-->

01 September 2012

Bioghrafi Umar Bin Abdul Aziz




1. KELAHIRANNYA

Beliau lahir pada tahun 61 H/ 682 M di Madinah ada yang mengatakan di Mesir. ( Atsar Umar bin Abdil Aziz Fil Aqidah 1/45 , Tadzkirotul Huffadz 1/118-120 )
Beliau dilahirkan tahun 61 H di Madinah pada era pemerintahan khalifah Yazid bin Mu'awiyah, bertepatan dengan meninggalnya Maemunah istri Nabi Muhammad r. Beliau menghabiskan masa kecilnya di Madinah Munawwarah dengan menimba ilmu dari para ulama yang hidup saat itu. Sehingga terkumpullah pada diri beliau keutamaan ilmu dan agama, disamping keturunan 'darah biru' dan gelimpangan materi. Pasca meninggalnya sang ayah, beliau diminta untuk tinggal di Damaskus oleh khalifah Abdul Malik, paman beliau, lalu dinikahkan dengan salah seorang anaknya; Fatimah. ( al-Bidayah wa an-Nihayah (12/680), Siyar A'lam an-Nubala' (5/117), Tarikh Khulafa' Bani Umayah hal. 253 dan Shofahatun Musyriqah Min at-Tarikh al-Islami, karya Dr. Ali Muhammad Shalabi hal. 396.)

2. Nasab Umar bin Abdul Aziz.

Beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu al-'Ash bin Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab; salah satu keturunan Bani Umayah, yang tentu saja berdarah Quraisy. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan Abu Hafs, sedangkan di kalangan Bani Umayyah beliau lebih dikenal dengan al-Asyaj (si pemilik luka di wajah) Julukan tersebut bermula ketika suatu hari beliau masuk ke tambatan kuda, tiba-tiba seekor kuda menyepak wajah beliau. Lalu ayah beliau pun menyeka darah yang mengalir seraya bergumam, "Seandainya engkau dijuluki si Asyaj Bani Umayyah, sungguh bahagialah engkau". Diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Asakir, dari jalan Harun bin Ma'ruf, dari Dhamrah.

Berkata al-Hafidz al-Imam adz-Dzahabi Rohimahulloh : “ Dia adalah Umar bin Abdil Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syamsin bin Abdi Manaf , al-Imam al-Hafidz al-Allamah al-Mujtahid al-Zahid al-Abid, al-Sayyid Amirul Mu’minin Haqqon, Abu Hafsin al-Qurosyiy al-Amawy, al-Madani Tsummal Misyri , al-Kholifatu al-Zahid al-Rosyid, Pemberani dari Bani Umayyah, Dia adalah Imam Mujtahid dari Khulafaur Rosyidin , Dia memiliki akhlak dan rupa yang baik , sempurna akalnya, diam yang bagus, politik yang baik yang selalu menjaga keadilan pada setiap saat, seorang yang faqih dan seorang yang alim, mempunyai kecerdasan dan pemahaman yang bersih, Dia selalu bertaubat , ta’at pada Alloh serta lurus pada agamaNya, Seorang Kholifah yang zahid, selalu berbicara pada kebenaran, dan sedikit bicara, serta membenci semua pemimpin yang dholim dan tidak berbuat adil serta mengambil yang bukan haknya dan untuk kepentingan dirinya, beliau menurut ahlul ilmi adalah pemimpin yang lurus dan ulama’ yang beramal dengan ilmunya, beliau juga seorang yang fasih dan cakap dalam berbicara.” ( Siyar A’lamin Nubala’ 5/136, 120, 114, 144 )

