-->

26 Agustus 2012

Termasuk Syirik: Istighatsah Atau Do’a Kepada Selain Allah


Selanjutnya, masih dalam hal yang sangat berbahaya dari syirik besar, penulis Kitab Tauhid memaparkan dalil-dalil serta keterangan yang lebih banyak dari penjelasan yang sebelumnya. Dan pernah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika seseorang ingin beristighatsah kepada beliau. Bagaimana kisahnya?

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: 106).

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107).

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintalah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (Al-’Ankabut: 17).

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf:5 – 6).

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (An-Naml: 62).

Ath-Thabrani, dengan menyebutkan sanadnya, meriwayatkan bahwa, pernah terjadi pada zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ada seorang munafik yang selalu mengganggu orang-orang mu’min, maka berkatalah salah seorang di antara mereka, "Marilah kita bersama-sama istighatsah kepada Rasulullah supaya dihindarkan dari tindakan buruk orang munafik ini." Ketika itu, bersabdalah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, Sesungguhnya tidak boleh istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja.”


Kandungan Bab Ini

  1. Istighatsah, pengertiannya lebih khusus daripada doa.[1]
  2. Tafsiran ayat pertama. [2]
  3. Memohon kepada selain Allah adalah syirik akbar.
  4. Bahwa orang yang paling shalih sekalipun, kalau dia melakukan perbuatan ini untuk mengambil hati orang lain, maka dia termasuk golongan orang yang zhalim (musyrikin).
  5. Tafsiran ayat kedua.[3]
  6. Memohon kepada selain Allah tidak mendatangkan manfaat duniawi, disamping perbuatan itu sendiri perbuatan kafir.
  7. Tafsiran ayat ketiga. [4]
  8. Sebagaimana Surga tidak dapat diminta kecuali Allah, demikian halnya dengan rizki, tidak patut diminta kecuali dari-Nya.
  9. Tafsiran ayat keempat.[5]
  10. Tiada yang lebih sesat daripada orang yang memohon kepada sesembahan selain Allah.
  11. Sesembahan selain Allah itu tidak merasa dan tidak tahu bahwa ada orang yang memohon kepadanya.
  12. Permohonan itulah yang menyebabkan sesembahan selain Allah membenci dan memusuhi orang yang memohon kepadanya (pada hari Kiamat).
  13. Permohonan ini disebut sebagai ibadah kepada sesembahan selain Allah.
  14. Dan sesembahan selain Allah itu nanti pada hari Kiamat akan mengingkari ibadah yang mereka lakukan.
  15. Permohonan inilah yang menyebabkannya menjadi orang yang paling sesat.
  16. Tafsiran ayat kelima.[6]
  17. Hal yang mengherankan, bahwa para pemuja berhala mengakui bahwa tiada yang dapat memperkenankan permohonan orang yang berbeda dalam kesulitan selain Allah. Untuk itu, ketika mereka berada dalam keadaan sulit dan terjepit, mereka memohon kepada-Nya dengan ikhlas dan memurnikan ketaatan untuk-Nya.
  18. Hadits di atas menunjukkan tindakan preventif yang dilakukan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam Al-Musthafa, untuk melindungi benteng tauhid, dan sikap ta’abbud (sopan santun) beliau shallallahu’alaihi wa sallam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Catatan Kaki

[1] Istighatsah adalah meminta pertolongan ketika dalam keadaan sulit supaya dibebaskan dari kesulitan itu.

[2] Ayat pertama menunjukkan bahwa dilarang memohon kepada selain Allah, karena selain-Nya tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan bahaya kepada seseorang.

[3] Ayat kedua menunjukkan bahwa Allah-lah yang berhak dengan segala ibadah yang dilakukan manusia, seperti do’a, istighatsah dan sebagainya. Karena hanya Allah Yang Maha Kuasa, jika dia menimpakan sesuatu bahaya  kepada seseorang, maka tiada yang dapat menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika menghendaki untuk seseorang suatu kebaikan, maka tiada yang dapat menolak karunia-Nya. Tiada seorang pun yang mampu menghalangi kehendak Allah.

[4] Ayat ketiga menunjukkan bahwa hanya kepada Allah yang berhak dengan ibadah dan rasa syukur kita, dan hanya kepada-Nya seharusnya kita meminta rizki, karen selain Allah tidak mampu memberikan rizki.

[5] Ayat keempat menunjukkan bahwa do’a (permohonan) adalah ibadah, karena itu barangsiapa menyelewengkannya kepada selain Allah, maka dia adalah musyrik.

[6] Ayat kelima menunjukkan bahwa istighatsah kepada selain Allah –karena tiada yang kuasa kecuali Dia- adalah bathil dan termasuk syirik.

