-->

18 November 2012

Bershalawat dan Do'a Ketika Telinga Berdengung (Derajat Hadits)

Foto: ‎Bershalawat dan Do'a Ketika Telinga Berdengung (Derajat Hadits)
    

Bismillah,

 

Al-Imam Al-Hafizh Abul Qasim Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan hadits berikut :

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرو الْقَطِرَانِيُّ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، ثنا حِبَّانُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَخِيهِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللهُ بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Amr Al-Qathirani, telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hibban bin 'Ali, dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abu Rafi’, dari saudaranya, yaitu 'Abdullah bin Ubaidillah bin Abu Rafi’, dari ayahnya (Ubaidillah bin Abu Rafi’), dari kakeknya (Abu Rafi’, budak Rasulullah), ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka ingatlah aku, dan bershalawatlah atasku, dan katakan: Dzakarallahu bi khairin man dzakarani (Semoga Allah menyebut dengan kebaikan orang yang menyebutku)”. [HR Thabrani, Al-Mu'jam Al-Kabir 1/323]

 

Keterangan para perawi :

 

1. Ahmad bin 'Amr Al-Qathirani. Abu Bakar Ahmad bin 'Amr bin Hafsh bin 'Umar bin An-Nu'man Al-Bashri Al-Kufi Al-Qathirani. Seorang ahli hadits tsiqah, syaikh dari Ath-Thabrani. [Siyar A'lam An-Nubala' 13/506; Ats-Tsiqat no. 12226].

 

2. Abu Ar-Rabi' Az-Zahrani. Sulaiman bin Daud Al-Azdi Al-Ataki Al-Bashri, seorang imam hafizh tsiqah. Wafat tahun 234 H, termasuk thabaqah ke-13. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasa'i. [Siyar A'lam An-Nubala' 10/676-678; Taqribut Tahdzib no. 2556].

 

3. Hibban bin 'Ali. Abu 'Ali Hibban bin 'Ali Al-Anazi Al-Kufi. Al-Bukhari berkata "laisa bi qawi (tidak kuat)", Utsman Ad-Darimi berkata "shaduq", Ibnu Ma'in berkata "shaduq", Ad-Dauraqi berkata "laisa bihima ba'sa (tidak mengapa)", Ibnu Abi Khaitsamah berkata "laisa haditsuhu bi syai' (haditsnya tidak ada apa-apanya)", 'Ali bin Al-Madini berkata "haditsnya tidak dicatat", Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata "banyak salah", Abu Zur'ah berkata "layyin", Abu Hatim berkata "haditsnya dicatat dan tidak dijadikan hujjah", Ibnu Sa'ad dan An-Nasa'i berkata "dha'if", Ad-Daruquthni berkata "matruk", Al-'Ijli berkata "orang Kufah yang shaduq", Al-Bazzar berkata "shalih", Abu Daud berkata "hadits-haditsnya dari Ibnu Abu Rafi' semuanya adalah hadits batil." Kesimpulannya, Hibban bin 'Ali dha'if. Wafat tahun 172 H, termasuk thabaqah ke-11. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 1314; Taqribut Tahdzib no. 1076].

 

4. Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Hasyimi Al-Kufi. Al-Bukhari berkata "munkarul hadits", Ibnu Ma'in berkata "laisa syai' (tidak ada apa-apanya)", Abu Hatim berkata "dha'iful hadits", Ad-Daruquthni berkata "matruk dan tidak dianggap", Ibnu Hajar berkata "dha'if". Termasuk thabaqah ke-9. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 8533; Taqribut Tahdzib no. 6106].

 

5. 'Abdullah bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Madini. Ibnu Hajar berkata "maqbul". Termasuk thabaqah ke-9. Dipakai oleh Muslim dan Nasa'i. [Taqribut Tahdzib no. 3451].

 

6. 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Madani. Ibnu Sa'ad berkata "tsiqah katsirul hadits (haditsnya banyak)", Abu Hatim dan Al-Khathib berkata "tsiqah", Ibnu Hajar berkata "tsiqah". Termasuk thabaqah ke-6. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 6020; Taqribut Tahdzib no. 4288].