Ayahnya; Abdul Aziz -seorang gubernur mesir pada pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan- adalah salah satu kandidat yang dicalonkan untuk menduduki tampuk kekhalifahan sepeninggal ayahnya; Marwan bin Hakam, namun ajal keburu menjemputnya. Sedangkan ibunya; Laila bintu Ashim bin Umar bin Khattab, biasa dipanggil dengan Ummu Ashim. Secara garis keturunan dari pihak ibu, beliau adalah cicit Umar bin Khattab. ( al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir (12/676), Siyar A'lam an-Nubala', karya Adz-Dzahabi (5/114), Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu al-Jauzi hal. 9-10, dan Tarikh Khulafa' Bani Umayah, karya Dr. Nabih Aqil hal. 253. )

Dikisahkan ketika Abdul Aziz hendak melamar Laila, ia berkata kepada atasannya, "Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang terbaik, karena aku ingin melamar seorang perempuan dari keluarga baik-baik". Singkat cerita, akhirnya Abdul Aziz pun menikahi Laila. ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 10. )

3. Menuntut ilmu

Beliau diberi anugrah sejak usia kecil cinta terhadap ilmu dan cinta dalam mempelajari serta mengkaji ilmu agama di majlis-majlis ulama’, sebagaimana beliau senantiasa menjaga dan bermajlis ilmu di Madinah, dan Madinah pada waktu itu menjadi kota yang bergemerlap kebaiakan dari ilmu para ulama’, foqoha’ serta orang-orang yang sholih, beliau semangat dalam ilmu sejak usia dini dan awal yang dipelajari beliau dari para ulama dalah adab. ( al-Bidayah Wan Nihayah 12/679 )

Beliau menghafalkan al-Qur’an sejak masih kecil dan al-Qur’an membimbing dirinya hingga menjadi orang yang bersih serta mempunyai kemampuan yang besar untuk menghafal dan menyelesaikannya dengan sempurna dalam upaya mencari ilmu serta menghafalkannya. Dan sungguh membekas semua pelajaran dalam al-Qur’an yang beliau pelajari karena tentang mengenal Alloh, kehidupan, yang wujud, surga, neraka, taqdir dan keputusan, hakekatnya mati beliau sangat takut jika mendengar kematian serta menangis terhadap semua yang terjadi pada umurnya , sampai ibunya mendengar akan tangisannya, dan bertanya mengapa kamu menangis ? beliau berkata :” aku ingat mati, maka ibunyapun juga ikut menangis, seluruh hidupnya beliau bersama al-Qur’an mempelajari serta mengamalkan perintah di dalamnya. ( al-Bidayah Wan Nihayah 12/678 )

4. Guru Umar bin Abdil Aziz

Guru beliau adalah Sa’id bin al-Musayyab Rohimahulloh ( Hayatu Kholifah Umar bin Abdul Aziz Hal. 25 )
Umar bin abadil Aziz belajar pada banyak ulama’ dan Fuqoha’beliau memiliki 33 guru , 8 diantaranya adalah shohabat dan 25 lainnya dari tabi’in ( Musnad Amirul Mu’minin Umar bin Abdil Aziz Hal. 33 )
Beliau penah bermajlis dengan Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu dan yang lainnya dari shohabat serta mendengar dari mereka, maka beliau paling banyak meriwayatkan hadits Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan dari jalan Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu. (Siyar A’lamin 4/47 )

5. Murid

Mujahid berkata,”Kami mendatanginya, dan kami tidak meninggalkannya sebelum kami belajar dari padanya”. ( Biografi Umar bin ‘Abdul “Aziz dalam Tarikh al-khulafa No.153, Tahdzibul Asma An Nawawi No.11/17 Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar no VII/475 )

