-->

26 Agustus 2012

Nabi Tidak Dapat Memberikan Hidayah, Kecuali Dengan Kehendak Allah


Masih dalam usaha untuk membatalkan pemahaman orang-orang musyrik yang memohon syafa’at, perlindungan serta petunjuk kepada selain Allah (seperti malaikat, Nabi dan orang-orang shalih), penulis Kitab Tauhid menjelaskan juga bahwa Nabi pun tidak berkuasa memberikan hidayah. Beliau membawakan kisah kematian paman Rasulullah.


Nabi Tidak Dapat Memberikan Hidayah, Kecuali Dengan Kehendak Allah
[1]


Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56)

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Ibn Al-Musayyab, bahwa bapaknya berkata,”Tatkala Abu Thalib akan meninggal, datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepadanya dan saat itu ‘Abdullah bin Abu Umayyah serta Abu Jahl berada di sisinya, maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam kepadanya bersabda kepadanya, “Wahai pamanku! Ucapkanlah "La Ilaha Illallah" suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untukmu di hadapan Allah. Tetapi disambut oleh ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl, "Apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?" Lalu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepadanya mengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka pun mengulang-ulangi kata-katanya itu pula. Maka akhir kata yang diucapkannya, bahwa dia masih tetap pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan "La Ilaha Illallah". Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepadanya bersabda, "Sungguh, akan aku mintakan ampunan untukmu, selama aku tidak dilarang." Lalu Allah menurunkan firmanNya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (At-Taubah:113)

Dan mengenai Abu Thalib, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya,“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Kandungan Bab Ini
  1. Tafsiran ayat: "Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi." [2]
  2. Tafsiran ayat: "Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang
    yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik."
    [3]
  3. Masalah penting sekali, yaitu tafsiran sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam, Ucapkanlah, "La Ilaha Illallah", berbeda dengan yang dipahami oleh orang yang mengaku berilmu.[4]
  4. Abu Jahl dan kawan-kawannya mengerti maksud Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tatkala beliau masuk dan bersabda kepada pamannya, Ucapkanlah, "La Ilaha Illallah." Karena itu, celakalah orang yang salah pengertiannya dengan Abu Jahl tentang asas utama Islam.
  5. Kesungguhan dan usaha maksimal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada paman beliau untuk masuk Islam.
  6. Bantahan terhadap orang yang mengatakan ‘Abdul Muththalib dan leluhurnya menganut Islam.
  7. Abu Thalib tidak diberi ampunan oleh Allah Ta’ala ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memintakan ampun untuknya, bahkan beliau dilarang.
  8. Bahaya bagi seseorang yang jika berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berperilaku buruk.
  9. Bahaya mengagung-agungkan leluhur dan orang-orang terkemuka.
  10. "Nama besar" mereka inilah yang menjadikan orang-orang Jahiliyah sebagai tolok ukur kebenaran yang mesti dianut.
  11. Hadits tersebut mengandung suatu bukti bahwa amal seseorang dilihat dari akhir hidupnya; sebab seandainya Abu Thalib mau mengucapkan kalimat Syahadat, niscaya akan berguna dirinya di hadapan Allah.
  12. Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang tersesat itu untuk menerima kalimat tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal pikiran mereka; sebab dalam kisah tadi disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Thalib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan kalimat tauhid, padahal Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sudah berusaha semaksimal mungkin dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya.  Oleh karena kalimat tauhid ini sudah jelas maknanya dan besar konsekwensinya menurut mereka, maka cukuplah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

Catatan Kaki

[1] Bab ini pun merupakan bukti kewajiban bertauhid kepada Allah. Karena apabila Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sebagai makhluk termulia dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, tidak dapat memberi hidayah bagi siapa yang beliau shallallahu’alaihi wa sallam inginkan, maka tiada Sembahan yang haq melainkan Allah, yang memberi hidayah bagi siapa saja yang Dia kehendaki.

[2] Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah masuk Islam hanya di Tangan Allah saja, tiada seorang pun yang dapat menjadikan seseorang menepati jalan kebenaran ini kecuali dengan kehendakNya; dan mengandung bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan bahwa para nabi dan wali dapat mendatangkan manfaat dan menolak mudharat, sehingga diminta untuk memberikan ampunan, menyelamatkan diri dari kesulitan dan untuk kepentingan-kepentingan lainnya.

[3] Ayat ini menunjukkan bahwa haram hukumnya memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik; dan haram pula ber-wala’ (mencintai, memihak dan membela) kepada mereka.

[4] Tafsirannya adalah, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan apa yang menjadi konsekwensinya, yaitu memurnikan ibadah kepada Allah dan membersihkan diri dari ibadah kepada selainNya seperti malaikat, nabi, wali, kuburan, batu, pohon, setan dan lain sebagainya.

