-->

26 Agustus 2012

Mereka Yang Mengharapkan Berkah Kepada Pohon, Batu Dan Sejenisnya


Dalam bab ini, penulis hendak menjelaskan secara khusus orang-orang yang suka mengharap berkah kepada sesuatu selain Allah. Penulis ingin menunjukkan bahwa hal-hal semacam itu dilarang keras oleh Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana bunyi serta penjelasan dalil-dalilnya?

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan al-Uzza dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 19 – 23)

Abu Waqid Al-Laitsi menuturkan,
“Suatu saat kami sedang pergi kaluar bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ke Hunain, sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam). Ketika itu orang-orang musyrik mempunyai batang pohon bidara yang disebut Dzat Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon bidara, kami pun berkata, ‘Ya rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka itu mempunyai Dzat Anwath.’ Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,“Allahu Akbar! Itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Allah yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, kamu belum benar-benar mengatakan suatu perkataan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa (‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.’ Musa menjawab: ‘Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengerti’). Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi dan dinyatakannya shahih)

Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surah An-Najm [1].
  2. Mengetahui bentuk permintaan mereka
  3. Bahwa mereka belum melakukan apa yang mereka minta itu
  4. Dan maksud mereka dengan permintaan itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena mereka beranggapan bahwa Allah menyenanginya
  5. Apabila mereka tidak mengerti hal ini, maka selain mereka lebih tidak mengerti lagi
  6. Mereka memiliki kebaikan-kebaikan dan jaminan maghfirah yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka
  7. Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak menerima alasan mereka, bahkan beliau shallallahu’alaihi wa sallam menyangkal mereka dengan bersabda, “Allahu akbar! Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu. Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu.” Beliau bersikap keras terhadap permintaan mereka itu dengan ketiga kalimat ini
  8. Permasalahan penting, dan inilah yang dimaksud, yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memberi tahu bahwa permintaan mereka itu seperti permintaan Bani Israil tatkala mereka berkata kepada Musa, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan.”
  9. Pengingkaran terhadap hal tersebut adalah termasuk di antara pengertian “La ilaha illallah” yang sebenarnya. Dan ini belum dimengerti dan dipahami oleh mereka yang baru masuk Islam itu
  10. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggunakan sumpah dalam menyampaikan petunjuknya, dan beliau tidak berbuat demikian kecuali untuk suatu maslahat
  11. Bahwa syirik ada yang akbar dan ada pula yang ashghar, karena mereka tidak menjadi murtad dengan permintaan mereka itu.
  12. Kata-kata Abu Waqid Al-Laitsi, “… sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam) …” menunjukkan bahwa para sahabat selain mereka mengerti bahwa perbuatan mereka termasuk syirik
  13. Bertakbir ketika merasa heran atau mendengar sesuatu yang tidak patut diucapkan dalam agama, berlainan dengan pendapat orang yang menyatakannya makruh
  14. Harus ditutup segala pintu menuju perbuatan syirik
  15. Dilarang meniru atau melakukan sesuatu perbuatan yang menyerupai perbuatan-perbuatan jahiliyah
  16. Boleh marah ketika menyampai pelajaran
  17. Kaidah umum, bahwa di antara umat ini ada yang melakukan perbuatan syirik dan mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya; berdasarkan sabda beliau, “Itulah tradisi orang-orang sebelum kamu …”
  18. Ini adalah salah satu dari tanda kenabian, karena terjadi sebagaimana yang beliau beritakan
  19. Celaan yang ditunjukkan Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam Al-Qur’an, berlaku pula untuk kita
  20. Menurut mereka (para sahabat) sudah menjadi ketentuan bahwa amalan-amalan ibadah harus berdasarkan pada perintah Allah, [bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri]. Dengan demikian, hadits tersebut di atas mengandung isyarat tentang hal-hal yang akan dinyatakan kepada manusia dialam kubur.
Adapun “Siapakah Tuhanmu?”, sudah jelas; sedangkan “Siapakah Nabimu?”, berdasarkan keterangan masalah-masalah ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan “Apa agamamu?” Berdasarkan ucapan mereka , “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan-sesembahan …” dst
  1. Tradisi Ahli Kitab itu tercela, seperti halnya tradisi kaum musyrikin
  2. Bahwa orang yang baru saja pindah dari tradisi bathil yang sudah menjadi kebiasaan dirinya, tidak bisa dipastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut; sebagai buktinya mereka mengatakan, “… sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran (masuk Islam).”
Dan mereka pun belum terlepas dari tradisi kafir, karena kenyataannya mereka meminta dibuatkan Dzat Anwath sebagaimana yang dimiliki oleh kaum musyrikin

