-->

01 September 2012

Hukum Memberontak Kepada Penguasa Muslim

Dari Al Auza’i dari Hasan bin Athiyah dia berkata : “Tidaklah suatu kaum itu berbuat bid’ah kecuali akan Allah angkat satu sunnah yang serupa kemudian tidak akan dikembalikan-Nya sampai hari kiamat.”

Dari Ayub As Sikhtiyani dia berkata : “Tidaklah bertambahnya semangatnya ahli bid’ah itu kecuali akan semakin menjauhkan dia dari Allah dan ahli bid’ah ini dinamakan Khawarij.” Dan dia berkata : “Sesungguhnya Khawarij itu model-bentuknya berbeda-beda akan tetapi mereka sama-sama dalam mengangkat senjata (terhadap penguasa Muslim, red.).” (Al I’tisham karya As Syathibi 1-83)
Sambutan Dari Syaikh Abdullah Bin Shaleh Al Ubailan
Sesungguhnya segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya serta memohon ampun kepada-Nya dan kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa kita dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya.
Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq disembah selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.
Adapun sesudah itu, sungguh saya telah membaca Kitab karya saudaraku yang mulia, As Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslaan yang semoga Allah memberinya taufiq dengan segenap kebaikan, pada permasalahan seputar Bai’at dan Imamah. Saya berpendapat beliau telah melakukannya dengan baik, perkataannya benar dan tepat dalam permasalahan yang sangat penting ini. Hal ini adalah termasuk pokok agama dan tidak ada ikhtilaf dikalangan para imam dalam permasalahan ini.
Berkata Imam Al Ajurri Rahimahullau Ta’ala dalam Kitab As Syarii’ah hal 21 : “Ulama tidak pernah berselisih, baik dahulu maupun sekarang bahwa kaum Khawarij adalah kaum yang jelek, mereka bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Walaupun mereka berpuasa dan shalat dan sangat bersemangat dalam beribadah akan tetapi itu semua tidak bermanfaat bagi mereka. Walaupun mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar tetapi hal ini tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka adalah kaum yang menafsirkan Al Qur’an menurut hawa nafsunya dan mereka menipu kaum Muslimin. Sungguh Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita dari kejelekan mereka, demikian pula para Khalifah Ar Rasyidiin dan juga para shahabat serta para pengikut mereka Rahmatullahi ‘Alaihim.”
Dan berkata beliau (Imam Al Ajurri) pada halaman 28 : “Hendaklah seorang itu jangan tertipu kalau melihat semangatnya mereka (kaum Khawarij) yang telah memberontak imam yang adil ataupun dzolim kemudian mereka mengumpulkan manusia dan mengangkat senjata dan menghalalkan darah kaum Muslimin. Maka janganlah tertipu dengan bacaan Al Qur’an mereka, dengan panjangnya sholat mereka, dengan kuatnya puasa mereka, dengan fasihnya retorika mereka jika madzhabnya adalah madzhab Khawarij.” Kemudian beliau membawakan hadits yang meriwayatkan tentang kesesatan Khawarij.
Berkata lagi beliau dalam halaman 37 : “Dan sungguh aku telah memperingatkan dari bahaya madzhab Khawarij ini dengan penjelasan yang jelas bagi orang yang dijaga oleh Allah ‘Azza wa Jalla Al Karim dan tidak berpendapat seperti mereka serta bersabar atas kedzaliman dan kejahatan penguasa, tidak keluar memberontak mereka dengan mengangkat senjata. Meminta kepada Allah agar menghilangkan kedzaliman dari pemimpinnya dan dari seluruh kaum Muslimin, mendoakan kebaikan bagi penguasa, berhaji bersama penguasa, berjihad bersama mereka melawan setiap musuh, shalat Jumat dan ‘Ied di belakang mereka. Jika penguasa memerintahkan untuk taat dan punya kemampuan untuk mentaatinya maka ia pun mentaati mereka, jika tidak mampu maka ia pun minta udzur kepada penguasanya. Jika memerintahnya dengan kemaksiatan ia tidak mentaatinya. Jika terjadi fitnah di antara penguasa ia tetap berada di rumah dan menjaga lisan dan tangannya, tidak terjerumus dalam fitnah yang menimpa mereka serta tidak membantu siapapun dalam fitnah ini. Barangsiapa yang sifatnya seperti ini maka dia di atas jalan kebenaran yang lurus, Insya Allah.”
