-->

26 Agustus 2012

Tafsiran "Tauhid" dan Syahadat "La Ilaha Illallah"


Memasuki pembahasan berikutnya dari Kitab Tauhid, penulis menjelaskan pengertian tauhid dan syahadat "La Ilaha Illallah" setelah sebelumnya menjelaskan mengenalkan syahadat tersebut. Dalil-dalil serta hikmah-hikmah apa saja yang disajikan penulis dalam bab ini?

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra’: 57)

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang Menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’." (Az-Zukhruf:26-27)

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-aubah:31)

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,"Barangsiapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedangkan hisab (perhitungan) nya adalah terserah kepada Allah."

Kandungan Bab Ini

Keterangan bab ini adalah pada bab-bab berikutnya. Adapun kandungan bab ini menyangkut masalah yang paling besar dan paling mendasar, yaitu tafsiran "Tauhid" dan tafsiran "Syahadat".

Masalah tersebut telah diterangkan dalam bab ini dengan beberapa hal yang cukup jelas, antara lain:
  1. Ayat dalam surat Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang berdo’a (meminta) kepada orang-orang shalih. Maka, ayat ini mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik akbar [1]
  2. Ayat dalam surat Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya adalah bukan ahli kitab itu menyembah mereka [2]
  1. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim kepada orang-orang kafir, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku …"
    Di sini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan. Pembebasan diri (dari segala sesembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat "La ilaha illallah". Allah berfirman, "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu." (Az-Zukhruf: 28)
  1. Ayat dalam surat Al-Baqarah berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya, "Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka." (Al-Baqarah: 167)


Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka ini belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam.


Lalu, bagaimana dengan orang yang mencintai sembahannya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?
  1. Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam "Barangsiapa mengucapkan "La ilaha illallah" dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedangkan hisab (perhitungan) nya adalah terserah kepada Allah."


Ini adalah termasuk hal yang terpenting yang menjelaskan pengertian "La ilaha illallah". Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat "La ilaha illallah" itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan juga karena tidak meminta kecuali kepada Allah saja. Yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat "La ilaha illallah" itu dengan pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.


Sungguh, betapa agung dan penting tafsiran "Tauhid" dan syahadat "La ilaha illallah" yang terkandung dalam hadits ini, betapa jelas keterangan yang dikemukakannya dan betapa mematikan hujjah yang diajukan bagi orang yang menentang.

Catatan Kaki

[1] Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam surah Al-Isra’ tersebut bahwa tafsiran tauhid dan syahadat "La ilaha illallah" yaitu: meninggalkan apa yang diamalkan kaum musyrikin seperti menyeru (memohon) kepada orang-orang shalih dan meminta syafa’at kepada mereka.

[2] Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam surat Bara’ah (At-Taubah) tersebut bahwa tafsiran "Tauhid" dan Syahadat "La ilaha illallah" yaitu pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

Tentang Ruqyah dan Tamimah


Memasuki pembahasan berikutnya, penulis menjelaskan pengertian ruqyah dan tamimah. Bagaimanakah pemahaman yang benar tentang kedua hal ini? Apa hikmah yang dapat diambil dari bab ini?

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir Al-Anshari bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam salah satu perjalanan beliau, lalu beliau mengutus seorang utusan (untuk memaklumkan):”Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun, kecuali harus diputuskan”

Ibnu Mas’ud menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah adalah syirik.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Tamimah [1]: sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal atau menolak ‘ain. tetapi, apabila yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebagian Salaf memberikan keringanan dalam hal ini; dan sebagian yang lain tidak mempebolehkan dan memandangnya termasuk hal yang dilarang, di antaranya Ibnu Mas’ud

Ruqyah [2]: yaitu yang disebut juga ‘azimah. Ini khusus diizinkan selama penggunaannya bebas dari hal-hal syirik, sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memberi keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking

Tiwalah: sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat membuat seorang isteri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai isterinya.

Hadits marfu’ diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Ukaim,“Barangsiapa menggantungkan sesuatu barang (dengan anggapan bahwa barang itu bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada barang tersebut.”(Hadits riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’, katanya, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda kepadaku, ‘Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur panjang; untuk itu, sampaikan kepada orang-orang bahwa siapa saja yang menggelung jenggotnya atau memakai kalung dari tali busur panah atau beristinja’ dengan kotoran binatang ataupun dengan tulang, maka sesungguhnya Muhammad lepas dari orang itu’.”

Waki’ meriwayatkan bahwa Sa’d bin Jubair berkata, “Barangsiapa memutus suatu Tamimah dari seorang, maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”

Dan Waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An-Nakha’i) berkata, “Mereka (para sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat Al-Qur’an atau bukan dari ayat-ayat Al-Qur’an.”

Kandungan Bab Ini

  1. Pengertian ruqyah dan tamimah
  2. Pengertian tiwalah
  3. Bahwa ketiga jenis ini semuanya, tanpa terkecuali, termasuk syirik
  4. Adapun ruqyah dengan menggunakan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau doa-doa yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengobati ‘ain atau sengatan, tidak termasuk hal tersebut
  5. Jika tamimah itu dari ayat-ayat suci Al-Qur’an, dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat, apakah termasuk hal tersebut (syirik) atau tidak?
  6. Mengalungkan tali busur panah pada leher binatang untuk menangkal atau mengusir ‘ain termasuk pula syirik
  7. Ancaman berat bagi orang yang mengenakan kalung dari tali busur panah
  8. Keistimewaan pahala bagi orang yang memutuskan tamimah dari tubuh seseorang
  9. Kata-kata Ibrahim An-Nakha’i tersebut di atas tidaklah bertentangan dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan, karena yang dimaksud Ibrahim adalah para sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud.[3]

Catatan Kaki

[1] Tamimah dari ayat suci atau hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lebih baik ditinggalkan karena tidak ada dasarnya dari syara’; bahkan hadits yang melarangnya bersifat umum, tidak seperti halnya ruqyah, ada hadits lain yang memperbolehkan. Di samping itu apabila dibiarkan atau diperbolehkan akan membuka peluang untuk menggunakan tamimah yang haram.
[2] Ruqyah, Penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau doa-doa dari As-Sunnah
[3] Sahabat-sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud antara lain Alqamah, Al-Aswad, Abu Wa’il, Al-Harits bin Suwaid, ‘Ubadah As-Salmani, Masruq, Ar-Rabi’ bin Khaitsam, Suwaid bin Ghaflah. Mereka ini adalah tokoh generasi Tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi).

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.