-->

16 September 2012

Kebenaran, Makna Dan Ukurannya




Fitrah manusia apabila telah rusak, jika melihat al-haq (kebenaran) maka dia akan mengikuti dan mencintainya.Sehingga setiap kelompok manusia yang meyakini sesuatu dan memperjuangkannya, semua merasa di atas al-haq (kebenaran).

Akan tetapi bagaimana mungkin mereka semua di atas al-haq, kemudian berlawanan satu dengan lainnya. Padahal al-haq itu satu adanya, dan tid
ak ada yang menentangnya kecuali kebatilan dan kesesatan. Dengan berpijak di atas al-Kitab dan as-Sunnah dengan bimbingan para ulama umat, kami persembahkan -bi idznillah- sedikit keterangan mengenai al-haq ini, mudah2an bermanfaat bagi kita semua.

1 Makna Al-Haq

Secara bahasa, al-haq (kebenaran) berarti:Yang ada secara pasti; yang cocok dan sesuai dengan yang sebenarnya; yang ada dengan tanpa keraguan; yang bermanfaat; tidak sia-sia dan binasa.

Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan bahwa makna al-haq (kebenaran)secara asal adalah: kesesuaian.

Kemudian al-haq mempunyai beberapa makna:

1. Pencipta sesuatu dengan satu sebab yang menunjukkan hikmah (tidak sia-sia) olehkarena itulah Allah dikatakan Al-Haq.

2. Sesuatu yang diciptakan sesuai dengan tuntutan hikmah (tidak sia-sia). Olehkarena itulah seluruh perbuatan Allah adalah haq (benar).

3. Keyakinan terhadap sesuatu yang sesuai dengan sebenarnya, terhadap apa yang ada pada sesuatu tersebut. Seperti ucapan kita, "keyakinan Fulan tentang al-ba'ts(dibangkitkannya makhluk dari kuburnya di hari kiamat.), pahala, siksa, surga dan neraka adalah haq.

4. Untuk perbuatan dan perkataan yang terjadi sesuai dengan apa yang semestinya,seukuran yang semestinya dan pada waktu yang semestinya.

Kemudian beliau juga menyatakan bahwa al-haq (juga) berarti: ketetapan yang sesuaidengan tuntutan hikmah.

Dalam Mu'jamul Wasith disebutkan arti al-haq, yaitu:

• Satu nama dari nama-nama-Nya (Allah) Ta'ala.

• Yang pasti dengan tanpa keraguan.Di dalam An-Nihayah bab: haqqaqa, disebutkan,

Di dalam nama-nama Allah terdapat nama Al-Haq, yaitu Yang benar-benar ada, dankeberadaan-Nya serta Hak-Nya untuk diibadahi adalah pasti.

Dan (juga) Al-Haq adalah lawan dari Al-Bathil (kebatilan).

Sehingga ringkasnya, al-haq adalah sebagaimana yang dinyatakan Syaikhul Islam IbnuTaimiyah, yaitu al-haq itu ada dua jenis:

*Haq Maujuud (kebenaran yang ada). Kewajiban (manusia dalam hal ini -pen) adalah mengetahuinya dan jujur di dalam memberitakannya (ilmu -pent). Sedangkan lawannya adalah kebodohan dan dusta.

*Haq Maqshuud (kebenaran yang dituju). Yiatu yang bermanfaat bagi manusia.Kewajiban (manusia dalam hal ini -pent) adalah menghendakinya dan mengamalkannya.Sedangkan lawannya adalah menghendaki kebatilan dan mengikutinya.(Majmu' Fatawa XV/241.)



2 Jalan Al-Haq Dan Jalan Yang Menyimpang

Dengan keterangan di atas bisa diketaui bahwa jalan al-haq itu ada dua, yaitu ilmu danamal. Keduanya ini saling berkaitan, ilmu itu menurut amalan, sebaliknya adanya amal itu mengharuskan adanya ilmu yang mendasarinya.