Berkata Imam As Syaukani Rahimahullahu Ta’ala dalam Kitab Sailul Jaraar jilid 4 halaman 556 : “Akan tetapi mereka yang melihat kesalahan-kesalahan penguasa dalam beberapa masalah hendaklah dia menasihatinya dan janganlah menampakkan cacian kepadanya dihadapan banyak orang akan tetapi lakukanlah seperti yang dijelaskan dalam hadits yaitu menasihatinya dengan mengambil tangannya dan menyendiri kemudian mencurahkan nasihat kepadanya serta tidak menghinakan penguasa Allah. Dan kami telah menerangkan di awal kitab bahwasanya tidak diperbolehkan memberontak penguasa walaupun mereka pada puncak kedzaliman selama mereka masih shalat dan tidak terang pada mereka kekufuran. Hadits-hadits yang berkaitan dengan hal ini mutawatir. Wajib bagi makmum untuk mentaati imamnya dalam perkara ketaatan pada Allah. Dan tidak mentaatinya dalam maksiat kepada Allah karena tidaklah ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara kemaksiatan kepada Khaliq.
Berkata Ibnul Qayyim dalam Miftah Daari As Sa’aadah jilid 1 halaman 72 : “Perkataanya :
‘Dan menasihati penguasa Muslimin.’
Ini juga menunjukkan tidak adanya kedengkian dan kebencian karena nasihat itu tidak akan berkumpul dengan kedengkian karena dua hal ini saling bertentangan. Maka barangsiapa yang telah menasihati penguasa, sungguh dia telah berlepas diri dari kedengkian. Perkataannya :
‘Dan berpegang teguh dengan jamaah mereka.’
Hal ini adalah perkara yang membersihkan hati dari kedengkian dan kebencian karena orang yang berpegang dengan jamaah Muslimin tersebut akan mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai dirinya dan benci dengan apa-apa yang mereka benci dan senang dengan apa-apa yang menyenangkan mereka. Berbeda dengan orang yang menyempal dari mereka dan sibuk mencela mereka serta mencari aib-aib mereka seperti perbuatan kaum Rafidlah, Khawarij, Mu’tazilah dan lainnya yang mana tidaklah mereka berbicara kecuali dengan kedengkian dan kebencian. Oleh karena itu kalian dapati Rafidlah adalah orang yang paling jauh dari keikhlasan dan paling benci kepada penguasa beserta umatnya dan paling jauh dari Jamaatul Muslimin.” Selesai dari Imam Asy Syaukani.
Berkata Saikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pada Risalah-nya (Al Ushuulus Sittah) : “Pokok yang ketiga adalah bahwasanya termasuk dari sempurnanya persatuan adalah mendengar dan taat kepada penguasa kita walaupun ia adalah seorang bekas budak Habasyi (Ethiopia, pent.). Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menerangkan hal ini dengan penjelasan yang terang dan jelas dari segala sisinya. Akan tetapi pokok ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang yang mengaku berilmu. Bagaimana bisa mereka beramal?” Selesai ucapan beliau dari Kitab Al Jaami’ul Faarid min Kutubin wa Rasaa’ili li A’immatid Da’wati Al Islaamiyah.
Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku dan kembalikanlah mereka ke jalan-Mu yang lurus dan kembalikan mereka kepada jalan kekasih-Mu Al Musthafa Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Yang mana Engkau telah berkata kepadanya :
Katakanlah : “Inilah jalanKu, aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku juga demikian. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)
Dan Engkau telah berkata kepadanya :
“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutlah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya karena akan memecah-belah kalian dari jalan Allah. Demikianlah aku wasiatkan kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al An’am : 157)