 

7. Abu Rafi'. Yang masyhur namanya adalah Ibrahim atau Aslam, maula Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Seorang sahabat Nabi yang mulia. Wafat tahun 40 H, termasuk thabaqah ke-1. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah. [Al-Ishabah 7/136-137; Siyar A'lam An-Nubala 2/16-17].

 

Sanad hadits ini dha'if jiddan karena sebab Hibban bin 'Ali dan Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi'.

 

Al-Hafizh Al-Bazzar meriwayatkan pula dengan sanadnya (no. 3125) :

 

أخبرنا أبو الخطاب : أخبرنا معمر بن محمد : أخبرني أبي عن جدي عن أبي رافع مرفوعا

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Khathab, telah mengkhabarkan kepada kami Mu'ammar bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepadaku ayahku (Muhammad bin 'Ubaidullah) dari kakekku dari Abu Rafi' secara marfu'.

 

Mu'ammar bin Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Hasyimi Al-Madani. Al-Bukhari berkata "munkarul hadits", Al-'Uqaili berkata "haditsnya tidak mempunyai pendukung dan ia tidak dikenal", Yahya bin Ma'in berkata "bukan dari kalangan ahli hadits, begitu pula dengan ayahnya", Abu Hatim berkata "pendusta", Ibnu Hajar berkata "munkarul hadits". Termasuk thabaqah ke-13. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 9448; Taqribut Tahdzib no. 6816].

 

Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (9222) dan Ash-Shaghir (h. 229), Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (2/250), Al-'Uqaili dalam Adh-Dhu'afa (390), Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (25/141/2), Ibnu Asy-Syajari dalam Al-Amali (1/129), Ibnu 'Adi (285/1 dan 2443), Ibnu As-Sunni dalam Al-Yaum wa Al-Lailah (166), Abu Musa Al-Madini dalam Al-Latha'if (6/93/2), Ibnu Abi 'Ashim (62/81) dan Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu'at (3/76), bermuara pada Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' dari saudaranya dari ayahnya dari kakeknya.

 

Ibnu 'Allan dalam Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah syarhu Al-Adzkar An-Nawawiyah (6/198) telah mendha'ifkan hadits ini, seraya menambahkan : telah berkata As-Sakhawi, dikeluarkan pula oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab shahihnya dan sanadnya gharib.

 

Asy-Syaikh Nashirudin Al-Albani memasukkan hadits ini ke dalam hadits maudhu' (As-Silsilah Adh-Dha'ifah 6/137), begitu pula Ibnu Hibban, Ibnu Al-Jauzi, Ibnu 'Adi dan Al-Uqaili. Tetapi Al-Hafizh Al-Haitsami menghasankan jalur sanad Ath-Thabrani, beliau berkata, "dan jalur sanad Ath-Thabrani didalam Al-Kabir adalah hasan" (Majma' Az-Zawa'id 10/138).

 

Kesimpulan :

Setelah melihat jalan-jalan riwayat hadits ini yang tidak terbebas dari cacat yaitu rawi pendusta dan matruk, maka hadits ini adalah hadits dha'if, bahkan ia adalah hadits palsu dan tidak bisa kita amalkan. Dan perlu kita ketahui bahwa perintah bershalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam adalah berdasarkan dalil umum yang telah kita ketahui bersama keshahihannya (Alhamdulillah, dalil-dalil tersebut cukup banyak dan menentramkan hati) dan tidak terbatas ketika telinga sedang berdengung saja melainkan ia berlaku untuk semua keadaan. Oleh karena itu, kita tidak perlu menengok lagi pada hadits-hadits palsu yang tidak menentramkan hati.

 

Catatan Kecil :

Saya belum menemukan apa yang shahih dibaca ketika telinga berdengung, oleh karena itu bila ada yang tahu informasinya agar bisa disharing dan menjadi pengetahuan kita bersama.

 

Allahu a'lamu bishawab. Semoga bermanfaat.

Al-'ilmu 'indallah. Kesalahan berasal dari saya.