6. Pujian Ulama’ Kepada Umar bin Abdil Aziz

Adz-Dzahabi berkomentar: "Beliau adalah seorang yang berperawakan dan berakhlak bagus. Memiliki kesempurnaan dalam berpikir, pintar menempatkan diri, jago lobi politik, menjunjung tinggi nilai keadilan dan berusaha mengaplikasikannya semaksimal mungkin, luas ilmunya, mumpuni dalam ilmu psikologi dan diberi kecerdasan luar biasa yang ‘dibungkus’ pemahaman yang menakjubkan. Di samping itu beliau juga dikenal sebagai ahli ibadah, memiliki akidah yang lurus, zuhud meskipun memegang tampuk pemerintahan dan lantang menyuarakan kebenaran meskipun sedikit yang mendukungnya. Para ulama mengkategorikan beliau sebagai salah satu al-Khulafa' ar-Rasyidun ( al-Khulafa' ar-Rasyidun ditujukan pada pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. As-Syafi'i mengatakan: "al-Khulafa' ar-Rasyidun ada lima: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz. Lihat: Siyar A'lam an-Nubala' (5/131).
dan ulama yang mengamalkan ilmunya. ( Al-Bidayah wa an-Nihayah (12/696), Siyar A'lam an-Nubala' (5/120), dan Shofahatun Musyriqah Min at-Tarikh al-Islami hal. 400.)

7. Kepribadian Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problematika yang ada dan memiliki analisa yang tajam.
Di antara karakteristik yang dimilikinya:
a. Rasa takut yang tinggi kepada Allah Azza Wajalla.
Hal yang menjadikan Umar bin Abdul Aziz begitu fenomenal bukanlah karena banyaknya shalat dan puasa yang dikerjakan, tetapi karena rasa takut yang tinggi kepada Allah dan kerinduan akan surga-Nya. Itulah yang mendorong beliau menjadi pribadi yang berprestasi dalam segala aspek; ilmu dan amal.

Dikisahkan pada suatu hari si Umar kecil menangis tersedu dan hal itu terdengar oleh ibunya. Lantas ditanyakan apa sebabnya. Beliau pun menjawab: "Aku teringat mati". Maka sang ibu pun menangis dibuatnya.( Al-Bidayah wa an-Nihayah (12/678) dan Siyar A'lam an-Nubala' (5/116).

Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. "Berilah aku petuah!", Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar: "Wahai Amirul Mukminin !! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberimu manfaat. Sebaliknya jika engkau masuk surga, orang yang masuk neraka juga tidaklah mungkin bisa membahayakanmu". Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu sehingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi.( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 164 )

Beliau paling takut kepada Alloh dan hari kiamat, beliau berdo’a :” Ya Alloh, jika Engkau tahu sesungguhnya aku takut sesuatu selain hari kiamat maka jangan Engkau percaya rasa takutku….ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada tempat antara surga dan neraka, dan sesungguhnya kalian pasti milih salah satu tempat antara keduanya.” ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 232 )

b. Wara'.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh :” Waro’ adalah diantara sifat Amirul Mu’minin Umar bin Abdul Aziz , menahan diri dari sifat yang membahayakan diri, karena kalau tidak masuk di dalamnya subuhat dan .muharromat dan itu sangat membahayakan, maka barang siapa yang takut dari sifat subuhat maka akan terbebas kehormatan dan agamanya, dan barang siapa yang terjatuh pada subuhat maka dia terjerumus ke dalam hal yang diharomkannya seperti seperti pengembala yang barada di dekat daerah larangan dan hampi terjatuh ke dalamnya.” ( Majmu’ Fatawa : 10/615 )

Di antara bentuk nyata sikap Wara' yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah keengganan beliau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi, meskipun hanya sekedar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, "Wahai khalifah! Bukankah itu hanya sekedar bau aroma saja, tidak lebih?". Beliau pun menjawab: "Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena bau aromanya?".( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu al-Jauzi hal. 192.