Yang fakir kepada ampunan Rabbnya, Syaikh Abdullah bin Shalih Al ‘Ubailan.
Kewajiban Menjaga Persatuan Dan Larangan Perpecahan
Bismillahirrahmaanirrahiim
Sesungguhnya segala pujian kesempurnaan hanyalah milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan-kejelekan jiwa kita dan dari kejelekan-kejelekan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dia telah mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tiada baginya wali dan pembimbing.
Amma ba’du,
Sungguh keadaan jahiliyah sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, manusia saat itu berada pada perpecahan dan permusuhan yang dahsyat, yang kuat memangsa yang lemah. Setiap kabilah mencari kesempatan untuk menyerang saingannya. Maka Allah mengutus Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menyeru kepada persatuan dan berpegang teguh dengannya. Dan juga memperingatkan dari perpecahan. Hadits-hadits dalam permasalahan ini mencapai derajat mutawatir dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, shahabatnya, dan juga para pengikutnya dari kalangan para imam Salaf yang mudah-mudahan ridha Allah atas mereka semua.
Berfirman Allah Ta’ala :
“Dan janganlah kalian saling berselisih yang akan menyebabkan kalian bercerai-berai dan hilang kekuatan kalian.”
(QS. Al Anfal : 46)

Dan firman-Nya :
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dalam agama mereka dan berselisih setelah datang penjelasan kepada mereka. Dan bagi mereka adzab yang pedih.”
(QS. Ali Imran : 105)

1.
Dari Usamah bin Syuraik radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Tangan Allah di atas jamaah.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan Tabrani dan Al Hakim)

2.
Dari Ka’ab bin Ashim radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi umatku dari persatuan di atas kesesatan.”
(HR. Ibnu Abi Ashim dan At Tirmidzi dan yang lainnya)

3.
Dari Umar bin Al Khaththab radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang menginginkan sungai-sungai Surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan Al Jama’ah karena sesungguhnya syaithan itu bersama dengan orang yang sendirian dan ia dengan orang yang berduaan itu lebih jauh.”
(HR. Ibnu Abi Ashim dan Ahmad dan At Tirmidzi dan Al Hakim dan Ibnu Hibban)

4.
Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Tiga golongan yang tidak akan ditanya keadaan mereka (pada hari kiamat) : Seorang laki-laki yang menyempal dari Al Jamaah dan bermaksiat kepada imamnya kemudian mati dalam keadaan bermaksiat. Seorang budak yang melarikan diri dari tuannya dan kemudian mati. Seorang wanita yang ditinggal suaminya dalam keadaan cukup nafkahnya kemudian dia berdandan sesudahnya.”
(HR. Ibnu Abi Ashim dan Ibnu Hibban dan Al Hakim)

5.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang menyempal dari Al Jamaah maka jika ia mati, matinya mati jahiliyah.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya)

6.
Dari An Nu’man bin Basyir radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Al Jamaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu adalah adzab.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

7.
Dari Al Harits bin Basyir radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Aku perintahkan dengan lima perkara : Mendengar, taat, berpegang teguh dengan Al Jamaah, berhijrah, dan berjihad.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan dari perpecahan dan menyempal dari Al Jamaah bahkan memberikan ancaman keras terhadap hal ini. Berkata beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
8.
Dari Abdullah bin Amr radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku.”
(HR. Bukhari-Muslim)

9.
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan maka dia tidak akan memiliki hujjah di hari kiamat nanti.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)

10.
Dari Urfajah Al Asyja’i radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mendatangi kalian dan memerintahkan kalian berkumpul (untuk mengangkat amir) kepada seseorang dan menginginkan memecah-belah barisan kalian maka bunuhlah!”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Dan kami telah meringkas beberapa hadits dalam permasalahan ini karena terlalu panjang. Wallaahul Muwaafiq.
Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim Walaupun Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah
Al Jamaah, sebagaimana telah maklum tidak akan pernah tegak kecuali harus dengan imam yang menyatukan kalimat. Dan seorang imam tidak akan kuat kepemimpinannya kecuali kalau ia ditaati maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin, bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
11.
Dari Anas radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah bekas budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis, selama dia menegakkan Kitabullah di antara kalian.”
(HR. Bukhari dalam Shahih-nya)