Rasa Takut Para Malaikat Ketika Turun Wahyu Dari Allah


Selanjutnya, masih dalam meyakinkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, penulis Kitab Tauhid memaparkan bagaimana para malaikat, sebagai makhluk yang besar dan kuat serta keutaman lainnya, takut kepada Allah. Jadi, tidak pantas bagi manusia untuk menyembah malaikat. Bagaimana kisah takutnya malaikat ini?

Keadaan Para Malaikat, Sebagai Makhluk Allah Yang Paling Perkasa, Dan Rasa Takut Mereka Ketika Turun Wahyu Dari Allah [1]

Firman Allah Azza wa Jalla:
“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar", dan Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.” (Saba’: 23)

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila Allah telah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan).

Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab, "(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar."

Ketika itulah, (setan-setan) penyadap berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan[2] dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada dibawahnya dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal.”

Akan tetapi kadangkala setan penyadap berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadangkala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; lalu dengan satu kalimat yang didengarnyalah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan.”

Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan, "Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)", sehingga dipercayalah tukang sihir dan tukang ramal tersebut karena satu kalimat telah didengar dari langit. “

An-Nawas bin Sim’an menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
Apabila Allah Ta’ala hendak mewahyukan perintah-Nya maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena takut kepada Allah. Lalu, apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu, Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya, "Apakah telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Dia firmankan yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah kepadanya.” [3]


Kandungan Bab Ini

  1. Tafsir ayat tersebut di atas. [4]
  2. Ayat ini mengandung suatu argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, khususnya yang berkaitan dengan orang-orang shalih. Dan ayat inilah yang dikatakan memutuskan akar-akar pohon syirik dari jantungnya.
  3. Tafsiran firman Allah, "Mereka menjawab, ‘(Perkataan) yang
    benar.’ Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar."
    [5]
  4. Sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.
  5. Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan, "Dia firmankan yang benar."
  6. Disebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.
  7. Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh malaikah penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.
  8. Seluruh malaikat penghuni langit jatuh pingsan tatkala mendengar firman Allah.
  9. Langit pun bergetar keras karena firman Allah itu.
  10. Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu itu ke tujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.
  11. Disebutkan pula dalam hadits bahwa setan-setan menyadap berita wahyu tersebut.
  12. Cara mereka, sebagian naik di atas sebagian yang lain.
  13. Peluncuran syihab (meteor) untuk menembak jatuh setan-setan penyadap berita.
  14. Kadangkala setan penyadap berita itu terkena syihab sebelum sempat menyampaikan kalimat yang didengarnya, dan kadangkala sudah sempat menyampaikan ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.
  15. Ramalan tukang ramal adakalanya benar.
  16. Dengan kalimat yang didengarnya tersebut, ia melakukan seratus macam kebohongan.
  17. Kebohongannya tidaklah dipercayai kecuali karena kalimat yang diterimanya dari langit [melalui setan penyadap berita].
  18. Manusia mempunyai kecenderungan untuk menerima sesuatu yang bathil; bagaimana mereka bisa berdasarkan hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.
  19. Satu kalimat kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya. Lalu dijadikan sebagai bukti apa yang dikatakan tukang ramal adalah benar.
  20. Menetapkan kebenaran sifat-sifat Allah [sebagaimana yang terkandung dalam ayat dan hadits di atas], berbeda dengan paham Asy’ariyah yang mengingkarinya.
  21. Bergetarnya langit dan pingsannya para malaikat adalah karena rasa takut mereka kepada Allah.
  22. Para malaikat pun bersimpuh sujud kepada Allah.

Catatan Kaki

[1] Bab ini menjelaskan bukti lain yang menunjukkan kebatilan syirik dan hanya Allah yang berhak dengan segala macam ibadah. Karena apabila para malaikat, sebagai makhluk yang amat perkasa dan paling kuat bersimpuh sujud di hadirat Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar tatkala mendengar firman-Nya, maka tiada yang berhak dengan ibadah, puja dan puji, sanjungan dan pengagungan kecuali Allah.

[2] Sufyan bin ‘Uyainah bin Maimun Al-Hilali, salah seorang periwayat hadits ini.

[3] Hadits ini riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah; dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Ash-Shifat.

[4] Ayat ini menerangkan keadaan para malaikat, yang mereka itu adalah makhluk Allah yang paling kuat dan amat perkasa yang disembah oleh orang-orang musyrik. Apabila demikian keadaan mereka dan rasa takut mereka kepada Allah tatkala Allah berfirman, lalu bagaimana patut mereka itu dijadikan sesembahan selain Allah; apalagi makhluk selain mereka, tentu lebih tidak patut lagi.

[5] Firman Allah ini menunjukkan, bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan) karena mereka berkata, "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?"; menunjukkan pula bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan Maha Besar yang kebesaran-Nya tak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.