-->

26 Agustus 2012

Faktor Yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir Dan Meninggalkan Agama Mereka




Melanjutkan pembahasan Kitab Tauhid, penulis menjelaskan mengenai penyebab pertama kali munculnya kesyirikan yang terjadi secara umum, yaitu terjadi karena sikap berlebihan kepada orang-orang shalih. Simak firman Allah yang langsung ditafsirkan oleh ulama’ dan hikmah-hikmah apa saja yang terkandung dalam bab ini.

Faktor Yang Menyebabkan Manusia Menjadi Kafir Dan Meninggalkan Agama Mereka, Yaitu Sikap Yang Berlebihan Kepada Orang-Orang Shalih

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (An-Nisa’:171).

“Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (Nuh: 23)


Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka,
“Dirikanlah patung-patung pada tempat yang pernah diadakan pertemuan di sana oleh mereka, dan namailah patung-patung itu dengan nama-nama mereka”.
Orang-orang itu pun melaksanakan bisikan setan tersebut, tetapi patung-patung mereka ketika itu belum disembah. Hingga orang-orang yang mendirikan patung itu meninggal dan ilmu agama dilupakan orang, barulah patung-patung tadi disembah.

Ibnul Qayyim[1] mengatakan, Banyak kalangan salaf yang berkata,
“Setelah mereka itu meninggal, orang-orang pun sering mendatangi kuburan mereka, lalu membikin patung-patung mereka; kemudian, setelah masa demi masa berlalu, akhirnya disembahlah patung-patung tersebut.”

Diriwayatkan dari ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (‘Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, "Abdullah wa Rasuluhu" (Hamba dan RasulNya).” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,“Jauhilah oleh kalian sekalian sikap berlebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang menghancurkan umat-umat sebelum kamu.” [2]


Muslim meriwayatkan dari Ibnu Ma’ud bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Binasalah orang-orang yang berlebihan tidakannya. (beliau sebutkan
kalimat ini sampai tiga kali).”


Kandungan Bab Ini
  1. Bahwa orang yang memahami bab ini dan kedua bab berikutnya, akan jelas baginya keterasingan Islam; dan akan melihat betapa kuasa Allah itu merubah hati manusia.
  2. Mengetahui bahwa mula pertama syirik yang terjadi di muka bumi ini adalah karena sikap yang tidak benar terhadap orang-orang shalih.
  3. Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat orang-orang sehingga ajaran Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya. Padahal para nabi itu, sebagaimana diketahui adalah utusan Allah.
  4. Diterimanya hal-hal bid’ah, padahal syari’at Ilahi dan fitrah murni manusia menolaknya.
  5. Faktor yang menyebabkan itu semua adalah percampur-adukan antara al-haq dan al-bathil. Adapun yang pertama, ialah rasa cinta kepada orang-orang shalih. Sedangkan yang kedua adalah tindakan yang dilakukan sejumlah orang berilmu dan beragama dengan maksud untuk sesuatu kebaikan, tetapi orang-orang yang datang sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.
  6. Tafsiran ayat dalam surat Nuh.[3]
  7. Watak manusia bahwa al-haq yang ada dalam dirinya bisa berkurang, sedangkan al-bathil malah bisa bertambah.
  8. Bab ini mengandung suatu bukti bagi kebenaran pernyataan kaum salaf bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran, dan lebih disenangi oleh Iblis dari pada maksiat, karena maksiat masih bisa diampuni, sedangkan bid’ah tidak.
  9. Setan mengetahui tentang dampak yang diakibatkan oleh bid’ah, sekalipun maksud pelakunya adalah baik.
  10. Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap yang berlebihan dalam agama dilarang; dan mengetahui pula dampak yang diakibatkannya.
  11. Bahaya dari perbuatan sering berdiam diri di kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih.
  12. Larangan adanya patung-patung dan hikmah dalam pemusnahannya [untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan].
  13. Kisah tentang kaum Nabi Nuh tersebut mengandung makna besar, dan diperlukan sekali, meskipun sudah dilakukan.
  14. Hal yang paling mengherankan, bahwa mereka [ahli bid'ah] telah membaca kisah ini dalam kitab-kitab tafsir dan hadits dan mengerti arti kalimatnya; tetapi Allah menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh adalah amal ibdah yang terbaik, maka mereka pun berkeyakinan bahwa apa yang dilarang Allah dan RasulNya adalah kekafiran yang menghalalkan darah dan harta.
  15. Dinyatakan bahwa sikap kaum Nabi Nuh yang berlebihan terhadap orang-orang shalih tiada lain karena mengharap syafa’at mereka.
  16. Mereka menduga bahwa inilah maksud orang-orang yang berilmu yang mendirikan patung-patung itu.
  17. Pernyataan penting yang termuat dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (‘Isa) putera Maryam.”
    Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada beliau, yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar-benarnya.
  18. Ketulusan hati beliau shallallahu’alaihi wa sallam kepada kita dengan memperingatkan bahwa akan binasa orang-orang yang berlebihan tidakannya.
  19. Dinyatakan dalam kisah bahwa patung-patung itu baru disembah setelah ilmu [agama] dilupakan. Dengan demikian, dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya apabila hilang.
  20. Bahwa setiap hilangnya ilmu adalah matinya para ulama’.

