-->

26 Agustus 2012

Tiada Seorang Pun Yang Berhak Disembah Selain Allah


Pembahsan selanjutnya dari Kitab Tauhid, penulis ingin meyakinkan para pembaca  ahwa tidak ada seorang pun yang pantas untuk disembah selain Allah saja. Tidak pandang yang disembah itu Nabi, apalagi manusia biasa yang mengaku-ngaku suci. Bagaimana dalil dan penjelasan yang beliau bawakan?

Firman Allah Ta’ala:
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al-A’raf:191-192)

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Fathir:13-14).

Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas katanya,
“Pada waktu peperangan Uhud, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam terluka di bagian kepala dan gigi taringnya. Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka? Lalu turunlah ayat,  “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (Ali Imran:128)

Dan diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari), dari Ibnu Umar bahwa ia mendengar “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (setelah terluka di bagian kepala dan gigi taringnya sewaktu perang Uhud) berdoa tatkala mengangkat kepalanya dari ruku’ pada rakaat terakhir dalam shalat Shubuh, Ya Allah laknatilah si fulan dan si fulan, yaitu seusai beliau mengucapkan "Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd" Sesudah itu, Allah pun menurunkan firman-Nya, “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (Ali Imran: 128)

Dan menurut riwayat lain, beliau mendo’akan semoga Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr dan Al-Harits bin Hisyam dijauhkan dari rahmat Allah. Maka turunlah ayat: “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (Ali Imran: 128)

Diriwayatkan pula dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ayat: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214)
Berdirilah beliau shallallahu’alaihi wa sallam dan bersabda,”Wahai segenap kaum Quraisy, tebuslah diri kamu sekalian (dari siksa Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya). Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib! Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah! Sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Dan wahai Fathimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku. Sedikitpun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah.”


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran kedua ayat tersebut di atas.[1]
  2. Kisah perang Uhud.
  3. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, pemimpin para Rasul, dalam shalat Shubuh telah melakukan qunut sedang para sahabat yang berada di belakang beliau mengucapkan "amin."
  4. Orang-orang yang beliau doakan semoga Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya adalah orang-orang kafir.
  5. Orang-orang kafir itu telah berbuat hal-hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang kafir, antara lain: melukai Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berambisi sekali untuk membunuh beliau serta mereka merusak tubuh para korban yang terbunuh, padahal korban-korban yang terbunuh adalah anak famili mereka sendiri.
  6. Tentang perbuatan mereka itu, Allah telah menurunkan firman-Nya kepada beliau, “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.” (Ali Imran: 128)
  7. Allah berfirman, “Atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka.” (Ali Imran:128)
    Kemudian Allah pun menerima taubat mereka dengan masuknya mereka ke dalam Islam dan menjadi orang-orang yang beriman.
  8. Melakukan qunut nazilah, yaitu qunut yang dilakukan ketika berada dalam keadaan mara bahaya.
  9. Menyebutkan nama-nama beserta nama-nama orang tua mereka yang didoakan terlaknat di dalam shalat, tidak membatalkan shalat.
  10. Boleh melaknat terhadap orang kafir tertentu dalam qunut.
  11. Kisah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tatkala diturunkan kepada beliau ayat, “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. “
  12. Kesungguhan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hal ini, sehingga beliau melakukan sesuatu yang menyebabkan dirinya dituduh gila; demikian halnya apabila dilakukan oleh seorang muslim pada masa sekarang ini.
  13. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memperingatkan keluarga yang paling jauh kemudian yang terdekat, dengan bersabda, “sedikitpun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah", sampai beliau bersabda kepada puterinya sendiri, "Wahai Fathimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku apa yang kamu inginkan dari hartaku. Sedikitpun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah."
Apabila beliau telah memaklumatkan secara terang-terangan –padahal beliau adalah pemimpin para rasul- bahwa beliau shallallahu’alaihi wa sallam sedikitpun tidak berguna bagi diri puterinya sendiri, wanita termulia sealam ini; dan orang pun mengimani bahwa beliau tidak mengatakan kecuali yang haq, kemudian dia memperhatikan apa yang terjadi pada diri kaum khawash[2]dewasa ini, akan tampak bagi dirinya bahwa tauhid sudah ditinggalkan dan tuntunan agama menjadi asing.

Catatan Kaki

[1] Kedua ayat tersebut menunjukkan kebatilah syirik mulai dari dasarnya, karena makhluk yang lemah ini, yang tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, tak dapat dijadikan sebagai sandaran sama sekali, dan menunjukkan pula bahwa Allah-lah yang berhak  dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia.

[2] Kaum khawas ialah orang-orang tertentu yang ditokohkan dalam masalah agama dan merasa bahwa dirinya patut diikuti, disegani dan diminta berkah doanya.

Syafa’at


Melanjutkan penjelasan Kitab Tauhid, penulis ingin menjelaskan mengenai syafa’at. Berbeda pada pambahasan Syarh Aqidah Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang membahas syafa’at dari segi jenis dan macam-macamnya, penekanan beliau di sini adalah bahwa hanya Allah saja pemberi syafa’at secara mutlak. Sehingga hal ini membatalkan pemahaman orang-orang musyrik yang memohon syafa’at kepada selain Allah.