Dengan adanya keduanya, jadilah ilmu itu yang na' (ilmu yang bermanfaat) dan jadilah amal itu yang didasari ilmu na' tersebut menjadi amal shalih. Hal inidiisyaratkan oleh Allah dalam beberapa tempat di dalam kitab-Nya, antara lain rman-Nya tentang orang-orang yang bertakwa,

"Mereka itulah berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulahorang-orang yang beruntung." (Al-Baqarah: 5)

Al-Hafidzh Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini,Yaitu

"orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang tersebut pada ayat-ayatsebelumnya, yang berupa iman kepada yang ghaib, menegakkan shalat,menginfakkan sebagian rizki yang Allah anugerahkan kepada mereka, iman kepada apa yang telah Allah turunkan kepada Rasul (Muhammad) danRasul-rasul sebelum beliau serta yakin adanya kampung ahkirat. Yangmana mengharuskan untuk menyiapkan diri dengan amalan-amalan shalih dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan".

Demikianlah, mereka menjadi orang-orang yang beruntung karena menggabungkanantara ilmu na' dengan amal shalih. Ilmu na' yang berupa iman kepada yang ghaibdan iman kepada apa yang Allah turunkan. Amal shalih yang berupa menegakkan shalat, berinfaq dan yakin adanya kampung akhirat.

Juga firman-Nya,

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-huda) danagama yang haq". (Ash-Shaff: 9; At-Taubah: 33; Al-Fath: 28).

Al-Hafidzh Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini, dalam surat at-Taubah ayat 33:

Al-huda (petunjuk adalah apa yang dibawa oleh beliau (Rasulullah), yangberupa pemberitaan-pemberitaan yang benar, iman yang shahih dan ilmu nafi'. Sedangkan agama yang haq adalah amalan-amalan shalih, yang shahih,yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

maka dalam Al-Qur'an banyak ayat-ayat yang berisi ancaman yang keras terhadap orang yang amalnya menyelisihi ilmu dan ucapannya.

Allah berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Ash-Shaff: 2 - 3).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di berkata

Oleh karena inilah bagi orang yang memerintahkan kebaikan, sepantasnya dia menjadi orang pertama yang bersegera melakukannya. Dan orang yang melarang dari keburukan (sepantasnya) dia menjadi orang yang paling jauh darinya.(Taisirul Karimir Rahman i Tafsir Kalamil Manan VII/366.)

Imam Ibnul Qayyim berkata,

Barangsiapa yang tidak mengenal al-haq, maka dia adalah orang yang sesat.Dan barangsiapa yang mengenal al-haq, akan tetapi lebih mementingkan selain al-haq, maka dia adalah orang yang dimurkai.

Allah telah memerintahkan, agar di dalam shalat kita memohon supaya Dia membimbing kita di atas jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.

Oleh karena itulah orang-orang Nasrani (secara) lebih khusus mengalami kesesatan, karena mereka adalah umat yang paling bodoh. Sedangkan orang-orang Yahudi (secara) lebih khusus mendapatkan murka (Allah), karena mereka adalah umat yang membangkang.

Adapun umat (Islam) ini adalah umat yang mendapatkan nikmat. Oleh karena itulah Sufyan bin Uyainah berkata,

Siapa di antara para ahli ibadah kita yang rusak, maka padanya ituada keserupaan dengan orang-orang Nasrani. Dan siapa di antarapara ulama kita yang rusak, maka padanya itu ada keserupaandengan orang-orang Yahudi.Karena sesungguhnya orang-orang Nasrani beribadah dengan tanpa ilmu.Sedangkan orang-orang Yahudi, mereka mengenal al-haq, tetapi menyimpang darinya.



Dengan demikian jelaslah bahwa Orang-orang yang bahagia adalah orang-orang yang mengenal al-haq dan mengikutinya. Sedangkan orang-orang yang celaka adalah orang-orang yangtidak mengenal al-haq sehingga mereka tersesat darinya. Atau orang-orang yang mengetahui al-haq tetapi mereka menyelisihinya dan mengikuti selainnya.

Oleh karena itu Allah membersihkan Rasul-Nya dari dua hal itu dalam firman-Nya,

"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu itu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula mengikuti hawa nafsu dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. (Ucapannya) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan(kepadanya)." (An-Najm: 1 - 4).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

"Maka Dia (Allah) membersihkan beliau (Rasulullah) dari dhalal (kesesatan)dan dari ghawaayah (mengikuti hawa nafsu) yang keduanya itu adalahkebodohan dan kezhaliman. Orang yang sesat adalah orang yang tidakmengetahui al-haq, sedang orang yang ghawaayah adalah orang yangmengikuti hawa nafsunya.

