanlah belas kasihmu, sementara air mata para pencinta mengalir dengan deras.


Hati mereka (gundah) akibat kepedihan perpisahan terbuai,


semoga detik-detik perpisahan akan memadamkan api kerinduan yang membara.


Semoga saat-saat taubat akan melengkapi kekurangan puasa yang dilakukan.


Semoga pula orang-orang yang telah ketinggalan segera menyusul dan bersama.


Semoga para tawanan dosa segera dilepaskan,


Dan semoga orang (Islam) yang telah dinyatakan masuk Neraka segera dibebaskan.[3]


Selamat jalan Ramadhan.


Semoga Allah memudahkan kita bersua kembali dan moga amalan kita pun diterima di sisi Allah.


Wallahu waliyyut taufiq.




@ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Panggang-Gunung Kidul, 29 Ramadhan 1433 H


www.rumaysho.com


[1] Lathoif Al Ma’arif, hal. 368.


[2] Lathoif Al Ma’arif, hal. 368-370.


[3] Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 380-382.


Nasehat Akhir Ramadhan ,,,!!

NASEHAT UNTUKKU DAN TERUNTUK SAUDARA SAUDARIKU YANG AKU CINTAI KARENA ALLAH ...

Ramadhan hampir meninggalkan kita dan tiada tersisa daripadanya melainkan sedikit saja Berbahagialah orang-orang yang telah berbuat kebaikan dan menutupnya dengan sempurna. Adapun orang-orang yang telah menyia-nyiakannya maka berusahalah untuk menutupnya dengan kebaikan pula, karena yang dinilai dari amal adalah penutupnya.

Umar bin ‘Abdul Aziz berkata tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri,

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari ...
Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya ...
Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima ...

Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.”
Mereka malah mengatakan,
“Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.” [Lathoif Al Ma’arif, 376]

Lantas bagaimana dengan kita ??

Siapa yang bisa menjamin Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima ibadah yang telah kita lakukan dengan bersusah payah di bulan Ramadhan ini ..!!

Siapakah yang bisa menjamin dosa-dosa kita telah terampuni oleh sebab adanya bulan Ramadhan dan berbagai macam ibadah nya yang agung yang telah kita kerjakan ..!!

Siapakah yang bisa menjamin keadaan kita saat beri'edul fithri menjadi seperti anak yang baru terlahir dari rahim ibunya ..!!

Ataukah malah kita termasuk golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadits Nabi sholallahu 'alaihi wa sallam ;

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

"Sungguh sial seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya)." [HR. Tirmidzi]

Saudaraku yang semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosa kita semua ...

Ketahuilah, sungguh diterimanya pahala kita walaupun hanya sebesar biji sawi itu sudah lebih baik daripada dunia seisinya. Kenapa demikian ??
Itu karena tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima amalan kita berarti Allah telah menganggap kita sebagai hamba-hamba Nya yang bertaqwa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman ;

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa." [Al Maidah ;27]

Dan diantara tanda diterimanya amalan kita dibulan Ramadhan adalah apa yang ada pada diri kita sepeninggal Ramadhan.

Sebagian ulama salaf mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417]

Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan membawakan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[Lathoif Al Ma’arif, 394]

Saudaraku yang semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati kita semua ..

Walaupun Ramadhan telah usai bukan berarti tugas kita untuk beribadah dan berada dalam ketaatan kepada Nya juga ikut usai. Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,
”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (batas akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematiannya.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ;

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

"Dan beribadahlah (sembahlah) Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni kematian) [Al Hijr ; 99]

Sebagian salaf ditanya tentang orang yang beribadah dengan tekun saat bulan Ramadhan saja, mereka menjawab ;

بِكْسَ القَوْمُ لاَيَعْرِفُوْنَ اللهَ إِلاَّ فِي رَمَضَانَ

"Sejelek-jeleknya manusia adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya dibulan Ramadhan saja."

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku,

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

"Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” [HR. Bukhori]

Oleh karena nya marilah kita terus lanjutkan kebaikan dan ketaatan yang selama ini telah kita ukir. Relakah kita jika suatu yang kita ukir dengan susah payah sehingga menghasikan sesuatu yang indah lantas kita hancurkan begitu saja.

Mungkin berat bagi kita untuk melakukan ibadah yang semisal kita lakukan selama bulan Ramadhan, mungkin kita hanya sedikit yang bisa kita lakukan, namun kita tidak perlu bersedih, jika amalan tersebut kita lakukan secara kontinu walaupun sedikit itu adalah amalan yang paling dicintai Allah Subahanahu wa Ta'ala. Dari ibunda Aisyah radhiallahu 'anha, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

"Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Ketahuilah bahwa amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (terus menerus) walaupun itu cuma sedikit.”[HR. Muslim]

Saudaraku yang aku cintai karena Allah ,,

Marilah kita perbanyak do'a agar Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan menerima sedikit amalan yang telah kita lakukan pada Ramadhan ini, kalau para salaf dulu yang mereka melakukan amalan seabreg, mereka tidak kurang dari 6 bulan berdo'a agar amalan mereka diterima, apalagi kita yang amalan nya hanya secuil dari amalan mereka.

Akhirnya kita berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar Dia menerima segala ibadah yang telah kita lakukan selama bulan Ramadhan serta mengampuni kita dan menjadikan kita layaknya seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

اللهم تقبل منا صيامنا و صلاتنا و صدقتنا وجامع أعمالنا الصالح واغفرلنا إنك الغفور الرحيم

Ya Allah terimalah puasa kami, sholat kami, shodaqoh kami dan segala amal sholih kami serta ampunilah kami karena Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Washolallahu 'ala nabiyina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbih wa sallama tasliman katsira
 

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.