12.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mentaati aku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amir/pemimpin maka ia telah mentaatiku, barangsiapa yang bermaksiat kepada amir/pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

13.
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

14.
Dari Auf bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang wali/pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi janganlah (hal ini menyebabkan) melepaskan ketaatan kepadanya.”
(HR. Muslim dalam Shahih-nya)

15.
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.”
Maka aku berkata : “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Berkata beliau : “Hendaklah engkau mendengar dan taat pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

16.
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan golongan kami.”
(Hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim)

17.
Dari Irbadh bin Sariyah radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah berkhutbah kepada kami, beliau berkata :
“Bertakwalah kalian kepada Allah, wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat walaupun pemimpin kalian adalah budak dari Habasyah. Dan sesungguhnya barangsiapa yang hidup panjang di antara kalian akan melihat perselisihan yang sangat banyak maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang lurus dan terbimbing sesudahku.”
(Hadits shahih riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ad Darimi)

18.
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada amirnya, pent.) maka akan masuk Surga dari pintu mana saja yang ia inginkan dari delapan pintu Surga.”
(Hadits shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tabrani)

Dan dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk mendengar dan taat itu terhadap penguasa yang jahat sebagaimana terhadap pemerintah yang baik. Hadits-hadits yang telah lalu menerangkan bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang dikenal kejelekannya. Mereka tidak melaksanakan petunjuk Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan juga tidak mengamalkan sunnah-sunnah Rasul dan ini adalah permasalahan yang jelas. Dan ada juga beberapa riwayat yang menguatkan hal ini :
19.
Dari Adi bin Hatim radliyallahu ‘anhu berkata, kami berkata :
“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekankejelekan).” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Bertakwalah kalian kepada Allah, mendengar dan taatlah kalian.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang untuk mengatur urusan umat secara sirr (sembunyi-sembunyi) pada perkara-perkara yang merupakan hak penguasa.
20.
Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu berkata, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata :
“Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda : “Mendengar dan taatlah kalian. Hendaklah kalian terang-terangan dan jauhilah oleh kalian mengatur urusan umat secara sirr (karena ini adalah tugas penguasa, pent.).” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

Dan Rasul juga menjelaskan bahwa memberontak kepada penguasa itu tidak boleh kecuali dalam dua keadaan, yaitu jika telah melakukan kekufuran yang nyata atau mereka melarang melakukan shalat.
21.
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu ‘anhu berkata :
“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka. Dan tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.”
(HR. Bukhari-Muslim)

22.
Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).”
Maka para shahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

Perintah Untuk Menasihati Penguasa, Mendoakan Mereka, Dan Larangan Membongkar Kejelekan Penguasa Di Muka Umum
Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menasihati penguasa kita ketika nampak kemaksiatan-kemaksiatan mereka dan ketika terjadi apa saja yang membutuhkan nasihat.
23.
Dari Tamim Ad Dari radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Agama itu nasihat.”
Maka kami bertanya : “Untuk siapa, ya Rasulullah?” Maka Beliau menjawab : “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk penguasa Muslimin dan umat mereka.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

24.
Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Tiga golongan yang dengannya hati seorang Muslim tidak akan mendendam : Ikhlas dalam beramal untuk Allah, menasihati penguasa, dan menetapi persatuan umat. Maka sesungguhnya doa-doa mereka meliputi dari belakang mereka.”
(HR. Ashaabus Sunan)

Nabi melarang mencela, mencaci para penguasa, dan menyebarkan aib-aib mereka. Beliau memerintahkan untuk menasihati mereka dan mendoakan kebaikannya.
Berkata Imam At Thahawi dalam aqidahnya yang banyak diterima oleh ummat ini :
“Kami tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa dan pemimpin kita walaupun ia seorang pemimpin yang jahat. Dan tidak mendoakan kejelekan untuk mereka. Tidak melepaskan tangan dari ketaatan kepada mereka. Karena ketaatan pada mereka termasuk ketaatan kepada Allah dan merupakan kewajiban. Selama tidak diperintahkan kepada yang maksiat. Kita mendoakan untuk mereka kebaikan dan ampunan.”

