-->

28 Agustus 2012

Pendahuluan Ke-4: Wajibnya Menerangkan Penyimpangan sebagai Amar Ma’ruf Nahi Munkar


Kemudian pendahuluan yang keempat—mohon maaf, masih ada lima lagi pendahuluannya, sebab terlalu banyak syubuhât di seputar permasalahan sehingga saya harus menerangkan dahulu prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah ini sebelum menguraikan tentang kesesatan Wahdah Islamiyah—supaya hal ini bisa kita pahami bersama. Dan ini juga dalam rangka menerapkan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam Kitabul ‘Ilmi dan Imam Muslim dalam Al Muqaddimah:
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟
“Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Perkataan benar dan yang disampaikan haq tapi karena ini belum sampai kepada akal dan pemahamannya seseorang, maka ia langsung didustakan. Maka kita harus melalui pendahuluan agar bisa memahami Al Haq ini.
Kemudian pendahuluan berikutnya, dalam syari’at Islam kita diperintahkan untuk menerangkan Al Haq dan untuk membantah orang-orang yang menyelisihi dan menyimpang dari syari’at Islam.
Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ.
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya.” (QS Âli ‘Imrân: 187)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ mengancam orang-orang yang menyembunyikan Al Kitab dalam firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat mela’nati.” (QS Al Baqarah: 159)
Dan di ayat yang lain,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS Al Baqarah: 174)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ menerangkan dalam Al Qur’an,
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ.
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya tampak jalan orang-orang yang salah.” (QS Al An’âm: 55)
Jadi memang Al Haq/kebenaran itu tidak diketahui kalau tidak diterangkan kebalikannya. Tidak mungkin kita tahu rasa manis kalau tidak tahu lawannya yakni pahit. Tidak diketahui jalan yang kanan kalau tidak ada jalan yang kiri. Ini secara fithrah bisa dipahami. Demikian pula dalam ayat-ayat ini, diterangkan ayat-ayat Al Qur’an supaya jelas jalan orang mujrim, orang-orang yang menyimpang.
Karena itulah seorang penyair berkata,
عَرَفْتُ الشَّرَّلاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ الْخَيْرِ يَقَعْ فِيْهِ
“Saya mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya, tetapi untuk menjaga diri saya agar jangan jatuh ke dalam kejelekan itu.
Dan siapa yang tidak mengetahui kejelekan itu dari pada kebaikan, ia akan jatuh ke dalamnya.”
Karena itulah Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallâhu ‘anhu mempunyai sikap lain,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.
“Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan, karena saya khawatir kejelekan itu akan menimpaku.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu wajib untuk menerangkan Al Haq dan menerangkan lawannya yakni kebathilan. Hal ini juga dinamakan jihad oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ, sebagaimana firman-Nya,
فَلاَ تُطِع الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا.
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.” (QS Al Furqan: 52)
Juga firman-Nya,
وَجَاهِدُوا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.” (QS Al Hajj: 78)
Kedua ayat ini (Al Furqan: 52 dan Al Hajj: 78) turun di Makkah sedangkan ketika masih di Makkah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak diperintahkan untuk berperang dengan pedang/fisik, bahkan dilarang sebagaimana dalam ayat,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ.
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, tahanlah tangan-tangan kalian (dari berperang.” (QS An Nisa: 77)
Jihad dengan perang fisik dilarang di Makkah, jadi jihad apa yang diinginkan pada ayat ini? Kata Ibnul Qayyim rahimahullâh, yaitu jihad dengan hujjah, dengan bayan (argumen).
Dan kita diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Dalilnya Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS An Nisâ’: 114)
Allah subhânahu wa ta’âlâ juga berfirman,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ.
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Âli ‘Imrân: 104)
Juga firman-Nya,
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Âli ‘Imrân: 104)