Dan Dia (Allah) memberitahukan bahwa beliau tidak berbicara menuruthawa nafsunya, bahkan itu adalah wahyu yang Allah wahyukan kepada beliau. Maka Dia (Allah) mensifati beliau (Rasulullah) dengan ilmu dan membersihkan dari hawa nafsu.(Majmu' Fatawa III/383.)

Sehingga obat dari kejahilan dan kesesatan, itu adalah ilmu nafi' (iman), sedang obat dari kezhaliman dan mengikuti hawa nafsu adalah adil, amal shalih, dan mengikuti al-haq.



3 Wahyu, Ukuran Al-Haq

Bahwa ukuran al haq adalah apa yang datang dari Allah berupa wahyu kepada Rasul-Nya, adalah suatu hakikat yang banyak disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran,diantaranya :

" Maka jika engkau (Hai Nabi pent) berada dalam keraguan tentang apayang kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang -orang yang membaca kitab sebelummu. Sesungguhnya telah datang al haq (kebenaran) kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah engkau termasuk sekali-kali orang yang ragu-ragu." (Yunus: 94)

Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelummu; yaitu kepada ahlul kitab yang telah masuk Islam dan beriman terhadap dakwah Nabi seperti Abdullahbin Salam, niscaya sesungguhnya mereka akan mengabarkan kepadamu bahwa ia (apayang Kami turunkan kepadamu itu) adalah kitab Allah sebenar-benarnya dan engkauadalah RasulNya serta bahwa taurat telah menyaksikan dan mengatakan hal itu.

(Zubdatut-Tafsir min Fathil-Qadir, surat Yunus 94, Syeikh Dr Muhammad Sulaiman 'Abdullahal-Asyqar.)

Sesungguhnya telah datang al haq kepadamu dari Rabbmu; dalam (rman Allah)ini terdapat penjelasan yang mencabut keraguan, yaitu persaksian Allah bahwa yang mereka ragukan ini adalah al haq (kebenaran) yang tidak dicampuri oleh kebatilan dan tidak dinodai oleh kesamaran.

Diriwayatkan dari Qatadah bahwa rasullah bersabda: "Aku tidak bimbang dan akutidak akan bertanya"

Demikian dikatakan oleh Sa'id bin Jubair, al Hasan al Bashri dan Ibnu Abbas.(Tafsir al-Quran al-'Azhim.)

Allah berfirman:

"Katakanlah: Hal manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu dari

Rabbmu." (Yunus:108)

Al Hazh Ibnu Katsir berkata:

" Allah Ta'ala berrman memerintahkan RasulNya supaya memberitakan kepada manusia, bahwa apa yang beliau bawa dari sisi Allah adalah al haq yang tidak ada kebimbangan dan keraguan di dalamnya."

Juga firmanNya:

" Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepadakamu, dengan (membawa) al haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itulebih baik bagimu." (An Nissa':170)

Al Hazh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini:

" Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agamayang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu."



4 Al Kitab dan As Sunnah Adalah Wujud Wahyu Allah

Dengan demikian untuk menilai sesuatu itu hak atau batil (sehingga bisa dijadikan petunjuk dan sebagai tempat berhukum yang menuntaskan segala perselisihan serta membangun persatuan), serta tidak ada ukurannya kecuali wahyu Allah kepdaRasulNya, Muhammad yang berupa al kitab (al Qu'ran) dan as Sunnah.

Allah berfirman:

"Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qu'ran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunujuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang batil)." (Al Baqarah:185)

Allah juga berfirman:

" Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa al haq, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah tunjukkan kepadamu. " (An Nisaa': 105)

Sedangkan keharusan untuk berpegang teguh dengan as Sunnah, perintah untuk mentaati dan mengikuti Rasulullah disebutkan banyak tempat dalam Al Qur'an.Rasullah diutugaskan untuk menerangkan Al Qur'an , sehingga penjelasan beliau harus diikuti.