25.
Dari Anas radliyallahu ‘anhu berkata, telah melarang kami para pembesar kami dari shahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mereka berkata :
Bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Janganlah kalian mencela pemimpin kalian dan janganlah kalian mendengki mereka, janganlah kalian membenci mereka, bertakwalah kepada Allah, bersabarlah karena urusan ini sudah dekat.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Al Albani)

26.
Dari Abi Bakrah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi maka barangsiapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya, barangsiapa yang memuliakan penguasa maka Allah akan memuliakannya.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, Ahmad, At Thayalisi, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

27.
Dari Muadz bin Jabal radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Lima hal yang barangsiapa yang melakukan salah satunya maka dia akan mendapat jaminan dari Allah : Siapa yang menjenguk orang sakit, yang mengantar jenazah, yang keluar untuk berperang, atau masuk pada penguasanya ingin menasihatinya dan memuliakannya atau orang yang diam di rumahnya sehingga dengannya selamatlah manusia.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Bazar, Al Hakim, dan At Tabrani)

Rasul menerangkan kepada kita bagaimana tata cara menasihati penguasa. Hendaklah tidak dilakukan di atas mimbar, di hadapan orang banyak.
28.
Dari Iyadh bin Ghunaim radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Hakim, dan Baihaqi. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)

29.
Dari Ubaidillah bin Khiyar berkata :
“Aku mendatangi Usamah bin Zaid radliyallahu ‘anhu dan aku katakan : “Kenapa engkau tidak menasihati Utsman bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al Walid?” Maka Usamah berkata : “Apakah kamu mengira aku tidak menasihatinya kecuali harus dihadapanmu? Demi Allah sungguh aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang yang pertama kali membukanya.”
(Atsar yang shahih diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Tidak ada toleransi sedikitpun dalam syariat ini untuk boleh memberontak pada penguasa ketika mereka tidak mau mendengar nasihat. Bahkan yang ada adalah perintah untuk bersabar, sesungguhnya dosanya akan ditanggung mereka. Barangsiapa yang telah menasihati mereka dan mengingkari kemungkarannya dengan cara yang benar maka ia telah terlepas dari dosa.
30.
Dari Wail bin Hujr radliyallahu ‘anhu berkata :
Kami bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika penguasa kami merampas hak-hak kami dan meminta hak-hak mereka?” Bersabda beliau :
“Mendengar dan taatlah kalian pada mereka maka sesungguhnya bagi merekalah balasan amalan mereka dan bagi kalianlah pahala atas kesabaran kalian.” (HR. Muslim)

31.
Dari Anas radliyallahu ‘anhu berkata : “Bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya, pent.) maka bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

32.
Dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Kelak akan terjadi para penguasa dan mereka mengumpul-ngumpulkan harta (korupsi, pent.).”
Maka kami bertanya : “Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab : “Tunaikanlah baiat yang pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Allah akan bertanya pada mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian.” (HR. Bukhari-Muslim)

33.
Dari Mu’awiyah radliyallahu ‘anhu berkata, ketika Abu Dzar radliyallahu ‘anhu keluar ke Ar Rubdzah beberapa orang Iraq menemuinya dan berkata :
“Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orangorang akan mendatangi kamu dan tunduk kepadamu.” Maka Abu Dzar berkata : “Tenang-tenang wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasul bersabda :

‘Kelak akan ada sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa yang menghinakannya maka ia telah membuat kehancuran dalam Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai ia mengembalikan kehancuran umat ini menjadi seperti semula.’” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
34.
Dari Abu Dzar radliyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendatangiku dan aku dalam keadaan tertidur dalam masjid kemudian beliau berkata :

“Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari negerimu?” Aku menjawab : “Aku akan pergi ke Syam!” Beliau bertanya lagi : “Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari Syam?” Aku menjawab : “Aku akan lawan dengan pedangku ya Rasulallah!” Maka beliau bersabda : “Maukah aku tunjukan dengan yang lebih baik dari itu semua dan lebih mencocoki petunjuk? Mendengar dan taatlah dan turutilah kemana pun mereka menggiringmu.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Ad Darimi, dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan dari menyebarkan aib penguasa dan kesalahannya di atas mimbar-mimbar dan majlis-majlis karena hal ini akan menyebabkan tersebarnya kejelekan yang dilarang oleh Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kejelekan di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. An Nur : 19)
35.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Jika berkata seorang laki-laki : ‘Manusia telah binasa.’ Maka ia orang yang paling binasa diantara mereka.”
(HR. Muslim)

Dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah melarang menyebarkan fitnah dan melarang perbuatan yang menyebabkan tersebarnya fitnah sekalipun fitnah tersebut telah tersebar luas. Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahwa fitnah itu tidak akan membawa kebaikan pada umat. Bahkan beliau juga melarang untuk angkat senjata (melawan penguasa) dan melarang bergabung dengan pemberontak lebih-lebih jika fitnahnya disebabkan masalah dunia.
36.
Dari Miqdad bin Aswad radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Sesungguhnya orang yang bahagia itu adalah yang telah menjauhi fitnah dan ketika ditimpa musibah maka ia bersabar, alangkah bahagianya ia.”
(HR. Abu Dawud. Berkata Al Albani : “Shahih atas syarat Muslim.”)

Dalam akhir pembahasan ini saya akhiri kumpulan hadits ini dengan perkataan Imam As Syaukani dalam Sailul Jarar dalam judul Kitabul Baghyi, beliau berkata : “Pemberontak adalah siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin. Pelakunya tercela walaupun bertujuan untuk kemaslahatan Muslimin tanpa dalil dan tanpa menasihatinya terlebih dahulu.” Sampai pada ucapan beliau : “Dan tidak boleh memberontak kepada penguasa walaupun mereka pada puncak kedzaliman selama tidak nampak pada mereka kekufuran yang nyata. Hadits-hadits yang menerangkan hal ini mutawatir.”
Muhammad Shidiq Hasan Khan juga menukil riwayat yang sama dalam kitab Ar Raudhatun Nadiyah dan Beliau sebutkan juga dalam Kitabul Baghyi ‘Alas Sulthani.
Dan yang terakhir, aku serukan kepada segenap dai untuk merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya yaitu menasihati para penguasa secara sembunyi-sembunyi. Dan menjauhi tasyhir (membeberkan aib-aib penguasa di hadapan umum, pent.). Dan tidak mendahulukan pendapat siapa pun selain dari pendapat Allah dan Rasul-Nya.
Berkata seorang penyair :
Tinggalkanlah semua ucapan yang meyelisihi ucapan Muhammad.
Seorang tidak merasa aman dalam agamanya seperti yang terancam bahaya.
Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjadikan kita semua bisa beramal untuk keridhaan-Nya di atas manhaj Rasul-Nya. Dan agar menjauhkan kita dari fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Ia Maha Mampu untuk melakukan itu semua.
Dan semoga shalawat tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, keluarganya, dan shahabatnya.
Catatan : Hadits-hadits yang disebutkan di sini telah dishahihkan oleh Muhaddits Al Albani dalam berbagai kitab beliau yang berbeda-beda, sengaja tidak dinukil disini karena khawatir terlalu panjang.
Oleh: Syaikh Fawaz bin Yahya Al Ghuslan
Penerjemah: Al Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata
Ma’had Riyadlul Jannah: Kp. Cikalagan RT 10/02 Telp. (021) 82495739 Cileungsi-Bogor-Indonesia
Diperbolehkan memperbanyak ebook ini dengan menyertakan sumber :
http://www.assunnah.cjb.net/

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.