Di antara bentuk nyata sikap Wara' yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah menjaga dengan hati-hati penggunaan fasilitas dan uang Negara serta kaum Muslimin, dan beliau menggunakan lampu pada rumah – rumah ketika ada kebutuhan kaum Muslimin, dan ketika selesai kebutuhan mereka maka beliau memadamkannya selanjutnya beliau menggunakan lampu dengan uang pribadinya.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/164 )

Dikisahkan suatu hari Umar bin Abdul Aziz pernah mengidam-idamkan buah apel. Tiba-tiba salah seorang kerabatnya datang berkunjung seraya menghadiahi sekantong buah apel kepada beliau. Lalu ada seseorang yang berujar: "Wahai Amirul Mukminin Bukankah Nabi Shollallohu alaihi wasallam dulu pernah menerima hadiah dan tidak menerima sedekah?". Serta merta beliau pun menimpali, "Hadiah di zaman Nabi Shollallohu alaihi wasallam benar-benar murni hadiah, tapi di zaman kita sekarang ini hadiah berarti suap". ( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 189.)

c. Zuhud.

Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang sangat zuhud, bahkan kezuhudan yang dimilikinya tidaklah mungkin bisa dicapai oleh siapa pun setelahnya. Kezuhudan yang mencapai level tertinggi di saat 'puncak dunia' berada di genggamannya.
Sesungguhnya akherat adalah negeri yang kekal dan abadi, oleh karena itu Umar bin Abdul Aziz zuhud pada dunia dan awal zuhud beliau adalah zuhud yang diharomkan, kemudian zuhud yang mubah, dan derajat zuhud yang paling tinggi yaitu zuhud dalam kelebihan rizki karena setiap raja memiliki kekayaan yang berlimpah. Zuhudnya Umar bin Abdil Aziz adalah dibangun di atas kitab dan sunnah dan oleh karena itu beliau meninggalkan semua perkara yang tidak manfaat untuk akheratnya, beliau tidak bangga dengan khilafah yang dipimpinnya, dan tidak sedih atas kehilangan perkara-perkara dunia, beliau meninggalkan apa yang beliau mampu untuk menghasilkan kesenangan dunia yang lebih menyibukkan diri dalam urusan yang lebih baik dalam akheratnya dan mencintai apa yang ada di sisi Alloh Ta’ala.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/146 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Ketika berkuasa Umar bin Abdil Aziz maka beliau zuhud pada dunia beliau menolak apa yang ada di dalamnya, beliau meninggalkan makanan yang beraneka ragam macamnya, ketika beliau dibuatkan makanan jika beliau senang pada makanan itu beliau sembunyikannya sampai ada orang yang masuk mengambil dan memakan makanan itu.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 43 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Beliau berinfaq atas keluarganya pagi dan sore tiap hari sebesar 2 Dirham.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 43 )

Imam Malik bin Dinar Rohimahulloh berkata: "Orang-orang berkomentar mengenaiku, "Malik bin Dinar adalah orang zuhud." Padahal yang pantas dikatakan orang zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. dunia mendatanginya namun ditinggalkannya".( Al-Bidayah wan-Nihayah (12/699) dan Siyar A'lam an-Nubala' (5/134).

Beliau tidaklah berpakaian melainkan pakaian yang kasar dan jelek, dan meninggalkan berlebih – lebihan yang sebelum beliau berkuasa beliau memerintahkan orang untuk menjual pakaian kebesarannya lalu uangnya diberikan untuk baitul mal kaum Muslimin.” ( Atsar al-warodah Fi Umar bin Abdul Aziz Fil Aqidah 1/155 )

Pernahkan terbetik di benak kita seorang kepala negara ketika berkeinginan menunaikan ibadah haji, ia tidak bisa berangkat hanya karena uang perbekalannya tidak cukup? Pernahkah terlintas di bayangan kita seorang bangsawan yang hanya memiliki satu buah baju, itu pun berkain kasar? Beliau Umar bin Abdul Aziz pernah mengalaminya! ( al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 70.

d. Tawadhu'.