 

Sabtu, 29 Ramadhan 1433 H‎


Bismillah,



Al-Imam Al-Hafizh Abul Qasim Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan hadits berikut :



حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَمْرو الْقَطِرَانِيُّ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، ثنا حِبَّانُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَخِيهِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي، وَلْيُصَلِّ عَلَيَّ، وَلْيَقُلْ: ذَكَرَ اللهُ بِخَيْرٍ مَنْ ذَكَرَنِي

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin 'Amr Al-Qathirani, telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hibban bin 'Ali, dari Muhammad bin Ubaidillah bin Abu Rafi’, dari saudaranya, yaitu 'Abdullah bin Ubaidillah bin Abu Rafi’, dari ayahnya (Ubaidillah bin Abu Rafi’), dari kakeknya (Abu Rafi’, budak Rasulullah), ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika berdengung telinga seseorang dari kalian, maka ingatlah aku, dan bershalawatlah atasku, dan katakan: Dzakarallahu bi khairin man dzakarani (Semoga Allah menyebut dengan kebaikan orang yang menyebutku)”. [HR Thabrani, Al-Mu'jam Al-Kabir 1/323]



Keterangan para perawi :



1. Ahmad bin 'Amr Al-Qathirani. Abu Bakar Ahmad bin 'Amr bin Hafsh bin 'Umar bin An-Nu'man Al-Bashri Al-Kufi Al-Qathirani. Seorang ahli hadits tsiqah, syaikh dari Ath-Thabrani. [Siyar A'lam An-Nubala' 13/506; Ats-Tsiqat no. 12226].



2. Abu Ar-Rabi' Az-Zahrani. Sulaiman bin Daud Al-Azdi Al-Ataki Al-Bashri, seorang imam hafizh tsiqah. Wafat tahun 234 H, termasuk thabaqah ke-13. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasa'i. [Siyar A'lam An-Nubala' 10/676-678; Taqribut Tahdzib no. 2556].



3. Hibban bin 'Ali. Abu 'Ali Hibban bin 'Ali Al-Anazi Al-Kufi. Al-Bukhari berkata "laisa bi qawi (tidak kuat)", Utsman Ad-Darimi berkata "shaduq", Ibnu Ma'in berkata "shaduq", Ad-Dauraqi berkata "laisa bihima ba'sa (tidak mengapa)", Ibnu Abi Khaitsamah berkata "laisa haditsuhu bi syai' (haditsnya tidak ada apa-apanya)", 'Ali bin Al-Madini berkata "haditsnya tidak dicatat", Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata "banyak salah", Abu Zur'ah berkata "layyin", Abu Hatim berkata "haditsnya dicatat dan tidak dijadikan hujjah", Ibnu Sa'ad dan An-Nasa'i berkata "dha'if", Ad-Daruquthni berkata "matruk", Al-'Ijli berkata "orang Kufah yang shaduq", Al-Bazzar berkata "shalih", Abu Daud berkata "hadits-haditsnya dari Ibnu Abu Rafi' semuanya adalah hadits batil." Kesimpulannya, Hibban bin 'Ali dha'if. Wafat tahun 172 H, termasuk thabaqah ke-11. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 1314; Taqribut Tahdzib no. 1076].



4. Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Hasyimi Al-Kufi. Al-Bukhari berkata "munkarul hadits", Ibnu Ma'in berkata "laisa syai' (tidak ada apa-apanya)", Abu Hatim berkata "dha'iful hadits", Ad-Daruquthni berkata "matruk dan tidak dianggap", Ibnu Hajar berkata "dha'if". Termasuk thabaqah ke-9. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 8533; Taqribut Tahdzib no. 6106].



5. 'Abdullah bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Madini. Ibnu Hajar berkata "maqbul". Termasuk thabaqah ke-9. Dipakai oleh Muslim dan Nasa'i. [Taqribut Tahdzib no. 3451].



6. 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Madani. Ibnu Sa'ad berkata "tsiqah katsirul hadits (haditsnya banyak)", Abu Hatim dan Al-Khathib berkata "tsiqah", Ibnu Hajar berkata "tsiqah". Termasuk thabaqah ke-6. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 6020; Taqribut Tahdzib no. 4288].



