-->

16 November 2012

SEPERTI LANGIT BERSELIMUT KENANGAN



Deru angin bulan itu

Mengantar surat terakhirmu

dengan lampiran rindu di tepiannya

juga duka di kusam lembarannya

Ada lara lekat disana

juga api asmara yang menyala sia-sia

“Seperti langit berselimut bianglala,

dimana segala warna dan rupa, berpadu menaungi

setiap desir cinta yang berpendar lembut dari hati,” katamu perih

Aku tersenyum getir dan kembali membayangkan

ketika badai itu datang menghempaskan segala impian, kenangan

dan larik kisah kita



yang telah ku bayangkan menyelimuti langit

akan membuatku tersesat menemukan jalan pulang

dan mendapatiku kembali dibalik pekat kabut

“Aku percaya,” tulismu,”bila badai ini usai, pelangi

akan datang kembali menyelimuti langit

tempat semua impian kita berpendar sepanjang musim

dan kangen itu kita semai diam-diam, sejak dulu”

Seketika kata-katamu menjelma kupu-kupu

terbang mencabik angkasa

menepis sepi yang telah kau guratkan

dengan jemari gemetar dan rintik airmata

diatas lembar suratmu

“Seperti langit berselimut bianglala,” aku menggumam pelan,

“dimana noktah-noktah asa mengapung tanpa daya

dan membiarkan dirinya melayang hingga batas cakrawala

bersama redup cahaya matamu dan debar jantungku

yang kerap mengharap perjumpaan meski sekilas

disela kepahitan dan tanpa putus asa

antara ada dan tiada…aku hanya cahay kunang di gelap gulita

[Ar-Riauny 16-11-12 Pekanbaru]

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.