Pendahuluan Ke-5: Syariat Islam adalah Syariat yang Sempurna

Perlu diketahui bahwa dakwah ahlus sunnah, dakwah Islam adalah syariat yang sempurna, universal mencakup segala sesuatu.
Allah subhânahu wa ta’âlâ telah menerangkan dalam firman-Nya,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS Al Mâ-idah: 3)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An Nahl: 89)
Karena kesempurnaannyalah, sehingga segala sesuatu telah diterangkan dalam Al Qur’an tanpa terkecuali, dalam makna tersurat maupun tersirat, ketetapan secara nash maupun dalil-dalil umum yang mencakup berbagai masalah. Allah subhânahu wa ta’âlâ telah menegaskan,
مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْء.
“Tiadalah Kami lalaikan sesuatupun di dalam Al Kitab.” (QS Al An’âm: 38)
Dan Allah subhânahu wa ta’âlâ berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ.
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (QS Al Baqarah: 208)
Segala sesuatu telah dijelaskan, bahkan perkara-perkara yang nampaknya sepele sekalipun telah diterangkan dalam agama ini sehingga membuat orang-orang musyrikin dan ahlul kitab iri hati dan dengki kepada umat Islam. Salman Al Farisi radhiyallâhu ‘anhu berkata,
قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُوْنَ هَلْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ, قَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلِّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ.
“Kaum musyrikin berkata kepada kami, “Apakah Nabi kalian mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) tata cara buang air?” Maka (Salman) menjawab, “Benar, sungguh beliau telah melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau ketika buang air kecil, (melarang) kami beristinja` dengan tangan kanan, (melarang) kami beristinja` kurang dari tiga batu atau kami beristinja` dengan kotoran atau tulang.”
Ibnu Abi ‘Ashim punya kitab khusus Kitabuz Zuhud dan banyak lagi yang mempunyai Kitabuz Zuhud dikalangan para ulama, berbicara di segala bidang. Dalam mu’amalah dalam akhlaq, Imam Al Bukhari Al Adabul Mufradsubhanallâh—pembahasan tentang akhlaq yang mulia. Maka segala sesuatu dibicarakan dalam syari’at Islam, bahkan masalah siasat ada pembicaraannya dalam syari’at kita Al Islam. Maka agama kita ini telah sempurna, tidak perlu mencari suatu tambahan apapun dan jangan menyangka ada kekurangan di dalamnya.
Maka dakwah ini, dakwah Ahlus Sunnah ini adalah dakwah yang universal membicarakan segala sesuatu. Dan membantah ahlul bid’ah itu adalah bagian dari dakwah, tetapi itu bukan pekerjaan kami tiap hari dan bukan itu terus yang dilakukan Ahlus Sunnah, membantah terus, tidak. Syaikh Muqbil rahimahullâh mengatakan, “Ya ikhwan, kami ini sebenarnya hanya berjalan, jalan terus; memberikan pelajaran, sibuk dengan pelajaran mengajarakan dan ta’lim. Adapun ahlul bid’ah, itu sambil jalan kita beri pukulan lalu jalan lagi.” Jadi bukan pekerjaannya itu-itu terus.
Maka segala sesuatu telah dituntunkan dalam syari’at Islam. Dan amar ma’ruf nahi mungkar juga dari perkara yang penting ada tashfiyah dan ada tarbiyah. Tashfiyah membersihkan umat dari kesyirikan, bid’ah, khurafat, dari perkara yang salah. Kalau misalnya ada salahnya dan At Tarbiyah, mendidik mereka yang benarnya bagaimana. Ini yang ada dalam Islam dua perkara ini, At Tashfiyah dan At Tarbiyah bukan tarbiyah saja sehingga menjadikan label “Dakwah Tarbiyah dan Mujahadah“. Mana tashfiyahnya? Jadi ini yang perlu diperhatikan. Maka agama kita ini adalah agama yang sempurna dan dakwah di dalam agama dan tuntunan syari’at ini adalah dakwah yang universal dan telah mencakup segala sesuatu.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.