Keluhuran budi pekerti yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz sangatlah tinggi. Hal itu tercermin dari sekian banyaknya karakteristik yang menonjol pada diri beliau. Di antaranya adalah sikap Tawadhu'nya.
Berkata Imam az-Zuhaili Rohimahulloh :” Sifat tawadhu’ adalah sifat terpuji salah satu dari sifat politiknya yang membedakan beliau dengan kholifah lainnya, dan telah mencapai zuhudnya Umar bin Abdul Aziz pada sifat tawadhu’nya, karena syarat zuhud yang benar adalah tawadhu’ kepada Alloh Ta’ala.” ( Umar bin Abdul Aziz Li Zuhaili. Hal. 105 )

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Diantara sifat tawadhu’nya adalah melarang manusia untuk berdiri untuk menyambutnya, beliau berkata :” Wahai manusia “ jika kalian berdiri maka kami akan berdiri dan jika kalian duduk maka kami akan duduk, sesungguhnya manusia hanya berdiri dan berjalan di hadapan Alloh Ta’ala saja, dan beliau berkata kepada pasukan :” Janganlah kalian memulai kepadaku dengan salam, sessungguhnya memulai salam adalah kalim pada kalian.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 34-35 )

Suatu hari ada seorang laki-laki memanggil beliau, "Wahai khalifah Allah di bumi!" Maka beliau pun berkata kepadanya: "Ketika aku dilahirkan keluargaku memberiku nama Umar. Lalu ketika aku beranjak dewasa aku sering dipanggil dengan sebutan Abu Hafs. Kemudian ketika aku diangkat menjadi kepala negara aku diberi gelar Amirul Mukminin. Seandainya engkau memanggilku dengan nama, sebutan atau gelar tersebut aku pasti menjawabnya. Adapun sebutan yang barusan engkau berikan, aku tidaklah pantas menyandangnya. Sebutan itu hanya pantas diberikan kepada Nabi Daud Alaihis Salam dan orang yang semisalnya", seraya membacakan firman Allah Ta’ala :

) يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ (
Artinya: "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi". (QS. Shad: 26). ( Sirah Umar bin Abdul Aziz, karya Ibnu Abdul Hakam hal. 46. Dinukil dari al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 71)

Namun, ada yang lebih mengagumkan lagi! Kisah yang mencerminkan sikap Tawadhu' yang dimilikinya; Kisah Umar bin Abdul Aziz dengan seorang pembantunya.

Pernah suatu saat Umar bin Abdul Aziz meminta seorang pembantunya untuk mengipasinya. Maka dengan penuh cekatan sang pembantu segera mengambil kipas, lalu menggerak-gerakkannya. Semenit, dua menit waktu berlalu, hingga akhirnya Umar bin Abdul Aziz pun tertidur. Namun, tanpa disadari ternyata si pembantu juga ikut ketiduran. Waktu terus berlalu, tiba-tiba Umar bin Abdul Aziz terbangun. Ia mendapati pembantunya tengah tertidur pulas dengan wajah memerah dan peluh keringat membasahi badan disebabkan panasnya cuaca. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun mengambil kipas, lalu membolak-balikkannya mengipasi si pembantu. Dan sang pembantu itu pun akhirnya terbangun juga, begitu membuka mata ia mendapati sang majikan tengah mengipasinya tanpa rasa sungkan dan canggung. Maka dengan gerak reflek yang dimilikinya ia menaruh tangan di kepala seraya berseru karena malu. Lalu Umar bin Abdul Aziz pun berkata menenangkannya: "Engkau ini manusia sepertiku! Engkau merasakan panas sebagaimana aku juga merasakannya. Aku hanya ingin membuatmu nyaman -dengan kipas ini- sebagaimana engkau membuatku nyaman".( Akhbar Abi Hafs, karya al-Ajurri hal. 82. ( al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal.72.)

e. Adil.