Allah berfirman:

" Dan Kami turunkan peringatan (yaitu Al Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka dan supaya mereka berpkir. " (An Nahl: 44)

Mengikuti Rasullah Muhammad adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah:

" Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan cinta kepada kamu, dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (Ali Imran: 31)

Beliau adalah teladan yang baik, sehingga harusnya diteladani oleh orang yang mengharapkan pahala Allah:

" Sesungguhnya Rasulullah (Muhammad) itu adalah teladan yang baikbagimu, yaitu bagi siapa yang mengharapkan pahala Allah dan (balasan)hari akhir, dan senantiasa dia mengingat Allah." (Al Ahzab: 21)

Allah memerintahkan supaya kita menerima apa-apa yang diberikan oleh Rasulullah dan menjauhi apa-apa yang beliau larang.

"Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu sekalian, maka terimalah dia.Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Al Hasyr:7)

Diantara sifat mu'minin adalah berserah diri dan tunduk secara mutlak kepada perintahAllah dan perintah RasulNya.

Firman-Nya:

"Sesungguhnya jawaban mu'minin, bila mereka dipanggil Allah danRasulNya, agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka hanyalahucapan: 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. " (An Nur: 51)

Juga firmanNya:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki mu'min dan tidak pula patut bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul Nya telah memberikan keptusan (hukum) akan sesuatu urusan, bahwa mereka itu meilih urusan mereka. dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." (Al Ahzab:36)

"Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudianmereka tidak merasa dalam hati mereka sesuaitu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengansepenuhnya." (An Nisaa': 65)

Dan as Sunnah adalah dasar kedua setelah Al Kitab yang segala perkara wajib dikembalikan kepada keduanya,

firmanNya:

" Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul Nya dan ulil amridiantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikan itu kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benarberiman kepada Allah dan hari akhir." (An Nisaa': 59)

Syeikh'Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata pada tafsir ayat ini,

".....Kemudian dia memrrintahkan untuk mengembalikan apa saja yang diperselisihkan manusia, yang berupa pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya kepada Allah dan rasul Nya, yaitu kepada Kitab Allah dan sunnah Rasul Nya. karena sesungguhnya di dalam keduanya itu keputusan di dalamseluruh masalah-masalah khilayah, mungkin dengan (nash) yang tegas atau keumuman, atua isyarat, atau peringatan atau pemahaman atau keumuman ma'na. (Dimana) Apa-apa yang menyerupainya bisa dikiaskan padanya.Karena sesungguhnya Kitab Allah dan Sunnah Rasul Nya itu adalah bangunan agama, dan iman tidak akan lurus kecuali dengan keduanya.

Maka mengembalikan kepada keduanya adalah syarat dalam keimanan. Olehkarena itulah Allah berrman " Jika kalian benar-benar beriman kepadaAllah dan hari akhir." Maka hal itu menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak mengembalikan perkara-perkara perselisilihan antara keduanya,bukanlah seorang mukmin yang sebenarnya. Akan tetapi, dia adalahseorang yang beriman kepada thagut, sebagiamana disebutkanb di dala mayat berikutnya. (Ayat ke 60-pen)."(Taisirul-Karim ar rahman 1/214.)

Dengan demikian Al Kitab dan As Sunnah adalah jaminan kebenaran bagi orang yang mau berpegang teguh dengan keduanya, juga mendahulukan keduaya daripada selainnya baik berupa: akal, perasaan, pendapat imamnya atau kelompoknya, mimpi,kasyf (penyingkapan tabir ghaib sebagaimana diyakini orang-orang sufi), hikayat, dan sebagainya.



5. Kewajiban Mengikuti Al-Haq dan Menjauhi Al-Bathil

Perkataan al haq (kebenaran) di dalam Al Qur'an terkadang lawan dari adh-dhalal(kesesatan) sebagaimana firman Allah:

"Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kar mengikuti albatil dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti al haq dari Rabb mereka. " (Muhammad: 3)

Al Quthurbi berkata dalam tafsir ayat ini di dalam kitab beliau "Al-Jaami' liAhkamil-Qur'an":

"Para ulama kita berkata bahwa ayat ini memutuskan tidak ada posisi yang ketiga antara al haq dan al batil dalam masalah ini, yaitu masalah-masalah ushul (pokok), yang al haq itu hanya satu pihak dalam masalah ini. Karena pembicaraan (di ayat) ini hanyalah dalam mensifati adanya dzat, (yaitu)bagaimana ia (sebenarnya). Dan ini berbeda dengan masalah-masalah furu'.