Catatan Kaki

[1] Abu Abdillah: Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad Az-Zur’I Ad-Dimasyqi, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar dan tokoh gerakan da’wah Islamiyah, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mempunyai banyak karya ilmiah. Dilahirkan tahun 691H (1292 M) dan meninggal tahun 751H (1350M).
[2] Hadits riwayat Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas.
[3] Ayat ini menunjukkan bahwa yang berlebihan dan melampaui batas terhadap orang-orang shalih adalah penyebab terjadinya syirik dan ditinggalkannya tuntunan agama para nabi.

Keterangan Bahwa Ada Di Kalangan Umat Ini Yang Menyembah Berhala


Masih dalam pembahasan selanjutnya, penulis Kitab Tauhid meneruskan penjelasan beliau mengenai khabar dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa akan ada dari ummat Islam yang menyembah berhala dan mengaku Nabi. Nah, bagaimana kabar selengkapnya?

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut,[1] dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.“ (An-Nisa’:51)

“Katakanlah, "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” (Al-Maidah:60).

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." (Al-Kahfi: 21)

Dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk ke liang biawak, niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula.” Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasranikah?" Beliau menjawab, "Lalu siapa lagi?" (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Muslim meriwayatkan dari Tsaubah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya Allah telah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan belahan baratnya. Dan sesungguhnya umatku kekuasaannya akan mencapai belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu. Dan aku diberi perbendaharaan simpanan: Merah dan Putih (Imperium Persia dan Romawi).
Aku meminta kepada Tuhanku untuk umatku agar mereka jangan dibinasakan dengan paceklik yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka. Lalu Tuhanku berfirman,  Hai Muhammad! Bila Aku telah menetapkan sesuatu, maka ketetapan itu tidak akan diubah lagi; dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu mereka dengan paceklik yang berkepanjangan; dan tidak akan menjadikan seorang musuh berkuasa atas mereka dari kaum mereka sendiri, maka nantinya musuh itu tidak akan dapat merampas seluruh negeri mereka sekalipun manusia yang ada di seluruh belahan bumi berkumpul menghadapi mereka, sampai (umatmu itu sendiri) sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Barqani dalam Shahihnya dengan tambahan,
“Dan yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan; dan apabila pertumpahan darah telah menimpa umatku maka tidak akan berakhir sampai hari Kiamat. Kiamat tidak akan terjadi sebelum ada suatu kaum dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan beberapa kelompok dari umatku menyembah berhala. Dan sesungguhnya akan ada di antara umatku tiga puluh pendusta yang semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada lagi sesudahku; (sungguh pun demikian) akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegas membela al-haq dan mendapat pertolongan (dari Allah), mereka tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta’ala.“