Catatan Kaki

[1] Dalam ayat ini, Allah menyangkal tindakan kaum musyrikin yang tidak rasional, karena mereka menyembah ketiga berhala tersebut yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak pula dapat menolak suatu mudharat. Dan Allah mencela tindakan zhalim mereka dengan memilih untuk mereka jenis yang baik dan memberikan untuk Allah jenis yang buruk -di dalam anggapan mereka-.
Tindakan mereka itu semua hanyalah berdasarkan sangkaan-sangkaan dan hawa nafsu, tidak berdasarkan sama sekali pada tuntunan para Rasul yang mengajak umat manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak beribadah sedikitpun kepada selain-Nya

Menyembelih Binatang Dengan Niat Bukan Lillah (Karena Allah)


Melanjutkan pembahasan Kitab Tauhid, dalam bab ini, penulis menjelaskan perihalmhukum menyembelih binatang dengan niat bukan karena Allah. Beliau menganggap masalah yang sangat penting ini dengan menyebutkan khabar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang seorang yang masuk Surga karena seekor lalat dan seorang yang lain masuk Neraka karena seekor lalat. Bagaimana ceritanya?

Firman Allah Ta’ala:
Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (Al-An’am: 162 – 163)

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (Al-Kautsar:2)

‘Ali berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah menuturkan kepadaku empat kalimat: “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang dengan berniat bukan Lillah. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan. Allah melaknat orang yang merubah batas tanda tanah.”(Hadits riwayat Muslim) 

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ada orang masuk Surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk Neraka karena seekor lalat pula. Para sahabat bertanya, Bagaimana hal itu, ya Rasulullah? Beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban.

Ketika itu berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut, "Persembahkanlah kurban kepadanya!" Dia menjawab, "Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya. Mereka pun berkata lagi, "Persembahkan sekalipun seekor lalat." Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat dan mereka pun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk Neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain, "Persembahkanlah
kurban kepadanya!" Dia menjawab, "Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah." Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya, orang ini masuk Surga”.
(Hadits riwayat Imam Ahmad).


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat dalam surah Al-An’am.[1]
  2. Tafsiran ayat dalam surah Al-Kautsar. [2]
  3. Dalam hadits tersebut di atas, pertama kali yang dilakukan adalah orang yang menyembelih binatang dengan niat bukan lillah.
  4. Dilaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; dan di antaranya adalah dengan melaknat bapak-ibu orang lain, lalu orang lain ini melaknat bapak-ibu orang tersebut.[3]
  5. Dilaknat orang yang melindungi seorang pelaku kejahatan yaitu orang yang memberikan perlindungan kepada seseorang yang melakukan tindak kejahatan yang wajib ditetapkan kepadanya hukum Allah.
  6. Dilaknat pula orang yang mengubah tanda batas tanah yaitu mengubah tanda yang membedakan antara hak milik seseorang dengan hak milik tetangganya dengan digeser maju atau mundur.
  7. Ada perbedaan melaknat orang tertentu dan melaknat orang yang berbuat maksiat secara umum.
  8. Kisah seekor lalat tersebut merupakan kisah yang penting sekali.
  9. Bahwa orang yang masuk Neraka itu disebabkan karena ia mempersembahkan kurban lalat yang di sendiri tidak sengaja berbuat demikian. Akan tetapi dia melakukan tersebut untuk melepaskan diri dari perbuatan buruk pada pemuja berhala itu.
  10. Mengetahui kadar syirik dalam hati orang yang beriman, bagaimana ketabahan hatinya dalam menghadapi eksekusi hukuman mati dan penolakannya untuk memenuhi permintaan mereka, padahal mereka tidak meminta kecuali amalan lahiriah saja.
  11. Orang yang masuk Neraka tersebut adalah seorang muslim; sebab seandainya
    dia orang kafir, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak akan bersabda, "… masuk Neraka karena seekor lalat …"
  12. Hadits ini merupakan suatu bukti bagi hadits shahih yang menyatakan “Surga itu lebih dekat kepada seseorang di antara kamu daripada tali sendalnya sendiri. Dan Neraka pun demikian halnya. “
  13. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang terpenting, sampai pun bagi para pemuja berhala.

Catatan Kaki

[1] Ayat ini menunjukkan bahwa penyembelihan binatang untuk selain Allah adalah syirik, sebagaimana shalat untuk selain Allah.

[2] Ayat ini menunjukkan bahwa shalat dan penyembelihan adalah ibadah yang harus diniati untuk Allah semata-mata, dan penyelewengan niat ini dengan ditujukan untuk selain Allah adalah syirik. 

[3] Dengan demikian, orang tersebut menjadi penyebab terlaknatnya kedua orang tuanya (akibat dia melaknat orang tua dari orang lain).

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.