Maka kesimpulannya al haq itu hanya satu, sedangkan berlawanan dengannya pastilah kebatilan atau kesesatan, dan tidak ada posisi ketiga setelah al haq dan al batil.

Ibnu Mas'ud meriwayatkan:

"Rasulullah membuat satu garis, kemudian bersabda: Ini adalah jalan Allah.Kemudian beliau menggaris beberapa garis ke kanan dan ke kiri lalu bersabda: Ini adalah " Subul" (jalan-jalan), dan di setiap jalan-jalan itu ada setanyang menyeru kepadanya. Kemudian beliau membaca (ayat 153, surat al-An'aam):

" Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilahia dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan lain, sehingga ia akan memisahkan kalian dari jalanNya"(HSR an-Nasai di dalam Sunan al-Kubra no: 9215,9281, Ahmad (II/318) dan ad-darimi(I/435,465).)



6 Contoh-contoh Al-Haq dan Al-Bathil

1. Al-Islam adalah agama yang haq, sedang agama-agama selainnya adalah batil.

Firman Allah:

"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kalitidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirattermasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran:85)

Syeik DR.Muhammad Sulaiman al-Asyqar berkata pada tafsir ayat ini dalamZubdatut-Tafsir:

"Maka setelah diutusnya Muhammad Shalallahu 'alaihi wasalam, tidak ada agama kecualiagama beliau dan tidak ada keselamatan pada hari kiamat bagiseseorang yang tidak beragama islam."

Rasulullah bersabada:"Demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya, tidak ada seorang dariumat ini, baik seorang Yahudi atau Nasrani yang mendengar tentangaku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka."(HR. Muslim, Kitab: Al Iman, dari Abu Hurairah.)

2. Tauhid adalah haq; sedang syirik adalah batil.

Firman Allah Ta'ala:

"(Kekuasan Allah) yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalahal Haq dan sesungguhnay apa saja yang mereka seru selainNya, itulah yang batil. Dan sesungghnya Allah itu, Dialah Yang Maha Tinggilagi Maha Besar." (Al Hajj: 62; Luqman: 30)

Al Hadz Ibnu Katsir berkata di dalam kitab tafsirnya, surat al Hajj ayat 62:

"Yaitu (Allah adalah) ilaahul-haq (Yang diibadahi dengan haq), yang dengan ibadah itu tidak pantas dipersembahkan kecualai untukNya,karena Dialah yang memiliki kekuasaan yang agung, yang apa-apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa-apa yang tidak Dia kenhendaki tidak akan terjadi. Dan segala sesuatu butuh kepadaNya, (dan) rendahdisisiNya."

Juga rmanNya:

"Dan barang siapa yang melakukan syirik terhadap Allah, maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh." (AnNisaa': 116)

Maka tauhidullah dengan bagiannya yang tiga: Tauhid Rububuyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wash-Shifat semuanya adalah haq. Dan yang bertentangan dengan ini yang berupa syirik dengan seluruh keragamannya adalah batil.

3. Keimanan adalah haq, sedang kekaran adalah batilYang mana keimanan itu bermanfaat bagi pemiliknya dan kekaran itumembahayakan pelakunya.

Allah berfirman:

"dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu (manusia) bergolong-golongan. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih,maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang kar dan mendustakan ayat-ayat Kami (alQur'an) serta(mendustakan) menemui hari akhirat, maka tetap berada di dalam siksaan (neraka)." (Ar Ruum: 14-16)

4. Ketaatan adalah haq sedang kemaksiatan adalah batilTa'ati bearti mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, sedang maksiatadalah sebaliknya, yaitu meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan. Ta'atsecara mutlak kepada Allah dan RasulNya adalah haq, sebab itu adalha perintahdari al Haq (Allah) yang seluruh perintahNya mengandung hikmah dan pastimembawa manfaat. Sebaliknya bermaksiat kepada Allah dan RasulNya adalahbatil dan pasti membawa kepada kerugian.

Allah berrman:

"Itulah ketentuan-ketentuan dari Allah. Dan barang siapa yang taatkepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang sungai-sungai mengalir di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa bermaksiat kepda Allahdan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, nicaya Allah memasukkan ke dalam api neraka, sedang dia kekal di dalamnya danbaginya siksa yang menghinakan." (An Nisaa: 13-14)

5. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah para sahabat beliau adalah alhaq; menyimpang darinya adalah kebatilan dan kesesatan.