Berkata Umar bin al-Khotthob Rodhiallohuanhuma :” Sesungguhnya dari anakku nanti dengan kedudukannya akan memenuhi bumi dengan keadilan ( al-Ma’rif, Ibnu Qutaibah Hal. 362 )
Umar bin Khattab t pernah berkata: "Kelak salah satu keturunanku akan ada yang memenuhi bumi ini dengan keadilan; seorang laki-laki yang di wajahnya ada bekas luka". ( Siyar A’lam an-Nubala (5/116).)
Di antara sekian karakteristik yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz, adil adalah sikap yang paling menonjol. Sikap itulah yang menjadikan nama beliau begitu familiar di telinga generasi setelahnya hingga hari ini. Keadilannya selalu digaungkan oleh para pencari keadilan, entah karena betul-betul ingin menapaktilasi jejaknya ataukah hanya sekedar kamuflase belaka. Yang terpenting adalah nama besarnya telah mendapat tempat di hati para penerus perjuangannya. Dan nama itu terukir indah dengan tinta emas di deretan para pemimpin yang adil, para pemimpin yang terbimbimg oleh kesucian wahyu; Al Qur'an dan Sunnah, para pemimpin yang dijuluki al-Khulafa' ar-Rasyidun. Dan sejarah Islamlah pengukirnya.
Imam Al-Ajurri Rohimahulloh menceritakan sikap adil yang dimilikinya, beliau berujar: "Seorang laki-laki Dzimmi ( Non muslim (yahudi atau nasrani) yang tinggal di negara Islam (muslim) dan terikat perjanjian damai dengan pihak setempat dengan syarat membayar Jizyah (pajak jaminan keamanan) serta tunduk pada hukum Islam. ( al-Mausu'ah al-Fiqhiyah (2/2487).

Penduduk Himsh ( Mu'jam al-Buldan, Yaqut al-Hamawi (2/116). pernah mendatangi Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu: "Hai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah". "Apa yang engkau maksud?", sergah Umar bin Abdul Aziz. "Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku", lanjutnya -saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz-. Maka Umar bin Abdul Aziz pun menanyakan hal itu kepada Abbas, "Apa komentarmu?". "Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku; Walid bin Abdul Malik", sahut Abbas membela diri. Lalu Umar pun balik bertanya kepada si Dzimmi, "Apa komentarmu?". "Wahai Amirul Mukminin! Aku ingin diberi keputusan dengan hukum Allah", ulang si Dzimmi. Serta merta Umar bin Abdul Aziz pun berkata: “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan dari pada hukum Walid bin Abdul Malik”, seraya memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dirampasnya.( Akhbar Abi Hafs hal. 58. Lihat: : al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz hal. 78. )

f. Sabar

Dari Hafshoh bin Umar berkata :” Ketika wafat Abdul malik bin Umar bin Abdil Aziz Abinya memujinya di sisi kuburannya, berkata Muslimah :” Bukankah engkau tetap orang yang berkuasa ? beliau berkata :” Tidak, Muslimah berkata :” Bukankah engkau memuji dengan suatu pujian padanya? Beliau berkata :” Sesungguhnya aku takut jika aku diuji oleh Alloh dengan rasa cinta yang berlebihan seorang bapak terhadap anaknya.” ( al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 2/427 )

Beliau berkhutbah :” Tidaklah seseorang yang ditimpah suatu musibah kemudian dia berkata :” Inna lillahi Wainna ilaihi Roji’un” kecuali dia akan diberikan pahala yang lebih baik oleh Alloh dari pada yang telah diambilNya, beliau berkata :” Orang yang ridho itu sedikit dan sabar itu pijakan orang yang beriman” beliau berkata :” Barang siap yang beramal tanpa ilmu kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikannya. Barang siap yang tidak memperhitungkan ucapan dan amal perbuatannya maka akan banyak kesalahannya, orang ridho itu sedikit, pertempuran orang mu’min adalah sabar.” ( al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 2/428 )

