-->

16 Oktober 2012

FANATIK MAZHAB

PERKATAAN EMAS 4 IMAM MADZHAB UNTUK TIDAK MENGIKUTI MADZHABNYA APABILA BERTENTANGAN DENGAN DALIL DAN PERINTAH MEREKA UNTUK MENGIKUTI DALIL (AL-QUR'AN DAN SUNNAH)





Allah Subhanahu Wa Ta'ala, berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)". (QS.Al-Araf:3)

I. ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit Rahimahullah berkata:
  1. "Apabila Hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku." (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)
  2. "Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)
  3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: "Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku".
  4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: "sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari".
  5. "Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS

Imam Malik Rahimahullah berkata:
  1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)
  2. "Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam". (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
  3. Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya hadist ini adalah Hasan, Aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFII

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata:
  1. "Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku." (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)
  2. "Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang." (Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)
  3. "Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)
  4. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di dalam Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)
  5. "kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan orang-orangnya (Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari kuffah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya." ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-SyafiI, 8/1)
  6. "Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati." (Al-Harawi, 47/1)
  7. "Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Muaddab)
  8. Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku." (Ibnu Asakir, 15/9/2)

IV. AHMAD BIN HAMBAL

Imam Ahmad Rahimahullah berkata:
  1. "Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil." (Al- Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)
  2. "Pendapat Auza’I, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar." (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)
  3. "Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182).

    FANATIK MADZHAB atau ITTIBA’ ARRASUL?


    Bismillahirrahmanirrahim..
    Ikhwan wa Akhwat Fillah aa zaniyallahu wa iyyakum. Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah sehingga kita merasakan nikmat Islam dan nikmat Iman, yang tak jarang nikmat tersebut terlupakan dan terabaikan oleh duniawi. Bersyukurlah kita sekalian yang masuk ke dalam Islam, satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan diselimuti pula dengan cahaya hidayah dan keimanan, karena telah jelas petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang mana kita masih berpegang teguh dengannya. Insya Allah. Sehingga mengikutinya, kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan di akhirat.
    Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari)
    Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah (Al-Qur’an). Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).

    Dari hadits-hadits di atas telah jelas bahwa menaati atau  ittiba' ar-Rasul  (mengikuti Rasulullah) yaitu dengan mengikuti sebaik-baik petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah akan mengantarkan kita pada Surga Allah ‘Azza wa Jalla dan setiap perkara yang baru (diada-adakan/bid’ah) dalam agama adalah seburuk-buruk perkara dimana kita diharuskan menjauhinya karena bertolak belakang dengan petunjuk (Al-Qur’an dan As-Sunnah).

    As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah : “Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-. (H.R. Abu Dawud).

    Oleh karena itu telah jelas bagi kita untuk berhukum dengan As-Sunnah dan tidak menyelisihinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al Ahzab: 36).
    Hal itu juga ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal: 46).

    Ikhwah Fillah, banyak sekali di kalangan umat Islam yang taqlid buta dan terlalu fanatik pada salah satu madzhab, sekalipun telah datang sunnah yang lebih shahih kepadanya. Padahal, sesungguhnya telas jelas bahwa mengikuti sunnah lebih utama dan itulah jalan yang yang telah dijalani kaum salafus shalih, dari kalangan para shahabat, tabi’in dan orang-orang sepeninggal mereka –termasuk empat imam madzhab- yang telah dijadikan panutan dan teladan oleh mayoritas kaum muslimin pada zaman ini.

    Mereka -empat imam madzhab- semua sepakat bahwa berpegang teguh dan merujuk kepada sunnah serta meninggalkan semua ucapan yang menyalahinya adalah perkara yang wajib. Bagaimana pun besarnya orang yang menyalahi sunnah tersebut, karena kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam jauh lebih besar dan jalan yang ditempuhnya lebih lurus. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita mengikuti jalan mereka, menapaki langkah mereka dan mengikuti doktrin-doktrin mereka untuk berpegang teguh pada hadits Nabi, sekalipun hadits-hadits itu menyelisihi pendapat mereka sendiri.

