-->

28 Agustus 2012

Kesesatan Ke-5: Wahdah Islamiyah Membolehkan Berbilangnya Jamaah


Kemudian kesesatan yang kelima, mereka membolehkan berbilangnya jama’ah, membolehkan berkelompok-kelompok. Mungkin ada yang tidak percaya dengan fakta ini, tetapi ini dari tulisan Wahdah Islamiyah yang berjudul Ahammiyatul Jamâ’ah wat Tanzhim (Pentingnya Jama’ah dan Tanzhim). Dalam buku ini ada satu bab pembahasan “Bagaimana Kita Komitmen dengan Jama’ah”, disebutkan cara komitmen dengan jama’ah itu 4 poin, di poin yang ketiga mereka mengatakan: “Apabila ada jama’ah yang komitmen (Khilafah Islamiyah) maka wajib atas setiap muslim untuk menaatinya dan tidak boleh mengadakan kudeta kepadanya”. Kemudian katanya: “Poin yang keempat, kalau tidak ditemukan jama’ah yang konsisten dan imam yang syar’i, maka—diberi lagi dua poin di bawahnya: satu, wajib taat kepada pemerintah dalam perkara yang ma’ruf; kedua, boleh membentuk jama’ah-jama’ah akan tetapi hak imamnya tidak sama dengan hak imam dalam Khilafah Islamiyah”.
Ini perkataan dengan nash, di lisan, sacara tersurat dan tersirat dipahami bahwa mereka membolehkan berbilangnya jama’ah, dan ini adalah dholalun mubin, wa ashlul ashil fi tafriqil ummah (kesesatan yang nyata dan merupakan asal yang paling pokok dalam memecah belah umat). Sebab, seluruh ulama sepakat bahwa tidak boleh berpecah-belah. Umat Islam itu hanya satu jama’ah yaitu jama’ah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Hanya satu kebenaran, tidak boleh membuat partai-partai, kelompok-kelompok dan lain-lainnya.
Banyak dalil tentang tidak bolehnya hal tersebut. Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Âli ‘Imrân: 102)
Larangan, membuat jama’ah-jama’ah, kelompok-kelompok, ini semua mengotak-ngotakkan umat dan membuat umat ini menjadi lemah karena bercerai-berai. Kita menyeru supaya umat ini di atas satu jalan yaitu jalan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Pimpinan kita hanya satu, imam kita hanya satu yaitu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dan juga dalam ayat yang lain:
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Âli ‘Imrân: 105)
Dan di dalam ayat yang lain Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al An’âm: 159)
Dan di dalam ayat yang lain Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:
وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar Rûm: 31-32)
Dan perpecahan ini tercela pada syari’at Islam dan pada seluruh syari’at yang Allah telah turunkan kepada para Nabi-Nya. Di dalam firman-Nya Allah subhânahu wa ta’ala menyatakan:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْه  اللهُ
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS Asy Syûra: 13)
Dan lihat Nabi Musa ‘alaihis salâm ketika beliau datang dari bukit Thur untuk mengambil wahyu selama 40 hari, beliau pulang dan mendapati kaumnya telah menyembah anak sapi. Maka yang ditinggal sebagai penggantinya untuk mengurusi dakwah adalah saudaranya Nabi Harun ‘alaihis salâm, dikisahkan dalam ayat tentang kemarahan Nabi Musa ‘alaihis salâm kemudian Nabu Musa ‘alaihis salâm berkata:
قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا . أَلاَّ تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي. قَال يَا ابْنَؤُمَّ لاَ تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلاَ بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي
“Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah-belah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.”” (QS Thaha: 92-94)
Jadi, perpecahan adalah suatu perkara yang sangat berbahaya. Adapun Wahdah Islamiyah ini dengan sangat jelas dan beraninya menulis selebaran kemudian disebarkan kepada mad’unya kemudian diajarkan dengan judul bolehnya membuat jama’ah-jama’ah. Ini adalah suatu kesesatan yang nyata dengan dalil-dalil dari Al Qur’an itu tadi dan di dalam hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam sangat banyak yang menunjukkan akan ketidakbolehan dan haramnya berpecah-belah.

2 komentar:

tidak benar antum memfitnah/ semua tuduhan semua harus diklarifikasi semua mengandung unsur ketidak benaran , ittaqillah ya akhi, maukah kalian memakan bangkai saudara kalian

Selama saya belajar d wi tidak pernah sekalipun ustad-ustad dari wahda mengajak untuk berdakwah membawah nama wahda Islamiyah dan apa yang antum jelaskan di atas sama sekali tidak begitu penjelasannya,

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.