-->

26 Agustus 2012

Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang Shalih Dan Tindakan Rasulullah Untuk Melindungi Tauhid.


Melanjutkan pambahasan Kitab Tauhid, judul di atas adalah penggabungan judul 2 bab. Karena masing-masingnya agak sedikit, maka kami gabungkan. Keduanya menjelaskan dan menguatkan pembahasan sebelumnya agar kita lebih yakin dan pemahaman yang kuat tertanam dalam dada kita.

Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang-Orang Shalih, Akan Menjadikannya Sebagai Berhala Yang Disembah Selain Allah

Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kuburan
nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanad-nya dari Sufyan dari Manshur, bahwa berkenaan dengan ayat, “Terangkanlah kepadaku (wahai kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah): Al-Lata, dan Al-’Uzza;…” (An-Najm: 19).
Mujahid mengatakan, “Al-Lata adalah orang yang dahulunya mengadukkan tepung (dengan air atau minyak) untuk para jama’ah haji. Setelah meninggal, mereka pun senantiasa mendatangi kuburannya.”

Demikian pula tafsiran Ibnu ‘Abbas sebagaimana dituturkan oleh Abul Jauza’, “Dia itu pada mulanya adalah orang yang mengadukkan tepung untuk para jama’ah haji.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata,”Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan serta orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi penerangan lampu di atas kuburan.” (Hadits riwayat para penulis Kitab Sunan).


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran berhala.[1]
  2. Tafsiran tentang ibadah.[2]
  3. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan do’anya itu, tiada lain hanya memohon kepada Allah supaya dihindarkan dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi [pada umatnya sebagaimana yang telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, yaitu: sikap berlebihan terhadap kuburan beliau yang akhirnya kuburan beliau akan menjadi berhala yang disembah].
  4. Dalam do’anya itu, beliau shallallahu’alaihi wa sallam sebutkan pula perbuatan menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.
  5. Bahwa Allah sangat murka [terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.]
  6. Di antara masalah yang sangat penting untuk dijelaskan dalam bab ini ialah pengetahuan historis tentang penyembahan Al-Lata, berhala terbesar orang-orang Jahiliyah.
  7. Berhala ini asal usulnya kuburan orang yang shalih, [yang diperlakukan secara berlebihan dengan senantiasa dikunjungi oleh mereka].
  8. Al-Lata adalah nama orang yang dikuburkan itu, yang pada mulanya adalah seorang pengaduk tepung untuk para jama’ah haji.
  9. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat wanita penziarah kubur.
  10. Beliau juga melaknat orang-orang yang memberi penerangan lampu di atas kuburan.


Tindakan Rasulullah Untuk Melindungi Tauhid Dan Menutup Setiap Jalan Menuju Syirik


Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (At-Taubah: 128).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan, dan janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, tetapi ucapkanlah shalawat untukku karena sesungguhnya ucapan shalawatmu sampai kepadaku di manapun kamu berada.”[3]

Dalam hadits lain, Ali bin Al-Husein menuturkan bahwa ia melihat seseorang datang ke salah satu celah pada kuburan Nabi lalu masuk ke dalamnya dan berdo’a. Maka ia pun melarang orang itu dan berkata, ”Maukah kamu aku beritahu sebuah hadits yang aku dengar dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah? Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan, (tetapi ucapkanlah doa salam kepadaku) karena sesunguhnya doa salammu sampai kepadaku dimana pun kamu berada. (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mukhtarah).


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surat At-Taubah. [4]
  2. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dan menjauhkan mereka sejauh-jauhnya dari syirik, serta beliau telah menutup setiap jalan yang menjurus kepada syirik.
  3. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi kita, dan amat belas kasihan lagi penyayang.
  4. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang untuk menziarahi kuburannya dengan cara tertentu. [yaitu dengan menjadikannya sebagai tempat perayaan],  padahal ziarah ke kuburan beliau termasuk amalan yang amat baik.
  5. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang untuk memperbanyak ziarah kubur.
  6. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menganjurkan untuk melakukan shalat sunnah di rumah.
  7. Telah menjadi ketetapan di kalangan kaum Salaf bahwa menyampaikan shalawat untuk Nabi tidak perlu masuk ke dalam kuburannya.
  8. Alasan bahwa ucapan shalawat dan salam dari seseorang untuk beliau akan sampai kepada beliau, di manapun ia berada. Maka tidak perlu harus mendekat sebagaimana diduga oleh orang yang menghendaki demikian.
  9. Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam di alam Barzakh, ditunjukkan kepada beliau amal umatnya yang berupa shalawat dan salam untuknya.