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surat An-Nisa’.[2]
  2. Tafsiran ayat dalam surat Al-Maidah.[3]
  3. Tafsiran ayat dalam surat Al-Kahfi.[4]
  4. Masalah penting sekali, yaitu apa pengertian iman kepada jibt dan thaghut disini, apakah sekedar percaya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang-barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya.
  5. [Sebagai buktinya], apa yang dikatakan Ahli Kitab kepada orang-orang Kafir (kaum musyrikin mekah) bahwa mereka lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.
  6. Bahwa iman kepada jibt dan thaghut mesti akan terjadi di kalangan umat ini (umat Islam) sebagaimana ditetapkan dalam hadits dari Abu Sa’ad. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.
  7. Dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa akan terjadi penyembahan berhala di banyak kelangan dari umat ini.
  8. Hal yang amat mengherankan, munculnya orang yang mengaku nabi, seperti Al-Mukhtar[5]; padahal dia mengucapkan dua kalimat syahadat; manyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat ini, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam benar dan bahwa Al-Qur’an benar, padahal disebutkan bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam adalah penutup para nabi.
    Namun demikian pengakuan kenabian Al-Mukhtar dipercayai orang, meskipun jelas kontradisksinya. Ia muncul pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang.
  9. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira bahwa al-haq (kebenaran Allah dan ajaranNya) tidak akan dapat lenyap sama sekali, sebagaimana telah terjadi pada masa lalu; bahkan akan tetap ada golongan yang tegap berpegang teguh dan membelanya.
  10. Tanda utamanya bahwa mereka, sekalipun sedikit jumlahnya, tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menghinakan ataupun menantang mereka.
  11. Bahwa kondisi ini tetap berlangsung sampai hari Kiamat.
  12. Tanda-tanda besar atas kenabian Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang terkandung dalam hadits:
    • Beliau memberitahukan bahw Allah telah membentangkan kepada beliau belahan timur dan belahan barat dan beliau menjelaskan makna hal tersebut; kemudian terjadi seperti yang beliau shallallahu’alaihi wa sallam beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara.
    • Beliau shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan bahwa beliau diberi dua perbendaharaan simpanan.
    • Beliau shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan bahwa doanya untuk umatnya dikabulkan dalam dua perkara, sedangkan perkara yang ketiga tidak dikabulkan.
    • Beliau memberitakan bahwa akan terjadi pertumpahan darah di antara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari Kiamat.
    • Beliau memberitakan bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.
    • Beliau shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan akan munculnya orang-orang yang mengaku sebagai nabi pada umat ini
    • Beliau memberitakan bahwa akan tetap ada segolongan yang tegak membela kebenaran dan mendapatkan pertolongan dari Allah.


Dan semua itu benar-benar terjadi persis seperti yang beliau shallallahu’alaihi wa sallam beritakan, padahal masing-masing berita tersebut sangat di luar jangkauan akal.
  1. Apa yang beliau shallallahu’alaihi wa sallam khawatirkan terhadap umatnya hanyalah para pemimpin yang menyesatkan.
  2. Perlu diperhatikan makna dari penyembahan berhala.

Catatan Kaki

[1] Terdapat beberapa tafsiran dari kalangan Salaf tentang makna kata Jibt, antara lain: berhala, sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthab dan Ka’ab bin Al-Asyraf (kedua orang ini adalah tokoh orang-orang Yahudi di zaman Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).

Dengan demikian pengertiannya umum, namun mencakup makna itu semua, sebagaimana dikatakan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shahihah,
Jibt itu adalah kata-kata yang dapat digunakan untuk berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya…
Demikian halnya dengan thaghut, terdapat beberapa tafsiran yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain: setan, setan dalam wujud manusia, berhala, tukang ramal, Ka’ab al-Asyraf.
Ibnu Jarir Ath-Thabrani, dalam menafsirkan ayat ini, setelah menyebutkan beberapa tafsiran dari ulama Salaf, mengatakan, Jibt dan Thaghut itu ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain Allah, atau ditaati, atau dipatuhi; baik yang
diagungkan itu batu, manusia, ataupun setan.

[2] Ayat ini menunjukkan bahwa apabila orang-orang yang diturunkan kepada mereka Al-Kitab mau beriman kepada JIbt dan Thaghut, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini -yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an- akan berbuat pula seperti yang mereka perbuat, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwasanya akan ada di antara umat ini orang-orang yang berbuat seperti yang diperbuat orang Yahudi dan Nasrani.

[3] Ayat ini menunjukkan bahwa akan terjadi di kalangan umat ini penyembah thaghut sebagaimana telah terjadi penyembahan thaghut di kalangan Ahli Kitab.

[4] Ayat ini menunjukkan bahwa ada di antara umat ini orang yang membangun tempat ibadah di atas atau di sekitar kuburan, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka.

[5] Al-Mukhtar bin Abu ‘Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Termasuk tokoh yang memberontak terhadap kekuasaan Bani ‘Umayyah dab menonjolkan kecintaan kepada Ahlul Bait. Mengaku bahwa ia adalah nabi dan menerima wahyu. Dibunuh oleh Mush’ab bin Az-Zubair pada tahun 67 H (687M).

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.