7. Abu Rafi'. Yang masyhur namanya adalah Ibrahim atau Aslam, maula Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Seorang sahabat Nabi yang mulia. Wafat tahun 40 H, termasuk thabaqah ke-1. Dipakai oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah. [Al-Ishabah 7/136-137; Siyar A'lam An-Nubala 2/16-17].



Sanad hadits ini dha'if jiddan karena sebab Hibban bin 'Ali dan Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi'.



Al-Hafizh Al-Bazzar meriwayatkan pula dengan sanadnya (no. 3125) :



أخبرنا أبو الخطاب : أخبرنا معمر بن محمد : أخبرني أبي عن جدي عن أبي رافع مرفوعا

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Khathab, telah mengkhabarkan kepada kami Mu'ammar bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepadaku ayahku (Muhammad bin 'Ubaidullah) dari kakekku dari Abu Rafi' secara marfu'.



Mu'ammar bin Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' Al-Hasyimi Al-Madani. Al-Bukhari berkata "munkarul hadits", Al-'Uqaili berkata "haditsnya tidak mempunyai pendukung dan ia tidak dikenal", Yahya bin Ma'in berkata "bukan dari kalangan ahli hadits, begitu pula dengan ayahnya", Abu Hatim berkata "pendusta", Ibnu Hajar berkata "munkarul hadits". Termasuk thabaqah ke-13. Dipakai oleh Ibnu Majah. [Tahdzibut Tahdzib no. 9448; Taqribut Tahdzib no. 6816].



Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (9222) dan Ash-Shaghir (h. 229), Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin (2/250), Al-'Uqaili dalam Adh-Dhu'afa (390), Ar-Ruyani dalam Al-Musnad (25/141/2), Ibnu Asy-Syajari dalam Al-Amali (1/129), Ibnu 'Adi (285/1 dan 2443), Ibnu As-Sunni dalam Al-Yaum wa Al-Lailah (166), Abu Musa Al-Madini dalam Al-Latha'if (6/93/2), Ibnu Abi 'Ashim (62/81) dan Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhu'at (3/76), bermuara pada Muhammad bin 'Ubaidullah bin Abu Rafi' dari saudaranya dari ayahnya dari kakeknya.



Ibnu 'Allan dalam Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah syarhu Al-Adzkar An-Nawawiyah (6/198) telah mendha'ifkan hadits ini, seraya menambahkan : telah berkata As-Sakhawi, dikeluarkan pula oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab shahihnya dan sanadnya gharib.



Asy-Syaikh Nashirudin Al-Albani memasukkan hadits ini ke dalam hadits maudhu' (As-Silsilah Adh-Dha'ifah 6/137), begitu pula Ibnu Hibban, Ibnu Al-Jauzi, Ibnu 'Adi dan Al-Uqaili. Tetapi Al-Hafizh Al-Haitsami menghasankan jalur sanad Ath-Thabrani, beliau berkata, "dan jalur sanad Ath-Thabrani didalam Al-Kabir adalah hasan" (Majma' Az-Zawa'id 10/138).



Kesimpulan :

Setelah melihat jalan-jalan riwayat hadits ini yang tidak terbebas dari cacat yaitu rawi pendusta dan matruk, maka hadits ini adalah hadits dha'if, bahkan ia adalah hadits palsu dan tidak bisa kita amalkan. Dan perlu kita ketahui bahwa perintah bershalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam adalah berdasarkan dalil umum yang telah kita ketahui bersama keshahihannya (Alhamdulillah, dalil-dalil tersebut cukup banyak dan menentramkan hati) dan tidak terbatas ketika telinga sedang berdengung saja melainkan ia berlaku untuk semua keadaan. Oleh karena itu, kita tidak perlu menengok lagi pada hadits-hadits palsu yang tidak menentramkan hati.



Catatan Kecil :

Saya belum menemukan apa yang shahih dibaca ketika telinga berdengung, oleh karena itu bila ada yang tahu informasinya agar bisa disharing dan menjadi pengetahuan kita bersama.



Allahu a'lamu bishawab. Semoga bermanfaat.

Al-'ilmu 'indallah. Kesalahan berasal dari saya.



Sabtu, 29 Ramadhan 1433 H

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.