Allah berfirman:

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah kebenaran jelas baginya,dan mengikuti (jlan yang ) bukan jalan mu'minin, Kami biarkan dialeluasa terhadap (kesesatan) yang telah dikuasainya itu dan Kami akan memasukkannya ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. " (An Nisaa: 115)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang ayat ini:

"Keduanya itu saling berkaitan, maka setiap ornag yang menentang Rasulsesudah kebenaran jelas baginya, bearti dia telah mengikuti (jalan yang) bukan jalan mu'minin. Dan setiap orang yang telah mengikuti (jalan yang) bukan jalan mu'minin bearti dia telah menentang Rasul sesudah kebenaranjelas baginya.

Akan tetapi jika dia menyangka dia adalah orang yang mengikuti jalanmu'minin, padahal dia keliru, maka dia sama kedudukannya dengan orangyang menyangka bahwa dia adalah orang yang mengikuti Rasul, padahal diakeliru."

(Kitab Al Iman hal: 35 oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, penerbit: Al Maktab al Islami, cet:III,tahun:1408 H/1988 M.)

Umar bin Abdul Azis berkata:

" Rasulullah dari pemerintah (wulatul-amri) sesudah beliau melewati jalan-jalan(metode-metode, cara-cara), dan mengambil jalan-jalan tersebut adalahpembenaran terhadap kitab Allah dan menyempurnakan ketaatan kepadaAllah serta kekuatan di atas agama Allah.

Tidak ada seorang pun yang berhak merubahnya dan tidak (berhak) meng-gantinya serta tidak (boleh) memperhatikan sesuatu yang menyelisishinya.Barang siapa yang mengamalkannya (niscaya) dia ditolong, dan barangsiapa yang menyelisihinya (bearti) dia melewati (jalan yang) bukan jalan mu'minin dan Allah akan membiarkannya berada dalam (kesesatan) yang telah dia kuasai itu dan Dia akan memasukkannya ke dalam jahannam,dan jahannam seburuk-buruknya temapat kembali."

Orang-orang yang mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnah sahabat itulah firqahan-najiyah (golongan yang selamat) di antara 73 rqah yang diberitakan Rasulullahdi dalam hadist-hadistnya yang msyhur. mereka itulah Ahlu Sunnah wal Jama'ah.

Rasulullah bersabda :

"Dan Umatku akan terpisah menjadi 73 millah (agama), semuanya di neraka kecuali satu millah (yang menjalaninya) apa yang kau dan para sahabat ku diatasnya."(HR. at Tirmidzi; Kitab Al Iman, no: 2641 dan lain-lain, dihasankan oleh Syeikh al Albani di dalam Shahih Jami'ush-Shaghir no: 5343.)

Abul'Aliyah berkata :"Hendaklah kalian berpegang dengan urusqan yang pertama yang mereka(para sahabat) jalanio sebelum mereka berselisih."(Riwayat Ibnul Jauzi, Talbis Iblis hal: 8.)

Al Auza'i berkata:

"Sabarkanlah dirimu diatas As Sunnah. Berhentilah di mana kaum itu(para sahabat -pen) berhenti. Katakanlah dengan apa yang mereka katakan.Tahanlah (diamlah) dari apa yang mereka tahan (diam), dan berjalanlah diatas salaf (pendahulu)mu yang shalih, karena hal itu akan melonggarkanmu apa yang melonggarkan mereka."(Riwayat al-Lalikai, al-Ash-bahani, dan Ibnul Jauzi di dalam Talbis Iblis, hal: 8-9.)



Dengan demikian apa saja yang menyimpang dari Sunnah Rasulullah dan sunnahsahabat adalah kebatilan. Begitu pula semua bid'ah di dalam perkara agama adalahkesesatan dan kebatilan, baik dalam bidang: aqidah, muamalah, tafsir al Qur'an danlain-lain.