Catatan Kaki

[1] Berhala ialah sesuatu yang diagungkan selain Allah, seperti kuburan, batu, pohon dan sejenisnya.

[2] Mengagungkan kuburan dengan dijadikan sebagai tempat melakukan ibadah, adalah termasuk pengertian ibadah yang dilarang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

[3] Hadits riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan, dan para perawinya tsiqat.
[4] Ayat ini, dengan sifat-sifat yang disebutkan di dalamnya untuk pribadi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, menunjukkan bahwa beliau telah memperingatkan umatnya agar menjauhi syirik, yang merupakan dosa paling besar, karena inilah tujuan utama diutusnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Hukum Sihir


Memasuki bab selanjutnya dalam pembahasan Kitab Tauhid, penulis ingin menjelaskan secara singkat mengenai seputar hukum sihir. Bagaimana definisi sihir serta hukumnya?

Hukum Sihir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” (Al-Baqarah:102)

“Mereka percaya kepada jibt dan thaghut.” (An-Nisa’: 51)

Menurut ‘Umar, “Jibt ialah sihir, sedangkan thaghut ialah setan.”

Kata Jabir,”Thaghut-thaghut ialah para tukang ramal yang didatangi setan; pada setiap kabilah ada seorang tukang ramal. “

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada penghancuran." Para sahabat bertanya, "Apakah ketuhuh perkara itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, Yaitu Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot (desersi) dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mu’minah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak ada tahu menahu dengannya.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan hadits marfu’ dari Jundab, “Hukuman bagi tukang sihir ialah dipenggal lehernya dengan pedang.” [1]

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Bajalah bin ‘Abdah, ia berkata,
"Umar bin Khaththab telah menetapkan perintah, yaitu: Bunuhlah tukang sihir laki-laki maupun perempuan." Kata Bahjah selanjutnya, "Maka kami pun melaksanakan hukuman mati terhadap tiga tukang sihir perempuan."

Dan diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Hafshah telah memerintahkan agar seorang budak perempuan miliknya yang telah menyihirnya dihukum mati, maka dilaksanakanlah hukuman tersebut terhadap budak perempuan itu. Demikian pula diiwayatkan dari Jundab.

Kata Imam Ahmad, “Diriwayatkan dalam hadits shahih, bahwa hukuman mati terhadap tukang sihir telah dilakukan oleh tiga orang sahabat Nabi.[2]


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surat Al-Baqarah.[3]
  2. Tafsiran ayat dalam surah An-Nisa’. [4]
  3. Pengertian jibt dan thaghut, serta perbedaan antara keduanya.
  4. Thaghut, bisa jadi jenis jin dan bisa jadi dari jenis manusia.
  5. Mengetahui tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran, yang telah dilarang secara khusus.
  6. Tukang sihir adalah kafir.[5]
  7. Tukang sihir dihukum mati tanpa diminta untuk bertaubat.
  8. Jika praktek sihir telah ada di kalangan kaum muslimin pada masa khalifah Umar, bisa dibayangkan bagaimana pada masa sesudahnya?

Catatan Kaki

[1] Hadits riwayat At-Tirmidzi, dan katanya, "Yang benar, hadits ini adalah mauquf."
[2] Mereka itu adalah, ‘Umar, Hafshah dan Jundab.
[3] Ayat pertama menunjukkan bahwa sihir haram hukumnya dan pelakunya kafir; disamping mengandung suatu ancaman berat bagi orang yang berpaling dari Kitabullah dan mengamalkan amalan yang tidak bersumber darinya.
[4] Ayat kedua menunjukkan bahwa ada di antara umat ini yang beriman kepada sihir (jibt), sebagaimana Ahli Kitab beriman kepadanya; Dan karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa akan ada di antara umat ini yang mengikuti (dan meniru) umat-umat sebelumnya.
[5] Tukang sihir menjadi kafir karena dua sebab: pertama, menggunakan setan; dan kedua, karena mengaku tahu perkara ghaib.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.