-->

19 November 2012

Sisa Mani Keluar dari Farji, Membatalkan Wudhu?


Oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari
tetesairBagaimana hukumnya bila seorang istri saat shalat mengeluarkan sisa mani dari farjinya? Dikarenakan sebelumnya dia berjima’ dengan suaminya. Apakah dia harus membatalkan shalatnya? Dan apakah itu membatalkan wudhu?
and…@hotmail.com
Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari
Alhamdulillah. Perlu diketahui bahwa mani yang keluar dari dzakar (penis) lelaki dan farji (vagina) wanita dalam keadaan terjaga (bukan mimpi) bentuknya ada dua. Pertama, yang keluar (karena syahwat, red) dengan memancar, disertai rasa nikmat dan mengakibatkan futur (lemahnya badan). Inilah yang dinamakan inzal, seperti yang terjadi saat mencapai puncak hubungan suami istri (orgasme). Yang kedua, keluar tanpa disertai sifat-sifat di atas (atau tanpa syahwat, red). Menurut pendapat yang rajih (kuat), yang menimbulkan hadats akbar (besar) -disebut janabah- dan mewajibkan mandi adalah bentuk yang pertama. Itulah yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا
“Jika kalian junub, maka hendaknya kalian bersuci dengan mandi.” (Al-Maa’idah: 6)
Hal ini dikuatkan dengan hadits ‘Ali bin Abu Thalib yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam mengatakan kepadanya:
إِذَا حَذَفْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا تَغْتَسِلْ
“Jika kamu memancarkan mani, maka hendaknya kamu mandi karena janabah. Dan jika keluar tanpa memancar maka jangan mandi.” (Hadits ini dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’, no. 125)
Adapun mani yang keluar dengan bentuk yang kedua hanya menimbulkan hadats ashghar (kecil) dan membatalkan wudhu. Ini adalah madzhab jumhur seperti Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan dibenarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh. Adapun pendapat Asy-Syafi’i bahwa kedua bentuk ini mewajibkan mandi menurut kami adalah pendapat yang marjuh. (Lihat Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, 2/158, karya An-Nawawi, Majmu’ Fatawa, 21/296 dan Asy-Syarhul Mumti’, 1/278-279)
Jadi apa yang dialami oleh wanita sebagaimana pertanyaan di atas, merupakan hadats kecil yang membatalkan wudhu dan shalat, meskipun yang keluar tersebut mani suaminya yang tertampung ketika jima’ (berhubungan dengan suaminya). Ini sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin Zaid radhiyallâhu ‘anhu, Az-Zuhri, Qatadah, Al-Auza’i, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih rahimahumullâh, serta dipilih oleh kalangan Asy-Syafi’iyyah (para pengikut madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i).
Adapun pendapat Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa mani suami yang keluar dari farji istrinya bukan hadats, merupakan pendapat yang lemah. Karena mani tersebut keluar melalui farjinya ditambah lagi bahwa tentunya mani tersebut tidak luput dari percampuran dengan ruthubah (cairan farji wanita) itu sendiri. Bahkan apabila sang istri pun mengalami inzal ketika jima’ maka berarti kedua mani tersebut telah bercampur dan keluar bersama-sama, hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Asy-Syafi’iyyah. (Lihat Majmu’ Syarhil Muhadzdzab, 2/172, karya An-Nawawi, Jami’ Ahkamin Nisa’, 1/78-79)
Wallahu a’lam.
(Dinukil dari Majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 05/Februari 2004/Dzulqa’dah 1424H, kategori: Problema Anda, hal. 55, untuk http://almuslimah.co.nr)

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.