7 Setiap kelompok mengaku di atas al Haq

Karena trah manusia memang menyukai al haq, maka setiap kelompok manusia,walaupun berbeda-beda bahakan saling bertentangan, mereka merasa diatas al haq,diatas petunjuk dan kebaikan. Yang hal itu semua diputuskan oleh al Haq (Allah) padahari yang haq (Kiamat) dengan putusan yang haq dan adil.Orang-orang musyrik yang sesat, mereka menyangka berada di atas petunjuk.

Allah berfirman:

"Sebagian diberinya petunjuk dan sebagian lagi telah tetap kesesatanbagi mereka. Seseungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagaipelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa merekamendapatkan petunjuk." (al A'raf: 30)

Orang-orang yang kar terhadap ayat-ayat Allah, sehingga sia-sia perbuatan mereka,mereka mengira bahwa mereka telah berbuat baik. Padahal amal kebaikan itu akan diterima dan dibalas oleh Allah apabila dilakukan dengan ikhlas, sesuai dengan tuntunanRasulullah dan dilakukan oleh orang yang beriman.

Firman Allah tentang mereka:

"Katakanlah: Apakah Kami akan beritakan kepada kalian tentang orag-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatan mereka di kehidupan dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yangkufur terhadap perjumpaan dengan Nya, maka hapuslah amalan-amalanmereka, dan Kami tidak akan memberatkan timbangan (kebaikan) untukmereka pada hari kiamat." (Al Kahfi: 103-105)

Bahkan sampai Fir'aun pun menyangka bahwa dia di atas kebenaran.

firmanNya:"Fir'aun berkata:

" Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apayang aku pandang baik, dan aku tiada menunjukkan kepadamu selainjalan yang benar." (Al Mu'min: 29)

Itulah kalau nilai kebenaran itu diserahkan kepada akal manusia semata atauperasaannya atau hawa nafsunya, niscaya tidak akan terjadi kesepakatan dan persatuan.Tidak ada jalan lain untuk memutuskan perselisihan itu kecuali dengan kembalikepada kitab Allah yang haq, sunnah rasulNya yang haq dengan meniti jalan Salafush-Shalih dari kalangan sahabat, Tabi'in dan Ta'biut Ta'bi'in dan para ulama yangmeneruskan jejak mereka sampai kiamat.



8 Hal-hal yang bisa membantu utnuk mencapai al-haq

(Disadur dari kitab: Wujubu Luzumil-Jama'ah wa Tarkit-Tafarruq. hal: 349-353, oleh: Jamalbin Ahmad bin Basyir Baadi.)



Setelah tauq dan hidayah dari Allah, ada banyak sarana yang bisa dijalani oleh seseorang untuk mendapatkan al haq, diantaranya :

1. Taqwa kepada Allah

Allah berfirman:"Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah,niscaya Dia menjadikan pembeda (antara al haq dengan al batil)bagimu." (Al Anfal: 28)

Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini:

"Karena sesungguhnya barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, den-gan mengerajakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, niscaya dia diberi tauq (bimbingan) untuk mengetahui al haq dari yang batil."

2. Ikhlas

Seorang pencari al haq tidaklah cukup untuk sekedar mengetahui al haq saja.Tetapi haruslah disertai dengan usaha mengamalkannya dengan ikhlas karenaAllah. Sehingga dia selamat dari penyakit-penyakit kebodohan, kedzaliman, hawanafsu, kesombongan dan lainnya. Hal itu semua akan berakibat menolak al haq.(Lihat pada bagian 2)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

"Dan demikian pula orang yang berpaling dari mengikuti al haq yangdia ketahui, disebabkan mengikuti hawa nafsu. Maka sesungguhnya halitu akan mengakibatkan kebodohan dan kesesatan pada orang tersebut.Sehingga membutakan hatinya dari al haq yang nyata."(Majmu' Fatawa : X/10.)

3. Berdoa kepada Allah

Barang siapa berlaku ikhlas dan berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai alhaq serta berdoa dengan penuh kesungguhan, maka hal itu termasuk salah satusarana untuk mendapatkan al haq.