Kesabaran yang paling besar yang diujikan pada Umar bin abdil Aziz pada masa hidupnya adalah kesabaran yang terjadi dalam urusan khilafah, beliau berkata :” demi Alloh, tidaklah aku duduk di tempatku ini kecuali aku takut bahwa kedudukanku bukan pada tempatnya, walaupun aku ta’at pada semua yang aku kerjakan untuk menyelamatkannya dan memberikan pada haknya yaitu al-khilafah. Akan tetapi aku bersabar sampai Alloh memutuskan perkaranya pada khilafah, atau mendatangkan kemenangannya padanya.” ( an-Namudzi al-Idari al-Mustakhlishu Min Irodati Umar bin abdil Aziz . Hal. 144 )

g. Manhajnya

Berkata Imam Ibnu Abdil Hakam Rohimahulloh :” Ketika beliau berkuasa beliau menulis surat , Beliau berkata :” Adapun sesudah itu : Aku wasiatkan kepada kalian semua untuk bertaqwa kepada Alloh Ta’ala menetapi kitabulloh dan mengikuti sunnah NabiNya Shollallohu alaihi wasallam dan petunjukNya, dan tidaklah bagi seseorang dalam kitabulloh dan sunnah NabiNya dalam suatu perkara dan tidaklah suatu pendapat melainkan bersungguh-sungguh dalam mengikutinya, maka demi Dzat yang jiwaku dan sisa hidupku dalam mengurusi umat Muhammad shollallohu alaihi wasllam ..ikutilah kitaballoh dan sunnah Rosululloh Shollalohu alaihi wasallam serta jauhi hawa nafsu , kesesatan yang jauh, maka barang siapa yang beramal yang tidak dari al-Qur’an dan As-Sunnah maka tidak ada kemulyaan dan derajat di dunia dan di akherat …sesungghnya manusia yang paling hina menurutku adalah orang yang hidupnya menyelisihi sunnah.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 65-67, al-Kitabul Jami’ Lisiroh Umar bin Abdil Aziz 1/284-287 )

Berkata Imam Maimun bin Mahron Rohimahulloh :”Aku berada di sisi Umar bin Abdil Aziz beliau banyak menangis dan meminta kepada RobbNya kematian, maka aku berkata :” mengapa engkau minta mati padahal Alloh telah menjadikan engkau kebaikan yang banyak, engkau menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah ? beliau berkata :” Tidakkah aku ingin menjadi hambaNya yang sholih ketika Alloh mengikohkan penglihatannya dan melaksanakan semua perintahNya, Alloh Ta’ala berfirman :” Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” QS.Yusuf :101 ) sungguh beliau meminta do’a mati membawa iman, dan berdo’a untuk mengikuti orang-orang yang sholih.” ( al-Aqdul farid 4/396, al-Atsar al-warodah 1/224 )

Berkata Imam Hajib bin Kholifah al-Barjami Rohimahulloh :” Aku menyaksikan Umar bin Abdil Aziz berkhutbah pada manusia setelah beliau menjadi Kholifah, beliau berkhutbah :” Apa yang dicontohkan Nabi Shollalohu alaihi wasallam dan para shohabatnya adalah agama yang kami mengambilnya dan kami berhenti jika keduanya tidak melakukan, dan apa yang selain dari keduanya maka kami buang.” ( Jami’ul ulum Wal Hikam Hal. 288 al-Hilyah 5/298 )

Berkata Imam Umar bin Abdil Aziz Rodhiallohuanhu :” Telah mencontohkan Rosululloh Shollalohu alaihi wasallam dan kholifah sesudahnya suatu tauladan yang wajib diikuti, berpegang teguh dengan kitabillah adalah kekuatan agama yang tidak boleh bagi seorangpun yang merubah dan menggantinya, dan tidak boleh berfikir dalam suatu perkara yang akan menyelisihinya, barang siap yang diberi hidayah maka dia mendapat petunjuk, barang siapa yang menolong sunnahnya maka dia ditolong, barang siapa yang meninggalkannya dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman maka Alloh akan palingkan jalannya dan akan menempatkannya di neraka jahannam sebagai sejelek-jelek tempat kembali.” ( Siroh Umar bin Abdul Aziz Libni al-Hakam Hal. 40 )