Syafa’at [1]


Firman Allah,
“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari Kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’at pun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.” (Al-An’am: 51)


“Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya." (Az-Zumar: 44)

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa seizinNya.” (Al-Baqarah:255)

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan di ridhaiNya.” (An-Najm: 26)

“Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrahpun di langit dan di bumi dan mereka tidak mempunyai satu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi; dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya." Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkanNya memperoleh syafa’at itu …”(Saba’: 22 – 23)

Abul ‘Abbas mengatakan, Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain Diri-Nya sendiri, dengan menyatakan bahwa tak seorang pun selain Allah mempunyai kekuasaan, atau sebagainya, atau pembantu Allah. Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan Allah bahwa syafa’at ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah untuk memperolehnya, sebagaima firmanNya, “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai
Allah.“(Al-Anbiya’: 28)

Syafa’at yang diperkirakan oleh kaum musyrikin inilah yang tidak ada pada hari Kiamat, sebagaimana dinyatakan demikian oleh Al-Qur’an. Dan diberitakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa beliau pada hari Kiamat akan dating bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala puji kepadaNya. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam tidak langsung dengan memberi syafa’at lebih dahulu. Setelah itu barulah dikatakan kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam , "Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya akan didengar yang kamu katakan, mintalah niscaya akan diberikan apa yang kamu minta, dan berilah syafa’at niscaya akan diterima syafa’at yang kamu berikan itu." [2]

Abu Hurairah telah bertanya kepada beliau shallallahu’alaihi wa sallam, "Siapakah orang paling beruntung dengan syafa’at engkau?" beliau shallallahu’alaihi wa sallam menjawab, "Ialah orang yang mengucapkan ‘La Ilaha Illallah’ dengan ikhlas dari dalam hatinya." [3]

Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafa’at untuk Ahlul Ikhlas wat-Tauhid[4], dengan seizin Allah bukan untuk mereka yang berbuat syirik kepadaNya. Dan pada hakekatnya, bahwa Allah-lah yang melimpahkan karuniaNya kepada Ahlul Ikhlash wat-Tauhid dengan memberikan maghfirah kepada mereka melalui doa orang yang diizinkan Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang itu dan menerimakan kepadanya Al-Maqam Al-Mahmud (kedudukan terpuji).

Jadi syafa’at yang dinyatakan tidak ada oleh Al-Qur’an, adalah apabila ada sesuatu syirik di dalamnya. Untuk itu Al-Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayat bahwa syafa’at adalah dengan izin dari Allah; dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa syafa’at hanyalah untuk Ahlut-Tauhid wal-Ikhlash.

Kandungan Bab Ini

  1. Tafsiran ayat ini tersebut di atas.[5]
  2. Syafa’at yang dinyatakan tidak ada, adalah syafa’at yang terdapat di dalamnya unsur syirik.
  3. Syafa’at yang ditetapkan, adalah syafa’at untuk Ahlut Tauhid wal-Ikhlash dengan izin dari Allah.
  4. Disebutkan tentang syafa’at kubra, yaitu Al-Maqam Al-Mahmud.
  5. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika hendak memberi syafa’at, bahwa beliau tidak langsung memberi syafa’at terlebih dahulu, akan tetapi bersujud dan menghaturkan segala puji kepada Allah Azza wa Jalla. Maka apabila telah diizinkan Allah, barulah beliau shallallahu’alaihi wa sallam memberi syafa’at.
  6. Siapakah orang yang paling beruntung dengan syafa’at beliau?
  7. Syafa’at tidak diberikan kepada orang yang berbuat syirik kepada Allah.
  8. Keterangan tentang hakikat syafa’at.

Catatan Kaki

[1] Syafa’at telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka, “Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan syafa’at kepada kami di sisiNya.”
Maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafa’at yang mereka harapkan itu adalah percuma, bahkan syirik; dan syafa’at hanyalah hak Allah semata, tiada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan seidzinNya bagi siapa yang mendapat ridhaNya.

[2] Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
[3] Hadits riwayat Imam Ahmad dan Al-Bukhari.
[4] orang-orang yang mentauhidkan Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya.

[5] Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafa’at seluruhnya adalah hak khusus bagi Allah. Ayat ketiga menunjukkan bahwa syafa’at tidak diberikan kepada seseorang tanpa izin dari Allah. Ayat keempat menunjukkan bahwa syafa’at diberikan oleh orang yang diridhai Allah dengan izin dariNya. Dengan demikian syafa’at adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dariNya; dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, atau nabi dan orang-orang yang shalih, untuk meminta syafa’at mereka.
Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk-makhluk itu mendatangkan manfaat atau menolak mudharat; dan menunjukkan bahwa syafa’at tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang mengamalkan tauhid dan itu pun dengan seizin Allah Ta’ala.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.