Allah berfirman:

" Dan Rabb kalian berrman : "Berdoalah kalian kepadaKu, niscayaAku akan mengabulkan untukmu." (Ghafir: 60)



Bahkan Rasulullah memberikan teladan kepada umatnya, sebagaimana dikatakanummul-mukminin Aisyah yang artinya:

"Kebiasan Rasulullah apabila berdiri (shalat) waktu malam, beliau membuka shalatnya (dengan doa iftitah): "Allaahumma.." yang artinya:" Wahai Allah, Penguasa Jibril, Mikail, dan Isral, Pencipta langit-langit dan bumi, Yang mengetahui yang tidak tampak dan yang tampak,engkau akan mengadili hamba-hambaMu tentang apa yang telah merekaperselisihkan padanya, bimbinglah aku menuju al haq dengan izinMudari perkara yang diperselisihkan. Sesungguhnya Engkau kehendakijalan menuju jalan yang lurus."

(HSR. Muslim dalam kitab: Shalat al Musarin; Abu Dawud (767) dan Ibnu Majah (1357).)

4. Memperhatikan Al Kitab dan As Sunnah

Al Kitab dan As Sunnah adalah sumber pengambilan al haq, al huda (pertunjuk)dan cahaya. Dengan keduanya bisa dipisahkan antara al haq dan al batil danantara al huda dengan adh dhalal (kesesatan).

Allah berfirman:

" Dan Kami turunkan peringatan (al Qu'ran) kepadamu, agar engkaumenerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada merekadan supaya mereka berpikir." (An Nahl: 44)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

"Apabila seorang hamba membutuhkan Allah dan berdoa kepadaNyaserta memperhatikan kalam Allah, sabda rasulNya dan perkataan para Sahabat, Tabi'in dan imam-imam muslimin, niscaya jalan petunjuk terbuka baginya."(Majmu' Fatawa: V/118.)



5. Mengikuti jalan salafus shalih

Generasi Sahabat,Tabi'in dan Tabi'ut-Tabi'in adalah generasi terbaik manusia berdasarkan kesaksian Rasulullah. Mereka adalah sebaik-baiknya manusia setelah para nabi.

"Orang yang menyimpang dari jalan mereka diancam oleh Allah untukdimasukkan ke dalam Jahannam di akhirat, sedangkan duniadiancam dengan kesesatan. " (An Nisaa': 115).

Allah memuji orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik, di dalam firmanNya:

"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantaraorang-orang Mujahirin dan orang-orang Anshar, dan orang-orangyang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka danmereka pun ridha kepada Allah." (at-Taubah: 100)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

"Oleh karena itulah mengetahui perkataan-perkataan mereka tentangilmu dan agama serta (mengetahui) amalan-amalan mereka (adalah)lebih baik dan lebih bermanfaat, daripada mengetahui perkataanMutakhirin (orang-orang setelah tiga generasi utama-pen) dan(mengetahui) amalan-amalan mereka dalam seluruh ilmu-ilmu agamadan amalan-amalannya.

Seperti tafsir, ushuluddin (pokok-pokok agama), furu'uddin (cabang-cabang agama), zuhd, ibadah, akhalq, jihad dan lainnya. Karena sesungguhnya salafus shalih lebih utama daripada orang-orang setelah mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh al Kitab dan as Sunnah."(Majmu' Fatawa: XII/24.)



6. Persahabatan yang baik

Persahabatan yang baik sangat berpengaruh terhadap seseorang untuk mengenaldan mengikuti al haq.Oleh karena itulah Rasulullah bersabda:

"Seseorang itu menurut agama sahabat dekatnya, maka hendaklah seseorang darikalian memperhatikan dengan siapa dia bersahabat. "(HSR. Abu Dawud, at Tarmidzi, Ahmad dan al Hakim, dishahihkan oleh Syeik Al Albanidalam Silsilah Ash-Shahihah no: 927.)

"Sesungguhnya diantara nikmat Allah kepada seorang pemuda, adalah jika dia beribadah, dia bersaudara dengan Shahibus Sunnah yang membawanya menurut sunnah."

(Riwayat Ibnu Baththah dalam Al Ibanah: I/205, no:43 dan Al Lalikai dalam Syarh UshulI'tiqad Ahlis-Sunnah wal Jama'ah: I/60 no:31.)



Inilah di antara sarana-sarana yang bisa mengantarkan kepada al haq, mudah-mudahan Allah membimbing kita semua untuk mengetahui al haq dan mengikutinya. Allahlah yang memberikan petunjuk menuju kebenaran.

Disalin dari majalah As-Sunnah 12/III/1420H hal 11 - 20.

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.