    Untuk lebih jelasnya, simaklah perkataan para imam Madzhab pada (FANATIK MADZHAB) untuk mengikuti Sunnah dan meninggalkan perkataan yang menyelisihinya. Mudah-mudahan di dalamnya terkandung pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang taqlid buta kepada mereka terlebih lagi taqlid kepada orang-orang yang levelnya jauh di bawah mereka, dan berpegang teguh pada madzhab dan pendapat tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (Al-A’raaf: 3).

    Itulah, pesan-pesan spiritual para Imam yang memerintahkan untuk memegang teguh hadits Rasulullah dan melarang taqlid kepada mereka tanpa ilmu yang jelas. Pesan-pesan itu begitu jelas dan terang, tidak perlu mengundang perdebatan dan tidak perlu lagi penafsiran. Atas dasar itu, maka barangsiapa yang berpegang teguh pada semua riwayat yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekalipun itu menyelisihi sebagian pendapat para Imam, tidaklah berarti ia meninggalkan madzhabnya dan keluar dari jalan mereka. Justru dengan sikapnya itu dia telah mengikuti jejak langkah mereka semua, dan telah memegang erat tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Tidak demikian halnya orang-orang yang meninggalkan hadits yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, semata-mata karena menyelisihi pendapat mereka. Justru dengan sikapnya itu, dia telah berbuat durhaka kepada mereka (para imam Madzhab), sekaligus menyelisihi pesan-pesan yang telah disebutkan di atas.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nur: 63).

    Oleh karena itulah Ikhwah Fillah aa zaniyallahu wa iyyakum, sudah sepantasnya untuk kita lebih mengagungkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berpegang teguh dan istiqomah di atasnya, itulah (AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH), itulah jalan salafush shalih. Tidaklah lagi kita mendebatkan soal Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tapi marilah kita mengikutinya, tidak menolaknya dan hendaknya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, na’am, itulah ittiba' ar-Rasul. Kita semua tentunya cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, oleh karena itu sebagai wujud cinta kita maka sudah sepantasnya kita taat. Bila kita diharamkan akan sesuatu maka kita jauhi, bila diperintahkan kita ikuti, dan bila tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentunya tidak untuk dikerjakan dan perkara syubhat (samar-samar) hendaknya kita tinggalkan agar lebih selamat. Dari pada kita bergelut dengan bid’ah, kenapa tidak kita perbanyak sunnah? Yang dengan sunnah kita melawan bid’ah yang merajalela. Sungguh, masih banyak sunnah yang kita lupakan dan lalaikan. Dan betapa besar keuntungan dan keutamaan yang kita peroleh jika menegakkannya, ditambah lagi akan lebih selamat, Insya Allah.
    Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanadnya dalam Sunan Ibnu Majah dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dengan berbagai penguatnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnahku, sehingga para manusia mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengamalkannya, tiada berkurang sedikit pun pahala mereka.”

    Maka, hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala-lah satu-satunya tempat kita memohon agar menguatkan hati untuk tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih. Tidakkah kita ingin untuk mengikuti para ulama yang hafalan dan ilmunya insya Allah terbukti dan tetap berpegang teguh pada jalan yang ditempuh oleh pendahulunya, menegakkan tauhid dan menjauhi kesyirikan, memberantas bid’ah serta kemungkaran. Karena merekalah (Salafus Shalih dan para ulama Ahlus Sunnah) pewaris para Nabi. Sebagaimana Al-Imam Az-Zuhri Rahimahullah berkata: Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al-Lalikai dan Ad-Darimi)

    Akhirul Qalam, semoga kita selalu berpegang teguh dengan Sunnah yang berarti ittiba’ Ar-Rasul (mengikuti Rasul) dan bukannya fanatik terhadap madzhab. Dan agar kita waspada serta tidak salah paham terhadap sunnah sehingga terjerumus akan bid’ah, Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi mindzalik.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua, afwan jiddan.

    Wallahu Ta’ala A'lam bish Shawab.

    SUMBER: IBNU NIRWANA

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.