Umar bin "Abdul Aziz Rodhiallohuanhuma pernah berwasiat kepada sebagian pegawainya, "Aku berwasiat kepadamu agar senantiasa bertaqwa kepada allah dan berlaku sederhana dalam menjalankan perintah-Nya,mengikuti Sunnah (tuntunan)Rasulullah meninggalkan perkara-perkara baru dalam agama yang diada-adakan oleh orang-orang setelahnya, dan berhentilah pada batas-batas ajarannya. Dan ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah berbuat bid'ah melainkan telah ada sebelumnya hal yang menunjukan kebid'ahannya dan pelajaran buruk yang ditimbulknanya. Karena itu, kamu wajib berpegang kepada As-sunnah, sebab ia tameng dan pelindung (dari berbagai kesesatan dan kebinasaan-Pen) bagi dirimu dengan izin Allah. Dan ketahuilah, barang siapa yang berjalan diatas sunnah, maka ia telah mengetahui bahwa tindakan menyelisinya adalah termasuk kesalahan, kekeliruan, sikap berlebih-lebihan dalam kedunguan. Maka generasi terdahulu dari umat ini (As-salafus sholih) dan telah berhenti dan menahan diri mereka dengan ilmu yang mapan (dari bid'ah-bid'ah) padahal mereka adalah orang yang sangat sanggup membalas suatu masalah agama, akan tetapi mereka tidak membahasnya." [ Shahih sunan Abi Dawud No. 4612 dan lihat takrij kitab Asy-Syariah, Atsar No. 292]

Wafatnya.

Beliau meninggal dunia hari jum'at di sepuluh hari terakhir bulan Rajab tahun 101 H pada umur 40 tahun, setelah memegang tampuk kekuasaan selama kurang lebih 2 tahun 5 bulan 4 hari, dikarenakan stroke yang menimpanya. Ada juga yang mengatakan bahwa beliau meninggal dunia karena diracun para pejabat Bani Umayah. Wallahu A'lam. Lihat: ( al-Bidayah wa an-Nihayah (12/719), Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 327 dan al-Khalifah ar-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar bin Abdul Aziz, karya Dr. Ali Muhamad Shalabi hal.329.)

Beliau meninggalkan 3 orang istri: Fatimah bintu Abdul Malik bin Marwan, Lumais bintu Ali bin Haris, Ummu Utsman bintu Syu'aib bin Zayyan, dan 14 orang anak laki-laki: Abdul Malik, Abdul Aziz, Abdullah, Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Bakr, Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zayyan, Abdul Aziz, Abdullah, serta 3 orang anak perempuan: Ummu Ammar, Aminah, Ummu Abdillah.( Sirah wa Manaqib Umar bin Abdul Aziz hal. 314-315.)

Beliau memiliki 14 anak 13 laki-laki dan 3 putri , yang putra adalah : Abdul Malik, Abdul aziz, Abdulloh, Ibrohim, Ishaq, Ya’kub, Bakar al-Walid, Musa, Ashim, Yazid, Zuban, Yang putri ada 3 yaitu : Aminah, Ummu Ammar, Ummu Abdillah. ( Siyar A’lamin Nubala’ 1/23, Syiroh Umar bin Abdil Aziz, Ibnul Jauzi Hal. 338 Fiqih Umar bin Abdil Aziz 1/24 )

Ia wafat pada tahun 101 H ( Biografi Umar bin ‘Abdul “Aziz dalam Tarikh al-khulafa no.153, Tahdzibul Asma An Nawawi no.11/17 Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar no VII/475 )

Ia wafat pada tahun 101 H/ 720 M Umurnya 40 tahun. ( Atsar Umar bin Abdil Aziz Fil Aqidah 1/45 , Tadzkirotul Huffadz 1/118-120 )

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.