Sikap Keras Rasulullah Terhadap Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Sisi Kuburan Orang Shalih


Masih berhubungan dengan pembahasan sebelumnya, penulis Kitab Tauhid ingin menjelaskan lebih lanjut dan secara spesifik mengenai sikap keras Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terhadap pengagungan kuburan orang shalih. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberikan peringatan dan melaknat orang yang melakukannya beberapa saat sebelum beliau meninggal. Bagaimana haditsnya?

Sikap Keras Rasulullah Terhadap Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Sisi Kuburan Orang Shalih; Maka, Bagaimana Jika Orang Shalih itu Disembah

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim), dari ‘Aisyah bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang gereja dengan dupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habsyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau shallallahu’alaihi wa sallam, “Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau seorang hamba yang shalih meninggal, mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah.”

Mereka dihukumi beliau shallallahu’alaihi wa sallam sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau shallallahu’alaihi wa sallam buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan napas. Ketika beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam keadaan demikian itulah, beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
“Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau shallallahu’alaihi wa sallam akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”

Muslim meriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdullah, katanya: Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lima hari sebelum wafatnya bersabda,
“Sungguh aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.” “Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu (dari) perbuatan itu.”


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjelang akhir hayatnya -sebagaimana dalam hadits Jundab- telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya, -sebagaimana hadits ‘Aisyah- beliau melaknat orang yang telah melakukan perbuatan itu.

Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Dan inilah makna dari kata-kata ‘Aisyah, "… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.", karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau shallallahu’alaihi wa sallam, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan alat untuk bersuci.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi Kiamat dan orang-orang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.” [1]


Kandungan Bab Ini

  1. Dinyatakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa orang yang membangun tempat untuk beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shalih [termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah], sekalipun baik niatnya.
  2. Dilarang dan diperingatkan dengan keras adanya rupaka-rupaka di dalam tempat ibadah.
  3. Mengambil pelajaran dari upaya maksimal yang dilakukan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam masalah ini. Bagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang shalih termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah. Kemudian, lima hari sebelum wafat, beliau shallallahu’alaihi wa sallam mengeluarkan pernyataan yang melarang umatnya menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Terakhir, beberapa saat menjelang wafatnya, beliau shallallahu’alaihi wa sallam masih merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan yang diambilnya, sehingga beliau melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan ini.
  4. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang pula perbuatan tersebut dilakukan di sisi kuburan beliau, sebelum kuburan itu sendiri ada.
  5. Menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai tempat ibadah merupakan tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani.
  6. Rasulullah melaknat mereka karena perbuatan mereka ini.
  7. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan perbuatan mereka itu dimaksudkan untuk memperingatkan kita agar menghindari perbuatan semacam ini terhadap kuburan beliau shallallahu’alaihi wa sallam.
  8. Alasan tidak ditampakkannya kuburan beliau shallallahu’alaihi wa sallam, karena dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.
  9. Pengertian "menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah"; [ialah melakukan suatu ibadah, seperti shalat di sisi kuburan, sekalipun tidak dibangun di atasnya sebuah tempat ibadah].
  10. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menghubungkan antara orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dengan orang yang masih hidup ketika terjadi Kiamat adalah untuk memperingatkan bentuk perbuatan yang merupakan jalan menuju syirik, sebelum terjadi; di samping bahwa syirik adalah akhir keadaan dunia.
  11. Khutbah yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pada waktu lima hari sebelum wafat, mengandung bantahan terhadap kedua kelompok yang mereka itu adalah ahli bid’ah yang paling jelek bahkan sebagian kalangan ulama menyatakan bahwa mereka di luar tujuh puluh dua golongan dalam umat Islam, yaitu Rafidhah[2] dan Jahmiyah[3] Dan karena Rafidhahlah terjadi kemusyrikan dan penyembahan kuburan, serta merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kuburan.
  12. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam [adalah manusia biasa], merasakan beratnya sakaratul maut.
  13. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam dimuliakan Allah dengan diangkat sebagai "Khalil" (sebagaimana Nabi Ibrahim).
  14. Dinyatakan bahwa khalil lebih tinggi tingkatannya dari pada habib (kekasih).
  15. Dinyatakan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling mulia.
  16. Hal tersebut merupakan isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi khalifah (sesudah beliau).

Catatan Kaki

[1] Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim.
[2] Rafidhah adalah salah satu sekte dalam aliran Syi’ah. Mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap Ali dan Ahlul Bait, dan mereka menyatakan permusuhan terhadap sebagian besar sahabat, khususnya Abu Bakar dan ‘Umar.
[3] Jahmiyah adalah aliran yang timbul pada akhir khilafah Bani Umayah. Disebut demikian karena dinisbatkan pada nama tokoh mereka yaitu Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi yang terbunuh pada tahun 128H.
Di antara pendapat aliran ini: menolak kebenaran adanya asma’ dan sifat bagi Allah, karena menurut anggapan mereka asma’ dan sifat adalah ciri khas makhluk, maka apabila diakui dan ditetapkan untuk Allah berarti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.