-->

26 Agustus 2012

Kitab Tauhid



Kata Pengantar Penterjemah

Sebagai pembuka pembahasan kitab tauhid, kami hadirkan terlebih dahulu pengantar dari penterjemah buku ini. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukannya. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidlah -menurut tuntunan Islam- yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam Akhirat nanti. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
"Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl: 97)

Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim untuk mempelajarinya. Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan)-Nya dan wahdaniyah (keesaan)-Nya; dan bukan pula sekedar mengenal asma’ dan shifat-Nya.

Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah; bahkan mengakui ke-Esaan dan ke-Mahakuasaan Allah dengan permintaannya kepada Allah melalui Asma’ dan Shifat-Nya. Kaum Jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga mayakini bahwa Tuhan pencipta, pengatur pemelihara dan penguasa alam semesat ini adalah Allah.[1]

Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat Muslim, yang beriman kepada Allah. Dari sini lalu timbul pertanyaan: "Apakah hakikat tauhid itu?"

Tauhid, ialah permunian ibadah kepada Allah; yaitu menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen, dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap, dan takut kepada-Nya.

Untuk inilah sebenarnya manusia itu diciptakan Allah. Dan sesungguhnya, misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut, mulai dari Rasul pertama hingga Rasul terakhir, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam[2].

Maka, buku yang di hadapan pembaca ini mempunyai arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui hakikat tauhid dan kemudian menjadikannya pegangan hidup.

Buku ini ditulis oleh seorang ulama’ yang giat dan tekun dalam kegiatan da’wah Islamiyah. Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Dilahirkan di ‘Uyainah tahun 1115 H (1703 M) dan meninggal di Dar’iyah (Saudi Arabia) pada tahun 1206 H (1792 M).

Keadaan umat Islam -dengan berbagai bentuk amalan dan kepercayaan pada masa hidupnya- yang menyimpang dari makna tauhid, telah mendorong Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bersama para muridnya untuk melancarkan da’wah Islamiyah guna mengingatkan umat agar kembali kepada tauhid yang murni. Maka untuk tujuan da’wahnya, beliau menulis sejumlah kitab dan risalah, di antaranya:
  • Kasyf Asy-Syubuhat
  • Tafsir Al-Fatihah
  • Tafsir Syahadah "An La Ilaaha Illallah"
  • Kitab Al-Kabaair
  • Ushul Al-Iman
  • Fadhl Al-Islam
  • Al-Masa’il al-Lati Khalafa fiha Rasulullah Ahlal Jahiliyah
  • Adab Al-Masy-yi ila Ash-Shalah (‘Ala Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal)
  • Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar
  • Mukhtashar Sirah Ar-Rasul
  • Kitab At-Tauhid, Al-ladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Abid
Buku terakhir inilah yang sekarang terjemahannya ada di tangan pembaca. Dan melalui buku ini, beliau berusaha untuk menjelaskan hakekat tauhid dan penerapannya dalam kehidupan seorang Muslim.


Dalam Bab 1, penulis menjelaskan hakekat tauhid dan kedudukannya; dalam Bab 2 dan 3 menerangkan keistimewaan tauhid dan pahala yang diperoleh darinya; dalam Bab 4 mengingatkan agar takut terhadap perbuatan yang bertentangan dengan tauhid serta membatalkannya (syirik akbar) atau perbuatan yang mengarungi kesempurnaan tauhid (syirik Ashghar); dalam Bab 5 menjelaskan kewajiban berdakwah kepada tauhid; dalam Bab 6 menjelaskan tafsiran tauhid dan syahadat "La ilaha Illallah".

Upaya pemurnian tauhid tidak akan tuntas hanya dengan menjelaskan makna tauhid, akan tetapi harus dibarengi dengan penjelasan tentang hal-hal yang dapat merusak dan menodai tauhid. Untuk itu, pada bab-bab berikutnya, penulis berusaha menjelaskan berbagai macam bentuk tindakan dan perbuatan yang dapat membatalkan atau mengurangi kesempurnaan tauhid dan menodai kemurniannya, yaitu apa yang disebut syirik, baik syirik akbar maupun syirik ashghar, dan hal-hal yang tidak termasuk syirik tetapi dilarang Islam karena menjurus dan bisa mengakibatkan syirik, disertai pula dengan keterangan tentang latar belakang histories timbulnya syirik.

Terakhir, penulis menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan keagungan dan kekuasaan Allah, untuk menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang paling berhak dengan segala bentuk ibadah yang dilakukan manusia dan Dia-lah Tuhan yang memiliki segala sifat kemuliaan dan kesempurnaan.

Satu hal yang unik dalam metode pembahasan buku ini, bahwa penulis tidak menerangkan atau membahas tauhid dengan cara yang lazim kita kenal dalam buku-buku masa kini. Pada setiap bab, penulis hanya menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits serta pendapat-pendapat ulama salaf, kemudian beliau menjabarkan bab-bab itu dengan menyebutkan permasalahan-permasalahan penting yang terkandung dan tersirat dari dalil-dalil tersebut.

Akan tetapi, justru dengan demikian itulah, buku ini menjadi lebih penting, sebab pembahasannya mengacu kepada Kitab dan Sunnah yang menjadi sumber hukum bagi umat Islam. Mengingat amat ringkasnya beberapa permasalahan yang dijabarkan oleh penulis, maka dengan memohon taufiq Allah, penerjemah memberikan sedikit keterangan dan penjelasan dengan diapit oleh dua tanda kurung siku "[..]" atau melalui catatan kaki.

Apa yang diharapkan oleh penulis bukanlah sekedar mengerti dan memahami, tetapi lebih dari pada itu, yaitu: suatu sikap dan pandangan hidup tauhidi yang tercermin dalam keyakinan, tutur kata dan amalan. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita dalam usaha mewujudkan ibadah kepada Allah dengan semurni-murninya.

Hanya kepada Allah kita menghamba dan hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
______________________

Catatan Kaki

[1] Lihat Al-Qur’an 38:82; 31:25; 23:84-89.

[2] Lihat Al-Qur’an 16:36; 21:25; 7:59,65,73,85 dll.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.